32
"Keluarga Martin telah hancur. Mereka tidak akan memiliki keberanian untuk bangkit lagi," ucap Adrian seraya mengulurkan sikunya padaku. Matanya memancarkan kilat ambisi yang gelap. "Sekarang, waktunya kita kembali ke mansion. Tunjukkan padaku siapa saja anjing-anjing Bratva yang harus kusembelih untuk mengembalikan singgasanamu."
Aku menyeringai, mengaitkan lenganku pada sikunya. Rasa pedih di dadaku tergantikan oleh antisipasi yang memabukkan. Ciuman tadi mungkin terputus, tapi sumpah kami telah terikat dalam darah dan air mata.
"Dengan senang hati, Suamiku," bisikku, melangkah bersamanya menyusuri lorong menuju pintu keluar.
Malam ini, seisi kota menjadi saksi jatuhnya keluarga Martin. Dan esok hari... dunia bawah tanah akan menyadari bahwa sang Ratu Kematian tidak pernah benar-benar tertidur. Ia hanya sedang berganti kulit, bersiap memeluk dunia dengan api neraka yang baru.
Sinyal Hantu dan Pria dari Masa Lalu
Malam itu, di dalam ruang kerja Adrian yang temaram, aku duduk di balik meja marmer hitamnya. Layar laptop memancarkan pendar kebiruan yang menerpa wajahku, sementara jari-jemariku menari cepat di atas keyboard.
Di sudut ruangan, Adrian bersandar pada rak buku, memegang segelas wiski baru, mengawasiku dalam diam. Ia tidak bertanya bagaimana caraku meretas jaringan enkripsi tingkat militer, atau bagaimana aku mengetahui kode-kode rahasia dark web untuk menyusup ke forum komunikasi bawah tanah Bratva. Ia hanya menonton, terpesona oleh keliaran iblis yang ia pelihara di rumahnya.
"Selesai," gumamku pelan, menekan tombol Enter untuk terakhir kalinya.
Sebuah pesan siaran tanpa jejak IP telah terkirim. Pesan itu hanya berisi sederet angka koordinat pelabuhan terbengkalai di ujung utara kota, sebuah waktu—pukul dua dini hari esok—dan satu kalimat penutup dalam bahasa Rusia:
‘Mawar hitam mekar di atas salju berdarah.’
Itu adalah sandi absolut. Sebuah kode yang kususun secara pribadi bersama lingkaran dalamku yang paling setia, yang hanya akan digunakan jika aku berada dalam situasi hidup dan mati. Dmitri, sang pengkhianat, tidak mengetahui kode ini. Hanya segelintir orang yang tahu. Dan jika mereka masih setia pada sumpah darah mereka, mereka akan datang.
"Kau mengundang serigala-serigala liarmu ke kotaku, Hana," suara Adrian mengalun rendah, memecah keheningan. Pria itu meletakkan gelasnya, berjalan perlahan menghampiriku. "Kau yakin mereka tidak akan menggigit tuan lamanya yang kini bersembunyi di tubuh baru?"
Aku memutar kursi kulit itu untuk menghadapnya. Menyeringai tipis, aku menatap manik obsidiannya yang selalu memancarkan bahaya.
"Serigala yang setia tidak mengenali tuannya dari rupa, Adrian. Mereka mengenalinya dari aroma darah dan dominasi," balasku dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan. "Besok malam, kita akan melihat siapa saja yang masih berlutut padaku, dan siapa yang harus kusembelih."
[Keesokan Harinya - Pukul 01:50 Dini Hari]
Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan besi berkarat.
Di dalam gudang pelabuhan yang gelap gulita dan terbengkalai, aku berdiri di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh sorot lampu mobil dari kejauhan. Udara sangat dingin, menusuk tulang rusukku yang masih dalam masa pemulihan, namun aku berdiri tegak. Aku mengenakan mantel wol panjang berwarna hitam pekat, menyembunyikan tubuh ringkih Erena di baliknya.
Tepat di belakangku, berjarak tak lebih dari satu jengkal, Adrian Vance berdiri menjulang bak malaikat maut. Puluhan penembak jitu miliknya telah menyebar tak kasat mata di atap-atap gudang. Pria itu memastikan keselamatanku terjamin, meski ia menolak mencampuri urusanku secara langsung malam ini.
Srett... kriet...
Pintu besi gudang bergeser terbuka dengan suara melengking yang memekakkan telinga.
Tiga mobil SUV hitam legam antipeluru melaju masuk secara perlahan, menyorotkan lampu jauhnya tepat ke arahku, membuatku harus sedikit menyipitkan mata. Mobil-mobil itu berhenti membentuk setengah lingkaran. Pintu-pintu terbuka serentak.
Kira-kira selusin pria bertubuh besar dengan setelan gelap dan tato Bratva yang menjalar di leher mereka turun dari mobil. Senjata api laras panjang tergenggam erat di tangan mereka. Hawa membunuh seketika memenuhi gudang tua itu.
Namun, pandanganku hanya terkunci pada satu pria yang melangkah keluar dari mobil tengah.
Napas di tenggorokanku mendadak tercekat. Tanganku yang berada di dalam saku mantel tanpa sadar mengepal kuat. Kepedihan yang tajam, sangat tajam, merobek dadaku.
Viktor Volkov.
Pria itu adalah sang Enforcer—algojo utamaku. Pria berkebangsaan Rusia-Amerika dengan rahang sekeras baja, mata abu-abu setajam serigala es, dan bekas luka memanjang di pelipis kirinya. Ia bukan sekadar bawahan. Viktor adalah pria yang pernah berbagi ranjang denganku di masa lalu, pria yang pernah menyatakan kesetiaannya bukan pada Bratva, melainkan padaku seorang. Ia adalah kepingan masa lalu Hana Rose yang dipenuhi darah dan gairah, sebelum ambisi merebut takhta membuatku menyingkirkannya dari hatiku.
Viktor tampak kacau. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan duka yang luar biasa pekat, duka seorang pria yang kehilangan dunianya. Kantung matanya menghitam, dan ia tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya. Kematianku benar-benar telah menghancurkannya.
"Siapa kau?" Suara bariton Viktor menggema, kasar dan dipenuhi ancaman mematikan. Ia menodongkan pistol jenis Desert Eagle tepat ke arah kepalaku. Anak buahnya yang lain serentak mengikuti, membidikku dan Adrian. "Dari mana kau mendapatkan kode itu, jalang kecil? Bicaralah, sebelum aku meledakkan kepala cantikmu."
Aku mengabaikan belasan laras senjata yang mengarah padaku. Aku melangkah maju, keluar dari bayang-bayang Adrian.
"Menodongkan senjata pada pimpinanmu, Viktor?" suaraku mengalun tenang, merdu, namun dipenuhi oleh otoritas absolut yang tak bisa ditiru. "Kupikir aku sudah mengajarimu untuk tidak pernah membidik jika kau tidak siap untuk menarik pelatuknya."
Viktor membeku. Mata abu-abunya membelalak. Pistol di tangannya sedikit bergetar. Suara yang keluar dari bibir Erena memang berbeda, lebih lembut dan sedikit parau, namun intonasi, keangkuhan, dan ritme bicara itu... itu adalah milik Hana Rose Exric.
"Jangan mempermainkanku!" raung Viktor, urat lehernya menonjol, amarah dan keputusasaan melebur menjadi satu. "Hana sudah mati! Aku melihat petinya diturunkan ke tanah! Siapa yang mengirimmu?! Dmitri?!"