31
Rasa Darah dan Runtuhnya Batas Kewarasan
Ciuman itu adalah sebuah kekacauan yang absolut.
Tidak ada kelembutan, tidak ada keraguan. Hanya ada agresi murni, rasa lapar yang telah dipendam selama puluhan tahun, dan keputusasaan dua jiwa yang saling menelan dalam kegelapan lorong hotel.
Bibir Adrian begitu menuntut, melumat bibirku dengan dominasi seorang raja yang sedang mengklaim wilayah taklukannya. Aroma wiski bermutu tinggi, tembakau mahal, dan pinus liar menginvasi seluruh rongga pernapasanku, meracuni sisa-sisa akal sehatku.
Punggungku terhimpit dinginnya dinding pualam, sementara bagian depan tubuhku terbakar oleh panas tubuhnya. Tangan kanannya yang telanjang meremas tengkukku, menahan kepalaku agar tidak bisa berpaling, sementara lengan kirinya melingkar erat di pinggangku, menarik tubuhku sedemikian rupa hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara kami.
Rasa ngilu dari tulang rusukku yang patah berteriak memprotes tekanan brutal ini. Namun, adrenalin dan gairah meredam rasa sakit itu menjadi sebuah denyut kenikmatan yang gila.
Sebagai seorang Capo Bratva, aku tidak pernah terbiasa didominasi. Insting liarku meronta. Aku tidak hanya menerima ciumannya; aku membalasnya dengan intensitas yang sama buasnya. Tanganku yang menyusup di helaian rambut gelapnya beralih mencengkeram kerah kemeja putihnya, menariknya semakin merapat. Aku menggigit bibir bawahnya perlahan, memaksanya mengerang tertahan di dalam mulutku, dan mengecap rasa amis darah yang bercampur dengan sisa wiski.
"Hngg..." Adrian menggeram pelan, getaran suaranya merambat dari dadanya ke dadaku.
Ciuman ini memabukkan, merusak, dan terasa begitu benar.
Namun, realitas adalah monster yang jauh lebih kejam daripada kami berdua.
Saat penyatuan fisik kami mencapai puncaknya, tubuh Adrian tiba-tiba menegang hebat. Otot-otot punggungnya di bawah telapak tanganku mengeras seperti batu karang. Ciuman brutalnya terhenti secara mendadak.
Satu detik. Dua detik.
Adrian melepaskan bibirku dengan sentakan kasar, seolah ia baru saja tersadar dari hipnotis mematikan. Pria itu terhuyung mundur, melepaskan seluruh cengkeramannya dari tubuhku.
Aku terengah-engah, bersandar pada dinding pualam dengan bibir yang membengkak dan lipstik merah darah yang berantakan, menatap pemandangan di depanku dengan napas tertahan.
Adrian hancur.
Penyakit haphephobia-nya yang sempat ia paksa tunduk oleh gairah, kini menyerang balik dengan kekuatan ribuan kali lipat. Alam bawah sadarnya menghukumnya tanpa ampun atas pelanggaran sentuhan telanjang dan intimasi ekstrem yang baru saja ia lakukan.
Adrian bersandar pada sisi dinding yang berlawanan, mencengkeram dadanya sendiri dengan tangannya yang gemetar parah. Pria itu membungkuk, terbatuk keras seraya memejamkan mata rapat-rapat. Keringat dingin membanjiri wajah dan lehernya, menodai kerah kemeja putihnya yang mahal. Ia terengah-engah memburu oksigen, seolah paru-parunya baru saja dihancurkan dari dalam. Rasa mual yang menyiksa mengocok perutnya tanpa belas kasihan.
"A-Adrian..." bisikku, suaraku serak dan bergetar hebat.
Adrenalin gairahku seketika menguap, digantikan oleh rasa pedih yang merobek dadaku. Aku melangkah maju, tanganku terulur secara naluriah untuk menyentuhnya, untuk merengkuhnya.
"Jangan!" parau Adrian seketika, mengangkat satu tangannya ke udara, mengisyaratkan agar aku berhenti melangkah.
Napasnya putus-putus. Ia masih tidak berani membuka matanya. "Jangan... jangan sentuh aku, Hana. K-kumohon... jangan sentuh aku sekarang. Tubuhku... akan menyakitimu."
Kalimat itu bagaikan sebilah belati berkarat yang ditusukkan tepat ke jantungku.
Ia tidak melarangku menyentuhnya karena ia merasa jijik padaku. Ia melarangku karena ia tahu, dalam kondisi serangan panik seperti ini, refleks tubuhnya bisa saja mendorongku dengan kasar, dan ia terlalu takut akan menyakiti tulang rusukku yang patah.
Bahkan saat kewarasannya sedang terkoyak-koyak, insting pertamanya adalah melindungiku.
Air mataku jatuh tanpa izin. Menetes membasahi pipiku yang pucat. Aku, Hana Rose Exric, yang tak pernah menangisi kematian anak buahku sendiri, kini menangis melihat seorang pria arogan hancur berkeping-keping karena memaksakan diri menciumku.
Aku menurut. Aku menarik kembali tanganku, menahan diri untuk tidak memeluknya meski seluruh instingku berteriak ingin melakukannya. Sebagai gantinya, aku berlutut perlahan di dekat kakinya, mengambil sarung tangan kulit hitamnya yang tadi ia jatuhkan ke lantai.
"Aku di sini," bisikku dengan suara yang luar biasa lembut, suara yang bergetar oleh kepedihan dan cinta gelap yang mulai mengakar di hatiku. "Aku tidak akan menyentuhmu. Berfokuslah pada suaraku, Adrian. Bernapaslah."
Selama hampir sepuluh menit, lorong sunyi itu menjadi saksi bisu dari pertarungan menyakitkan antara sang raja iblis dan penyakit pikirannya. Aku terus berbisik dengan nada konstan, memberitahunya bahwa ia aman, bahwa aku tidak akan membiarkan siapa pun melihatnya dalam keadaan seperti ini.
Perlahan-lahan, gemetar di tubuh tegap itu mereda. Napasnya mulai menemukan ritme yang normal, meski dadanya masih naik-turun dengan lelah.
Adrian akhirnya membuka mata. Manik obsidiannya memerah, dipenuhi urat-urat kelelahan yang menyayat hati, namun tatapannya langsung mengunci wajahku. Ia melihat sisa air mata di pipiku, dan raut wajahnya seketika melembut.
Dengan tenaga yang tersisa, pria itu memaksakan diri untuk berdiri tegak. Ia mengulurkan tangannya yang masih telanjang ke arahku. Aku menyodorkan sarung tangan kulitnya, bersiap membiarkannya kembali memakai perisainya.
Namun, Adrian menepis sarung tangan itu pelan. Alih-alih memakainya, ia meraih tanganku. Ia tidak menggenggamnya kuat, hanya sentuhan sekilas untuk membantuku berdiri dari lantai.
Begitu kami sama-sama berdiri berhadapan, Adrian mengusap sudut bibirku dengan ibu jarinya, menghapus noda lipstik merah yang sedikit berantakan akibat ciuman brutal kami.
"Maafkan aku," bisik Adrian serak, suaranya dipenuhi oleh rasa frustrasi yang mendalam. "Aku merusak momen kita. Tubuh cacat ini... benar-benar memuakkan."
"Tarik kembali ucapanmu, Adrian Vance," desisku tajam, menangkap pergelangan tangannya. Mataku menatapnya penuh amarah, namun kali ini bukan amarah seorang mafia, melainkan amarah seorang wanita yang membenci pria di depannya merendahkan dirinya sendiri.
"Kau bukan pria cacat," balasku dengan napas memburu. "Kau adalah pria paling kuat yang pernah kutemui. Kau melawan monstermu sendiri hingga nyaris mati tercekik, hanya demi bisa menciumku. Jika kau menyebut dirimu memuakkan satu kali lagi, aku sendiri yang akan mematahkan rahangmu."
Adrian tertegun. Mulutnya sedikit terbuka, lalu sebuah tawa pelan yang berat dan bergetar lolos dari bibirnya. Tawa yang meredakan seluruh ketegangan dan rasa sakit di udara.
Pria itu menarikku mendekat, membiarkan lenganku bersandar pada dada bidangnya yang berbalut jas.
"Kau benar-benar tidak mengenal belas kasihan, monster kecil," gumamnya, mengecup puncak kepalaku dengan kelembutan yang sangat kontras dengan brutalitasnya beberapa menit yang lalu. "Bahkan saat aku hancur, kau malah mengancam akan mematahkan rahangku."
"Aku seorang mafia," gumamku di depan dadanya, menyembunyikan wajahku yang mendadak memanas. "Belas kasihan tidak ada dalam kamusku."
Adrian tersenyum, menyandarkan dagunya di kepalaku. Hawa membunuh dan dominasi absolutnya perlahan kembali, menyelimuti kami berdua bagai jubah pelindung.
"Bagus," bisiknya, suaranya kembali berubah mematikan. "Simpan seluruh kejammu itu untuk musuh kita yang sesungguhnya. Sandiwara bagian pertama telah selesai, Hana."
Ia mengurai pelukan kami, memungut sarung tangan kulitnya dari tanganku, lalu mengenakannya kembali dengan gerakan elegan yang efisien. Ia merapikan jasnya, dan dalam sekejap mata, CEO Vance Corporation yang dingin, tak tersentuh, dan arogan itu telah kembali.