Bab 29
Reuni Beracun dan Gelas Sampanye yang Pecah
Alunan musik orkestra yang tadinya terdengar megah, kini terasa seperti detak jarum jam yang menghitung mundur menuju sebuah eksekusi.
Setiap langkah yang kuambil di atas karpet merah ballroom ini terasa sangat memabukkan. Lengan kekar Adrian yang melingkar posesif di pinggangku bertindak sebagai jangkar, menyalurkan hawa panas yang membakar habis sisa-sisa trauma fisik Erena. Ratusan pasang mata menatap kami dalam diam. Mereka adalah para elit kota yang biasa bergosip tentang betapa gilanya putri sulung keluarga Martin, dan betapa kasihannya sang CEO Vance Corporation harus menikahi wanita cacat tersebut.
Namun malam ini, narasi itu hancur lebur di bawah ujung sepatu hak tinggiku.
Kami membelah lautan manusia yang perlahan menyingkir, memberi jalan bak rakyat jelata yang ketakutan melihat raja dan ratu tiran mereka lewat. Tujuanku hanya satu: meja VIP berbalut taplak emas di ujung ruangan, tempat Richard dan Eleanor Martin berdiri mematung layaknya dua patung lilin yang mulai meleleh.
Semakin dekat jarak kami, semakin jelas kulihat butiran keringat dingin yang mulai membanjiri dahi Richard. Pria paruh baya itu mencoba tersenyum, sebuah senyuman palsu yang luar biasa kaku dan bergetar. Di sebelahnya, Eleanor meremas clutch bag bertahtakan swarovski-nya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"A-Adrian... Suatu kehormatan besar Tuan Vance bersedia hadir di acara sederhana kami," sapa Richard dengan suara bariton yang dipaksakan untuk terdengar berwibawa, meski getaran di ujung kalimatnya mengkhianati ketakutannya. Pria itu mengulurkan tangannya, mencoba menjabat tangan Adrian.
Adrian tidak berhenti melangkah hingga jarak kami dengan mereka hanya tersisa kurang dari satu meter. Pria di sampingku ini menatap uluran tangan Richard dengan tatapan kosong, sedingin lapisan es di kutub utara. Ia sama sekali tidak berniat mengangkat tangannya untuk membalas jabatan itu.
Penolakan publik yang luar biasa mempermalukan.
Richard perlahan menarik kembali tangannya dengan wajah yang memerah padam menahan malu, sementara suara bisik-bisik para tamu di sekitar meja VIP mulai terdengar berdengung.
"Aku tidak datang untuk merayakan ekspansi perusahaanmu, Richard," suara Adrian mengalun rendah, berat, dan memancarkan dominasi yang mutlak. "Aku datang untuk menemani istriku. Ia bilang, ia merindukan... keluarganya."
Mendengar kata 'istriku', Eleanor tersentak pelan. Wanita paruh baya itu akhirnya memberanikan diri menatapku. Matanya yang biasa menatap Erena dengan sorot menjijikkan, kini membelalak ngeri melihat transformasiku.
"E-Erena... Sayang," Eleanor mencoba memainkan perannya sebagai ibu tiri yang penyayang. Ia melangkah maju satu langkah, merentangkan tangannya dengan senyum manis yang membuat perutku mual. "Ya Tuhan, kau terlihat... sangat berbeda. Kami sangat mengkhawatirkan kondisimu. Kenapa kau tidak pernah membalas telepon Ibu?"
Sisa-sisa jiwa Erena di dalam tubuhku berteriak pilu mendengar kebohongan murahan itu. Khawatir? Wanita iblis ini yang dulu memerintahkan pelayan untuk mengunci Erena di kamar mandi gelap selama tiga hari.
Dengan sisa trauma Erena yang tiba-tiba berdesir, tanpa sadar napasku sedikit tertahan. Namun, sebelum kepanikan itu sempat mengambil alih, insting mafiaku menyapu bersih kelemahan tersebut. Aku menegakkan daguku, menatap Eleanor dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan yang sangat tajam.
"Berhenti bersandiwara, Nyonya Martin," balasku. Suaraku mengalun luar biasa tenang, jernih, dan sedingin silet yang baru diasah. "Riasan tebalmu bahkan tidak bisa menutupi betapa palsunya senyuman itu. Apalagi kata-katamu."
Keheningan seketika mencekik meja VIP itu. Beberapa tamu undangan yang berdiri tak jauh dari kami nyaris tersedak minuman mereka.
Erena Martin, si gadis gila yang biasanya hanya bisa menangis, menunduk, atau berteriak histeris tak jelas, baru saja membungkam ibu tirinya dengan keangkuhan seorang bangsawan.
Wajah Eleanor memucat, lalu berubah menjadi merah padam karena amarah yang tertahan. "Erena! Apa-apaan bicaramu—"
"Tutup mulutmu, Eleanor," desis Richard memotong ucapan istrinya. Ia tahu berdebat di depan Adrian Vance adalah bunuh diri.
Richard menoleh padaku, mencoba menggunakan otoritas lamanya sebagai seorang ayah yang dominan. Ia menatap mataku, mencoba mencari sisa-sisa ketakutan putrinya yang biasa ia siksa. Namun, ia tidak menemukan apa pun selain jurang kegelapan yang siap menelannya.
"Erena," Richard merendahkan suaranya, mencoba terdengar tegas namun memperingatkan. "Kau sedang sakit. Mungkin obatmu membuat emosimu tidak stabil. Jangan membuat keributan yang mempermalukan keluarga Vance di sini."
Trik lama. Menggunakan kartu 'penyakit mental' untuk mendiskreditkan apa pun yang Erena katakan. Dulu, Erena akan langsung menangis dan meminta maaf jika ayahnya menggunakan nada bicara seperti itu.
Namun aku bukan Erena.
Aku melangkah maju, memangkas jarak antara diriku dan pria yang menyebut dirinya ayah ini. Adrian membiarkanku bergerak, lengannya di pinggangku mengendur namun tetap berjaga dengan protektif di belakangku.
"Mempermalukan?" Aku memiringkan kepalaku, menyeringai dengan sangat perlahan. Mata hitamku menembus langsung ke dalam pupil Richard yang bergetar. "Satu-satunya hal yang memalukan di ruangan ini adalah kenyataan bahwa keluarga Martin masih berani berdiri dengan kepala tegak setelah menjual putri mereka layaknya barang rongsokan, hanya demi menyelamatkan perusahaan farmasi kalian yang nyaris bangkrut."
"Erena!" bentak Richard tanpa sadar, tangannya refleks terangkat, sebuah gerakan otomatis yang biasa ia lakukan sebelum menampar putrinya.
Detik itu juga, waktu seakan melambat.
Memori fisik Erena mengambil alih. Melihat tangan itu terangkat, tubuhku membeku. Mataku terbelalak samar, dan aku memejamkan mata secara refleks, menunggu rasa panas dan hantaman keras di pipiku. Napasku tercekat di tenggorokan.
Namun, tamparan itu tidak pernah mendarat.
Sebaliknya, sebuah cengkeraman kasar dan luar biasa kuat terdengar berderak di udara.
Aku membuka mataku, napasku terengah.
Di depanku, Adrian Vance telah berdiri menyembunyikan separuh tubuhku di balik punggung lebarnya. Tangan kanan Adrian yang berbalut sarung tangan kulit hitam telah menangkap pergelangan tangan Richard di udara. Cengkeraman sang CEO begitu brutal hingga buku-buku jarinya memutih, dan aku bisa mendengar suara tulang pergelangan tangan Richard yang nyaris bergeser.
"A-Aargh! T-Tuan Vance, l-lepaskan..." rintih Richard, wajahnya seketika seputih kertas saat rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan lengannya. Pria paruh baya itu nyaris berlutut di atas karpet.
Eleanor menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan, mundur beberapa langkah dengan lutut gemetar. Tamu-tamu lain terkesiap ngeri, namun tak ada satu pun penjaga keamanan yang berani mendekat untuk menghentikan murka Adrian Vance.
Atmosfer di ballroom itu berubah menjadi pekat oleh hawa membunuh.
"Kau berani mengangkat tangan kotormu di hadapan istriku?" geram Adrian. Suara baritonnya tidak keras, namun terdengar sangat mematikan, beresonansi dengan amarah iblis yang baru saja lepas dari rantainya. Mata obsidiannya menatap Richard seolah pria itu adalah serangga yang paling menjijikkan di muka bumi.
"T-tidak, Tuan Vance! S-saya hanya... dia sedang kumat! Penyakitnya kumat!" Richard memekik putus asa, mencoba membela diri di tengah rasa sakit yang meremukkan tulang tangannya.
Adrian memutar pergelangan tangan Richard sedikit lebih jauh ke belakang, memicu jeritan tertahan lainnya dari pria itu.
"Penyakitnya kumat?" desis Adrian dengan tawa gelap yang menakutkan. Ia mencondongkan wajahnya ke arah Richard. "Satu-satunya yang berpenyakit di sini adalah kau, Richard. Karena hanya pria sakit jiwa yang berani mengangkat tangan pada milik seorang Adrian Vance."
Adrian menghempaskan tangan Richard dengan sangat kasar, seolah ia baru saja menyentuh bangkai busuk. Richard terjerembab mundur, menabrak meja VIP hingga beberapa gelas sampanye kristal berjatuhan dan pecah berkeping-keping. Prang!
Cairan keemasan itu membasahi sepatu kulit Richard, sementara pria itu memegangi pergelangan tangannya yang memerah dan membiru, terengah-engah dalam ketakutan absolut.
Adrian merapikan kerah jasnya dengan santai, lalu menoleh ke arahku. Kilat amarah di matanya mereda saat menatapku, digantikan oleh sebuah kelembutan posesif yang hanya ia tunjukkan padaku.
Pria itu mengulurkan tangannya yang telanjang—tanpa sarung tangan—ke arahku. Di depan ratusan tamu undangan, ia menolak menggunakan lapisan pelindungnya. Ia menatapku, menunggu.
Aku menarik napas panjang, menyingkirkan sisa-sisa trauma fisik yang sempat membuatku memejamkan mata tadi. Sambil menyunggingkan senyum angkuh, aku meletakkan tanganku di atas telapak tangannya yang hangat. Kulit bertemu kulit.
Jari-jemari kami bertaut erat. Aku bisa melihat rahang Adrian sedikit menegang menahan gejolak fobianya, namun cengkeramannya tidak goyah sedikit pun.
"Kau tidak apa-apa, Hana?" bisiknya pelan, sangat pelan hingga hanya aku yang bisa mendengarnya. Penggunaan nama asliku adalah jangkar yang ia lempar untuk menarikku keluar dari trauma Erena.
"Aku sempurna," balasku berbisik, membalas tatapan gelapnya dengan gairah yang membara.
Adrian kembali menatap keluarga Martin yang kini hancur tak bersisa di depan mata publik.
"Dengar baik-baik, Richard," suara Adrian kembali menggelegar, dingin dan tanpa ampun. "Saham dua puluh persen yang kumiliki di perusahaanmu, akan kutarik malam ini juga. Dan aku akan memastikan setiap investor di ruangan ini tahu, bahwa siapa pun yang berani menanamkan satu sen saja ke perusahaan Martin, akan berurusan dengan Vance Corporation esok paginya."
Kalimat itu adalah hukuman mati. Hukuman mati secara finansial dan sosial.