(Silahkan baca yang #1 di akun ku ya, biar ngerti dan nyambung ceritanya)
Di suatu tempat yang asing, seorang anak laki-laki kembali berlari-lari di area taman. Langkahnya terengah-engah, matanya liar menyisir sekitar, seolah-olah tengah mencari teman-temannya yang bersembunyi.
"Di mana kalian bersembunyi?!" teriaknya frustrasi.
Namun, begitu ia memutar tubuhnya ke belakang, langkahnya mendadak terkunci. Sesosok bayangan hitam tinggi tanpa wajah telah berdiri tegak tepat di hadapannya. Anak laki-laki itu mundur dengan wajah pucat pasi kekalutan. Tanpa suara, sosok hitam itu mengangkat lengannya, menunjuk ke arah sebuah gedung apartemen kecil yang kusam.
Seolah terhipnotis, si anak laki-laki segera melangkah mendatangi apartemen tersebut.
Begitu tiba di dalam koridor yang remang, sesosok wanita menghadangnya. Wajah wanita itu mengerikan. Seulas senyum terukir paksa melalui robekan menganga dari ujung mulut hingga ke telinga. Jari pucatnya menunjuk kaku ke arah Kamar 124.
Anak laki-laki itu menelan ludah, lalu perlahan mendorong pintu kamar tersebut.
Di dalam, suasana makin mencekam. Sesosok pria berbadan besar berdiri di kegelapan, perutnya robek dan terus-menerus mengalirkan darah segar ke lantai. Pria itu mengarahkan dagunya ke sebuah ruangan di pojok terdalam.
Saat anak laki-laki itu mendekati pintu ruangan pojok tersebut, wanita dengan mulut robek tadi tiba-tiba muncul di belakangnya dan mendorong tubuhnya masuk tanpa ampun.
BRAK!
Anak laki-laki itu terjatuh ke lantai. Begitu mendongak, ia menyadari ruangan ini sangat terang, kontras dengan koridor sebelumnya. Di ujung ruangan, berdiri sesosok lelaki membelakanginya. Ketika lelaki itu memutar tubuh, jantung si anak laki-laki serasa berhenti.
Itu adalah Bastian. Dirinya sendiri, namun versi dewasa, berdiri dengan pakaian yang berlumuran darah segar.
"Apakah kau sudah mengingat apa yang telah kau lakukan?" tanya Bastian dewasa dengan suara berat yang menggema.
Seketika itu juga, dari balik kegelapan dinding, beberapa sosok hitam bermunculan. Wajah mereka semua berubah, mengukir senyuman lebar nan mengerikan yang menyentuh batas telinga.
"AH!"
Bastian tersentak bangun dari mimpinya. Jantungnya bertalu-talu di dalam dada.
Namun, kepanikan baru langsung menyerangnya saat ia menyadari seluruh tubuhnya kaku total. Ia tidak bisa menggerakkan seujung jari pun—ia sedang mengalami ketindihan dalam bahasa medisnya ialah Sleep paralysis.
Dalam kondisi tak berdaya itu, matanya melirik ke arah pintu kamar yang perlahan terbuka.
Sesosok makhluk hitam legam melangkah masuk secara perlahan. Makhluk itu meletakkan sesuatu di atas meja kamarnya, lalu berbalik dan keluar begitu saja.
Belum sempat Bastian mencerna apa yang terjadi, sosok perempuan dengan mulut robek hingga ke telinga mendadak muncul di langit-langit kamar, lalu meluncur turun mendekati wajahnya dengan sangat cepat!
"Tolong aku...!"
Bastian tersentak untuk kedua kalinya. Napasnya memburu, peluh membasahi seluruh tubuhnya. Ia segera melirik ponsel di samping bantal. Layar menunjukkan pukul 08.00 pagi.
"Sial, aku bisa terlambat!" umpatnya panik. Ia langsung melompat dari kasur tanpa sempat memeriksa meja kamarnya lagi, bahkan untuk mandi saja tidak ada waktu. Ia bergegas bersiap menuju kantor.
Sesampainya di kantor, Bastian mengernyitkan dahi. Suasana kubikal terasa sangat berbeda dari biasanya. Semua karyawan tampak santai; ada yang mengobrol, ada yang asyik bermain ponsel. Ia segera menghampiri meja Fikri.
"Kok pada santai semua hari ini?" tanya Bastian heran.
Fikri menoleh sambil menyengir. "Pak Manajer tidak turun kantor hari ini. Makanya semua langsung mode santai."
"Oh, begitu..." Bastian mengembuskan napas lega, lalu menarik kursi.
"Eh, kamu lihat berita di TV tidak tadi malam?" tanya Fikri, memajukan badannya dengan raut wajah bergosip.
"Kagak. Semalam ngantuk berat, jadi pulang kantor langsung tidur."
"Itu loh, lelaki yang menjadikan si Lela simpanan. Dia jadi berita utama tadi malam!" bisik Fikri heboh.
"Berita apa memangnya?" Bastian mulai tertarik.
"Kamu tahu proyek jalan tol Tanjung yang tidak selesai-selesai karena dananya habis? Nah, ternyata saat anggarannya ada, para pekerja proyeknya malah menghilang misterius semua. Terus proyek jembatan juga sama, pekerjanya pada hilang satu per satu. Rumornya... mereka dijadikan tumbal proyek! Dan kamu mau tahu yang lebih mengerikan lagi?"
Bastian mendengus. "Cepat ceritakan saja, tidak usah pakai gimmick."
"Lelaki itu yang menjadikan Lela sebagai pemegang penuh kekuasaan untuk mengatur kedua proyek itu, Bas!"
Bastian terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut. "Jadi... kemungkinan Lela hilang itu sebenarnya untuk menyembunyikan diri dari kasus korupsi dan masalah proyek itu?"
"Yaps, tepat sekali! Tapi ada kemungkinan lain juga... si Anonim yang sudah mengendus kejahatannya dan bergerak duluan," sahut Fikri penuh arti.
Bastian menyandarkan punggungnya ke kursi, sebuah seringai tipis muncul di wajahnya. "Baguslah kalau memang betul si Anonim yang menangkapnya. Biar dia mampus. Pas sudah sukses dia sombongnya minta ampun, padahal hasil uang korupsi begitu. Dulu aja dia miskin, sampai semua orang dipalak sama dia."
"Betul sih," kata Fikri setuju. "Tapi anehnya, dulu waktu ada masalah di proyek jembatan, Lela sempat muncul dan berlagak membantu, kok."
"Iya, pahlawan kesiangan namanya," cibir Bastian dingin.
Fikri terkekeh. "Ada benarnya juga. Eh, aku mau ke kantin dulu cari kopi. Mau ikut tidak?"
Bastian menggeleng, raut wajahnya tampak lesu. "Kagak, deh. Aku mau izin balik lebih awal saja hari ini. Mau istirahat. Rasanya badanku capek dan remuk banget hari ini."
"Baiklah kalau begitu. Besok mumpung libur, aku mampir ke rumahmu, ya?"
"Oke, gampang."
Fikri pun melangkah pergi menuju kantin, sementara Bastian merapikan barang-barangnya untuk pulang lebih awal.
Dalam perjalanan pulang, Bastian berjalan santai menyusuri trotoar jalanan kota yang sepi. Matanya tertuju pada sebuah tembok kusam yang ditempeli beberapa selembar kertas pengumuman orang hilang. Wajah Lela dan beberapa orang lainnya terpampang di sana.
"Ah, pasti si Anonim ini lagi yang melakukan," gumam Bastian pelan sambil menatap kertas-kertas tersebut. "Tapi baguslah dia bekerja seperti itu. Hitung-hitung mengurangi sampah masyarakat."
Bastian kemudian melanjutkan langkahnya. Namun, jauh di lubuk hati kecilnya, sebuah hasrat aneh mendadak tumbuh. Ia diam-diam berharap bisa bertemu langsung dengan sosok Anonim tersebut. Ia ingin mengucapkan terima kasih secara langsung. Bahkan, jika memungkinkan, Bastian ingin menawarkan diri untuk bekerja sama dalam hal menghabisi orang-orang egois yang hanya menguntungkan diri sendiri tanpa peduli pada penderitaan orang lain.