Terkadang sebuah perak yang kita miliki bisa lebih berharga dari sebuah berlian yang tidak kita miliki.
Namun kebanyakan manusia tetap berusaha mati-matian hanya untuk mendapatkan satu berlian.
°°°°📺°°°°
Hari ini Jane mendapat kiriman hadiah dari neneknya. Saat melihat barang itu dia hanya mengernyitkan dahinya sambil menghela nafas panjang. Bagaimana tidak?
Di zaman yang sudah serba canggih ini, neneknya malah memberikan sebuah televisi tua untuknya.
Ibunya langsung meyakinkan Jane agar mau menghargai pemberian neneknya itu. Toh lagi pula neneknya sedang berjuang melawan penyakit. Jane pun akhirnya mengangguk dan mau menerimanya.
Ibunya sengaja meletakkan televisi tua tersebut di kamar Jane. Tidak lupa dia juga mencoba membuat dekorasi cantik pada televisi itu.
"Sudah Mah! jangan di dekorasikan apa-apa, malah terlihat norak. Biar saja terlihat klasik, kan juga keren!" keluh Jane pada ibunya yang berusaha meletakkan kain rajutan di atas televisi.
"Benarkah?" respon Ibu sambil memeriksa raut wajah Jane. "Baiklah, Mamah akan melepasnya!" sambungnya lagi. Dia mengurungkan niatnya untuk mendekor televisi tua tersebut, karena melihat putrinya yang sudah berusia lima belas tahun itu cemberut.
"Oh iya Jane, kamu mau Mamah siapkan steker agar bisa menyalakan televisinya. Menurut Mamah ini televisi kayanya masih bisa menyala!" tawar ibu pada Jane yang sudah rebahan sambil bermain ponselnya.
"Nggak usah Mah. . ." Jane langsung menyahut pelan.
Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap putri semata wayangnya itu. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk mengembalikan sikap Jane dulu yang selalu ceria. Memang sikapnya berubah setelah kematian ayahnya delapan tahun yang lalu.
°°°°📺°°°°
Waktu menunjukkan jam 12.00 malam, Jane tidak bisa tidur dan hanya memejamkan matanya saja. Insomnia yang dia derita memang sudah terjadi sejak kematian ayahnya.
Dssst. . . dssstt. . .dsssst!
Bunyi itu sontak membuat Jane membuka matanya, otomatis dia langsung menatap ke arah sumber suara. Dia langsung di buat kaget ketika melihat televisi tua tersebut menyala sendiri.
Beberapa kali Jane mengerjapkan matanya agar bisa memastikan apa yang dilihatnya itu nyata atau tidak. Jane juga menepuk-nepuk pipinya berkali-kali, namun dia sudah menemukan bukti bahwa apa yang di lihatnya adalah kenyataan. Bagaimana bisa sebuah televisi bisa menyala tanpa listrik, apalagi inikan sebuah televisi tua? benak Jane bertanya-tanya.
"Ma. . ." Jane langsung menghentikan teriakannya ketika melihat sebuah gambar muncul di televisi. Gambar yang membuat Jane sangat tertarik.
Di televisi itu terdapat mendiang ayahnya yang sedang melakukan pekerjaan rumah. Mata Jane mulai berkaca-kaca, perlahan dia berjalan mendekati televisi.
Jane mengangkat tangannya dan mencoba menyentuh layar televisi tua. Dia mencoba menyentuh wajah mendiang ayahnya yang kebetulan muncul.
"A-a-ayah?. . ." panggil Jane lirih menatap wajah ayahnya di televisi.
Entah bagaimana caranya tangan Jane masuk ke layar televisi. Dia langsung membelalakkan matanya, karena sangat di buat kaget akan hal itu.
Glitch tiba-tiba muncul dari pandangan Jane.
Dsssst . . . dsssst. . . dssst!
"Aaarrrkkkhh!!!" Jane berteriak dengan keras, ketika tangannya tertarik ke dalam televisi. Seketika tubuhnya masuk ke dalam televisi tua.
°°°°📺°°°°
Jane terbangun dan dia langsung di buat kaget dengan keadaan tubuhnya. Dia segera berlari ke depan cermin. Jane pun langsung membelalakkan matanya ketika melihat dirinya menjadi berumur delapan tahun lagi. Dia ingat di umur ini ayahnya mengalami kecelakaan dan harus pergi meninggalkan Jane untuk selamanya.
Tanpa pikir panjang Jane langsung berlari keluar kamar untuk mencari ayahnya. Tampak ayahnya sedang bersiap untuk pergi ke kantor.
"AYAH!!" Jane langsung berlari ke pelukan ayahnya.
"Jane, kamu kenapa? kok nangis gitu?" ucap ayahnya tersenyum lembut menatap putrinya.
"Aku kangen Ayah!" ujar Jane sambil menangis sesegukan di pelukan ayahnya.
"Aduh Jane, tiap hari ketemu kok bilang kangen, sama Mamah nggak kangen?" ucap ibu tiba-tiba menyahut dari belakang.
"Mamah cemburu tuh Jane!" ujar ayah sambil melepas pelukan Jane dengan pelan.
Jane memalingkan wajah untuk melihat ibunya dan sedikit tersenyum. Ibunya langsung memeluk Jane dan menggendongnya.
"Wah kamu berat sekali Jane!" kata ibu sambil tertawa kecil, dan langsung di ikuti tawa kecil dari ayah dan Jane. Keluarga itu pun terlihat begitu bahagia.
"Ya sudah, Ayah pergi ke kantor dulu ya!" ujar Ayah sambil melangkahkan kakinya ke pintu.
"JANGAN AYAH! jangan hari ini!" teriak Jane menatap tajam ayahnya. Sebab Jane tahu, hari ini adalah tanggal terjadinya musibah kecelakaan yang akan menimpa ayahnya.
"Jane! kamu kenapa?" ibunya menegur sikap Jane yang aneh.
"Pokoknya aku nggak mau Ayah pergi ke kantor hari ini! NGGAK MAU!" keluh Jane sambil menghentakkan sebelah kakinya dan mencengkram erat tangan ayahnya.
Melihat tingkah Jane, ayah dan ibunya hanya saling bertatapan. Ayah pun akhirnya menuruti kemauan putri semata wayangnya itu. Jane kembali memeluk ayahnya erat.
"Jane kenapa sih kamu hari ini nempel sama Ayah terus?" kritik ibu dengan menampakkan raut wajah cemberutnya.
"Mamah!" Jane mengalihkan pelukan ke ibunya, karena saat ini dia merasa sangat bahagia. Sungguh kebahagiaan yang sempurna untuk Jane.
°°°°📺°°°°
Seperti yang Jane duga, tidak ada hal buruk yang menimpa ayahnya hari itu. Jane langsung menangis bahagia di dalam kamarnya.
'Tapi bagaimana aku kembali lagi ke diriku yang lima belas tahun?' akhirnya Jane menyadari bahwa di rumahnya saat ini tidak terlihat televisi tua itu. Dia baru tersadar bahwa hingga saat ini, dia masih belum mengetahui cara untuk kembali ke kenyataan.
Jane terlihat celingak-celinguk kemana-mana. Matanya memeriksa dengan teliti, berharap bisa menemukan televisi tua itu.
Saat berkeliling rumah untuk melakukan pencarian. Jane langsung menghentikan langkah kakinya saat melihat ayahnya sedang duduk di ruang kerjanya. Jane tersenyum lebar menatap ayahnya dari depan pintu. Akhirnya Jane memutuskan untuk tetap di sini. Lagi pula kehidupannya di sini lebih bahagia dari pada kehidupannya yang berusia lima belas tahun itu.
Jane juga ingin berlama-lama menikmati dan menghargai kebersamaan dengan ayahnya.
°°°°📺°°°°
Rasanya Jane sudah beberapa bulan tinggal bersama ayah dan ibunya, di dunia yang Jane sebut dunia rahasia ini. Dia melakukan banyak kegiatan keluarga bersama ayah dan ibunya. Jane benar-benar tidak ingin pergi dari sini sekarang. Bahkan Jane sekarang sudah tidak menderita insomnia lagi.
Suatu hari di tengah malam. Jane terbangun dari tidurnya, saat itu dia tidur bersama ayah dan ibunya. Dia mengubah posisinya perlahan menjadi duduk. Namun saat itu ada hal ganjil yang mengganggu pikiran Jane.
Sebab Jane melihat kaki yang sangat panjang tepat di posisi ayahnya tidur saat ini. Kaki itu sangat panjang hingga bisa menyentuh dinding di depannya.
Dari ujung matanya Jane juga bisa melihat gunungan besar di dalam selimut tepat di posisi ibunya tidur saat ini. Jane sangat yakin bahwa ibunya tidak memiliki perut sebuncit itu.
Jane pun memberanikan diri untuk melihat wajah ayahnya dulu. Dia langsung membelalakkan matanya ketika yang dia lihat bukanlah ayahnya. Melainkan makhluk yang sangat mengerikan bermata satu. Makhluk itu juga memiliki dua tanduk di kepalanya.
Setelah melihat makhluk itu, Jane langsung menutup mulutnya agar bisa tenang. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke posisi tidur ibunya saat ini.
Jane semakin di buat takut, ketika melihat makhluk mengerikan lainnya yang sedari tadi tidur bersamanya. Makhluk itu tampak memiliki perut yang sangat buncit, rambutnya nampak sangat panjang hingga berhamburan di lantai. Dia juga memiliki taring yang sangat runcing di mulutnya.
Jane mulai bernafas dengan tempo yang cepat. Keringatnya mengalir deras di pelipisnya. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Apalagi dia saat ini masih belum tahu cara untuk keluar dari tempat misterius ini.
Jane juga sangat ketakutan untuk mencoba kabur. Tetapi dia malah memilih merebahkan diri kembali di antara kedua makhluk mengerikan itu lagi.
Dengan posisi yang telentang, tubuh Jane terus gemetaran. Dia benar-benar sangat ketakutan.
Perlahan hari mulai terang. Entahlah itu matahari atau apa, yang jelas saat itu keadaan di tempat itu menjadi lebih terang. Jane melihat kedua makhluk itu masih tertidur di sampingnya.
Namun Jane langsung di buat kaget ketika kedua makhluk itu berubah wujud menjadi ayah dan ibunya. Seketika Jane langsung memejamkan matanya untuk berpura-pura tidur.
Mereka mencoba membelai rambut Jane seakan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri. Jane pun memberanikan diri untuk menatap mereka, dan seperti biasa mereka bersikap layaknya ayah dan ibunya Jane.
°°°°📺°°°°
Meskipun kedua makhluk mengerikan itu bersikap baik ketika di hadapan Jane. Perasaan Jane tetaplah merasa gelisah dan takut ketika melihat ayah dan ibunya sekarang. Hingga dia berinisiatif untuk menanyakan tentang neneknya pada kedua makhluk yang saat itu menyamar jadi kedua orang tuanya. Jane berharap setidaknya neneknya tahu dimana letak televisi tua.
"Ayah, kita ke rumah nenek yuk!" ajak Jane pada ayahnya.
"Nenek? Jane apa kamu lupa? nenekmu kan sudah meninggal!" jawab ayah yang langsung membuat Jane menatap tajam ayahnya.
"Nenek masih hidup yah!!!" sahut Jane yakin.
"Nenekmu memang tidak ada di dunia ini Jane, hihihi. Kau pikir kami tidak tahu kau terbangun tadi malam dan melihat wujud asli kami. . . hahaha!" seketika makhluk itu berubah wujud ke wujud aslinya. Tubuhnya sangat tinggi hingga menembus atap rumah. Perlahan rumah yang Jane dan keluarganya diami saat ini roboh dan menghilang.
Sekarang Jane berada di tempat yang gelap bersama makhluk yang sangat tinggi itu.
Jane pun langsung berlari menjauh dari makhluk itu. Namun saat Jane berlari, di depannya tampak makhluk perut buncit itu sudah menghadangnya.
Jane akhirnya terduduk di tanah dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Si-si-siapa kalian?!!! LEPASKAN AKU!!!" teriak Jane pada makhluk berperut buncit itu.
"Lepaskan?, Jane kamu sendirikan yang membawa dirimu masuk ke sini. Jadi ini adalah pilihanmu sendiri kan. . . hihi" ucap makhluk berperut buncit itu dengan tawa mengerikannya.
"Kumohon keluarkan aku dari sini. . ." rengek Jane sambil berlinang air mata.
"Sudah terlambat sayang, kamu milik kami sekarang! hahaha!" sahut makhluk berbadan tinggi dari belakang.
"Tidak dia milikku makhluk jelek!!!" makhluk berperut buncit itu menyahut dengan amarah pada makhluk berbadan tinggi itu. Kedua makhluk itu saling adu cepat untuk menangkap Jane yang sedang terduduk di tanah.
Jane menjadi bahan rebutan kedua makhluk itu. Bahkan mereka saling bertarung sengit untuk bisa mendapatkan Jane sepenuhnya. Jane yang melihat keadaan itu, langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari menjauh dari mereka.
Jane menyapu ke sekeliling tempat itu. Namun dia tidak bisa menemukan apapun untuk bersembunyi dari kedua makhluk itu.
Karena kesal Jane menepuk-nepuk tanah yang saat itu di pijaknya. Dengan penuh penyesalan dia bersimpuh dan menangis sambil mengingat wajah ibunya. Dia terus menepuk-nepuk tanah.
Tanpa di duga glitch kembali muncul dari dalam tanah. Dengan cekatan Jane langsung menggali tanah itu dengan cepat.
Jane langsung tersenyum ketika melihat televisi tua itu sudah ada di depannya.
Dsssst. . .dsssst. . .dssst!
Jane terus menatap telivisi tua itu. Sedangkan di belakangnya tampak makhluk yang menjadi pemenang pertarungan. Yaitu makhluk berperut buncit itu. Rambut panjangnya bergerak dengan cepat untuk menangkap Jane.
"Kumohon! kumohon! kumohon!!!" gumam Jane sambil menepuk-nepuk layar televisi tua itu.
Rambut makhluk perut buncit itu berhasil mencapai Jane, dan langsung melilit tubuh Jane. Jane tidak putus asa, dia terus menatap televisi tua sambil berpegangan erat di gundukan tanah.
Akhirnya gambar muncul di layar televisi tua. Terlihat di layar itu ada ibu Jane yang tertidur pulas di samping nenek Jane yang sedang sakit.
"MAMAH!!!" Jane langsung menyentuh wajah ibunya lewat layar televisi. Rambut itu terus menarik tubuh Jane menjauh dari televisi tua. Tubuh Jane gemetaran, air matanya terus menetes di pipinya.
"AAAAAARKKHH" Jane berteriak, pandangannya kembali penuh dengan glitch dan seketika langsung menjadi gelap.
°°°°📺°°°°
"Jane cepat bangun nanti kamu terlambat pergi ke sekolah!" Jane langsung terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara lembut ibunya. Dia langsung memperhatikan tubuhnya untuk memastikan. Dengan perasaan yang lega dan bahagia, Jane tersenyum melihat dirinya sudah kembali ke usianya yang sebenarnya. Jane langsung berlari memeluk ibunya dengan erat.
"Maafkan aku Mah, selama ini aku selalu ketus pada Mamah!" ucap Jane sambil menangis di pelukan ibunya. Ibunya awalnya sedikit bingung melihat tingkah putrinya itu. Perlahan dia pun membalas pelukan Jane.
"Nggak apa-apa Jane, ibu paham kok!" balas ibu yang juga ikut menangis karena terharu melihat sikap putrinya.
Tanpa sengaja Jane melihat televisi tua yang ada di meja samping jendelanya itu sudah tidak ada. Jane mengernyitkan dahinya dan langsung menanyakan keberadaan televisi tua itu pada ibu.
"Televisi itu ternyata bukan pemberian nenek Jane, kayaknya itu kerjaan orang iseng deh. Makanya Mamah buang aja, lagi pula kamu nggak suka kan?" jelas ibu pada Jane.
"Bagus Mah! kalau perlu di bakar aja!" sahut Jane dengan raut wajah serius lalu kembali memeluk erat ibunya.
~TAMAT~