Bab 12
Martha. Kepala pelayan mansion Vance. Anjing penjaga setia milik Nenek Adrian, Madam Vance, yang paling sering menyiksa Erena secara sembunyi-sembunyi karena menganggap Erena tak lebih dari sampah yang mengotori silsilah majikannya.
Melihatku berdiri di tengah tangga, langkah Martha terhenti. Senyum meremehkan yang amat sangat menjijikkan terukir di wajahnya.
"Nyonya Erena," sapa Martha, nadanya sama sekali tidak menyiratkan rasa hormat, melainkan ejekan murni. Ia melangkah naik, mendekatiku. "Dokter memerintahkan Anda untuk tidak keluar dari kamar. Apakah penyakit gila Anda mulai kumat lagi sehingga Anda lupa pada instruksi sederhana?"
Aku diam. Mataku menatap lurus ke wajah keriputnya tanpa berkedip.
Miskonsepsi dari keheninganku membuat Martha semakin besar kepala. Ia mengira aku sedang ketakutan dan bersiap untuk menangis histeris seperti biasa. Wanita tua itu maju satu langkah lagi, jarak kami kini hanya tersisa dua anak tangga.
"Kembali ke kamar Anda, Nyonya, sebelum saya terpaksa memanggil penjaga untuk menyeret Anda masuk. Anda sangat tahu Tuan Adrian membenci keributan," desis Martha rendah, tangannya terulur, berniat mencengkeram lenganku dengan kasar.
Dalam hitungan detik—dengan kecepatan refleks seorang pembunuh bayaran yang sudah membunuh sejak usia belasan tahun—tanganku bergerak.
Trep!
Aku menepis tangannya, lalu memutar pergelangan tangan Martha ke belakang dengan satu gerakan mulus dan mengunci lengannya. Tubuh wanita tua itu tersentak keras, menabrak pegangan tangga kayu.
"Akh! Apa yang—lepaskan!" jerit Martha tertahan, wajahnya seketika pucat pasi karena rasa sakit yang membakar persendiannya.
Aku mencondongkan tubuhku ke depan, mendekatkan bibirku ke telinganya. Hawa membunuh yang sangat pekat dan gelap menguar dari setiap pori-poriku, membuat udara di sekitar kami seolah membeku.
"Aku mungkin diam selama ini, Martha," bisikku, suaraku mengalun sangat lembut, sedingin es beracun. "Tapi hanya karena seekor anjing dibiarkan menggonggong, bukan berarti tuannya tidak bisa memotong lidahnya kapan saja."
"L-lepaskan saya, dasar wanita g-gila!" Martha tergagap, keringat dingin membanjiri dahinya. Ia mencoba meronta, namun cengkeramanku di titik saraf pergelangannya membuat tenaganya seolah lumpuh total.
"Dengar baik-baik," lanjutku, semakin menekan titik sarafnya hingga ia mendesis kesakitan. "Mulai detik ini, jika kau atau pelayan rendahan mana pun di rumah ini berani menatapku dengan sebelah mata, apalagi menyentuhku tanpa izin... aku akan memastikan tangan kalian menjadi pajangan di ruang makan. Paham?"
Martha tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka-tutup mencari udara akibat teror murni yang memancar dari mataku. Erena yang gila dan rapuh tidak akan pernah bisa melakukan hal ini. Wanita tua itu akhirnya mengangguk patah-patah dengan wajah pias.
Aku tersenyum miring, lalu menghempaskan tangannya dengan kasar seolah membuang kotoran. Martha terjerembab mundur, memegangi pergelangan tangannya yang memerah, lalu lari terbirit-birit menuruni tangga tanpa berani menoleh ke belakang.
Aku merapikan gaun sutraku dengan santai. Satu parasit berhasil disingkirkan.
Prok. Prok. Prok.
Suara tepuk tangan lambat, menggema, dan penuh dengan aura intimidasi tiba-tiba terdengar dari arah balkon lantai dua yang berada tepat di atasku.
Aku mendongak, mataku menyipit.
Di sana, bersandar dengan elegan pada pagar marmer balkon, berdirilah Adrian Vance. Pria itu masih mengenakan setelan kantornya—kemeja hitam pekat tanpa dasi dengan dua kancing teratas dibiarkan terbuka, memamerkan jakunnya yang tegas. Sarung tangan kulit hitamnya tak pernah absen menutupi jemarinya yang panjang. Asap kelabu mengepul tipis dari sebatang rokok yang terapit di antara dua jarinya.
Ia pasti sudah berdiri di sana sejak awal, menonton pertunjukanku dengan Martha layaknya menonton teater favoritnya.
"Luar biasa," suara bariton Adrian mengalun berat, meluncur menuruni tangga dan menyelimutiku. "Seekor kelinci yang tiba-tiba belajar cara mematahkan leher anjing pemburu. Pantas saja aku merasa mansion ini menjadi sedikit lebih... hidup."
Adrian menjentikkan puntung rokoknya ke dalam asbak kristal terdekat, lalu mulai berjalan menuruni tangga, melangkah perlahan ke arahku. Setiap ketukan pantofel mahalnya terdengar seperti detak bom waktu. Ritme yang sangat pelan, slow burn, memancing ketegangan yang mendebarkan di dada.
Aku tidak bergeming. Aku menunggunya di anak tangga tengah, memaksanya untuk menatapku sejajar begitu ia tiba di hadapanku.
"Kupikir kau masih sibuk bersembunyi di balik kamera pengawasmu, Suamiku," sindirku, tak sedikit pun terintimidasi oleh auranya yang mematikan.
Adrian berhenti tepat satu anak tangga di atasku. Karena posturnya yang menjulang hampir 190 sentimeter, posisi ini membuatnya menatapku ke bawah. Jarak kami begitu dekat. Aroma tajam dari tembakau mahal, wiski, dan wangi pinus menginvasi paru-paruku.
"Aku tidak pernah bersembunyi, Erena. Aku hanya sedang mengobservasi mangsaku sebelum menentukan bagaimana cara terbaik untuk mengulitinya," jawab Adrian pelan.
Pria itu memiringkan kepalanya sedikit. Matanya yang segelap obsidian turun, menelusuri gaun sutra merah marunku yang mencetak lekuk tubuh ringkih Erena, lalu kembali naik ke mataku. Ada badai gelap di dalam sana. Sebuah rasa penasaran yang teramat dalam, bercampur dengan gairah aneh yang tak bisa ia sangkal.
"Kepala pelayan yang baru saja kau ancam patah tulang adalah kaki tangan Nenekku," ucapnya santai. "Kau sadar kau baru saja menabuh genderang perang?"
"Aku tidak menabuh genderang. Aku langsung menodongkan meriam," balasku dengan senyum miring yang sinis. "Lagi pula, aku tahu kau membenci nenekmu dan boneka-bonekanya di rumah ini. Kau seharusnya berterima kasih padaku karena telah menyingkirkan satu hama dari pandanganmu."
Adrian terkekeh pelan. Sebuah tawa rendah, bergetar, dan luar biasa seksi yang membuat sisa-sisa trauma di tubuh Erena menguap entah ke mana.
Dengan gerakan yang sangat lambat namun penuh dominasi, pria itu melangkah turun satu anak tangga lagi. Jarak kami kini nyaris hilang. Ujung sepatu pantofelnya bersentuhan dengan ujung jari kakiku yang telanjang. Aku secara otomatis memundurkan langkahku, punggungku membentur dinding tangga.
Adrian tidak membiarkanku lari. Ia mengurungku dengan meletakkan kedua lengannya yang berbalut kemeja hitam di sisi kanan dan kiri kepalaku. Hawa panas tubuhnya langsung mengurungku. Fobianya mungkin melarangnya menyentuh kulitku, namun ia sepertinya sangat tahu bagaimana cara menggunakan intimasi untuk menyiksaku secara mental.
"Kau sangat arogan, Istriku," bisik Adrian, mencondongkan wajahnya hingga bibirnya berada tepat di sebelah telingaku. Napasnya menggelitik kulit leherku yang telanjang, mengirimkan desiran aneh yang membakar perutku. "Wanita di depanku ini... memiliki tubuh yang rapuh, tapi lidahnya lebih tajam dari pisau belati, dan refleksnya mematikan seperti seorang pembunuh terlatih."
Aku memutar wajahku, menatapnya dari jarak beberapa sentimeter. "Takut, Tuan Vance?"
"Terpesona," ralatnya cepat, dengan suara yang parau.
Tangan kanannya bergerak. Mengingat ia tidak bisa menyentuh kulitku secara langsung meskipun memakai sarung tangan (karena batas toleransinya yang aneh), Adrian mengeluarkan sebuah pulpen fountain emas dari saku kemejanya.
Dengan ujung pulpen emas yang dingin itu, ia mengangkat daguku secara perlahan, memaksaku untuk menengadah, mengunci pandanganku ke dalam matanya yang kelam. Sentuhan tidak langsung itu... anehnya terasa jauh lebih intim, mendominasi, dan sangat menggairahkan daripada sentuhan telanjang.
"Katakan padaku, makhluk kecil," bisik Adrian, tatapannya menyusuri bibirku sebelum kembali menatap mataku dengan intensitas yang membara. "Ke mana perginya istriku yang cengeng? Siapa jiwa liar yang sekarang tersesat di dalam sangkar emasku ini?"
Aku menelan ludah pelan, merasakan ujung logam emas itu menekan daguku dengan posesif. Jantungku berpacu, adrenalin berdesir memabukkan. Pria di hadapanku ini bukan sekadar CEO biasa. Dia sama berbahayanya denganku.
"Kau pria yang pintar, Adrian," bisikku balik, menyandarkan kepalaku lebih santai ke dinding tanpa berniat melepaskan diri. "Cari tahu sendiri. Tapi berhati-hatilah... karena terkadang, monster yang kau pancing keluar dari dalam kegelapan, akan berakhir menelanmu bulat-bulat."
Adrian tersenyum miring. Ia menurunkan pulpennya, namun tidak menjauhkan wajahnya.
"Aku menantikannya," desisnya rendah. "Jika kau memang monster... maka mari kita lihat, siapa di antara kita yang akan hancur lebih dulu."
Udara di antara kami berderak oleh percikan api tak kasat mata. Sebuah obsesi gelap telah lahir dari darah dan pecahan kaca, mengikat dua jiwa pendosa dalam sebuah permainan mematikan yang tak memiliki jalan keluar.