Sudut bibir Adrian berkedut samar, membentuk seringai yang sangat tipis dan berbahaya. Alih-alih marah karena diusir, pria itu justru mengambil cangkir kopi hitam dari nampan, membawanya ke bibir, dan menyesapnya pelan tanpa mengalihkan pandangannya dariku. Matanya yang gelap seolah menelanjangiku, mencari kebohongan di setiap jengkal wajahku.
"Kopinya pahit," gumam Adrian setelah menelan cairan hitam itu. Ia menurunkan cangkirnya perlahan. "Sama seperti caramu berbicara padaku pagi ini."
"Kalau begitu jangan diminum. Simpel, bukan?" balasku ketus.
"Tidak," jawabnya, suaranya tiba-tiba berubah serak. "Aku benci sesuatu yang terlalu manis. Rasa pahit... membuatku terjaga."
Ada keheningan panjang setelah kalimat itu terucap. Udara di antara kami terasa kental oleh ketegangan yang tak terlihat. Percakapan ini bukan lagi sekadar pertengkaran suami-istri. Ini adalah permainan kekuasaan. Tarik-ulur antara dua ego yang sama-sama dominan, sama-sama keras kepala, dan sama-sama menyimpan sisi gelap.
Tiba-tiba, ingatanku kembali pada kejadian semalam. Pada detik-detik sebelum aku kehilangan kesadaran. Ada sebuah sentuhan. Sentuhan hangat di bahuku, kulit bertemu kulit, tanpa penghalang sarung tangan.
Aku memicingkan mata, menatap kedua tangannya yang kini terbalut sarung tangan abu-abu. Seringai tipis yang provokatif terukir di bibirku.
"Katakan padaku, Adrian," suaraku merendah menjadi bisikan yang menggoda dan mematikan, "apakah fobia sentuhanmu itu memiliki jam kerja? Karena seingatku, semalam... saat aku setengah sadar, ada tangan tanpa sarung yang menarik selimutku."
Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh tegap Adrian seketika membeku. Jakunnya bergerak naik-turun saat ia menelan ludah. Kilat keterkejutan memecah benteng pertahanannya selama beberapa detik, sebelum akhirnya tertutup kembali oleh topeng es andalannya.
"Efek obat biusnya pasti merusak sebagian sel otakmu yang tersisa," balas Adrian dingin, suaranya sedikit lebih tajam dari sebelumnya. Ia meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas nampan dengan sedikit bantingan keras. Trang!
Pria itu membalikkan badan, berniat pergi. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia menoleh perlahan melewati bahunya, menatapku dengan sorot mata yang menggelap, sarat akan peringatan yang membakar.
"Minum obatmu, Erena. Karena begitu kau sembuh dari ranjang itu, aku tidak akan membiarkanmu bersembunyi lagi di balik penyakit mentalmu. Aku akan mencari tahu siapa yang sedang menempati tubuh istriku, sekecil apa pun celah yang harus kuhancurkan untuk mendapatkannya."
Pintu oak itu kembali tertutup rapat, menyisakan deru napasku yang sedikit memburu. Jantungku berdetak kencang—bukan karena ketakutan, melainkan karena antisipasi yang membara.
Adrian Vance baru saja menyatakan perang. Dan bagi seorang Hana Rose Exric, tidak ada hal yang lebih membangkitkan gairah selain musuh yang sepadan.
Permainan dimulai, Suamiku.
Tarian Berdarah di Atas Papan Catur
Satu minggu berlalu sejak malam di mana aku nyaris mati untuk kedua kalinya.
Satu minggu pula aku terjebak di dalam kamar raksasa bernuansa monokrom ini, terkurung bagai burung kenari cacat di dalam sangkar emas. Tubuh Erena perlahan pulih, meski rasa ngilu di tulang rusukku masih sering berdenyut menyakitkan setiap kali aku menarik napas terlalu dalam. Luka jahitan di telapak tanganku mulai mengering, meninggalkan bekas luka memanjang yang entah mengapa terlihat seperti sebuah garis takdir baru.
Selama tujuh hari ini, Adrian tidak pernah muncul lagi.
Pria itu hanya memerintahkan para pelayan dan dokter untuk memantau perkembanganku bak seorang sipir penjara yang mengawasi tahanan hukuman mati. Tapi aku tahu, dari sorot mata kamera pengawas yang berkedip merah di sudut-sudut langit-langit kamar, Adrian Vance tidak pernah benar-benar mengalihkan pandangannya dariku. Ia sedang mempelajariku dari jauh.
Sore ini, hujan turun rintik-rintik, mengetuk kaca jendela raksasa dengan irama yang muram. Suasana dingin meresap hingga ke tulang. Aku menurunkan kakiku dari ranjang, menjejakkan telapak kakiku yang telanjang di atas karpet bulu tebal.
Sudah cukup masa pemulihannya, batinku dingin.
Sebagai seorang Capo Bratva di masa laluku, berdiam diri di satu tempat tanpa memetakan wilayah adalah sebuah tindakan bunuh diri. Aku butuh mengetahui tata letak mansion ini, jumlah penjaga, akses keluar, dan yang paling penting: siapa saja musuh dan sekutuku di dalam rumah ini.
Dengan mengenakan gaun tidur panjang berbahan sutra merah marun—warna yang sengaja kupilih karena mengingatkanku pada warna darah—aku melangkah keluar kamar.
Lorong mansion Vance sangat sunyi, luas, dan dingin. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan klasik era Renaisans yang muram. Peninggalan keluarga aristokrat yang kaku.
Baru beberapa belas langkah aku berjalan menyusuri lorong menuju tangga utama, sebuah sensasi aneh tiba-tiba menyerangku. Tanpa peringatan, napasku tercekat. Jantungku berdebar tak karuan, dan kakiku gemetar hebat seolah aku baru saja melangkah ke ujung jurang. Keringat dingin merembes di pelipisku.
’Sial... apa ini?’ aku mengumpat dalam hati, mencengkeram pegangan tangga yang terbuat dari kayu mahoni.
Ini bukan rasa takutku. Ini adalah respons otomatis dari tubuh Erena. Memori otot dari trauma masa lalu. Di tangga inilah, atau mungkin di lorong-lorong sepi seperti ini, Erena yang asli sering kali disiksa, didorong, atau dicaci maki. Ketakutan gadis itu begitu mendarah daging hingga tubuhnya mengingat rasa sakit itu lebih kuat daripada otaknya.
Kesedihan yang pekat kembali meremas dadaku. Betapa hancurnya hidupmu, Erena, hingga sekadar berjalan di lorong rumahmu sendiri terasa seperti berjalan di ladang ranjau?
Aku menarik napas panjang, memejamkan mata, dan memaksa dominasi jiwaku untuk menekan trauma fisik itu. ’Tenanglah. Aku di sini. Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi, Erena,’ bisikku pada diriku sendiri.
Saat mataku terbuka, kelemahan itu lenyap. Sepasang mataku kembali setajam pisau belati.
Namun, ketenanganku tidak berlangsung lama. Dari arah ujung bawah tangga, terdengar derap langkah sepatu hak rendah yang berderik angkuh. Seorang wanita paruh baya berseragam kepala pelayan muncul. Wajahnya keras, bibirnya tipis, dan matanya menatap tajam penuh penghakiman. Aku mengenalinya dari sisa ingatan Erena.