Bab 10
Melodi Kepedihan dan Secangkir Kopi Pahit
Cahaya pagi menyusup lewat celah tirai beludru tebal, melukis garis-garis keemasan di atas lantai pualam yang dingin.
Aku membuka mata perlahan, disambut oleh dengungan pelan di kepalaku. Efek obat bius dan pereda nyeri berdosis tinggi semalam masih meninggalkan jejak berat di kelopak mataku. Namun, realitas segera menghantamku kembali. Rasa ngilu dari tulang rusukku yang retak menyapaku bagai alarm pagi yang kejam, mengingatkanku bahwa aku masih bernapas di dalam neraka yang baru.
Aku tidak lagi berada di duniaku. Aku bukan lagi Hana Rose Exric, sang penguasa bawah tanah. Tubuh ringkih yang terbalut selimut sutra ini adalah Erena Martin. Istri terbuang dari seorang pria yang menganggap sentuhan adalah kutukan.
Dengan susah payah, aku memaksa tubuh ini untuk bangkit bersandar pada kepala ranjang. Napasku terhela berat. Kamar raksasa bernuansa monokrom ini terasa begitu kosong dan teralienasi. Tidak ada Adrian. Pria arogan itu entah sudah pergi ke mana.
Sambil mengatur napas, pandanganku tanpa sengaja jatuh pada laci nakas di sebelah ranjang yang sedikit terbuka. Ada sebuah buku bersampul kulit pudar yang menyembul dari baliknya. Didorong oleh insting dan rasa ingin tahu, tanganku yang bebas dari infus meraih buku tersebut.
Buku itu adalah sebuah buku harian.
Halaman-halamannya sudah menguning, dipenuhi oleh tulisan tangan yang bergetar dan acak-acakan. Saat aku membalik halamannya, dadaku tiba-tiba berdesir hebat. Sisa-sisa jiwa Erena yang menempel pada tubuh ini bereaksi secara brutal, memaksaku untuk merasakan kepedihan yang ia tuangkan dalam setiap goresan tinta.
"2 Februari. Ayah menamparku lagi hari ini. Dia bilang tatapanku kosong dan memalukan. Aku tidak bermaksud menatapnya seperti itu, kepalaku hanya terasa sangat berisik. Aku meminum obatku, tapi monster di kepalaku terus berteriak."
"15 April. Nyonya Vance membawaku ke rumah raksasa ini. Dia bilang aku akan menjadi istri Adrian. Aku melihat Adrian dari jauh. Dia sangat tampan, seperti pangeran dalam dongeng yang sering dibacakan ibu sebelum ia meninggal. Tapi saat aku mencoba tersenyum padanya, Adrian menatapku seolah aku adalah sampah yang berbau busuk. Dia membenciku. Sama seperti Ayah. Sama seperti semua orang."
Tanganku gemetar. Mataku membaca halaman terakhir, tertanggal tepat di malam saat Erena memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
"Malam ini sangat dingin. Aku sudah lelah meminum obat yang membuatku tidak bisa merasakan apa-apa. Aku lelah menjadi beban. Jika aku melompat, apakah rasa sakit di kepalaku akan hilang? Apakah di langit sana ada seseorang yang mau memelukku tanpa merasa jijik? Tolong... aku hanya ingin dipeluk. Satu kali saja."
Satu tetes air mata jatuh, menodai tinta di atas kertas usang itu.
’Tolong... aku hanya ingin dipeluk.’ Kalimat itu menggema di dalam kepalaku, menyayat-nyayat benteng pertahanan emasku. Aku, seorang mafia berdarah dingin yang tidak pernah menangisi kematian bawahan terhebatku sekalipun, kini terisak dalam diam meratapi nasib seorang gadis yang tidak pernah kukenal.
Erena tidak gila. Dia hanya sangat kesepian. Ia dikelilingi oleh monster dalam wujud manusia—keluarga yang kejam dan suami yang apatis. Keputusasaan gadis ini begitu murni dan pedih.
"Aku berjanji padamu, Erena..." bisikku dengan suara serak, mengusap kasar air mata di pipiku. Tanganku mencengkeram buku harian itu erat-erat. "Penderitaanmu berakhir di sini. Tidak akan ada lagi yang berani menatap kita dengan sebelah mata. Aku akan menghancurkan mereka semua."
Cklek.
Suara pintu kamar yang terbuka membuatku mendongak dengan cepat. Refleks, aku menyembunyikan buku harian itu di balik selimut sutra. Emosi kesedihan yang baru saja menguasai wajahku seketika membeku, berganti dengan topeng es yang tak tertembus.
Adrian Vance melangkah masuk.
Pria itu tampak luar biasa sempurna. Ia sudah mengenakan setelan jas kerja tiga lapis berwarna abu-abu arang yang dipotong sempurna menyesuaikan bentuk tubuh tegapnya. Rambut gelapnya disisir rapi ke belakang. Di tangannya, yang tentu saja dilapisi oleh sarung tangan kulit berwarna senada, ia membawa sebuah nampan perak berisi secangkir kopi hitam yang mengepulkan asap tipis, segelas air putih, dan beberapa butir pil obat.
Langkah sepatunya terdengar teratur dan mendominasi saat ia berjalan mendekati ranjang. Matanya yang tajam bak elang pemangsa langsung mengunci pandanganku. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya meletakkan nampan perak itu di atas meja kecil di sebelah ranjangku.
"Kupikir CEO sepertimu terlalu sibuk untuk mengantarkan sarapan pagi untuk istri cacatnya," sindirku memecah keheningan. Suaraku datar, sinis, dan penuh provokasi.
Adrian mendengus pelan. Ia tidak langsung pergi, melainkan berdiri di sisi ranjang, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. Matanya menyipit, meneliti wajahku dengan intensitas yang membuat napasku nyaris tertahan.
"Mata merahmu menceritakan hal yang berbeda dari nada suaramu yang angkuh, Erena," ucap Adrian. Suara baritonnya rendah, bergetar pelan di udara pagi yang hening. "Kau baru saja menangis."
"Debu dari kamarmu yang suram ini masuk ke mataku," balasku cepat, menolak menatap matanya secara langsung.
"Pembohong yang buruk," bisiknya.
Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan. Wangi pinus dan kopi yang melekat padanya menginvasi indra penciumanku. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat bayangan wajahku sendiri di kedalaman mata obsidiannya. Ada sesuatu yang aneh dalam tatapannya pagi ini. Bukan lagi jijik, melainkan sebuah rasa lapar yang tersembunyi—lapar akan kebenaran tentang siapa diriku sebenarnya.
"Kau menangis," lanjut Adrian, suaranya melembut namun menyiratkan bahaya, "tapi bukan tangisan histeris yang biasa kau lakukan. Tangisanmu sunyi. Seperti seseorang yang sedang meratapi kematian."
Tubuhku menegang. Insting mafiaku menjerit, memperingatkan bahwa pria ini terlalu pandai membaca situasi. Aku menegakkan daguku, memaksakan senyum miring di bibirku yang pucat.
"Mungkin aku memang sedang meratapi kematian. Kematian diriku yang lama," tantangku, menatap tepat ke dalam matanya. "Minumlah kopimu, Adrian. Perhatikan urusan bisnismu. Berhenti membedahku seolah aku adalah proyek perusahaanmu yang gagal."