Bab 4
Sentuhan di Atas Darah dan Beling
Angin malam berhembus semakin kasar, menusuk pori-pori kulitku yang terbuka dan gemetar. Aku berdiri di sana, bertumpu pada kedua kaki Erena yang ringkih dan penuh memar. Pandanganku mulai berputar hebat, tapi aku menolak untuk tumbang. Belum. Tidak di hadapan pria arogan yang menatapku seolah aku adalah kotoran di bawah sepatunya.
Semua orang di taman itu seakan menahan napas. Suasana hening yang mencekam merayap di udara, hanya dipecahkan oleh suara tetesan darahku yang menghantam lantai marmer putih. Tik. Tik. Tik.
Aku menatap lurus ke arah Adrian Vance. Mata obsidian pria itu, yang tadinya hanya memancarkan kebosanan dan rasa jijik, kini menyipit. Ada badai kecil yang bergejolak di kedalaman manik gelapnya. Ia tengah menganalisaku, menguliti setiap gerak-gerikku, mencari celah kewarasan dari seorang istri yang selalu ia anggap gila.
"Kau..." Suara bariton Adrian akhirnya memecah keheningan, mengalun rendah dan berbahaya. Ia melangkah satu inci lebih dekat. Aroma maskulin dari cologne mahal bercampur aroma pinus malam menguar darinya, mendesak bau anyir darahku. "Kau menantangku, Erena?"
Bibirku melengkung membentuk seringai miring. "Aku tidak sedang menantang, Suamiku. Aku hanya sedang memberi tahu," balasku, suaraku terdengar serak dan parau, nyaris seperti bisikan mematikan. "Tubuh ini... adalah milikku. Dan tidak ada seorang pun, termasuk para pesuruh bodohmu, yang boleh menyentuhnya tanpa izinku."
Di masa laluku sebagai Hana Rose, saat aku memimpin Bratva, kata-kataku adalah hukum mutlak. Dan malam ini, aura mematikan itu menembus cangkang rapuh Erena. Dua penjaga berbadan besar yang tadinya hendak mengangkatku, tanpa sadar melangkah mundur dengan wajah pucat.
Namun, batas fisik dari tubuh manusia tidak bisa dibohongi oleh tekad belaka.
Tepat setelah aku menyelesaikan kalimatku, sebuah rasa sakit yang teramat luar biasa—seolah tulang rusukku baru saja dihantam palu godam—meledak di dadaku. Napasku tercekat. Paru-paruku seakan menolak oksigen.
’Sial...’ rutukku dalam hati. Tubuh Erena ini sudah mencapai batas maksimalnya. Kerusakan organ dalamnya akibat benturan jatuh dari lantai tiga mulai menuntut haknya.
Pandanganku seketika menggelap. Lututku kehilangan daya topangnya, dan tubuhku limbung ke depan. Aku bersiap untuk kembali merasakan hantaman keras lantai marmer, bersiap menyambut rasa sakit yang akan meremukkan sisa tulangku.
Namun, benturan itu tidak pernah terjadi.
Sesuatu yang kuat, kasar, dan hangat menahan lenganku dengan cengkeraman yang begitu posesif. Mataku terbelalak lebar, memaksakan diri untuk terbuka.
Adrian Vance.
Pria yang dikabarkan mengidap haphephobia parah—yang rela membakar pakaiannya jika tanpa sengaja tersentuh oleh wanita—kini memegang lenganku erat-erat. Sarung tangan kulit hitamnya menekan kulitku yang telanjang dan bersimbah darah. Meskipun ada lapisan kulit sarung tangan yang memisahkan kami, sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi bagi kami berdua.
Aku bisa melihat rahang Adrian mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Napasnya tertahan. Matanya membelalak kaget, seolah ia sendiri tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh refleks tubuhnya. Ia menatap tangannya yang kini ternoda oleh darahku. Ada rasa jijik, mual, namun entah mengapa... pria itu tidak melepaskan cengkeramannya. Ia justru menahanku agar tidak jatuh sepenuhnya, menarik tubuhku sedikit lebih dekat hingga dada kami nyaris bersentuhan.
Dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat setiap jengkal kesempurnaan wajahnya. Dan dia pun bisa melihat hancurnya wajahku.
"Lepaskan... tangan kotormu," desisku pelan, sangat pelan, dengan sisa-sisa napas terakhirku.
Aku menolak diselamatkan oleh pria yang membiarkan Erena menderita. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menyentak lenganku dari cengkeramannya.
Penolakan itu sukses membuat Adrian tertegun. Genggamannya terlepas. Dan kali ini, tubuhku benar-benar jatuh membentur lantai yang dingin.
Kesadaranku ditarik paksa ke dalam kegelapan. Namun, sebelum mataku sepenuhnya tertutup, aku bisa melihat ekspresi Adrian yang berubah drastis. Tembok es di wajahnya retak. Pria itu menatap tangannya sendiri yang berlumuran darahku dengan napas memburu, lalu menatap tubuhku yang terbujur kaku dengan pandangan yang sulit diartikan. Terkejut. Marah. Dan... terpaku.
[Alam Bawah Sadar]
Kegelapan ini tidak memberiku kedamaian. Justru, di sinilah aku bertemu dengan sisa-sisa keputusasaan yang ditinggalkan oleh Erena yang asli.
Aku seperti ditarik ke dalam sebuah teater tua yang memutar potongan film pudar berulang-ulang. Aku merasakan apa yang Erena rasakan. Sebuah kesepian yang begitu ngilu dan menyayat hati.
Aku merasakan tamparan keras dari ayah Erena saat gadis itu secara tidak sadar menangis histeris. "Anak cacat tidak berguna! Kau hanya membawa aib bagi keluarga ini!"
Aku merasakan rasa dingin yang menusuk tulang saat Erena dikurung di kamar mandi gelap selama berhari-hari oleh ibu tirinya. Tidak ada yang memeluknya. Tidak ada yang membisikkan bahwa ia akan baik-baik saja. Gadis ini berjuang sendirian melawan monster di dalam kepalanya, hanya untuk berakhir menjadi barang dagangan—dijual kepada keluarga Vance demi menutupi kecacatan sang CEO.
Dan yang paling menyakitkan, aku merasakan detik-detik terakhirnya di balkon. Keputusasaan yang begitu pekat. Ia hanya ingin bebas. Ia memanjat pagar pembatas itu sambil menangis, menatap langit malam, berharap Tuhan mau menjemputnya. Tidak ada yang mendorongnya. Erena membunuh dirinya sendiri karena dunia ini terlalu kejam untuknya.
’Betapa menyedihkannya kita, Erena...’ bisikku dalam kehampaan, merasakan air mata imajiner mengalir di pipiku. ’Aku mati dibunuh oleh keluargaku sendiri melalui racun. Kau mati dibunuh oleh keluargamu melalui pengabaian. Kita sama-sama dibuang oleh dunia terang.’
Rasa sakit dan kesedihan yang membuncah di dadaku perlahan bertransformasi menjadi amarah yang mendidih. Dendam yang gelap.
’Tidurlah yang tenang, Erena kecil. Mulai detik ini, air mata tidak akan lagi jatuh dari mata ini. Aku, Hana Rose Exric, akan mengambil alih penderitaanmu. Aku akan membuat mereka semua—keluarga Martin, keluarga Vance, dan pria arogan itu—berlutut dan memohon ampunan pada tubuh cacat yang mereka buang ini.’