Bab 2
Alasannya sangat konyol sekaligus tragis. Sang CEO memiliki penyakit psikologis aneh: Haphephobia ekstrem. Ia tidak bisa bersentuhan dengan kulit wanita mana pun. Sentuhan sekecil apa pun akan membuatnya merasa jijik, mual, hingga sesak napas. Itulah sebabnya pria aristokrat itu tetap melajang hingga detik ini. Erena dinikahkan dengannya hanya sebagai pajangan hidup, sebuah tameng untuk menutupi kekurangan sang CEO dari mulut busuk publik dan media.
Namun, pernikahan tanpa cinta dan penuh tekanan itu rupanya terlalu berat bagi jiwa rapuh Erena. Ingatan terakhir yang kuterima dari tubuh ini sangatlah buram dan mengerikan. Teriakan, dorongan, dan angin malam yang berhembus kencang.
Erena yang asli telah tiada. Ia jatuh—atau mungkin didorong?—dari balkon lantai tiga rumah mewah itu. Jasadnya yang hancur inilah yang kini ku tempati.
Aku mencoba menggerakkan jari-jariku yang bersimbah darah. Rasa sakit yang tajam menjalar dari punggung hingga ke kepalaku yang bocor. Perlahan, bibir pucat milik Erena ini melengkung ke atas, membentuk sebuah seringai dingin yang mengerikan.
Wanita lemah ini mungkin telah mati terbanting di atas dinginnya aspal. Tapi kini, yang menghuni tubuh cacat ini bukan lagi boneka rusak yang bisa diinjak-injak oleh keluarga Martin atau disia-siakan oleh seorang CEO arogan.
Yang ada di dalam tubuh ini sekarang adalah bos mafia. Gadis liar, egois, dan kejam yang baru saja kembali dari neraka.
"Kalian salah memilih lawan main," bisikku parau, menatap nanar ke arah balkon lantai tiga yang menjulang tinggi dalam kegelapan malam. "Aku akan membalas setiap tetes rasa sakit ini."
Sisa Darah dan Langkah Kaki yang Dingin
Rasa sakit itu tidak berkurang. Justru, seiring berjalannya waktu, setiap saraf di tubuh Erena yang kini kukuasai seolah berteriak serentak. Darah hangat terus mengalir dari pelipisku, menyusuri pipi, dan menetes ke atas rumput taman yang basah oleh embun malam.
Aku terengah-engah. Di dalam benakku, bayangan kematianku sebagai Hana Rose Exric masih berputar layaknya pita kaset yang rusak. Sialan. Wajah ibuku yang menangis histeris, cangkir porselen yang pecah, dan rasa terbakar dari racun jahanam itu... semuanya terasa begitu nyata sampai-sampai aku hampir tidak bisa membedakan apakah dadaku sesak karena sisa racun di kehidupan lampau atau karena tulang rusuk tubuh Erena ini yang patah akibat terhempas dari lantai tiga.
’Ibu... Ayah...’ Sentuhan lembut ibuku saat membelai rambutku sesaat sebelum racun itu merenggut nyawaku menyisakan sebersit kepedihan yang asing di hatiku. Aku, seorang Capo Bratva yang ditakuti, yang tangannya telah berlumuran darah ratusan musuh, merasa mataku memanas. Bukan karena meratapi kematianku, melainkan karena fakta bahwa aku mati di pelukan orang-orang yang mengira aku adalah putri manis mereka yang tak berdosa. Mereka harus hidup dalam bayang-bayang bersalah karena mengira teh buatan ibuku yang membunuhku.
’Kalian yang menjebak orang tuaku... demi Tuhan, aku akan merangkak kembali dari neraka untuk menguliti kalian hidup-hidup,’ sumpahku dalam hati, cengkeramanku pada tanah berumput semakin mengencang hingga kuku-kuku jemariku patah dan berdarah.
Tiba-tiba, keheningan malam itu terkoyak.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki yang berat, teratur, dan bergaung angkuh di atas jalan setapak marmer taman terdengar mendekat. Itu bukan langkah kaki pelayan yang panik, bukan pula langkah kaki seorang wanita tua yang cemas. Itu adalah langkah kaki penguasa. Langkah kaki seseorang yang terbiasa mendikte dunia di bawah telapak sepatunya.
Melalui pandanganku yang buram dan berbayang, aku melihat sepasang sepatu pantofel kulit hitam yang mengkilap berhenti tepat beberapa inci dari kepalaku yang tergeletak di tanah.
Aku memicingkan mata, berusaha mendongak meski rasa sakit di leherku terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Di sana, berdiri seorang pria yang tampak begitu megah sekaligus mengintimidasi di bawah temaram cahaya lampu taman. Tubuhnya tinggi tegap, dibalut setelan jas hitam custom-made yang melekat sempurna tanpa cela. Wajahnya... sialan, pria ini luar biasa tampan. Garis rahangnya tegas seolah dipahat dari batu batu marmer terbaik, hidungnya mancung sempurna, dan bibirnya tipis lurus tanpa ekspresi.
Namun, yang paling memikat sekaligus mengerikan adalah matanya. Sepasang manik mata sehitam obsidian itu menatapku dengan tatapan yang begitu dingin, kosong, dan dipenuhi kilat kejijikan yang teramat dalam.
Pria itu mengenakan sarung tangan kulit hitam yang membungkus rapat kedua tangannya—sebuah benteng pertahanan dari penyakit psikologis anehnya yang membenci sentuhan kulit manusia. Dialah Adrian Vance. Suami sah dari Erena Martin. CEO berdarah dingin yang dirumorkan tidak tersentuh.
Adrian tidak langsung berlutut untuk menolongku. Ia hanya berdiri di sana, menjulang seperti malaikat pencabut nyawa, menatap jasad istrinya yang bersimbah darah dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Apakah ini trik murahanmu yang baru, Erena?"
Suaranya bariton, berat, dan bergema begitu rendah di udara malam yang dingin. Tidak ada sedikit pun nada cemas atau ketakutan di dalamnya. Yang ada hanyalah rasa bosan dan iritasi yang kentara.
"Melompat dari balkon lantai tiga hanya untuk memeras perhatianku? Atau... penyakit mental sialanmu itu sedang kumat lagi?" lanjut Adrian, nadanya sedatar es yang membeku di puncak gunung.
Aku terdiam, membiarkan tubuh Erena ini mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Di masa lalu, Erena yang asli mungkin akan menangis, gemetar ketakutan, atau berteriak histeris tak terkendali saat menghadapi tatapan intimidasi suaminya. Tapi sekarang, jiwa yang mendiami tubuh rusak ini adalah Hana Rose Exric. Seorang monster yang terlahir kembali.
Perlahan, alih-alih merintih kesakitan, bibirku yang pecah dan berdarah mulai bergerak. Sebuah kekehan rendah, serak, dan terdengar begitu berbahaya lolos dari tenggorokanku.
"Uhuk..." Aku terbatuk, memuntahkan segumpal darah segar ke samping, sebelum akhirnya menatap lurus ke dalam sepasang mata obsidian milik Adrian.
"Menarik perhatianmu?" bisikku parau, suam suara yang begitu tenang namun tajam, sangat kontras dengan kondisi fisikku yang mengenaskan. "Jangan terlalu percaya diri, Tuan CEO yang terhormat. Kau bahkan tidak berharga untuk sekadar kulirik."