Hujan gerimis menyambut kedatangan bus jurusan Yogyakarta - Solo di pertigaan Desa Kemuning. Aroma tanah basah bercampur asap knalpot memenuhi udara sore itu.
Gilang Sastro menurunkan ranselnya dari bagasi bus. Ia menarik napas dalam-dalam. Sudah dua tahun ia tidak menginjakkan kaki di desa ini.
Dari kejauhan, tampak seorang perempuan paruh baya melambaikan tangan. Itu Bu Lastri, ibunya.
"Mas Gilang! Sini, le!" teriak Bu Lastri dengan wajah sumringah.
Gilang tersenyum dan menghampiri. "Ibu. Sehat?"
"Alhamdulillah sehat. Kangen masakan Ibu, ya?" balas Bu Lastri sambil mencubit lengan Gilang pelan.
Ekspresinya bangga. "Ayo, Mbah sudah menunggu dari tadi di pendopo."
Rumah keluarga Sastro adalah rumah joglo yang besar. Usianya sudah lebih dari 80 tahun. Kayu jatinya berwarna gelap karena usia.
Di halaman depan berdiri sebatang pohon beringin yang besar, menaungi sumur tua dari batu.
Suasana di dalam pendopo temaram. Hanya ada lampu minyak yang menyala. Di atas kursi kayu, duduk seorang kakek tua.
Rambutnya putih semua, itu Mbah Sastro.
Gilang berjalan mendekat lalu berjongkok untuk bersalaman.
"Assalamualaikum, Mbah," ucap Gilang lembut.
Mbah Sastro membuka mata, sorot matanya sayu. Ia menggenggam tangan Gilang erat. Tangannya terasa dingin.
"Waalaikumsalam, le Gilang," jawab Mbah Sastro dengan suara parau.
"Akhirnya kowe bali. Mbah wis kangen."
"Maaf baru bisa pulang sekarang, Mbah. Tugas kuliah banyak," kata Gilang.
Ia melihat wajah kakeknya yang jauh lebih kurus dari terakhir kali ia lihat lewat video call.
"Sampun, ora popo," Mbah Sastro tersenyum tipis.
"Sing penting kowe bali neng omah."
Malam itu, suasana makan malam terasa hangat. Di meja ada ayam goreng, lodeh, dan sambal terasi. Bu Lastri terus saja mengisi piring Gilang.
"Mangan sing akeh, le. Awakmu kurus," kata Bu Lastri.
"Ibu, cukup. Nanti saya kekenyangan," jawab Gilang sambil tertawa kecil.
Adiknya, Dewi. Hanya duduk di pojok sambil bermain dengan ujung kerudungnya. Sejak Gilang datang, Dewi terus memperhatikannya tanpa bicara.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Gilang.
Dewi menggeleng. "Ora napa-napa, Mas," jawabnya pelan.
Namun tatapannya tidak lepas dari wajah Gilang, seolah sedang menilai sesuatu.
Pukul 21.00, Gilang memutuskan untuk keluar sebentar. Ia duduk di anak tangga pendopo sambil menghirup udara malam. Desa ini sangat tenang. Hanya suara jangkrik dan gemericik air dari sumur.
"Mas, jangan duduk di situ," tiba-tiba Dewi muncul dari balik pintu.
Ia membawa selimut.
Gilang menoleh. "Kenapa?"
"Mbah bilang, jangan duduk di tangga malam-malam," kata Dewi.
Wajahnya serius. "Nanti dikira nungguin."
"Nungguin siapa?" tanya Gilang setengah bercanda.
Dewi tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan selimut.
"Sudah masuk. Dingin."
Gilang menurut. Namun sebelum masuk, ia sempat melirik ke arah sumur tua di bawah pohon beringin. Sekilas ia melihat ada kain putih tergeletak di bibir sumur.
Ah, mungkin hanya jemuran yang belum diangkat, pikirnya.
Tepat pukul 00.15, Gilang terbangun karena haus. Ia turun ke dapur. Seluruh lampu rumah dalam keadaan mati. Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela.
Saat ia melewati pendopo, ia mendengar suara.
Ting... Ting... Ting...
Seperti suara gamelan yang dipukul pelan. Suaranya datang dari arah belakang rumah, dari dekat sumur.
Gilang mengernyit,
"Ibu?" panggilnya pelan, namun tidak ada jawaban.
Dengan membawa senter dari ponsel, ia memberanikan diri keluar. Halaman belakang terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Senter ponselnya menyorot ke arah sumur. Dan di sana, duduklah sesosok.
Tubuhnya dibungkus kain kafan putih. Kepalanya menunduk. Rambut panjangnya menjuntai menutupi wajah. Kain kafannya kotor dan berlumpur.
Pocong.
Jantung Gilang berdegup sangat kencang. Otaknya mencoba mencari penjelasan logis. Halusinasi, kelelahan, salah lihat, pikirnya.
Ia memberanikan diri berbicara.
"Permisi... bisa minggir? Saya mau ambil air," kata Gilang dengan suara bergetar.
Sosok itu tidak bergerak selama beberapa detik. Lalu, sangat perlahan, kepalanya menoleh ke arah Gilang, berputar 180 derajat. Di balik kain kafan, tidak ada wajah. Hanya kegelapan.
Tanpa pikir panjang, Gilang berbalik dan berlari sekuat tenaga ke dalam rumah. Ia mengunci pintu kamarnya dan bersembunyi di balik selimut.
Dari luar, suara gamelan itu masih terdengar. Kali ini terdengar seperti mengelilingi rumah.
Pagi harinya, Gilang bangun dengan kepala berat dan mata panda.
"Kamu kenapa, le? Muka kamu pucat," tanya Bu Lastri saat sarapan.
"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin kecapekan di perjalanan," jawab Gilang.
Ia memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian semalam.
Setelah sarapan, ia melihat Mbah Sastro duduk sendirian di pendopo. Di depan Mbah ada nampan kecil berisi kembang, kopi, dan rokok.
"Itu untuk siapa, Mbah?" tanya Gilang.
"Untuk yang menjaga rumah ini," jawab Mbah Sastro singkat. Ekspresinya sulit diartikan.
Siang harinya, saat Gilang sedang membereskan kamar, ia melihat pintu loteng sedikit terbuka. Padahal ia yakin kemarin pintu itu tertutup rapat.
Dengan rasa penasaran, ia naik ke loteng. Udara di sana pengap dan penuh debu. Di atas sebuah meja kayu tua, terdapat sebuah buku. Sampulnya terbuat dari kulit dan sudah retak-retak.
Gilang mengambil buku itu. Di sampulnya tertulis dengan tinta yang sudah memudar:CATATAN KELUARGA SASTRO - 1996
Ia membuka halaman pertama. Tulisan tangan yang ia kenali. Tulisan Mbah Sastro.
Tanggal 1 Suro 1996. Saya, Sastro, atas nama seluruh keluarga, membuat perjanjian dengan Penunggu Alas Gendheng. Permohonan kami: keluarga selamat, terhindar dari bencana, dan rezeki lancar. Imbalannya: Setiap 30 tahun sekali, satu nyawa dari garis keturunan kami harus menjadi tumbal.
Tangan Gilang gemetar. Ia membalik halaman berikutnya.
Tumbal Pertama: Sumi Sastro. Meninggal 1996.
Tumbal Kedua: Jatuh tempo 2026.
Dadanya terasa sesak. 2026, Tahun ini.
Tiba-tiba dari bawah terdengar suara teriakan.
"LE GILANG!"
Itu suara Bu Lastri yang sedang panik.
Gilang segera berlari turun. Di ruang tengah, Mbah Sastro tergeletak di lantai, memegangi dadanya. Napasnya tersengal-sengal.
"Pak Darto! Cepat panggil Pak Darto!" teriak Bu Lastri sambil menangis.
Gilang mengepalkan buku di tangannya. Tatapannya beralih ke jendela. Di luar, mendung hitam mulai berkumpul. Dan dari kejauhan, samar-samar kembali terdengar suara gamelan,
Ting...Ting...Ting
Bersambung...