Kisah cinta biasa anatara dua manusia ciptaan Tuhan yang paling indah, berlatar pada abad dahulu dimana hidup bukan hanya tentang cinta, tapi juga kuasa dan tanah yang bersatu.
Air, gadis manis dengan rambut gelombang nya yang panjang, tinggal di bawah gunung.
Berasal dari suku anggn, keahlian suku ini adalah berkuda, tinggal di padang rumput yang luas membuat mereka lincah menunggangi kuda.
Rapfi, lelaki yang berada jauh di daratan datar, ia tinggal tepat di daerah puncak gunung yang tinggi.
Berasal dari suku runggn, suku yang lincah dalam memanjaki setiap lereng ketinggian, kalau ada yang bertanya tentang seberapa hebat mereka, maka datanglah ke puncak dan lihat mereka hidup.
——————
Mereka adalah dua insan yang sedang cinta-cinta nya dibelakang dari perseteruan yang bisa memisahkan.
Semilir angin terasa sejuk menyentuh setiap kulit nya.
"Air, gimana kalau kita mengunjungi timur besok" ajak Rapfi dengan menggandeng tangan kekasih yang dicintainya.
"Aku gak bisa, besok akan pergi dengan teman-teman suku ku untuk mengambil persediaan, maaf yah" jawab Air dengan wajah sedikit sedih, padahal ia yang sebenarnya lebih dulu mengajak Rapfi ke timur.
"Ah iya, tidak apa-apa, masih bisa lain kali" balas nya tetap tenang dan memandang Air dengan kasih.
Ketika fajar mulai menghilang dan langit mulai menggelap, mereka pergi dan berpisah di dekat pepohonan besar.
Air berjalan pelan sesaat setelah melihat cahaya remang dikejauhan, itu adalah tempat ia tinggal.
"Air, kamu dari mana?" tanya bingi, yang merupakan kakak tertuanya, bingi sedang berjalan balik dari membersihkan diri di sungai mengalir yang berada di belakang desa mereka.
"Dari berjalan jalan kak, aku ingin melihat burung-burung yang berkicauan di tengah pepohonan" jawab Air yang jujur, tapi tak mengungkapkan bahwa ia pergi bersama seorang pria.
Bingi yang mendengar nya pun mengangguk dan berlalu. Ia lanjut berjalan dan masuk ke salah satu tempat teduh, itu rumahnya, ia tinggal bersama 5 orang, Ba,Ma,Rinai, Air dan adik terakhir nya Riak.
Ia mempunyai 4 kakak,Rinai, Bingi, Binri,dan derka. Mereka sudah berkeluarga dan tinggal disamping geleb (rumah) nya.
Disisi lain.
"Rapfi, Ba sudah bilang, jangan pernah dekat gadis dari suku seberang" hardik keras Ba Rapfi yang tahu Rapfi pergi kemana jika fajar mulai rendah.
Rapfi diam dan sedikit menunduk, Ba nya sudah melarang sejak ia ceritakan tentang Air, dan sampai sekarang ia masih belum tahu apa yang membuat nya harus menjauh.
"Maaf kan Rapfi, tetapi Rapfi sudah merasa cocok dengan Air dan ingin hidup bersama nya" sontak membuat Ba nya menatap tajam padanya.
Bukan hanya tatapan mata itu yang menyeramkan, tapi tindakan setelah nya pun juga menyakitkan, Ba nya mengambil tali kayu panjang dan memukuli tubuh nya dari pinggang hingga kaki.
"Ba, Rapfi ingin tahu alasan mengapa itu tidak boleh, agar Rapfi sendiri yang menjauh" tegas Rapfi .
Sudah lama Ba nya mengatakan ia tak boleh dekat dengan gadis-gadis seberang, namun tak pernah Ba nya berikan alasan.
Bukan nya menjawab , Ba nya pergi begitu saja. Rapfi sempat berdiam sebentar, kemudian menyusul Ba nya yang entah pergi kemana, saat ia berjalan kesana kemari, tak sengaja ia lihat Ba nya sedang berbicara dengan beberapa suku Runggn lainnya.
Ia bisa mendengar pembicaraan itu walau hanya sebentar. Ada kenyataan yang tak bisa diungkapkan dan itu terasa lebih menyakitkan.
Sejak saat itu, Rapfi mulai sedikit berbeda saat bertemu kembali dengan Air dari terkahir kali waktu itu.
Sorot matanya memiliki arti lain yang lebih dalam selain cinta terhadap sang kasih.
"Rapfi, ada apa dengan mu kemarin, kita hanya tidak bertemu beberapa fajar, tapi mengapa dirimu terlihat berubah? " tanya nya lansung, sedari tadi ia merasa Rapfi seperti menahan sesuatu yang membuat nya mulai tidak nyaman.
Ada kalimat yang membuat Air tak lagi bisa mengucap, "Sudah, sampai disini saja, Ba ku sudah cukup membuatku sadar dengan memukuliku.
Sorot mata mereka perlahan berubah dan entah kapan, tempat itu mulai hening kecuali bunyi nafas yang bersahutan.
Air lebih dulu berbalik , sebelum itu ia menatap Rapfi lebih dalam dan penuh harap.
Setelah melihat Air pergi, Rapfi mengangkat kepala nya dan menatap jauh kedepan, tepat pada punggung gadis nya.
Sejak saat itu, Air dan Rapfi benar benar tak pernah lagi bertemu, bahkan sekedar tanya kabar.
Sebenarnya apa sesuatu yang tersembunyi diantara mereka, bukan, bukan hanya mereka, tapi dua suku tersebut.
Ada luka dan dendam masa lalu yang mungkin sudah mereka ketahui sebelum nya.
Sekitar 1.450 an fajar terlewati. Acara suku-suku, yang diadakan setiap 10 tahun sekali akan dilakukan dikediaman suku Gorgu, suku yang tersebar tepat di bawah aliran air deras (air terjun).
Jika 10 tahun lalu mereka melakukan upacara adat dan lomba bela diri, maka mungkin sekarang tentang ilmu dunia.
" Ba,Ma. Seperti nya para kandidat suku kita banyak yang akan bisa melalui lomba bertahan hidup itu" Ucap Bingi pada Ba dan Ma nya di bawah sinar purnama.
"Sudah pasti, Ba yang memberi mereka banyak ilmu-ilmu dunia, hehehe" sombongnya dengan senyuman lebar. Semua ilmu yang Ba nya dapat adalah buah dari perjalanan panjang nya yang menyusuri berbagai bagian dunia.
Diacara itu, para pemuda hebat setiap suku akan berlawanan, dan mungkin, Air akan bertemu kembali dengan Rapfi ditempat tersebut.
Air berjalan bersama dengan Ruru dan Riri yang merupakan teman dekat nya.
"Air, kamu pergi kan? " tanya Ruru memastikan perjalanan mereka ke Gorgu di fajar ke 5 dari sekarang.
"Iya, kan kita akan pergi bersama"
"Bagaimana bila bertemu dengan lelaki itu" sahut Riri yang tahu tentang hubungan itu.
Air hanya terdiam tanpa berniat membalas, ia tetap berjalan lurus tapi terlihat sedang memikirkan hal lain.
"Air" tepuk Riri pada bahu terbuka nya.