JODOH YANG TERSAKITI
Author: Luchyanti Uter
Patahhati;Wanita kuat
Langit Donggala suda merah ketika Sara menutup buku agenda di meja paling pojok kantor camat. Cap "honorer"
Dipapan nama mejanya sudah mulai pudar, sama seperti semangat sebagian teman kerjanya kalau jam sudah lewat pukul tiga. Sara tidak. Jam empat sore justru jam Sara mulai hidup.
Ia lipat kemeja dinasnya, masukkan ke tas ransel buntut. Dari kolong meja, ia tarik satu koper kain besar beroda. Isinya jilbab segi empat, daster, dan gamis yang ia kulak Senin kemarin dari toko Hj. Marni di pasar. Modalnya? Gaji honorer yang kalau di bagi 30 hari, jatuhnya cuma cukup untuk makan dua kali sehari.
"Bawa lagi barang mu, sar?" Tegur Bu Ratih, staf arsip yang mejanya di depan.
Sara mengangguk, senyum. " Iya, Bu. Cari tambahan.
"Ya Allah, kamu itu nggak capek? Pagi di kantor, sore keliling."
Sara hanya ketawa kecil. Capek itu urusan nanti. Kalau berhenti, yang lapar itu urusan sekarang. Kopernya menggelinding di lantai kantor, meninggalkan suara gemeretak yang sudah hapal di telinga semua orang. Satpam depan pun sudah tidak menahan. "Hati-hati di jalan, neng Sara." Katanya."
Jalan poros kecamatan sudah ramai. Anak sekolah berseragam, ibu-ibu pulang dari pasar, bapak-bapak nongkrong di Warkop. Sara mulai dari warung ke warung, dari rumah ke rumah yang pintunya terbuka.
"Jilbab, bu? Ini bahan Jersey, adem. Ambil 2 saya kasih diskon...". Kalimat itu sudah seperti zikir. Di tolak sudah biasa, di ledek, "kapan nikah, cantik-cantik jualan terus," juga sudah kebal
Sara cuma pegang satu prinsip dari almarhum bapaknya: tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Walau tangan nya hanya menenteng koper, bukan menandatangani cek. Menjelang magrib, koper sara tinggal setengah. Napasnya juga tinggal setengah. Ia duduk di bangku pajangan lapangan voli kecamatan. Membuka botol air minum yang tinggal dua teguk.
Di lapangan, bola voli melambung. Teriak-teriak lelaki menyatu dengan azan yang mulai sayup. Sara kenal sebagian yang sebagian main. Teman kantor. Termasuk dia. Anak bungsu Pak camat. Namanya Rendi. Yang kalau di kantor, kerjanya cuma stempel surat dan bikin kopi. Yang kalau rapat, cuma angguk-angguk sambil main HP. Yang kalau menatap sara, matanya selalu buru-buru lari. Yang kata orang-orang, hidupnya terlalu manis untuk tahu rasa pahit.
Sara menghabiskan airnya. Ia berdiri, menyeret koper lagi. Belum lewat lima langkah, sebuah suara menahannya.
"Sara!"
Untuk pertama kali, lelaki itu memanggil namanya keras-keras. Bola voli di tangannya berhenti dipantulkan. Semua mata di lapangan menoleh. Sara menoleh juga. Kopernya berhenti.
Rendy berhenti di pinggir lapangan. Kaosnya basah oleh keringat, rambutnya lepek. Teman-temannya menyoraki. " Cieee, Ren!"
"Akhirnya!". Wajah Rendi merah. bukan karena lari-larian tadi. Ini merah yang lain. Merah yang Sara baru lihat sekali seumur hidup: merah milik orang yang menahan malu demi sesuatu yang dia anggap lebih penting.
"Kamu... bisa tunggu sebentar?" Kata Rendi. Suaranya pecah, antara keras dan gemetar.
Sara bingung.Biasanya Rendi cuma senyum dari jauh kalau di kantor. Kadang titip beli gorengan kalau Sara lewat kantin. Tidak lebih. Hari ini, di depan orang sekampung dia teriak.
"Ada apa, Pak?" Sara tetap panggil 'Pak'. Walau Rendi cuma staf honorer juga, tapi dia anak camat. Beda rasa di lidah kalau menyebut nama. Rendi jalan mendekat. Temannya pura-puralanjut main, tapi telinga jelas di pasang. Langkah Rendi aneh. Seperti orang yang baru belajar jalan di atas bara.
"Aku..." Rendi menunduk, menatap sepatu futsalnya yang penuh tanah merah. "Aku mau ngomong."
Azan sudah selesai. Langit tinggal sisa jingga. Sara melirik koper. Isinya masih harus habis malam ini. Tapi laki-laki didepannya ini kelihatan seperti mau nangis kalau dia pergi.
"Tentang?" Pancing Sara, pelan.
Rendi angkat wajah. Matanya tidak lari kali ini. "Tentang kamu. Tentang... Aku suka sama kamu Sar."
Seketika, dunia Sara sunyi. Suara pantulan bola, suara motor lewat, suara ibu-ibu panggil anaknya pulang, semua hilang. Yang ada cuma detak jantungnya sendiri, keras, malu-malu. Sara sudah 24 tahun.Bukan anak kemarin sore. Dia tahu ada beberapa staf kantor yang naksir dia. Tapi Rendi? anak bungsu Pak Camat yang hidupnya diantar - jemput mobil dinas? Yang saban hari yang bajunya rapi, parfumnya orang kota?
"Saya?" Sara menunjuk diri sendiri. Bodoh memang. Tapi dia perlu mastiin.
Rendy mengangguk. Cepat. Seperti takut Sara berubah pikiran kalau dia lambat. "Iya kamu. Dari lama. Cuma aku... Aku nggak berani."
Teman-teman Rendi bersiul lagi dari lapangan. Rendy melotot ke arah mereka, tapi tak ada galak-galaknya. Sara malah mau ketawa lihat itu.
"Kenapa baru sekarang, pak?" Tanya Sara.
Nada suaranya dia jaga tetap datar. Padahal dadanya ribut.
"Karena kalau nggak sekarang, kamu keburu diambil orang." jawab Rendi. Jujur. Polos. Tidak ada gombal .
Jawaban itu yang bikin pertahanan Sara retak. Tiga tahun di rantau, yang dia dengar cuma "kapan nikah", "jangan pilih-pilih", "nanti perawan tua". Tidak ada yang bilang takut kehilangan dia.
Sara gigit bibir, dia lihat kopernya. Dia lihat Rendi. Dua hal yang beratnya beda, tapi sama-sama harus dia pikul kalau dia jawab iya.
"Pak Rendi." Kata Sara. "Bapak tahu kan hidup saya gimana?"
Rendi mengangguk." Aku tahu. Kamu kerja di kantor, sore jualan. Kamu kirim ke ibu di kampung. Kamu nggak pernah minta apa-apa sama siapa-siapa."
"Terus bapak masih mau... Sama saya?"
,"aku nggak mau sama 'hidup kamu', Sar. Aku mau sama kamu."
Kalimat itu sederhana. Tapi buat Sara yang tiap hari ditanya "dagang apa", "untung berapa", kalimat Rendi itu seperti air dingin setelah seharian panas.
Magrib tiba. Lampu lapangan menyala. Serangga mulai datang. Sara harus pulang. Harus seterika baju dinas untuk besok. Harus hitung untung hari ini.
"Besok saya jawab ya, pak" kata Sara akhirnya" saya mau Sholat dulu."
Rendi kelihatan kecewa, tapi dia angguk. "Iya. Aku tunggu. Berapa lama pun."
Sara menyeret kopernya pergi. Langkahnya lebih ringan dari biasanya. Padahal kopernya masih berat. Dari belakang, dia dengar temannya Rendi meledek. "Gimana Ren? Diterima nggak?"
Nggak ada jawaban. Mungkin Rendi cuma senyum-senyum bodoh.
Malamnya di kos sempit ukuran 3x3, Sara duduk di lantai sambil nyetrika. Kipas angin muter, tapi keringat tetap netes ke kerah baju. Di depannya, buku catatan kecil terbuka. Isinya hitungan.
Jilbab laku 7 x 15.000 = 105.000
Daster laku 2 x 35.000 = 70.000
Modal 120.000
Untung = 55.000
Lima puluh lima ribu. Cukup untuk makan tiga hari kalau hemat. Cukup untuk beli pulsa, nelpon ibu di kampung.
HP jadulnya bunyi. SMS dari Ibu.
"Nak, ibu alhamdulillah sehat. Tadi panen pisang. Jangan kirim uang dulu kalau kamu lagi susah. Ibu doa terus."
Sara meletakkan setrika. Matanya panas. Tiap kali ibu bilang "jangan kirim", justru itu yang bikin Sara ngotot jualan sampai kaki bengkak. Dan sekarang, anak camat bilang suka sama dia. Logika Sara berisik. Dia sama kamu beda dunia, Sar. Dia nggak pernah angkat berat. Dia nggak tahu harga cabe. Besok-besok dia bosen lihat kamu bau matahari. Tapi hatinya juga berisik. Kapan terakhir ada yang lihat kamu, bukan lihat dagangan kamu? Kapan terakhir ada yang takut kehilangan kamu?
Sara ambil mukena. Salat Isya lama sekali malam itu. Di doanya, dia tidak minta jawaban. Dia minta kuat. Kalau pun harus patah, biar patahnya tidak hancur-hancur amat.
Besoknya di kantor, Sara datang paling pagi. Rendi datang paling siang. Seperti biasa. Bedanya, hari ini Rendi bawa dua kotak kue dari toko roti paling mahal di kota. Dia taruh satu kotak di meja Sara. Tanpa bilang apa-apa. Cuma senyum, lalu duduk di mejanya. Satu kantor heboh. Bu Narti godain, "Wah, ada yang nembak nih kayaknya." Sara pura-pura sibuk ngetik surat. Pipinya panas. Kotak kue itu tidak dia buka sampai jam istirahat.
Jam 12 siang, Rendi menghampiri. "Jawabannya?"
Kantor sudah sepi. Staf lain ke kantin. Sara menutup file di komputernya. Dia menatap Rendi. Lelaki ini wangi, bersih, kuku tidak pernah hitam. Sementara kuku Sara pecah-pecah karena buka tali rafia karung dagangan.
"Pak Rendi," kata Sara pelan. "Kalau Bapak sama saya, Bapak harus tahu. Hidup sama saya nggak enak. Saya nggak bisa dandan tiap hari. Saya pulang bau keringat. Saya nggak bisa masak enak karena nggak sempat belajar. Saya..."
"Aku nggak minta kamu sempurna, Sar," potong Rendi. "Aku cuma minta kamu mau."
Sara menarik napas. Di luar, hujan turun tiba-tiba. Deras. Suara air jatuh di seng kantor seperti genderang. Di dalam ruangan itu, di antara suara hujan dan detak jam dinding, Sara mengangguk.
"Iya, Pak. Saya mau." Rendi bengong. Lalu ketawa. Lalu salaman, tapi gugup, jadi malah kayak mau tos. Sara ikut ketawa. Untuk pertama kali dalam tiga tahun, tawanya tidak dia rem karena takut dibilang murahan. Di luar, hujan. Di dalam, sesuatu di dada Sara mekar. Dia tidak tahu, mekar itu nanti akan jadi bunga, atau jadi luka. Yang dia tahu, sore itu dia pulang tidak bawa koper. Kopernya dia titip di pos satpam. Karena Rendi bilang, "Hari ini aku yang antar kamu pulang ya?"
Dan Sara, untuk pertama kali, mengiyakan diajak pulang oleh seorang laki-laki. Mobil dinas Pak Camat yang biasa dipakai Rendi melaju pelan di jalan becek. Di jok belakang, Sara duduk kaku, takut joknya kotor kena baju yang dia pakai jualan tadi. Rendi nyetir sambil curi-curi pandang. "Besok aku temenin kamu jualan ya?" Sara kaget. "Ngapain, Pak? Malu."
"Nggak ada yang malu kalau sama-sama," kata Rendi. Sara menoleh ke jendela. Di kaca, dia lihat pantulan wajahnya sendiri. Masih sama. Mata yang lelah, bibir yang kering. Tapi entah kenapa, malam itu dia merasa... dilihat. Bukan sebagai 'penjual jilbab', tapi sebagai Sara. Dia belum tahu, tiga tahun dari sekarang, lelaki yang bilang "nggak ada yang malu kalau sama-sama" ini yang akan paling sering bikin dia menangis sendirian di dapur, sambil nutup mulut biar anaknya tidak dengar. Tapi malam ini, di mobil dinas yang wangi, Sara memilih percaya. Karena kadang, perempuan yang terlalu lama kuat, cuma butuh satu kalimat "aku mau sama kamu" untuk runtuh. Dan runtuhnya Sara dimulai dari senja dilapangan voli itu.
Pagi setelah Rendi bilang "aku temenin kamu jualan ya", satu kantor camat mendadak jadi kantor gosip. "Sara jadian sama anak Pak Camat," bisik Bu Narti ke staf arsip. "Yang bener? Si Rendi yang kerjanya cuma stempel itu?" sahut Pak Udin, penjaga gudang. "Ya Allah, rejeki anak solehah," timpal yang lain. Sara pura-pura tidak dengar. Dia fokus ngetik surat undangan rapat desa. Tapi telinganya panas. Jarinya salah ketik tiga kali. Rendi datang jam 10, rambut masih basah. Dia senyum ke Sara dari jauh, lalu naruh kopi sachet di meja Sara. Diam-diam. Kayak anak SD naksir teman sebangku. Sara cuma bisa bales senyum kecil. Dia takut, kalau senyumnya lebar, nanti dibilang kegeeran.
Jam 4 sore, Rendi benar-benar nunggu di parkiran. Pakai kaos oblong, celana pendek, sandal jepit. Beda 180 derajat dari Rendi yang biasa di kantor.
"Katanya mau nemenin jualan?" Sara setengah ketawa lihat dandanan Rendi.
"Iya. Mana kopernya?" Rendi nyengir.
Akhirnya sore itu, anak bungsu Pak Camat narik koper jilbab keliling kampung. Awalnya dia malu. Keringetan. Salah ngomong pas nawarin dagangan. "Bu, ini daster... eh jilbab... eh, adem pokoknya!" Sara ngakak sampai perutnya sakit. Ibu-ibu yang beli juga ngakak. Tapi anehnya, dagangan Sara laku keras hari itu. Mungkin karena orang penasaran lihat anak camat jualan.
Waktu magrib, mereka duduk di bangku lapangan voli lagi. Koper kosong. Napas sama-sama ngos-ngosan."Gila, capek banget ya kerja kamu," kata Rendi sambil ngelap keringat pakai lengan kaos. "Baru sehari udah ngeluh, Pak?" ledek Sara. Rendi ketawa. "Pantesan kamu kuat. Aku baru tahu."
Malam itu, Rendi nganter Sara sampai depan kos. Tidak turun. Cuma bilang, "Besok lagi ya?" Sara mengangguk. Di kamar kos, dia tiduran sambil senyum-senyum sendiri. HP-nya bunyi. SMS dari Rendi. "Makasih ya, Sar. Hari ini aku ngerasa hidup."
Sara bales: "Sama-sama. Makasih udah nggak malu."
Dua minggu mereka jalan bareng. Rendi jemput ke kantor, temenin jualan, kadang bantuin Sara nyusun jilbab biar rapi. Ke warkop juga berdua. Ke pasar juga berdua. Sara mulai terbiasa. Mulai percaya. Mulai cerita soal bapaknya yang meninggal waktu dia SD. Soal ibunya yang cuma petani pisang di kampung. Soal mimpinya punya toko kecil. Rendi dengerin semua. Tidak kasih solusi. Cuma genggam tangan Sara kalau dia lihat mata Sara mulai berkaca.
Tapi bulan ketiga, retak pertama muncul.
Waktu itu Sara diajak Bu Camat ke arisan PKK kecamatan. "Temenin Ibu ya, Sar. Biar ada yang bantu bawa-bawa."
Di arisan, semua istri pejabat dandan rapi. Tasnya merek kota. Ngomongnya soal umroh, soal anaknya kuliah di Jawa. Sara duduk di pojok, bantuin Bu Camat bagi-bagi snack. Bajunya paling sederhana. Tasnya tas ransel.
"Ini siapa, Bu?" tanya satu ibu, matanya dari atas sampai bawah lihatin Sara.
"Oh, ini Sara. Staf di kantor. Rajin sekali anaknya," jawab Bu Camat, bangga.
Sara senyum. Tapi di dalam, dia tahu artinya tatapan itu: "Kok staf biasa dibawa ke sini?"
Pulang arisan, Sara cerita ke Rendi. Bercanda. "Tadi aku dikira pembantu, Ren."
Rendi diem. Lalu bilang, "Lain kali nggak usah ikut kalau nggak nyaman."
Kalimatnya biasa. Tapi nadanya... beda. Ada malu di sana. Itu pertama kali Sara ngerasa: dunia Rendi dan dunia dia, lantainya beda.
Retak kedua datang waktu gaji honorer telat dua bulan. Sara pusing. Modal jualan habis. Dia pinjam ke Rendi. Cuma 300 ribu. Janji gajian langsung balikin. Rendi kasih. Tidak tanya buat apa. Tapi seminggu kemudian, waktu mereka makan di warkop, Rendi nyeletuk, "Oh iya, uang kemarin gimana?"
Sara kaget. Bukan karena ditagih. Tapi karena cara Rendi nanya, di depan orang, sambil ketawa. Kayak Sara tukang ngutang. Sara bayar malam itu juga. Ngambil dari uang makan. Besoknya dia nggak sarapan. Malamnya Rendi SMS: "Sori ya kalau tadi nyinggung. Bercanda doang."
Sara balas: "Iya, nggak apa."
Padahal apa.
Putus pertama terjadi bulan keenam.
Penyebabnya sepele. Rendi ngajak jalan ke kota, nonton di mall. Sara nggak bisa. Dia harus ke pasar, kulak barang. Kalau nggak kulak, besok nggak jualan. Kalau nggak jualan, nggak makan.
"Kulaknya besok aja napa sih, Sar?" Rendi kesel. "Masa pacaran mulu disuruh ngerti kerjaan kamu."
Sara juga capek. "Kamu juga ngerti dong, Ren. Aku nggak kayak kamu. Kalau aku nggak kerja, aku nggak makan."
"Kamu tuh ya, hidup isinya duit mulu!"
Kalimat itu nyess di dada Sara. Dia diem. Pulang jalan kaki. Tidak mau dianter Rendi.
Seminggu mereka nggak ketemu. Di kantor saling buang muka. Rendi balik lagi nongkrong sama teman volinya sampai malam. Sara balik lagi jualan sendirian.
Minggu kedua, Rendi yang nyerah. Nunggu Sara di parkiran, bawa es teh dua gelas.
"Maaf," katanya. Simpel. Sara luluh. Karena cuma Rendi yang pernah minta maaf duluan ke dia. Mereka balikan. Lebih sayang. Rendi janji mau belajar ngerti. Sara janji mau belajar nggak gampang ngambek. Tapi namanya putus-sambung, sekali putus pasti ada kedua.
Putus kedua karena Lebaran. Sara mau pulang kampung. Sudah dua tahun nggak pulang. Kangen ibu. Rendi nggak ngizinin. "Jangan lama-lama. Nanti aku kangen."
"Cuma seminggu, Ren."
"Seminggu itu lama, Sar."
Sara tetap pulang. Di kampung, sinyal susah. Rendi telpon nggak diangkat. SMS balesnya telat. Waktu Sara balik ke Donggala, Rendi ngambek. "Katanya sayang. Ditinggal seminggu aja kayak nggak ada kabar."
"HP di kampung susah sinyal, Ren. Kamu tahu sendiri."
Alasan!"
Putus lagi. Kali ini dua minggu.
Yang nyambungin lagi: Ibu Sara. Waktu Rendi main ke kos Sara mau balikin buku, dia ketemu ibu Sara yang kebetulan datang nengok tanpa kabar. Ibu salaman sama Rendi. Bilang, "Jaga anak Ibu ya, Nak. Dia itu keras di luar, lembek di dalam."
Kalimat itu bikin Rendi ngerasa dititipin. Dia cari Sara malem-malem. Bawa martabak.
"Maaf ya. Aku keanak-anakan," katanya.
Sara terima martabaknya. Terima juga maafnya. Karena dia tahu, selain ibu, cuma Rendi yang pernah takut kehilangan dia.
Tahun ketiga, Rendi ngelamar.
Tidak di tempat romantis. Di lapangan voli, pas hujan rintik-rintik. Rendi nyeker, bawa cincin murahan yang dia beli dari hasil jual HP.
"Sar, nikah yuk. Aku capek putus-sambung. Aku mau kita berantemnya udah sah aja."
Sara ketawa, nangis, basah. Dia lihat ke Rendi. Lelaki yang tiga tahun ini belajar narik koper, belajar dengerin dia, belajar minta maaf.
Di otaknya, ada suara ibu: "Jaga anak Ibu ya, Nak."
Di hatinya, ada takut: "Apa aku kuat sama dunia dia?"
Tapi di depannya, ada Rendi yang nyeker di tanah becek, nunggu jawaban. Sara ngangguk. "Iya, Ren. Aku mau."
Rendi meluk Sara di tengah lapangan. Hujan makin deras. Teman-teman volinya sorak-sorak dari warung. Malam itu Sara nelpon ibu. "Bu, Sara mau nikah."
Di seberang, ibu diem lama. Lalu jawab, "Kalau kamu bahagia, ibu bahagia, Nak. Jaga diri baik-baik ya."
Sara gantung telepon. Dia tidak tahu, "jaga diri baik-baik" itu kalimat yang bakal dia pegang sampai bertahun-tahun ke depan. Di rumah mertua. Di antara lima ipar. Di sisi suami yang cintanya besar, tapi dewasanya kecil. Tapi malam itu, Sara cuma tahu satu: akhirnya dia tidak sendiri lagi. Dia lupa, kadang nikah bukan akhir dari sepi. Kadang, nikah justru awal dari sepi yang baru. Hujan belum berhenti waktu Rendi meluk Sara di tengah lapangan voli. Basah, dingin, tapi dada Sara hangat. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun merantau, kata "pulang" punya bentuk: pelukan Rendi.
Besoknya satu kecamatan heboh.
"Anak Pak Camat ngelamar Sara, si penjual jilbab!"
Kalimat itu lari dari warung ke warung lebih cepat dari motor ojek. Ada yang senang. Ada yang nyinyir. "Pasti Sara pake pelet," kata satu ibu di pasar. "Rejeki orang solehah," kata Bu Narti sambil nyubit pipi Sara di kantor. Sara cuma senyum. Dia tahu, omongan orang itu kayak angin Kalau ditahan, dada sesak sendiri. Yang paling Sara tunggu cuma satu: restu ibu di kampung.
Tiga hari setelah lamaran di lapangan becek itu, Sara pulang kampung. Naik bus ekonomi 8 jam. Tidak bilang Rendi. Tidak bawa apa-apa kecuali ganti baju dan cincin murah dari Rendi yang dia ikat di tali, jadi kalung. Takut hilang.
Rumah papan ibunya masih sama. Cat hijau sudah ngelupas. Pohon pisang di samping rumah makin tinggi. Ibu lagi nyapu halaman waktu Sara sampai.
Ibu nengok. Sapunya jatuh.
"Sara..."
Tidak ada "assalamualaikum". Tidak ada "dari mana". Cuma pelukan. Lama. Erat. Kayak takut Sara hilang kalau dilepas.
Di dalam, di atas tikar pandan, Sara cerita semua. Tentang Rendi. Tentang tiga tahun putus-sambung. Tentang lamaran kemarin. Ibu dengerin sambil ngupasin pisang rebus. Matanya nggak lepas dari wajah Sara. Waktu Sara selesai cerita, ibu cuma nanya satu hal.
"Kamu bahagia, Nak?"
Sara angguk. Cepat. Takut kalau lambat, air matanya jatoh. Ibu senyum. Keriput di ujung matanya berkumpul. "Kalau kamu bahagia, ibu restu. Ibu doa. Tapi inget pesan ibu ya, Nak... jadi istri itu jangan hilang jadi diri sendiri."
Kalimat terakhir itu nancep di dada Sara. Dia ngangguk lagi. Belum paham betul maksudnya. Baru paham tiga tahun kemudian, di dapur rumah mertua, waktu nangis sambil ngulek sambal.
Balik ke Donggala, urusan nikah mulai jalan. Dan di sinilah Sara tahu: nikah itu bukan cuma soal "aku mau", tapi soal "keluarga kamu mau nggak sama aku".
Lamaran resmi di rumah Pak Camat digelar hari Minggu. Sara datang sama ibu, Pakde, dan Bude dari kampung. Bawaannya sederhana: kue bolu, pisang, sama kain sarung. Rumah Pak Camat rame. Lantai marmer, gorden tebal, AC dingin sampai Sara merinding. Lima kakak Rendi semua datang. Istrinya, anaknya. Satu rumah penuh. Sara salaman satu-satu. Tunduk. Sopan. Tangannya dingin. Kakak pertama Rendi mbak Tika, senyum tapi matanya nge-scan Sara dari jilbab sampai ujung kaki. Nada-nya manis. Tapi Sara ngerasa ada duri kecil di dalamnya. Kakak kedua, Mas Doni, cuma angguk. Istrinya, Mbak Lia, bisik-bisik sama Mbak Tika sambil lirik ke kue bolu bawaan ibu Sara. Bu Camat, calon mertua, memeluk Sara. Hangat. "Akhirnya mama punya anak perempuan lagi," katanya. Sara hampir nangis. Hampir percaya. Pak Camat nanya kerjaan ibu Sara. Waktu ibu jawab "petani pisang, Pak", senyum Pak Camat tetap, tapi tidak sampai ke mata.
Acara jalan lancar. Khidmat. Rendi genggam tangan Sara terus di bawah meja. Doa dipanjat. Tanggal nikah ditetapkan: dua bulan lagi. Pas pulang, di mobil sewaan, ibu Sara genggam tangan Sara. "Ibu bangga sama kamu, Nak." Sara angguk. Tapi di kepalanya muter kalimat Mbak Tika tadi: "Pantes Rendi betah." Betah kenapa? Karena dia cantik? Karena dia mau? Atau karena dia nggak neko-neko kayak perempuan kota?
Dua bulan itu neraka persiapan.
Sara masih kerja di kantor. Masih jualan sore. Malamnya ngurus undangan, fitting baju, urus surat. Rendi? Kadang nemenin. Lebih sering nongkrong voli. "Urusan cewek-cewek aja itu, Sar. Aku nggak ngerti."Sara iya-iya aja. Dia pikir, nggak apa-apa. Laki-laki memang begitu. Konflik kecil mulai muncul. Soal uang. Rendi anak camat, tapi Rendi nggak pegang uang. Semua Pak Camat yang nanggung. Termasuk mahar.
"Mahar berapa, Ren?" tanya Sara suatu malam. "Berapa aja kata Bapak," jawab Rendi santai. Sara nelen ludah. Di kampungnya, mahar itu harga diri. Dia nggak minta banyak. Cuma minta sepasang alat salat dan cincin. Itu pun Rendi bilang, "Nanti Bapak yang beli."
Sara mulai ngerasa: dia nikah sama Rendi, tapi yang ngatur semua Bapaknya Rendi.
Konflik kedua: tempat tinggal.
"Selesai nikah kita tinggal di mana, Ren?"
"Ya di rumah lah. Ngapain ngontrak. Rumah gede. Kamar kita di lantai dua."
Sara diem. Dia bayangin lima kakak ipar, istri-istrinya, anak-anaknya. Semua satu atap. Dia yang cuma honorer, cuma penjual jilbab.
"Tapi..."
"Udah, Sar. Mama juga bilang gitu. Biar hemat. Nanti kalau udah punya anak baru mikir lagi."
Sara nggak bisa bantah. Calon mertua sudah ngomong. Dia siapa?. Seminggu sebelum akad, Sara dapat 'wejangan' dari Mbak Tika. Ceritanya Mbak Tika mampir ke kos Sara, katanya mau bantuin setrika baju nikah. Padahal Sara curiga, dia mau ngomong sesuatu. Bener.
"sar," kata Mbak Tika sambil lipat baju, "Jadi istri Rendi itu nggak gampang loh. Dia itu anak bungsu. Manja. Dari kecil nggak pernah susah. Kamu harus sabar ya."
Sara angguk. "Iya, Mbak."
"Terus, di rumah itu ya... kita udah kayak keluarga besar. Ada aturan nggak tertulis. Kalau pagi, yang masak gantian. Kalau nyuci, jemur sendiri-sendiri. Jangan sampai mama yang ngerjain. Mama udah tua."
"Siap, Mbak."
Mbak Tika senyum. "Bagus. Soalnya kita nggak mau ada yang numpang hidup doang. Malu sama tetangga."
Kalimat terakhir itu yang bikin Sara nggak bisa tidur malamnya. Numpang hidup doang. Padahal dia kerja. Padahal dia jualan. Tapi di mata Mbak Tika, dia calon beban. Sara peluk guling. Dia inget pesan ibu: "Jadi istri itu jangan hilang jadi diri sendiri."
Malam itu, untuk pertama kali, Sara takut nikah.
Hari H tiba. Akad di Masjid Kecamatan. Sederhana tapi ramai. Sara duduk di kursi, jilbab putih, make up tipis karena dia minta nggak menor. Di depannya, Rendi ijab kabul. Suaranya gemetar. Tapi sekali ucap, sah. Semua teriak "Sah!". Rendi salaman sama Pak Camat, nangis. Terus jalan ke Sara, sujud di pangkuan Sara. Sara nangis juga. Di dalam hati dia bisik: Bu, Sara udah nikah. Doain Sara kuat ya. Resepsi di rumah Pak Camat. Panggung, organ tunggal, tamu pejabat sampai tukang sayur. Sara salaman sampai tangan kebas. Senyum sampai pipi kaku.
Lima kakak ipar semua kasih amplop. Mbak Tika bisik-bisik ke Mbak Lia waktu salaman, "Cantik juga ya kalau didandanin."
Sara denger. Dia pura-pura nggak denger.
Malam pertama, mereka di kamar lantai dua. Kamar besar, kasur empuk, AC dingin. Beda banget sama kos Sara yang cuma kasur lipat. Rendi rebahan, lega. "Akhirnya ya, Sar. Kamu istri aku."
Sara duduk di pinggir kasur. Buka jilbab pelan-pelan. Rambutnya gerah. Badannya capek. Rendi narik tangan Sara. "Makasih ya mau terima aku."
Sara senyum. Dia rebahan di dada Rendi. Denger detak jantung laki-laki yang sekarang suaminya. Dari luar kamar, kedengeran suara Mbak Tika nyuruh anaknya, "Jangan lari-lari, pantesan kamar tante Sara berisik!"
Sara memejamkan mata. Tante Sara. Nama baru. Status baru. Kandang baru. Dia genggam cincin murah di kalungnya. Di dalam hati dia janji: Ren, aku bakal jadi istri yang baik. Aku bakal kuat. Demi kamu. Demi ibu. Dia belum tahu, janji "demi kamu" itu yang pelan-pelan bikin dia hilang. Di bawah, di ruang tamu, Bu Camat bilang ke Pak Camat, "Semoga Sara betah ya, Pak. Anaknya kelihatan rajin."
Pak Camat angguk. "Iya. Asal dia tahu diri aja."
Kalimat itu, yang tidak pernah sampai ke telinga Sara, adalah prolog dari semua luka. Malam pertama itu, Sara tidur nyenyak. Terakhir kali dia tidur nyenyak, sebelum besok pagi dia bangun dan belajar bahwa jadi menantu di rumah besar, artinya belajar menelan ludah, menelan kata, dan menelan air mata. Karena mulai besok, dia bukan Sara si penjual jilbab lagi.
Dia Sara, istri Rendi. Menantu Pak Camat. Dan ipar dari lima orang yang sudah menunggu dia salah langkah.
mereka kamu kecil. Nanti kita buktiin ya, kamu kuat."
Kontraksi datang jam 2 pagi. Pas hujan deras. Listrik mati.
Sara guling-guling di kasur. Keringat dingin. Dia bangunin Rendi.
"Ren... sakit... kayaknya mau lahiran..."
Rendi bangun, panik. "Hah? Sekarang? Ujan-ujan gini?"
Satu rumah kebangun. Lampu emergency dinyalain. Mama mertua langsung ambil sarung, selendang. "Ke bidan Bu RT! Cepet!"
Pak Camat nggak ada. Dinas luar kota. Mas Doni yang nyetir mobil. Mbak Tika gendong handuk, Mbak Lia bawa tas. Rendi? Duduk di depan, pucat. Tangannya dingin waktu genggam tangan Sara.
Di bidan, Sara ngejan 4 jam. Rendi nunggu di luar. Katanya nggak kuat lihat darah. Yang pegangin tangan Sara: Mama mertua.
Jam 6 pagi, adzan subuh, bayi laki-laki lahir. Nangisnya kenceng. Berat 2,8 kg. Sehat.
Mama nangis. "Cucu pertama Mama dari Rendi."
Sara juga nangis. Bukan karena lega. Karena capek. Karena akhirnya ada satu manusia di dunia ini yang dia tahu nggak akan nyalahin dia.
Rendi masuk, lihat anaknya, ikut nangis. "Makasih ya, Sar."
Sesaat, Sara ngerasa jadi istri lagi. Bukan menantu. Bukan pembantu.
Sesaat doang.
Tujuh hari setelah lahiran, Sara minta pulang kampung. Alasannya: mau nunjukin bayi ke ibu.
Rendi nggak setuju. "Nanti aja, Sar. Kamu belum 40 hari. Bahaya."
Mama mertua juga nahan. "Di sini aja, Nak. Biar Mama yang urus. Di kampung kamu siapa yang bantu?"
Tapi Sara ngotot. Ada lubang di dadanya yang cuma bisa ditambal pelukan ibu.
Akhirnya dibolehin. 3 hari aja. Rendi nggak ikut. "Aku kerja, Sar. Titip salam buat Ibu ya."
Sara berangkat naik bus, gendong bayi, bawa tas isi popok sama kain bedong. Sendirian. Badan masih remuk. Jahitan masih nyeri.
8 jam di bus ekonomi. Bayi nangis, penumpang ngomel. Sara nyusuin sambil nutupin pake jilbab, dipojok, malu tapi nggak ada pilihan.
Sampai kampung udah magrib. Jalan kaki dari pangkalan ojek ke rumah ibu, 20 menit. Lewat pematang sawah. Gerimis.
Rumah papan ibu keliatan. Lampunya kuning. Asep dari dapur kayu.
Sara lari kecil. "Bu! Ibu!"
Pintu dibuka. Ibu berdiri di ambang pintu. Rambut udah putih semua. Badan makin kecil.
Mata ibu langsung ke bayi di gendongan Sara. Terus naik ke wajah Sara.
Plak. Sapu di tangan ibu jatuh.
Ibu lari nyamperin, peluk Sara sama cucunya. Kenceng. Nggak ngomong apa-apa dulu. Cuma gemeter.
Pas dilepas, ibu pegang pipi Sara. Ibu lihat muka Sara yang tirus. Leher yang kurus. Tangan yang kapalan. Mata yang cekung.
Anaknya yang dulu pulang selalu bawa oleh-oleh, bawa uang, bawa cerita ketawa. Sekarang pulang bawa bayi, bawa tas buntut, bawa mata sembab.
"Sara..." suara ibu pecah.
Ibu peluk lagi. Kali ini ibu yang nangis. Bahunya guncang. Air mata ibu netes ke ubun-ubun bayi.
"Anak ibu kenapa jadi kayak gini..."
Kalimat itu yang bikin pertahanan Sara jebol. Dia nangis juga Nggak pake suara. Cuma air mata jatuh ke pipi ibu.
Malam itu, ibu nggak tidur. Masak air panas, rebus daun-daun. Bikinin Sara rendaman kaki. Pijitin punggung Sara sambil gendong cucunya.
"Sakit ya, Nak?" tanya ibu.
Sara angguk. Dia nggak bohong. Sakit semua. Badan. Hati.
Ibu elus rambut Sara. "Ibu nggak nanya kamu bahagia apa nggak. Ibu tahu dari matamu. Matamu nggak bohong, Nak."
Sara gigit bibir. Dia mau cerita. Tentang ipar. Tentang Rendi. Tentang tiap hari ngerasa salah. Tapi dia telan lagi. Dia nggak mau ibu nambah beban.
Dia cuma bilang, "Doain Sara kuat ya, Bu."
Ibu kecup kening Sara. "Ibu selalu doa. Tiap habis subuh, nama kamu yang ibu sebut pertama."
Tiga hari di kampung, Sara ngerasa jadi manusia lagi. Tidur nggak dengerin orang ngerumpi. Makan nggak ditimbang dosa. Netekin anak nggak ada yang ngatur "jangan lama-lama, ASI nanti bau".
Tapi tiga hari itu cepet.
Pas mau balik, ibu bekelin Sara kain sarung, beras 5 liter, sama telur rebus. Dimasukin ke tas, diselipin uang 50 ribu. Uang lecek, tapi anget.
"Buat jaga-jaga di jalan, Nak," kata ibu.
Sara mau nolak. Tapi tangan ibu gemeter waktu ngasih. Sara terima. Dia peluk ibu kenceng. Bayinya di tengah mereka.
Di bus, Sara buka HP. Ada SMS dari Rendi: "Udah jalan? Hati-hati. Jangan lama-lama di kampung."
Sara matiin HP. Dia liat ke luar jendela. Sawah, gunung, pohon kelapa lewat. Dia bisik ke bayinya yang tidur di gendongan.
"Nak, kita pulang ya. Pulang ke neraka. Tapi ibu janji, ibu nggak akan biarin kamu dibakar."
Bus jalan. Kampung mengecil. Ibu masih lambaikan tangan di pangkalan ojek sampai nggak keliatan.
Sara baru sadar di bus itu: satu atap bertujuh udah selesai. Tapi satu nyawa bertujuh rasa sakitnya baru dimulai.
Karena pulang kali ini, dia nggak pulang sendiri. Dia pulang bawa alasan untuk nggak nyerah: anaknya.
Dan dia pulang bawa satu gambar yang nggak bisa dia lupa: ibu nangis liat dia kurus.
Gambar itu yang nanti, bertahun-tahun ke depan, jadi bahan bakar waktu dia mutusin kabur bawa tiga anak.
Tapi sekarang, dia cuma bisa genggam tiket bus, gendong bayinya, dan bisik pelan: "Bu, doain Sara ya."
Dia tiduran siang. Baru merem, pintu diketok.
"Sara!" Suara Mbak Lia. "Bisa tolong angkatin jemuran? Mau ujan."
Sara bangun. Kepala muter. Tapi dia keluar. Angkatin jemuran 3 keluarga. Baju, sprei, daleman Mas Doni. Perutnya masih nyeri habis lahiran. Jahitan kerasa ketarik.
Pas hujan turun, Mbak Lia udah di kamar, nonton TV. Sara basah kuyup. Faris kebangun, nangis lagi.
Malam, Sara demam 39. Mama mertua yang nyuruh minum paracetamol. Rendi? "Kamu sih, siang-siang ujan-ujanan."
Nggak ada yang nanya, kenapa kamu Ujan-ujanan?
Dua bulan setelah Faris lahir, Sara nekat ngomong ke Rendi.
"Ren, aku mau jualan lagi."
Rendi kaget. "Ngapain? Kan udah ada aku."
"Ada kamu, tapi uang belanja aja aku nggak pegang, Ren. Kemarin Faris demam, aku mau beli termometer aja bingung."
"Kamu kan bisa minta Mama."
Sara nelen ludah. Minta Mama artinya satu rumah tahu. Artinya Mbak Tika bakal nyinyir, "Baru punya anak satu aja udah nggak kuat."
"Aku mau jualan online aja, Ren. Dari rumah. Jilbab. Nggak keliling."
Rendi diem lama. Terus ngangguk. "Ya udah. Tapi jangan sampai ganggu urusan rumah ya."
Sara senyum. Malem itu dia bongkar koper lama. Sisa jilbab 7 pcs. Dia foto pake HP jadul, posting di Facebook. Kasih caption: "Jilbab segiempat bahan adem, 35rb aja."
Seminggu laku 3. Untung 60 ribu. Sara nangis megangin uang itu. Uang yang dihasilkan setelah nikah. Uangnya dia. Bukan uang mertua. Bukan uang Rendi.
Tapi bahagia orang miskin emang pendek.
Hari kedelapan, paket jilbab dateng. Buat stok baru. Sara pake uang tabungan dari kos dulu. COD, 250 ribu.
Yang terima paket, Mbak Tika.
Waktu Sara pulang dari posyandu, Mbak Tika udah nunggu di meja makan. Paketnya dibuka. Jilbab-jilbab berserakan.
"Jualan ya, Sar?" Nada Mbak Tika datar.
Sara gugup. "I... iya, Mbak. Online. Iseng-iseng."
"Iseng-iseng pake uang, siapa? Uang Rendi?"
"Bukan, Mbak. Uang tabungan aku dari dulu."
Mbak Tika senyum. "Oh. Pantes. Soalnya Mama nanya, kok ada paket ke rumah. Mama kira kamu beli barang aneh-aneh."
Malemnya, Mama manggil Sara ke dapur.
"Sar, Mama denger kamu jualan ya?"
Sara nunduk. "Iya, Ma. Maaf nggak bilang. Cuma kecil-kecilan, Ma. Buat jajan Faris."
Mama diem. Ngaduk sayur. Terus bilang, "Mama nggak larang. Tapi kamu kan masih nyusuin. Nanti Faris nggak keurus. Terus kalau tetangga lihat kamu jualan dari rumah, nanti dikira keluarga kita kekurangan."
Dikira kekurangan. Itu yang penting. Bukan Sara capek. Bukan Faris butuh popok.
Rendi pulang, Sara cerita. Rendi malah marah. "Kan aku udah bilang, jangan ganggu urusan rumah! Sekarang Mama jadi mikir yang nggak-nggak!"
"Ganggu urusan rumah gimana, Ren? Aku nyetrika tetep. Masak tetep. Nyuci tetep. Jualan cuma malem pas Faris tidur!"
"Pokoknya stop. Hapus Facebook kamu."
Sara hapus. Malam itu. Sambil Faris netek. Air mata netes ke pipi Faris.
Jilbab 7 pcs dia bagi-bagiin ke Mbak Lia, Mbak Wati, gratis. Katanya, "Buat daleman, Mbak. Adem."
Dalam hati Sara jerit: Ini hartaku. Kenapa aku yang minta maaf?
Tiga bulan kemudian, telepon dari kampung.
Suara Pakde gemeter. "Sar, Ibumu jatuh di dapur. Sekarang di Puskesmas. Nggak sadar."
Dunia Sara runtuh kedua kalinya.
Dia guncang-guncang Rendi yang lagi tidur siang. "Ren! Ibu aku sakit! Aku harus pulang!"
Rendi bangun, panik juga. "Ya udah, berangkat sekarang. Aku anter ke terminal."
Di terminal, Rendi cuma nganter sampai pintu bus. Nggak ikut. "Aku titip Faris ya, Sar. Aku nggak bisa cuti. Bapak lagi ada inspeksi."
Sara ngangguk. Paham. Dia naik bus, gendong Faris 3 bulan, bawa satu tas kecil. Air mata nggak berhenti dari Donggala sampai kampung.
Sampai Puskesmas, ibu udah sadar. Tapi lemes. Stroke ringan, kata mantri. Sebelah badan susah gerak.
Ibu lihat Sara, senyum. "Kamu pulang, Nak..."
Sara peluk ibu. Cium tangan ibu yang dingin. Faris dia taro di samping ibu. "Ini cucu Ibu, Bu. Namanya Faris."
Ibu elus kepala Faris pake tangan yang masih bisa gerak. "Ganteng... kayak bapaknya..."
Malam itu Sara tidur di lantai Puskesmas. Beralas tikar. Nyamuk banyak. Faris rewel. Tapi Sara nggak ngeluh. Soalnya di sampingnya ada ibu. Walau sakit, walau lemah, tapi ibu.
Sara nggak balik seminggu. Nggak balik dua minggu. Nggak balik sebulan.
Dia ngurus ibu di rumah papan. Masak bubur. Nyuapin. Gantiin popok dewasa. Mijitin kaki ibu tiap malam. Faris dia taro di ayunan kain, di samping dipan ibu.Rendi telpon tiap malam. Awalnya khawatir. Lama-lama kesel.
"Kapan pulang, Sar? Rumah berantakan. Mama capek. Mbak Tika ngomel terus."
"Ibu aku belum bisa ditinggal, Ren. Masih nggak bisa jalan."
"Terus aku gimana? Faris gimana? Masa bayinya di kampung terus?"
Sara mau teriak: Terus ibu aku gimana?
Tapi dia telan. Dia cuma bilang, "Bentar lagi, Ren. Doain ya."
Bulan keempat, ibu bisa duduk. Bisa ngomong walau pelo. Bisa ketawa liat Faris ngoceh.
Bulan kelima, Pakde manggil Sara ke teras.
"Sar, kamu harus milih."
Sara kaget. "Milih apa, Pakde?"
"Ibumu butuh kamu. Tapi kamu juga punya suami, punya anak. Di sana rumah tanggamu. Kalau kamu di sini terus, suamimu bisa nikah lagi."
Kalimat terakhir itu kayak piso. Sara inget Rendi. Inget kamar di lantai dua. Inget Mbak Tika. Inget semua.
Malemnya, ibu manggil. Kayak tahu.
"Sar," kata ibu pelan, "Pulanglah, Nak. Ibu udah nggak apa-apa."
"Bohong. Ibu masih sakit."
Ibu senyum. "Sakit ibu obatnya anak ibu bahagia. Kalau kamu cerai gara-gara ibu, ibu yang nggak tenang."
Sara nangis. Kenceng. Pertama kali dia nangis depan ibu setelah nikah.
"Ibu ikhlas, Nak. Pulang. Jaga suamimu. Jaga anakmu. Ibu di sini ada Pakde."
Sara genggam tangan ibu. Tangan yang dulu kuat nyabit rumput, sekarang keriput dan lemas.
Di hati Sara perang. Antara anak dan ibu. Antara istri dan anak. Dan dia nggak bisa menang. Karena apapun pilihannya, dia yang kalah.
Seminggu kemudian, Sara balik ke Donggala. Gendong Faris. Bawa kresek isi kain sarung dari ibu.
Di terminal, Rendi jemput. Nggak peluk. Cuma ambil tas. "Akhirnya pulang juga."
Di mobil, nggak ada "kamu kurus". Nggak ada "makasih udah jaga ibu". Adanya, "Mama capek banget kamu tinggal. Mbak Tika ngomel-ngomel. Cucian numpuk."
Sara nengok ke jendela. Faris tidur di pangkuan.
Sampai rumah, Mama mertua sambut. "Udah sehat ibunya?"
Sara angguk. "Udah bisa duduk, Ma."
"Baguslah. Sekarang fokus ke sini ya. Faris udah gede."
Mbak Tika lewat, nyeletuk, "Lama juga ya cutinya. Kirain nggak balik."
Sara senyum. Senyum paling pait sedunia.
Malam, di kamar, Sara buka HP. Ada SMS dari Pakde.
"Ibumu nitip salam. Katanya jangan sering-sering mikirin dia. Mikirin anak-suami aja. Dia kangen, tapi ikhlas."
Sara matiin HP. Dia peluk Faris. Dia bisik ke ubun-ubun anaknya.
"Nak, maafin Ibu ya. Ibu ninggalin nenek buat pulang ke orang-orang yang nggak pernah anggap Ibu ada."
Di luar kamar, Rendi lagi telpon temennya, "Bro, voli yuk malem ini. Udah lama nggak keluar. Pusing di rumah mulu."
Sara pejamkan mata. Air mata keluar lagi. Dia hapal polanya: dia pulang, dia salah. Dia pergi, dia salah. Dia diem, dia salah.
Di rumah ini, Sara selalu salah.
Dan dia baru sadar, menantu yang selalu salah itu bukan karena dia salah.
Tapi karena dari awal, dia nggak pernah dianggap benar.
Enam bulan setelah Sara balik dari kampung, hidupnya jalan kayak robot.
Bangun subuh, masak, nyuci, ngepel, ngasuh Faris, ngadepin nyinyir Mbak Tika. Malam, dengerin Rendi ngorok. Besok, ulang lagi.
HP jadulnya dia hemat batre. Cuma dinyalain malem, nunggu kabar dari Pakde. Kadang ada SMS: "Ibumu sehat. Tadi makan bubur habis."Kadang cuma: "Ibu titip salam."
Tiap baca itu, dada Sara anget sebentar. Terus dingin lagi.
Hari Selasa, hujan dari subuh. Faris demam. Rewel. Sara nggak ke kantor. Izin. Seharian dia gendong Faris, kompres, nyusuin.
Jam 3 sore, HP bunyi. Dari Pakde.
Jantung Sara langsung jatuh. Telpon dari Pakde cuma dua artinya: ibu kangen, atau ibu kenapa-kenapa.
"Assalamualaikum, Pakde..."
Di seberang, suara Pakde berat. "Waalaikumsalam, Sar. Kamu lagi di mana?"
"Di rumah, De. Faris demam."
Pakde diem. Lama. Terus, "Sar... Ibumu... tadi jam 1 siang... udah nggak ada."
Dunia Sara berhenti
Kata "nggak ada" itu nggak masuk akal. Ibu itu ada. Kemarin Pakde SMS, ibu habis bubur. Kemarin ibu masih bisa senyum.
"De... bohong kan?" suara Sara pecah.
Pakde nangis. "Innalillahi, Sar. Stroke-nya kumat lagi. Subuh tadi jatuh di kamar mandi. Nggak ketahuan. Siang baru nemu..."
HP jatoh dari tangan Sara. Faris yang lagi tidur di pangkuan kebangun, kaget, nangis.
Sara nggak denger. Telinganya dengung. Dadanya kosong. Kayak ada yang nyabut nyawa dari tulang rusuk.
Dia nggak inget gimana caranya dia teriak.
Yang dia inget, tiba-tiba Mama mertua udah di depan kamar, Rendi udah megang pundaknya.
"Sar! Sara! Kenapa?!"
Sara cuma bisa nunjuk HP di lantai. "Ibu... ibu aku..."
Rendi ngambil HP, nelpon balik Pakde. Ngomong sebentar. Matanya merah waktu nutup telpon.
"Mama," kata Rendi' Mama mertua, "Mertuaku meninggal.
Satu rumah yang biasanya ribut, mendadak sepi. Cuma suara hujan sama suara Faris nangis.
Malam itu juga Sara berangkat. Rendi ikut. Bawa Faris. Naik mobil travel, 8 jam. Hujan sepanjang jalan.
Di mobil, Sara nggak ngomong. Nggak nangis. Matanya kosong ke jendela. Tangannya dingin waktu Rendi genggam.
Rendi bisik, "Yang sabar ya, Sar."
Sabar. Kata itu lagi.
Sampai kampung udah subuh. Rumah papan ibu penuh orang. Lampu petromak.
Bau kembang. Suara ngaji.
Ibu udah dikafanin. Tinggal nunggu dikubur habis zuhur.
Sara jalan masuk. Lututnya lemes. Dia liat wajah ibu terakhir kali sebelum ditutup.
Ibu tidur. Damai. Keriputnya hilang. Kayak nggak nanggung beba. Sara nggak teriak. Nggak meraung. Dia cuma rebahin kepalanya di dada ibu. Dingin. Kaku. Dia cium kening ibu, lama. Bisik, "Bu, Sara pulang. Tapi Ibu udah nggak nunggu di pintu lagi..."
Air mata baru keluar waktu tanah pertama jatuh ke liang. Pelan. Tapi nggak berhenti. Kayak hujan di luar.
Pakde peluk Sara dari belakang. "Ibumu titip pesan, Sar. Katanya, 'Kasih tahu Sara, ibu ikhlas. Ibu nggak sakit lagi. Jangan tangisin ibu kelamaan. Tangisin diri sendiri kalau disakitin orang.'"
Kalimat terakhir itu yang bikin Sara ngedenger. 'Tangisin diri sendiri kalau disakitin orang'
Ibu nggak pernah ngajarin Sara berantem. Tapi ibu ngajarin Sara sadar.
Tiga hari Sara di kampung. Nggak masak. Nggak nyuci. Cuma duduk di dipan ibu, gendong Faris, nyiumin baju ibu yang masih tergantung.
Rendi pulang dihari kedua. "Aku harus kerja, Sar. Bapak marah. Kamu sama Faris di sini dulu ya. Nanti aku jemput seminggu lagi."
Sara angguk. Dia malah seneng Rendi pulang. Soalnya tiap lihat Rendi, dia inget: dia harus balik ke rumah yang nggak pernah anggap dia anak.
Hari ketujuh, Pakde duduk di samping Sara.
"Sar, rumah ini ibu warisin ke kamu. Suratnya ada. Tapi..."
Sara nengok. "Tapi apa, De?"
"Om kamu, adik ibumu, nggak terima. Katanya dia yang rawat ibu waktu muda. Dia mau jual rumah ini. Bagi warisan."
Sara diem. Rumah ini cuma papan. Tapi ini rumah yang ada bau ibu. Ada dipan ibu. Ada kalender bekas ibu coret tanggal Sara gajian.
"De, aku ikhlas," kata Sara akhirnya. "Kalau Om mau jual, jual aja. Aku nggak mau ribut. Ibu nggak suka ribut.
Pakde pegang tangan Sara. "Kamu anak ibumu banget, Sar. Ikhlas. Tapi inget, ikhlas itu capek. Jangan semua kamu ikhlasin."
Seminggu kemudian Rendi jemput. Bawa mobil kantor. Nggak banyak ngomong di jalan. Cuma, "Yang sabar ya. Udah takdir."
Sampai di rumah mertua, Mama nyambut di depan. Meluk Sara. "Yang sabar, Nak. Mama ngerti rasanya kehilangan ibu."
Sesaat Sara mau percaya. Sampai Mbak Tika lewat bawa cucian, nyeletuk, "Udah seminggu ya? Kirain mau setahun di kampung. Cucian numpuk nih."
Sara remuk lagi. Baru tiga langkah masuk rumah, udah ditagih.
Malam, di kamar, Sara bongkar tas. Nemu kain sarung terakhir dari ibu. Masih bau ibu. Dia peluk, cium, nangis nggak bersuara. Takut Faris bangun. Takut Rendi kebangun.
Rendi kebangun juga. Liat Sara nangis. Dia narik selimut, terus tidur lagi. Nggak meluk. Nggak nanya. Capek katanya.
Di gelap, Sara bisik ke kain sarung, "Bu, Sara sendirian sekarang. Sara nggak punya rumah buat pulang. Sara nggak punya Ibu buat dipeluk."
Faris ngigo. Sara gendong, ayun-ayun. Sambil ayun, dia janji sama dirinya sendiri.
Bu, mulai sekarang Sara nggak akan nangis karena ipar lagi. Kalau Sara nangis, cuma karena kangen Ibu. Kalau Sara bertahan, cuma karena Faris. Bukan karena takut Rendi. Bukan karena takut Mama.
Sara capek jadi menantu yang selalu salah. Sara mau jadi ibu yang benar.
Bu, doain Sara ya. Doain Sara berani.
Di luar kamar, hujan lagi. Kayak pas ibu pergi.
Tapi di dalam dada Sara, untuk pertama kali setelah nikah, ada bara kecil nyala.
Namanya bukan marah. Namanya bukan dendam.
Namanya: cukup.
Tiga bulan setelah ibu pergi, bara "cukup" di dada Sara belum padam. Malah makin besar tiap Mbak Tika lewat sambil banting pintu. Makin panas tiap Rendi pulang subuh, bau rokok, tidur sampai zuhur.
Faris udah 10 bulan. Bisa merangkak. Bisa ngoceh "mah-mah". Tiap Faris jatuh ke lantai, yang Sara takut bukan lukanya. Tapi omongan Mbak Lia, "Makanya dijagain, Sar. Jangan main HP mulu."
Padahal HP Sara cuma buat nyalain murotal buat Faris.
Pemicunya hari Minggu.
Hari itu listrik mati dari pagi. Air juga mati. Satu rumah gerah, sumpek, anak-anak pada rewel.
Mbak Tika nyuruh Sara, "Sar, timba air di sumur belakang gih. Buat masak sama mandiin anak-anak."
Sumur belakang dalemnya 10 meter. Timbanya berat. Sara lagi gendong Faris.
"Mbak, Faris belum tidur. Nanti aku titip dulu ya."
"Ya udah cepetan. Anak-anak udah bau."
Sara taro Faris di kasur, diganjel bantal. Lari ke sumur. Baru 2 timba, dari kamar denger Faris jerit.
Sara ngebut masuk. Faris jatuh dari kasur. Dahi benjol. Nangis kejer.
Sara peluk Faris, panik. Mbak Tika dateng, bukannya nanya, malah nyalahin. "Kan udah dibilang, dijagain! Gimana sih jadi ibu!"
Mama mertua ikut keluar kamar. "Sara, lain kali hati-hati. Kasihan cucuku."
Rendi? Baru bangun. Rambut awut-awutan. "Apaan sih pagi-pagi ribut?"
Sara liat sekeliling. 7 kepala keluarga, 12 pasang mata, semua nyalahin dia. Nggak ada yang nanya, "Kamu nggak apa-apa?"
Malam, waktu Faris udah tidur, benjolnya dikompres, Sara duduk di pinggir kasur. Rendi main ML.
"Ren," panggil Sara.
"Hm." Mata Rendi nggak lepas dari HP.
"Kita pisah rumah aja ya?"
Jempol Rendi berhenti. Dia nengok. "Maksudnya?"
"Aku capek, Ren. Aku mau punya rumah sendiri. Kecil nggak apa-apa. Yang penting kita, bertiga. Aku, kamu, Faris."
Rendi taro HP. "Kamu gila? Uang dari mana? Emang kamu mau ngontrak? Malu sama Bapak."
"Aku nggak minta ngontrak. Aku minta kita usaha. Aku bisa jualan lagi. Kamu kerja yang bener. Pelan-pelan."
"Terus Mama Bapak gimana? Masa kita ninggalin?"
Sara ketawa. Pahit. "Ninggalin? Ren, dari nikah sampai Faris mau jalan, kamu pernah gendong dia ke posyandu? Pernah begadang waktu dia demam? Yang ninggalin siapa?"Rendi kaget. Sara nggak pernah ngomong setegas itu.
"Sar, kamu jangan emosi. Ngomong baik-baik."
"Aku udah 3 tahun ngomong baik-baik, Ren. Hasilnya aku yang selalu salah. Faris jatuh, aku salah. Listrik mati, aku salah. Ibu aku meninggal, aku juga salah karena lama di kampung."
Rendi diem. Dia nggak biasa Sara lawan.
Sara lanjut, pelan tapi dalem. "Aku nggak mau Faris gede di rumah yang isinya nyalahin ibunya tiap hari. Aku nggak mau dia liat bapaknya diem aja waktu ibunya dibentak. Aku capek, Ren. Aku udah nggak punya ibu buat pulang. Jangan bikin aku ngerasa nggak punya suami juga."
Kamar hening. Cuma suara kipas angin sama napas Faris.
Rendi narik napas panjang. "Ya udah. Besok aku omongin ke Bapak."
Sara nggak tidur semalaman. Dia elus kepala Faris, bisik, "Nak, doain Ibu ya. Doain Bapak nggak batalin."
Besoknya, Rendi ngomong ke Pak Camat habis magrib. Di ruang tamu. Sara di dapur, pura-pura cuci piring, padahal kupingnya di tembok.
"Pak, saya sama Sara... mau misah, Pak."
Hening.
Suara Pak Camat berat. "Misah kenapa? Kalian berantem?"
"Nggak, Pak. Cuma... Sara capek. Pengen ngurus anak sendiri."
Suara Mama nyela, "Loh, memangnya di sini Faris nggak keurus? Mama sama mbak-mbaknya kan bantuin."
Rendi kejet-kejet. "Iya, Ma. Tapi... ya gitu. Namanya juga rumah tangga, Ma."
Mbak Tika dari dapur nyamber, "Alah, paling Sara yang komporin. Dari dulu nggak betah di sini."
Sara remes spons cuci piring. Sabarnya hampir habis.
Pak Camat batuk. "Rendi, kamu itu anak bungsu. Harusnya kamu yang di rumah, ngurus Mama Bapak tua. Kakak-kakakmu udah pada keluar, tapi balik lagi karena nggak sanggup. Sekarang kamu mau keluar?"
Rendi nggak jawab.
Pak Camat lanjut, "Tapi ya sudahlah. Biar nggak jadi fitnah. Bapak kasih tanah di belakang. Yang kosong itu. Luasnya 6x10. Bikin rumah sendiri sana. Tapi inget, jangan jauh-jauh. Mama Bapak udah tua."
Sara di dapur, nutup mulut. Takut teriak. Tanah. Beneran dikasih tanah.
Mbak Tika banting panci. "Yah, Bapak. Enak banget dia. Kita dulu ngontrak bertahun-tahun."
"Sudah," potong Pak Camat. "Ini biar dia nggak bilang kita nggak ngemong mantu."
Malam itu, Rendi masuk kamar senyum kecut. "Dikasih, Sar. Tanah belakang."
Sara meluk Rendi. Pertama kali setelah ibu meninggal. "Makasih, Ren. Makasih udah mau ngomong."
Rendi bales peluk, tapi lemes. "Tapi kita bangun rumah pake apa, Sar? Aku nggak punya tabungan."
Sara lepasin pelukan. Dia ke lemari, buka lipatan baju. Keluari stik kresek item. Isinya kalung emas satu gram. Pemberian ibu waktu Sara gadis, belum pernah dia pake.
"Jual ini, Ren. Buat pondasi dulu."
Rendi melot. "Itu dari Ibu kamu. Yakin?"
Sara angguk. "Ibu pasti ikhlas. Ibu pernah bilang, 'Emas itu buat anakku kalau kejepit, bukan buat dipajang'. Sekarang aku kejepit, Ren."
Rendi genggam kalung itu. Lama. Terus dia janji, "Aku bakal ganti, Sar. 10 kali lipat. Aku janji bakal kerja bener."
Sara percaya. Untuk kesekian kali. Karena perempuan yang udah nggak punya rumah, cuma bisa percaya sama janji.
Minggu depannya, tukang mulai gali pondasi. Ukuran 6x10. Kecil. Cuma 2 kamar, 1 ruang tamu, dapur, kamar mandi. Tapi buat Sara, itu istana.
Tiap sore, sepulang kantor, Sara ke belakang. Liat tukang ngaduk semen.
Gendong Faris. Dia bisik ke anaknya, "Lihat, Nak. Ini rumah kita. Nggak ada Mbak Tika. Nggak ada yang nyalahin Ibu kalau kamu jatuh."
Mbak Tika lewat. nyinyir. "Semoga betah. Jangan ntar balik lagi ke sini kalau ujan bocor."
Sara senyum. Senyum pertama yang bukan pura-pura. "Aamiin, Mbak. Doain ya."
Dua bulan, rumah jadi. Tembok batako, lantai semen kasar, atap asbes. Belum dicat. Perabot cuma kasur, kompor, sama tikar.
Tapi pas pindahan, Sara sujud di lantai semen itu. Dingin. Kasar. Tapi miliknya.
Faris merangkak keliling rumah baru, ketawa. Rendi bawa galon, ngos-ngosan. "Akhirnya ya, Sar."
Sara berdiri, peluk Rendi sama Faris sekaligus. "Akhirnya, Ren."
Malam pertama di rumah sendiri, mereka makan mie instan, duduk lesehan. Nggak ada AC. Gerah. Tapi nggak ada yang teriak "tutup pintu kenceng-kenceng!"
Nggak ada yang komen "kok masaknya mie doang?"
Sebelum tidur, Sara buka jendela. Angin malam masuk. Dia liat ke langit.
"Bu," bisiknya, "Sara udah punya rumah. Kecil. Jelek. Tapi ini rumah Sara. Ibu tenang ya di sana."
Faris udah pules di sampingnya. Rendi juga.
Sara tidur paling akhir. Dia pegang dinding batako. Kasar. Tapi nyata.
Dia tahu, punya rumah sendiri bukan akhir masalah. Rendi masih Rendi. Hura-hura masih ada. Duit masih pas-pasan.
Tapi setidaknya, kalau nanti dia nangis, nggak ada Mbak Tika yang denger. Kalau Faris jatuh, yang nyalahin cuma dia sendiri.
Dan buat Sara, itu udah cukup untuk disebut: merdeka.
Rumah 6x10 itu wangi semen baru.
Lantainya masih kasar, kalau Faris jatuh pasti dengkul lecet. Tapi tiap lecet itu Sara obatin sendiri, nggak ada yang nyinyir, "Makanya dijagain!"
Bulan pertama, semua indah.
Rendi pulang jam 5 sore. Langsung mandi, main sama Faris, kadang bantu Sara masak mie. Malam, mereka lesehan, nonton TV tabung bekas dikasih Pak Camat. Faris tidur di tengah, Sara-Rendi di kiri kanan.
Sara pikir, ternyata begini rasanya rumah tangga.
Dia mulai jualan lagi. Nggak keliling. Cuma taro etalase kecil di teras, isinya jilbab sama daster. Tetangga mulai beli. Untung nggak banyak, tapi cukup buat beli telur, sabun, sama susu Faris.
Rendi juga semangat. "Lihat, Sar. Kalau kita pisah rumah, rejeki lancar kan?"
Sara angguk. Dia percaya. Lagi.
Bulan kedua, retak pertama muncul. Kecil, tapi Sara udah hafal polanya.
Rendi mulai pulang jam 7. Alasannya lembur. Tapi baju nggak bau kantor. Bau rokok sama wangi parfum cewek di kerah.
Sara nggak nanya. Dia pilih masak, mandiin Faris, pura-pura bego. Soalnya dia capek berantem.
Bulan ketiga, jam 9. Bulan keempat, jam 11.
Bulan kelima, subuh.
Puncaknya malam Jumat. Faris demam, 38,5. Nangis nggak berhenti. Sara gendong, kompres, keliling rumah sempit itu sampai kaki pegal.
Jam 2 pagi Rendi baru pulang. Pintu kebuka, musik dangdut dari HP-nya bocor. Dia nyengir, jalan sempoyongan.
Sara nggak marah. Nggak nangis. Dia cuma bilang, "Faris demam, Ren."
Rendi liat anaknya, terus tiduran di kasur. "Kasih obat aja. Besok juga sembuh."
30 detik, ngorok.
Sara duduk di lantai, gendong Faris, liatin suaminya. Dulu waktu lamaran, Rendi nangis di lapangan voli, janji jaga dia. Sekarang, Rendi tidur nyenyak waktu anaknya panas.
Di situ Sara sadar: rumah boleh pindah, tapi laki boleh tetap sama.
Minggu depannya, Sara telat datang bulan. Dia nggak kaget. Capek, stres, nggak sempat KB. Dia tespek malem-malem, di kamar mandi, pas Rendi udah pergi "nongkrong sebentar".
Garis dua. Merah. Tegas. Kayak nonjok mata.
Sara duduk di kloset, gigit bibir biar nggak teriak. Bukan karena tak mau anak. Tapi karena dia tahu, anak kedua artinya rantai baru. Artinya "bertahan" jadi makin wajib.
Dia tunggu Rendi sampai subuh. Rendi pulang, langsung tidur. Sara bangunin.
"Ren, bangun. Aku hamil."
Rendi buka mata setengah. "Hah? Hamil? Serius?"
Sara angguk.
Rendi duduk. Bengong. Terus senyum, peluk Sara. "Alhamdulillah, Sar. Faris punya adek."
Sesaat Sara luluh. Rendi kecup keningnya, elus perutnya. "Maaf ya, akhir-akhir ini aku jarang di rumah. Mulai sekarang aku berubah."
Janji. Lagi. Sara dengerin sambil ngitung di hati: ini janji ke-berapa.
Dua minggu Rendi beneran berubah. Pulang sore. Bantu jemur baju. Nggak voli. Nggak nongkrong. Mama mertua sampe muji, "Tuh kan, kalau udah anak dua, Rendi tanggung jawab."
Sara mau percaya. Tapi perut nggak bisa bohong. Mual, muntah, pusing. Jualan jadi sepi karena Sara tepar. Uang habis buat USG. Rendi mulai ngeluh, "Boros amat sih, Sar."
Minggu ketiga, Rendi kumat. Alasannya, "Temen kantor ulang tahun, Sar. Nggak enak nggak dateng."
Pergi jam 7 malem. Pulang jam 4 subuh. Bau bir.
Sara lagi muntah di kamar mandi. Denger pintu kebuka, dia lap mulut, keluar.
"Ren, kamu mabuk?"
Rendi ketawa. "Dikit. Namanya juga laki, Sar. Sekali-sekali."
"Sekali-sekali kamu tiap minggu. Aku lagi hamil, Ren. Faris juga butuh susu. Kamu inget nggak?"
Rendi naik nada. "Kamu tuh ya, dari dulu ngatur mulu! Aku capek kerja! Masa gaboleh seneng-seneng?"
"Seneng-seneng kamu bikin anak istrimu nggak makan, Ren!"
Plak.
Nggak kenceng. Cuma tamparan di pipi. Tapi buat Sara, itu lebih sakit dari 3 tahun dimaki ipar.
Faris kebangun, nangis. Sara gendong Faris, mundur. Bibirnya gemeter.
Rendi langsung nyesel. "Sar... aku khilaf... sori..."
Sara nggak jawab. Dia masuk kamar, kunci pintu. Duduk di lantai, peluk Faris, nangis nggak bersuara. Di perutnya, adek Faris muter, kayak protes.
Besoknya Rendi sujud-sujud minta maaf. Bawa bubur kacang ijo, bunga dari halaman tetangga. "Sumpah, Sar. Terakhir. Demi anak kita."
Sara liat muka Rendi. Lebam karena nggak tidur. Liat Faris yang ketakutan semalem. Liat perutnya yang udah mulai buncit.
Dia inget ibu. "Tangisin diri sendiri kalau disakitin orang."Tapi dia juga inget, ibu bilang, "Anak itu rejeki, Nak. Jangan dibuang."
Sara ambil bubur. Makan. Bukan karena maafin. Karena laper. Karena ada dua nyawa di badan dia yang harus dikasih makan.
Tiga bulan kandungan, Sara jualan lagi. Mual ditahan. Faris dia titip ke tetangga depan, Bu ljah, sejam 5 ribu. Rendi? Katanya cari kerja sampingan. Jadi tour guide lokal, antar tamu ke pantai.
Duit mulai masuk. Rendi kasih Sara 500 ribu seminggu. Sara seneng. Dia pikir, ini titik balik.
Sampai suatu sore, Bu Ijah bisik-bisik, "Sar, suamimu kok kemarin aku lihat di kafe, sama perempuan, Sar. Muda. Pake kacamata."
Dunia Sara dingin. Tapi dia senyum ke Bu Ijah. "Mungkin tamu, Bu. Kan dia guide."
Malem, Sara nggak bisa tidur. Jam 1 Rendi pulang. Wangi parfum cewek lagi.
Sara nunggu Rendi tidur. Dia buka HP Rendi. Nggak dikunci. Bodohnya Rendi.
WA paling atas nama "Cika Client". Isinya:
"Sayang, makasih ya tadi. Kapan repeat?" "Besok aku ada trip lagi. Jemput ya. Kangen."
Foto peluk. Foto cium pipi. Tanggalnya pas Sara muntah-muntah sendirian.
HP jatoh dari tangan Sara. Tapi nggak ada suara. Soalnya hatinya yang jatoh duluan, lebih kenceng.
Sara ke kamar mandi. Ngaca. Liat muka sendiri. Pucat, mata sembab, perut buncit, daster bau minyak.
Dia bisik ke kaca, "Ini ya, Sar? Ini laki yang kamu bela-belain ninggalin ibumu sendirian?"
Faris nangis di kamar. Sara keluar, gendong Faris, nyusuin. Air matanya netes ke pipi Faris.
Subuh, Rendi bangun. Sara udah rapi. Duduk di tikar, surat di tangan.
"Ren, kita cerai."
Rendi kaget. "Gila kamu? Nggak! Demi anak-anak, Sar!"
"Demi anak-anak makanya aku minta cerai, Ren. Aku nggak mau anakku liat bapaknya selingkuh. Aku nggak mau anakku liat ibunya ditampar."
"Anak kedua gimana?!"
Sara elus perut. "Aku urus sendiri. Atau... aku gugurin."
Plak. Kali ini Rendi yang ditampar. Sama kata-kata Sara.
Rendi lututnya lemes. Nangis. "Jangan, Sar. Aku salah. Aku khilaf. Cika itu cuma tamu. Aku kebawa suasana. Sumpah demi Allah, aku putusin. Aku pilih kamu. Pilih anak kita."
Dia peluk kaki Sara. Air mata Rendi netes ke kaki Sara yang pecah-pecah.
Faris nangis liat bapaknya nangis. Di perut, adek Faris nendang.
Sara liat ke atas. Dinding batako belum dicat. Rumah yang dia bangun pake kalung ibu.
Dia inget janji ibu: "Jangan tangisin ibu kelamaan."
Akhirnya Sara bilang, pelan, "Sekali lagi, Ren. Ini terakhir. Kalau kamu ulang, aku pergi bawa anak-anak. Nggak pake nawar."
Rendi angguk. Sumpah-sumpah.
Hari itu Rendi ganti nomor. Block Cika. Nggak jadi guide lagi. Cari kerja di bengkel temen.
Sara simpan surat cerainya di bawah kasur.
Belum dibuang. Buat jaga-jaga.
Karena perempuan yang udah sekali ditampar, sekali diselingkuhi, tahu: janji laki-laki itu kayak asbes rumahnya. Keliatannya nutupin, tapi kalau ujan deras, bocor juga.
Tujuh bulan hamil anak kedua, rumah batako 6x10 itu udah mulai retak dindingnya. Bukan cuma retak tembok. Retak janji Rendi juga.
Habis ketahuan selingkuh sama Cika, Rendi
beneran tobat. Sebulan. Dia kerja di bengkel temennya, pulang jam 6, bau oli tapi nggak bau parfum cewek. Gaji nggak seberapa, tapi dia kasih semua ke Sara. 400 ribu seminggu.
Sara mulai napas. Faris udah 1,5 tahun, bisa lari-larian. Dagangan jilbab Sara rame lagi karena dia live di Facebook pake HP tetangga. Tetangga pada baik, mau hotspot-in.
Mama mertua kadang mampir, bawain sayur. Nggak nyinyir. Mbak Tika diem. Mungkin capek, atau mungkin nunggu Sara jatuh lagi.
Masuk 8 bulan, Rendi kumat. Pelan-pelan.
Awalnya, "Sar, temen bengkel ngajakin nongkrong sebentar. Nggak enak nolak." Pulang jam 9.
Terus, "Sar, ada job servis motor ke luar kota, nginep semalem." Pulang dua hari, baju bau rokok.
Sara udah buncit banget. Tidur miring aja susah. Malam-malam Faris batuk, dia gendong sambil kompress, sambil nahan kontraksi palsu.
Dia WA Rendi: "Kapan pulang? Faris panas."
Dibales 6 jam kemudian: "Sori, Sar. HP mati. Nanti aku beliin obat "
Obatnya nggak pernah dateng. Yang dateng justru Pak Camat, nengok cucu.
Lihat rumah sepi, Pak Camat nanya, "Rendi kemana?"
Sara senyum, bohong, "Lagi lembur, Pak."
Pak Camat angguk-angguk. Waktu pulang, dia selipin 300 ribu di bawah bantal Faris. Sara nemu pas beres-beres. Dia genggam duit itu, nangis. Bukan karena duitnya. Karena bapak mertuanya lebih peduli dari suaminya.
HPL pas musim hujan. Januari. Genteng asbes rumah Sara bocor di pojok kamar. Kalau ujan deras, ember harus siap.
Kontraksi mulai jam 11 malem. Rendi ada di rumah. Lagi. Tumben. Mungkin Allah masih sayang.
"Sar, beneran sakit?" Rendi panik, padahal ini anak kedua.
Sara gigit kain, angguk. Faris kebangun, bingung liat ibunya keringetan.
Rendi gendong Faris, nyetop motor tetangga. Ujan-ujanan ke Puskesmas. Nggak ada mobil. Nggak ada Mama mertua. Cuma mereka bertiga.
Di Puskesmas, bidan bilang, "Bukaan 5, Bu. Kuat ya."
Sara ngejan 3 jam. Rendi di luar, mondar-mandir, rokok sebatang-sebatang. Tiap denger Sara teriak, dia istighfar.
Jam 3.17 pagi, adzan pertama sayup dari kejauhan, lahir anak perempuan. Nangisnya nggak sekenceng Faris dulu. Tapi nyess ke dada Sara.
"Selamat ya, Bu. 3,1 kg. Sehat," kata bu bidan.
Sara minta gendong. Badan bayi itu anget, licin, wangi. Matanya mirip Sara. Hidungnya mirip ibu Sara yang udah nggak ada.
Rendi masuk, lihat anaknya, nangis. Beneran nangis. Dia kecup kening Sara, lama. "Makasih, Sar. Cantik banget anak kita."
Sara senyum. Lemah. "Namanya siapa, Ren?"
Rendi diem. Mikir. Terus bilang, "Naura. Naura Anindita. Artinya cahaya, Sar. Cahaya kita."
Sara angguk. Naura. Dia bisik ke telinga bayinya, "Nak, kamu cahaya Ibu. Jangan padam ya, kayak Ibu."
Seminggu di rumah, Naura jadi ratu. Tetangga pada nengok, bawa gendongan, bawa beras. Mama mertua datang tiap hari, bawain ikan bakar. Mbak Tika pun senyum, "Akhirnya punya keponakan cewek."
Rendi cuti bengkel seminggu. Full di rumah. Gendong Naura, cebokin Faris, pijitin kaki Sara. Dia bilang, "Aku kapok, Sar. Liat kamu lahiran, aku sadar. Aku nggak mau kehilangan kalian."
Sara mau percaya. Lagi. Karena mata Rendi waktu ngomong itu nggak bohong. Atau Sara aja yang bego.
Dua minggu setelah Naura lahir, "cahaya" itu mulai redup.
Rendi balik bengkel. Hari pertama pulang jam 7. Hari kedua jam 9. Hari ketiga nggak pulang.
SMS: "Sar, motor pelanggan banyak. Nginep bengkel."
Sara telpon, nggak diangkat. Dia gendong Naura yang lagi kuning, Faris rewel minta jajan. Ujan bocor netes ke kasur. Sara taro ember, sambil nyusuin Naura, sambil ngaduk bubur Faris.
Jam 2 pagi Rendi baru pulang. Bau bir. Lagi.
Sara nggak marah.
Sara nggak marah. Nggak nangis. Dia udah capek pake emosi. Dia cuma nanya, datar, "Kamu nginep di bengkel, atau di mana?"
Rendi kaget Sara nggak meledak. "Di... di bengkel, Sar. Sumpah."
"Bohong."
Rendi mau nyentuh Sara. Sara mundur. "Jangan pegang Naura kalau kamu bau begitu, Ren."
Rendi tidur di ruang tamu. Ngorok.
Besoknya Mama mertua dateng. Nggak bawa ikan. Bawa muka masam.
"Sara, Mama denger dari Tika, Rendi pulang subuh. Kalian berantem ya?"
Sara gendong Naura. "Nggak, Ma. Rendi lembur."
"Bohong. Tika liat Rendi di warkop sama temen-temennya, ketawa-tawa. Kamu sebagai istri harusnya bisa nahan suami di rumah. Masakin yang enak. Dandan."
Sara liat ke dirinya di cermin lemari. Daster kucel, muka pucat, kantong mata tebel, badan masih bengkak habis lahiran. Dandan?
"Ma," kata Sara pelan, "Saya baru 2 minggu lahiran. Jahitan masih basah. Naura kuning. Faris batuk. Saya masak pake apa? Uang Rendi seminggu ini nggak ada."
Mama diem. Terus bilang, "Ya udah, Mama nggak mau ikut campur rumah tangga kalian. Tapi jaga nama baik keluarga ya, Sar. Bapak malu kalau Rendi kenapa-napa."
Nama baik. Lagi-lagi nama baik. Bukan Sara yang kurang tidur. Bukan Naura yang kuning.
Pas Mama pulang, Mbak Tika WA Rendi. Sara nggak sengaja baca karena HP Rendi ketinggalan.
"Ren, bini lu ngeluh mulu ke Mama. Jaga dong. Jangan sampe Bapak denger. Nanti lu nggak dapet proyek lagi."
Proyek. Jadi itu alasan Rendi tobat kemarin. Proyek dari Pak Camat.
Sara taro HP. Dia liat Naura yang tidur di kasur, di samping ember bocor. Liat Faris yang main sendirian sama botol bekas.Dia bisik, "Maafin Ibu ya, Naura. Cahaya Ibu ternyata lahir di rumah yang gelap."
Malam itu, waktu Rendi pulang jam 11, Sara udah nggak nanya. Nggak nyuruh mandi. Nggak nawarin makan.
Dia cuma kasih surat. Surat cerai yang dulu dia simpen di bawah kasur. Sekarang udah lecek, tapi tulisan tangannya masih jelas.
Rendi baca. Mukanya pucat. "Sar... jangan... aku salah... aku..."
Sara gendong Naura. "Aku kasih kamu waktu sampai Naura 40 hari, Ren. Kalau kamu masih kayak gini, aku pergi. Bawa Faris, bawa Naura. Aku nggak takut. Ibu aku udah nggak ada, tapi pesennya masih ada: tangisin diri sendiri kalau disakitin orang."
Rendi nangis. Sujud di kaki Sara. Lagi.
Sara nggak nangis. Air matanya udah habis buat ibu. Sekarang dia cuma punya sisa buat anak-anaknya.
Di luar, ujan deras. Genteng bocor netes ke ember. Ting... ting... ting...
Kayak ngitung mundur. Waktu Rendi. Waktu Sara. Waktu rumah tangga yang dibangun di atas kalung almarhum ibu.
Naura 40 hari. Janji Rendi habis masa berlakunya.
Seminggu setelah tenggat itu, Rendi pulang jam 3 pagi. Nggak mabuk. Lebih parah: nggak pulang 3 hari. Alasannya, "Nginep di bengkel, banyak garapan motor touring."
Sara nggak nanya. Nggak marah. Nggak ngasih surat cerai juga. Dia cuma masak, nyusuin Naura, nyuapin Faris, terus diem. Rumah 6x10 itu jadi kuburan. Yang hidup cuma anak-anak.
Rendi mulai takut. Takut karena Sara nggak teriak lagi. Perempuan kalau udah diem, itu bahaya.
"Sar, kamu kenapa? dingin?" Rendi coba meluk dari belakang pas Sara nyuci.
Sara lepasin. "Dingin karena ujan bocor terus, Ren. Betulin gih gentengnya."
Rendi benerin. Besok bocor lagi. Kayak rumah tangganya.
Naura 7 bulan, Faris 2,5 tahun. Sara telat datang bulan lagi.
Dia udah KB suntik, tapi telat 2 minggu gara-gara bidan tutup waktu lebaran. Dia nggak mikir macem-macam. Sampai mual itu dateng lagi. Bau ikan bikin muntah. Bau Rendi juga.
Tespek. Garis dua. Lagi.
Kali ini Sara nggak nangis. Nggak ketawa.
Nggak apa-apa. Dia cuma duduk di lantai kamar mandi, liat tespek, terus liat ke langit-langit asbes yang jamuran.
"Bu," bisiknya, "Anak ketiga, Bu. Sara nggak ngerti ini rejeki atau hukuman."
Dia kasih tahu Rendi malem-malem. Rendi lagi makan, langsung kesedak.
"Hah? Hamil lagi? Tapi kan kamu KB?"
"Telat suntik. Bidan tutup."
Rendi taro sendok. Mukanya pucat. Bukan pucat bahagia. Pucat takut. "Terus... gimana?"
Sara liat muka itu. Muka yang dulu di lapangan voli janji "aku temenin kamu jualan ya". Sekarang muka itu takut punya anak lagi.
"Gimana apanya?" Sara balik nanya. Dingin.
"Ya... kita... kuat nggak?"
Sara ketawa. Pelan. "Dari dulu juga nggak kuat, Ren. Tapi jalan terus. Bedanya, dulu aku punya ibu buat cerita. Sekarang nggak ada. Jadi aku cerita ke tembok."
Malam itu Rendi nggak tidur. Bolak-balik ke teras, ngerokok. Sara tidur peluk Naura. Faris ngigo manggil "ayah". Rendi nggak denger.
Masuk 3 bulan, perut Sara udah keliatan. Jualan jilbab mati total. Mual parah. Faris susah makan, Naura pilek. Duit Rendi? 200 ribu seminggu. Katanya bengkel sepi.
Sara mulai jualin barang. Kipas angin, jual. TV tabung, jual. Tinggal kasur, kompor, sama tikar.
Mbak Tika dateng, pura-pura nengok. Liat rumah kosong, nyinyir, "Pindah, Sar? Kok dijualin?"
Sara jawab, "Buat makan, Mbak. Rendi lagi susah."
Mbak Tika pulang, besoknya satu kampung mertua tahu: "Sara bikin Rendi miskin."
Sara denger dari Bu ljah. Dia cuma senyum.
Capek klarifikasi.
Puncaknya pas 5 bulan kandungan.
Hari itu Faris jatuh dari tangga teras. Dagu robek, darah banyak. Sara panik, gendong Faris, gendong Naura, perut buncit, lari ke bidan. Ujan.
Di bidan, Faris dijahit 3 jahitan. Biaya 150 ribu. Sara cuma pegang 20 ribu.
Dia telpon Rendi. Nggak diangkat. Dia telpon Mama mertua.
"Ma, Faris jatoh, dijahit. Bisa bantu dulu, Ma? Gajian aku ganti."
Di seberang, Mama diam. Terus, "Sara, Mama lagi nggak pegang uang. Bapak juga keluar kota. Coba pinjem Tika."
Sara telpon Mbak Tika. Diangkat, terus, "Duh, Sar. Aku juga lagi seret. Suamiku belum gajian. Ya udah, pake BPJS aja."
Faris BPJS-nya mati, belum dibayar 3 bulan.
Sara tutup telpon. Dia liat Faris yang pucet, liat Naura yang nangis, liat perutnya.
Dia buka kalung. Bukan kalung emas. Kalung itu udah dijual buat pondasi. Ini kalung imitasi, bandulnya cincin murah dari Rendi, lamaran di lapangan voli dulu.
Dia gadai ke bidan. "Bu, ini dulu ya. KTP aku tahan. Besok aku tebus."
Bidan kasihan. "Ya Allah, Nak. Nggak usah. Bayar kapan-kapan aja."
Sara pulang jalan kaki. Gendong dua anak, perut gede, ujan-ujanan. Di jalan, dia liat Rendi. Di warkop. Ketawa-tawa. Main kartu. Sama temen-temennya. Ada Cika di situ. lya, Cika yang dulu.
Sara nggak mampir. Nggak teriak. Nggak nangis. Dia lewat aja. Kayak orang asing.
Sampai rumah, dia mandiin Faris, darah udah kering. Dia masak air, bikin susu Naura. Terus dia ke kamar, buka bawah kasur. Ambil surat cerai yang lecek. Sama satu kertas lagi: hasil USG. Bayi ketiga, laki-laki.
Dia tulis di belakang surat cerai, pake pulpen hampir mati:
"Ren, aku pergi. Bawa Faris, Naura, sama adeknya. Aku nggak kuat. Bukan karena nggak cinta. Tapi karena cinta nggak cukup buat bikin kita kenyang dan nggak ditampar."
Jam 9 malem, Rendi pulang. Rumah kosong. Kompor mati. Kasur nggak ada. Tikar nggak ada. Dimeja cuma surat itu, sama cincin lamaran murah, udah patah.
Rendi lari ke rumah Pak Camat. "Sara mana, Ma?! Anak-anak mana?!"
Mama bingung. "Loh, katanya mau ke pasar. Kok bawa koper?"
Mbak Tika nyeletuk, "Mungkin pulang kampung. Kan ibunya udah nggak ada, ngapain?"
Rendi lemes. Dia telpon Sara. Nggak aktif. Dia ke terminal, ke pangkalan ojek, ke rumah Bu ljah.
Bu ljah cuma bilang, "Tadi siang Sara pamit, Ren. Katanya mau cari udara segar. Bilang makasih udah jadi tetangga yang baik."
Rendi balik ke rumah batako kosong. Dia duduk di lantai semen. Dingin. Dia liat paku tempat gantungan kalung Sara. Kosong.
Baru malam itu Rendi nangis. Bukan karena ditinggal. Karena dia baru sadar, "udara segar" yang Sara cari itu: rumah tanpa dia.
Sara di mana?
Di bus ekonomi. Jurusan Palu. Bukan kampung. Dia nggak punya kampung lagi. Rumah ibu udah dijual Om.
Dia duduk pojok, gendong Naura, Faris tidur di pangkuan, perut 5 bulan. Di tas kresek cuma baju 3 potong, bubur instan, sama foto ibu.
Kondektur nanya, "Turun mana, Bu?"
Sara bingung. Dia nggak tahu. Dia cuma tahu dia harus pergi.
Akhirnya dia bilang, "Yang paling jauh, Pak. Yang ongkosnya cukup 50 ribu."
Bus jalan. Lampu jalan mundur. Donggala hilang.
Faris kebangun, "Mah, Ayah mana?"
Sara kecup kening Faris. "Ayah... ayah lagi kerja, Nak. Nanti kita jemput kalau udah gede."
Bohong. Tapi bohong yang bikin Faris tidur lagi.
Di luar, gelap. Di dalam, Naura ngempeng. Di perut, adeknya nendang.
Sara pegang perut, bisik, "Kita berempat aja ya. Ibu jaga kalian. Kalian jaga Ibu. Kita mulai dari nol. Nggak apa-apa. Ibu pernah nol banget waktu Bapak meninggal. Ibu bisa lagi."
Dia pegang foto ibu. "Bu, doain Sara ya. Sara kabur. Sara nggak kuat jadi menantu yang selalu salah. Sara mau jadi ibu yang bener."
Bus terus jalan. Meninggalkan rumah batako, meninggalkan Rendi, meninggalkan 3 tahun neraka.
Akhirnya Sara angkat kaki. Bukan karena berani. Tapi karena kalau nggak angkat kaki, dia takut anak-anaknya mati pelan-pelan. Kayak dia.
Dan untuk pertama kali setelah ibu pergi, Sara ngerasa ibu gandeng tangannya, bilang, "Pulang, Nak. Pulang ke dirimu sendiri."
Bus berhenti di Palu jam 4 subuh. Terminal masih sepi, cuma ada warung kopi yang baru buka sama tukang ojek yang ngantuk.
Sara turun, gendong Naura 10 bulan, gandeng Faris 3 tahun, perut 5 bulan. Tas kresek isinya 3 baju, bubur instan, sama foto ibu. Duit tinggal 23 ribu.
"Turun sini aja, Bu?" kata kondektur.
Sara angguk. Dia nggak kenal siapa-siapa di kota ini. Tapi Donggala udah nggak bisa dia injak lagi. Bau Rendi masih nempel di udara.
Dia duduk di bangku terminal. Faris tidur di pangkuan, Naura netek. Sara bingung. Mau ke mana? Mau makan apa? Mau tidur di mana?
Jam 6, warung nasi kuning buka. Baunya nyampe ke hidung Sara. Faris kebangun.
"Mah, laper."
Sara cek dompet. 23 ribu. Nasi kuning 10 ribu. Dia beli satu. Disuapin ke Faris. Naura dia kasih ASI. Dia? Minum air putih isi ulang warung, gratis.
Siang, panas. Sara gendong Naura, gandeng Faris, jalan kaki keliling kota. Nanya-nanya kos. "Yang murah, Bu. Boleh bawa anak?"
Semua geleng. "Kalau bawa anak dua, apalagi hamil, nggak bisa, Bu. Takut ribut."
Sore, kaki Sara bengkak. Faris nangis, "Mah, capek." Naura rewel, gerah.
Akhirnya di masjid, Sara numpang wudu, numpang istirahat di teras. Marbot kasihan, kasih teh anget sama singkong rebus.
"Dari mana, Bu? Kok bawa anak kecil?"
Sara senyum. "Dari jauh, Pak. Mau cari kerja."
"Malam tidur di mana?"
Sara diem. Marbot ngerti. Malem itu dia boleh tidur di gudang masjid. Alas tikar, bantal sarung. Tapi nggak ujan. Nggak ada Mbak Tika. Bagi Sara, itu hotel bintang lima.
Tiga hari di masjid, Sara keliling cari kerja. Ditolak semua.
"Pembantu? Lagi hamil gini?"
"Jaga toko? Bawa anak dua, susah, Bu."
"Nyuci? Bisa, tapi anaknya dititip ke mana?"
Hari keempat, ada ibu-ibu habis sholat dzuhur nyamperin.
"Bu, saya liat udah 3 hari di sini. Suaminya mana?"
Sara nunduk. "Nggak ada, Bu."
Ibu itu namanya Bu Aminah. Guru ngaji. Dia bawa Sara ke rumahnya. Kecil, tapi bersih. "Kamu bisa bantu saya beres-beres? Nyapu, masak. Tapi saya cuma bisa kasih 300 ribu sebulan. Makan ikut saya. Tidur di kamar belakang."
Sara sujud di kaki Bu Aminah. 300 ribu. Di Donggala itu uang jajan Faris 3 hari. Di sini, itu nyawa.
Malam itu Sara, Faris, Naura tidur di kamar 2x2. Kasur lipat, kipas angin. Tapi pintunya bisa dikunci. Nggak ada yang bisa masuk marah-marah.
Kerjaan Sara berat. Bangun jam 4, masak, nyuci, ngepel, ngajar ngaji anak-anak sore. Perut 6 bulan. Punggung rasanya mau patah. Tapi tiap Faris bilang, "Mah, enak ayamnya," capeknya hilang.
Naura udah bisa jalan satu-dua langkah. Pertama kali manggil "Mamah", Sara nangis di dapur, sambil ngulek sambel. Bu Aminah peluk dari belakang. "Sabar ya, Nak. Allah nggak tidur."
Gaji pertama, 300 ribu. Sara beliin Faris sepatu 25 ribu di pasar bekas. Belikan Naura bubur sachet. Sisanya dia simpen di BH. Buat lahiran.
Rendi? Nggak ada kabar. Nggak cari. Nggak WA. Mungkin malu. Mungkin lega. Sara nggak mau mikir.
Masuk 8 bulan, perut Sara udah gede banget. Dokter di Puskesmas bilang, "Kurang gizi, Bu. Bayinya kecil. Banyakin makan telur."
Telur. Sara ketawa dalem hati. Telur aja dia jatah. Satu buat Faris, satu buat Naura. Dia? Kuah doang.
Suatu malem, Naura panas tinggi. 39,8. Kejang. Sara gendong lari ke Puskesmas, ujan-ujanan, Faris dia gandeng, kepleset di jalan.
Di Puskesmas, suster bentak, "Kok bisa sampe kejang, Bu?! Anak itu titipan!"Sara mau jelasin, dia kerja dari subuh, nggak ada yang jagain. Tapi mulutnya kelu. Dia cuma nangis, peluk Naura yang lemes diinfus.
Bu Aminah nyusul, bayarin biaya. "Udah, Nak. Nggak usah ganti. Anggap sedekah buat cucu."
Malam itu Sara nggak tidur. Dia duduk di samping Naura, elus kepala Faris yang tidur di kursi. Dia liat perutnya. Nendang.
"Anak ketiga," bisiknya. "Kamu denger nggak? Kakakmu hampir mati. Ibu nggak bisa apa-apa. Ibu cuma ART. Ibu cuma orang kabur."
Dia buka HP jadul. Satu-satunya kontak: Pakde. Dia ketik SMS:
"De, Sara capek. Sara mau nyerah. Boleh?"
Belum sempat kirim, Faris ngigau, "Mah... jangan nangis..."
Sara hapus SMS. Dia kecup Faris. Kecup Naura. Elus perut.
"Nggak jadi, Bu," bisiknya ke foto ibu. "Sara nggak jadi nyerah. Sara jijik sama dirinya sendiri kalau nyerah."
9 bulan. Kontraksi dateng pas Sara lagi ngepel. Siang bolong. Bu Aminah panik, panggil ojek, bawa ke Puskesmas.
Sara lahiran jam 3 sore. Normal. Laki-laki. 2,6 kg. Kecil, nangisnya lemah. Kata bidan, "Prematur, Bu. Harus diinkubator. Tapi Puskesmas nggak ada. Harus rujuk RS."
RS. Sara liat dompet. Isinya 80 ribu.
Dia telpon Rendi. Pertama kali setelah kabur. Tangannya gemeter.
Nomor nggak aktif.
Dia telpon Mama mertua. Diangkat.
"Ma... Sara lahiran... bayinya harus ke RS... bisa bantu..."
Di seberang, diem. Terus, "Sara, Mama nggak bisa bantu. Bapak marah kamu bawa cucu-cucunya pergi. Urus sendiri aja ya. Kan kamu yang mau mandiri."
Tuuut.
Sara taro HP. Dia liat bayinya di box, biru, napas ngap-ngap.
Bu Aminah dateng, bawa sarung, bawa sertifikat tanahnya. "Pake ini dulu, Nak. Gadai. Nyawa cucu lebih penting."
Sara peluk Bu Aminah. Kali kedua dia sujud di kaki orang. Pertama di kaki ibu. Kedua di kaki ibu lain yang bukan darah daging.
Bayi dibawa ke RS. Masuk inkubator 5 hari. Biaya 2 juta. Sara bayar pake sertifikat Bu Aminah, sisa utang 1,7 juta.
Bayi selamat. Sara kasih nama: Arfan. Arfan Mahardika. Artinya, gema yang mulia. Biar suaranya nanti kenceng, nggak kayak ibunya yang selalu diem.
Pulang dari RS, kamar 2x2 sekarang isi 4 nyawa. Sara, Faris 3,5 tahun, Naura 1,5 tahun, Arfan 5 hari.
Kerjaan numpuk. Bu Aminah nggak minta Sara kerja sebulan. "Nifas dulu, Nak."
Tapi Sara kerja. Nyuci malem-malem pas anak-anak tidur. Ngepel subuh-subuh. Soalnya utang 1,7 juta itu kayak hantu. Dia nggak mau Bu Aminah nagih.
Suatu malam, Arfan nangis nggak berhenti. Faris kebangun, Naura ikut nangis. Sara sendirian. Dia gendong Arfan, pangku Naura, kaki goyang ayunan Faris.
Dia liat ke cermin retak di kamar. Liat perempuan 26 tahun, kurus, mata cekung, perut gelambir, rambut rontok, gendong 3 anak.
Dia nggak kenal perempuan itu. Itu bukan Sara yang dulu jualan jilbab, ketawa di lapangan voli.
Tapi dia kenal satu hal: perempuan itu belum mati.
Dia bisik ke cermin, "Aku Sara. Anaknya ibu. Ibunya Faris, Naura, Arfan. Aku ART. Aku janda. Aku miskin. Tapi. Aku belum kalah."
Faris tiba-tiba bilang, setengah tidur, "Mah, besok makan telur lagi ya."
Sara kecup ubun-ubun Faris. "Iya, Nak. Besok kita makan telur. Tiga. Satu-satu."
Di luar, azan subuh. Di dalam, Sara selimutin tiga anaknya.
Tujuh hari setelah lahiran. ASI seret. Arfan kuning. Faris batuk. Uang tinggal 80 ribu.
Bu Aminah, yang diam-diam beli susu, beras.
Sara tahu pas lihat Bu Aminah menyimpannya di atas meja. Dia nangis, peluk Bu Aminah. "Bu, kenapa...?"
Bu Aminah elus punggung Sara "nggak apa-apa".
Malam itu. Selesai sholat, dia liat Arfan. Bayinya senyum dalam tidur.
Di luar, Palu masih asing. Masih keras. Tapi di dalam kamar, di kasur tipis, ada empat nyawa bertahan. Sara, Faris, Naura, Arfan.
Dan malam itu Sara tahu: dia udah pulang.
Bukan ke rumah. Tapi ke dirinya sendiri. Ke versi Sara yang nggak minta dilindungi laki-laki. Ke versi Sara yang ibu kandungnya pasti bangga.
Arfan 3 bulan. Beratnya udah 5 kg. Susu formula dari Puskesmas, bantuan Bu Aminah, sama ASI Sara yang dipaksa keluar walau badan tinggal tulang.
Sara balik kerja ke rumah Bu Dokter Winda. Gaji naik jadi 900 ribu karena sekarang sekalian momong anak Bu Dokter. Faris dia titip ke PAUD gratis dekat masjid, Naura ikut ke tempat kerja, Arfan digendong pake jarik sambil nyetrika.
Punggung Sara kayak mau patah. Tapi tiap gajian, kaleng biskuit bunyi kring... kring... 400 ribu masuk. Utang ke Bu Aminah sisa 900 ribu.
Malam, abis anak-anak tidur, Sara nyatet di buku tulis bekas Faris:
1. Bayar utang Bu Aminah lagi. lunas 3 bulan
2. Beli kompor biar nggak numpang.
3. Cari kontrakan baru, kamar 2x2 udah nggak muat.
Dia nggak nulis "beli baju baru". Baju dia cuma 2: satu buat kerja, satu buat tidur. Dua-duanya bolong ketiak.
Hari Rabu, pas Sara lagi ngepel teras Bu Dokter, Pak Pos dateng.
"Bu Sara? Ada surat."
Amplop coklat. Cap Donggala. Tulisan tangan.
Sara kenal tulisan itu. Rendi.
Tangannya gemeter. Dia lap ke daster, buka pelan-pelan. Isinya 2 lembar.
Surat Pertama:
Sar,
Aku tahu kamu benci aku. Aku pantes dibenci.
Bapak sakit. Stroke. Udah 2 minggu di RS. Minta ketemu kamu sama anak-anak.
Mama juga. Tiap malem sebut nama Faris, Naura.
Tika... Tika berubah, Sar. Dia yang nganter surat ini ke kantor pos. Katanya dia dosa.
Pulanglah, Sar. Bukan buat aku. Buat. Bapak. Dia mau minta maaf.
Aku nggak akan maksa kamu balik. Aku cuma mau anak-anak ketemu kakeknya sekali lagi.
Kalau kamu nggak mau, kirim foto aja.
Biar Bapak tenang.
Rendi
P.S: Anak ketiga, udah lahir ya? Maaf aku nggak ada. Maaf banget, Sar.
Sara lipet surat. Napasnya sesak. Bukan karena kangen Rendi. Karena nama "Bapak". Pak Camat. Satu-satunya mertua yang pernah nyelipin duit di bawah bantal Faris.
Surat Kedua, tulisan beda. Rapi. Mbak Tika.
Sar,
Aku Mbak Tika.
Aku nulis ini sambil nangis. Malu, tapi harus.
Bapak sakit gara-gara kepikiran kamu.
Tiap hari nanyain, "Sara udah makan?
Cucuku udah gede?"
Aku yang dulu jahat, Sar. Aku ngusir kamu secara halus. Aku iri. Aku nggak bisa punya anak. Suamiku mandul. Jadi liat kamu hamil mulu, aku panas.
Maafin aku, Sar. Aku nggak minta kamu balik. Aku cuma minta kamu ikhlasin aku. Biar dosaku nggak dibawa mati. Kalau kamu butuh uang buat ke sini, aku transfer. Jujur.
Mbak Tikamu yang dulu jahat.
Sara jatuhin surat. Lutut lemes. Dia duduk di tangga, Arfan di gendongan kebangun, nangis.
Bu Dokter peluk. "Kamu mau pulang? Ibu kasih cuti. Ongkos Ibu tanggung."
Sara nggak jawab. Malem, dia nggak tidur. Dia liat tiga anaknya. Faris udah pinter, bisa nulis A B C. Naura udah lari-lari, manggil "Mama". Arfan udah bisa ketawa.
Kalau dia pulang, anak-anak bakal ketemu kakeknya. Tapi juga ketemu Rendi. Ketemu rumah batako yang penuh luka.
Kalau nggak pulang, Pak Camat mati penasaran. Dan Sara jadi orang yang sama kayak Rendi: ninggalin orang tua.Dia buka foto ibu. "Bu, Sara harus gimana?"
Nggak ada jawaban. Cuma suara tokek di tembok.
Dua hari Sara mikir. Hari ketiga, dia putusin: pergi, tapi nggak balik.
Dia pinjem HP Bu Aminah, WA Rendi. Nomor baru, Rendi kasih di surat.
"Aku ke Donggala. 3 hari. Ketemu Bapak. Habis itu aku pulang Palu. Anak-anak ikut aku. Nggak nego."
Rendi bales cepet: "Iya, Sar. Makasih. Aku jemput di terminal."
Sara jual kalung imitasi satu-satunya, 50 ribu. Ditambah tabungan 400 ribu. Cukup buat tiket bus PP berempat.
Bu Aminah nangis waktu lepas Sara. "Hati-hati, Nak. Kalau dia kasar, langsung pulang sini. Pintu Ibu selalu buka."
Sara peluk Bu Aminah kenceng. "Ibu kedua Sara. Makasih, Bu."
12 jam di bus. Faris muntah, Naura rewel, Arfan nangis. Sara nggak tidur. Dia cuma komat-kamit, "Kuat, Nak. Kita ketemu kakek, terus pulang."
Donggala. Terminal. Ujan rintik.
Rendi udah nunggu. Kurusan. Brewokan. Matanya cekung. Bawa payung, tapi basah kuyup.
Lihat Sara turun, Rendi mau peluk. Sara mundur selangkah. "Anak-anak kedinginan."
Rendi nunduk. "Mobil di sana."
Mobil. Bukan motor. Mobil Pak Camat. Berarti Pak Camat beneran sakit.
Di RS, Pak Camat di ICU. Selang di mana-mana. Mama mertua udah keriput banget, liat Sara langsung peluk.
"Sara... maafin Mama ya, Nak..."
Faris sama Naura bengong. Nggak kenal. Arfan tidur di gendongan Sara.
Suster kasih waktu 10 menit. Sara gendong Arfan, gandeng Faris sama Naura, masuk.
Pak Camat buka mata. Susah. Liat Sara, liat tiga cucunya. Air mata keluar.
Sara deketin. "Pak... ini Faris. Ini Naura. Ini Arfan, Pak."
Pak Camat angkat tangan, gemeter. Mau pegang Arfan. Sara taro Arfan pelan di samping Pak Camat.
Pak Camat senyum. Terus bisik, pelan banget, "Sara... Bapak... ikhlas... Maafkan... Bapak..."
Terus tangannya jatuh.
Alat bunyi panjang. Tiiiiittt...
Suster lari. Dokter lari. Mama jerit. Rendi roboh di lantai.
Sara? Dia diem. Gendong Arfan, pegang Faris, rangkul Naura. Air mata netes ke pipi Arfan.
Pak Camat pergi. Pas cucunya lengkap. Kayak nunggu.
Tahlilan 7 hari, Sara di rumah mertua. Tidur di kamar tamu. Rendi tidur di depan pintu, kayak anjing jaga. Nggak berani masuk. Mbak Tika tiap malem nyuciin baju anak-anak Sara. Diam-diam. Subuh-subuh nyetrika. Nggak ngomong apa-apa, cuma taro di kamar, terus pergi.
Hari kedelapan, selesai tahlilan, Mama manggil Sara ke kamar.
"Sar, Mama tahu kamu benci. Mama nggak minta kamu tinggal. Tapi Mama minta... sekali-kali bawa anak-anak main ke sini. Biar Mama nggak mati kangen."
Sara angguk. "Iya, Ma."
Mbak Tika masuk, bawa amplop. "Sar, ini. Nggak banyak. Buat Arfan. Anggap dari tante yang telat tobat."
Isinya 1 juta. Sara mau nolak. Mbak Tika udah keluar, pintu ditutup.
Di teras, Rendi nunggu. "Sar, aku... boleh peluk anak-anak?"
Sara biarin. Rendi peluk Faris, peluk Naura, cium kening Arfan. Nangis. "Maafin Ayah ya, Nak."
Faris nanya, "Ayah ikut pulang?"
Rendi liat Sara. Berharap.
Sara gendong Arfan. "Kita pulang, Nak. Ayah di sini aja. Jaga nenek."
Rendi lemes. Tapi nggak nahan. Dia cuma bilang, "Jaga diri ya, Sar. Kalau butuh apa-apa, kabarin. Aku kerja bener. Demi anak-anak."
Sara nggak jawab. Dia naik ojek ke terminal. Empat nyawa. Balik ke Palu.
Di bus, Mbak Tika WA:
"Sar, makasih udah dateng. Bapak pergi senyum. Utangku ke kamu lunas. Tapi utangku ke Allah belum. Doain aku bisa punya anak ya, Sar."
Sara bales: "Aamiin, Mbak. Jaga Mama ya."
Bus jalan. Donggala hilang lagi. Tapi kali ini Sara nggak lari. Dia pamit.
Di pangkuan, Arfan mainin amplop dari Mbak Tika. Faris liat foto kakek di HP. Naura tidur.
Sara liat ke luar jendela. "Bu, Sara udah maafin. Sara udah ikhlas. Sekarang Sara tinggal lunasin janji ke Ibu: jadi ibu yang bener."
Dan untuk pertama kali setelah kabur, kaleng biskuit di tasnya bunyi kring... kring... bukan karena koin.
Tapi karena harapan
Palu, 2024. Warung "Berkah Ibu" di depan rumah kontrakan petak.
Pagi-pagi, bau nasi kuning sama sambel ikan roa udah nyengat dari jam 4 subuh. Sara ngulek di dapur, jilbab diiket, daster lusuh tapi bersih. Arfan 3 tahun main mobil-mobilan di bawah meja. Naura 4,5 tahun bantu bungkusin kerupuk. Faris 6 tahun, udah SD, siap-siap berangkat pake seragam bekas tapi rapi.
"Mah, duit jajan," Faris salim.
Sara nyelipin 5 ribu, cium kening Faris.
"Hati-hati di jalan. Nggak boleh jajan sembarangan."
Faris ngangguk, lari ke gerbang. Di sana Pak Idrus nunggu, anterin naik motor. Sejak Bu Aminah meninggal tahun lalu, Pak Idrus yang gantiin jadi "kakek" anak-anak.
Warung rame jam 6-9. Pegawai kantor, kuli bangunan, anak kos. Omset 150 ribu sehari. Bersih 50 ribu. Ditabung di bank BRI, bukan kaleng biskuit lagi. Tabungan udah 8 juta. Buat kontrakan, buat sekolah, buat jaga-jaga kalau ada yang sakit. Siang, warung tutup. Sara momong Arfan, ngajar Naura nulis. Hidup capek, tapi lurus. Nggak ada yang nyinyir. Nggak ada yang ngebanting pintu. Kalau bocor, Sara benerin sendiri. Kalau sakit, tetangga yang bawain bubur.
Rendi? Nggak ada kabar 2 tahun. Terakhir denger dari Mbak Tika, Rendi kerja serabutan di tambang Morowali. Mama mertua udah tinggal sama Mbak Tika yang akhirnya hamil setelah 10 tahun. Katanya, "Doa Sara manjur."
Sara senyum baca WA itu. Dia bales, "Alhamdulillah, Mbak. Jaga kandungannya." Dendam? Udah kelar di tanah kuburan Pak Camat.
Sore Selasa, warung lagi sepi. Ujan rintik.
Motor berhenti depan. Helm full face, jaket kulit. Turun, buka helm.
Rendi.
Lebih kurus. Rambut gondrong. Brewok.
Tapi matanya sama. Mata yang dulu nangis di lapangan voli.
Faris yang main di teras langsung bengong.
"Mama... itu Ayah?"
Sara keluar dari dapur, lap tangan.
Jantungnya nggak deg-degan. Nggak benci juga. Datar.
Rendi salim, cium tangan Sara. Sara nggak nolak, nggak bales. "Ada perlu apa?"
Rendi jongkok, mau peluk Faris. Faris mundur, sembunyi di balik daster Sara. Naura ngintip dari pintu, gandeng Arfan.
"Aku... kangen anak-anak, Sar," suara Rendi serak.
"Anak-anak sehat," jawab Sara. Singkat.
Rendi berdiri. Liat warung, liat rumah petak, liat tiga anak Sara yang rapi walau bajunya murah. Matanya merah.
"Aku udah tobat, Sar. Beneran. Dua tahun di Morowali, kerja banting tulang. Nggak mabuk, nggak cewek. Tiap malem mimpiin kalian. Aku mau nebus salah. Aku mau rujuk. Kita jadi keluarga lagi."
Sara ambil kursi, duduk. "Duduk, Ren. Ngomong."
Rendi cerita. Di tambang, dia kecelakaan. Kaki patah, dioperasi. Pas di RS, nggak ada yang nungguin. Dia baru sadar, yang dia punya cuma Sara sama anak-anak. Dia kerja lagi, nabung, beli motor bekas, nyari alamat Sara sebulan.
"Sekarang aku kerja ojek pangkalan di Donggala, Sar. Penghasilan cukup. Aku ngontrak rumah. Aku mau kamu pulang. Atau aku pindah ke sini. Kita mulai lagi. Aku janji, Sar. Demi Allah."
Sara dengerin. Nggak motong. Habis itu dia manggil, "Faris, Naura, Arfan, sini."
Tiga anak baris depan Sara. Rendi mau nangis.
Sara nanya pelan, "Nak, ini Ayah. Ayah mau ngajak kita tinggal bareng lagi. Kalian mau ikut Ayah?"
Faris umur 6 tahun, tapi matanya tua. Dia liat Rendi, terus liat Sara. "Faris mau sama Mama. Ayah dulu suka bikin Mama nangis."
Naura 4,5 tahun, peluk kaki Sara. "Nda mau. Naura takut Ayah mabuk."
Arfan 3 tahun, nggak ngerti apa-apa, tapi ikut peluk Sara. "Mamah."
Rendi roboh. Lututnya jatuh ke lantai teras. Nangis, nggak suara. Laki-laki 30 tahun, nangis kayak anak kecil di depan warung nasi kuning.
Sara nggak nendang. Nggak ngusir. Dia cuma bilang, "Anak-anak udah jawab, Ren."
Rendi angguk. Dia rogoh jaket, keluarin buku tabungan. "Ini, Sar. Ada 15 juta. Nggak banyak. Buat anak-anak. Aku ikhlas. Aku nggak minta hak asuh. Aku cuma minta... boleh ketemu mereka sebulan sekali?"
Sara ambil buku tabungan. Dibuka. Nama Rendi. Saldo 15.432.000. Dia balikin lagi.
"Uang kamu pake buat hidup, Ren. Anak-anak udah ada yang nanggung. Aku."
"Tapi Sar..."
"Kalau mau ketemu anak-anak, datang aja. Asal nggak mabuk, nggak maksa, nggak bikin mereka takut. Aku nggak larang. Mereka tetap darah kamu."
Rendi nangis makin kenceng. Dia sujud di kaki Sara, kayak 5 tahun lalu. Bedanya, dulu Sara masih goyah. Sekarang kaki Sara kokoh.
"Makasih, Sar... makasih..."
Sara biarin 5 menit. Terus dia bilang, "Udah, Ren. Ujan. Pulang sana. Hati-hati di jalan."
Rendi berdiri, salim lagi ke Sara, cium satu-satu anaknya walau anaknya kaku. Pas mau naik motor, dia balik.
"Sar, kamu... kamu bahagia?"
Sara liat warungnya. Liat Faris yang udah bisa baca. Liat Naura yang pinter ngitung. Liat Arfan yang sehat walau lahir prematur. Liat foto ibu di dinding, di samping foto Bu Aminah. Dia senyum. Pertama kali senyum tulus ke Rendi setelah 7 tahun.
"Bahagia, Ren. Capek, tapi bahagia."
Rendi angguk. Pake helm. Ujan makin deras. Motornya hilang di belokan.
Malam, abis anak-anak tidur, Sara sholat. Selesai sholat, dia buka laci, keluarin surat cerai yang dulu lecek. Udah diurus 2 tahun lalu. Udah sah. Status: Cerai Hidup. Dia elus surat itu, terus masukin ke bawah tumpukan akta lahir anak-anak. Dia bisik ke foto ibu, "Bu, Sara udah selesai. Utang Sara ke masa lalu lunas. Sekarang Sara tinggal bayar utang ke masa depan anak-anak."
Di luar, ujan berhenti. Di dalam, tiga napas kecil teratur. Faris, Naura, Arfan.
Dan Sara, untuk pertama kali, tidur nyenyak. Nggak mimpi Rendi. Nggak mimpi Mbak Tika. Mimpinya cuma satu: dia, anak-anak, sama warung kecil yang jendelanya ngadep matahari pagi.
10 tahun kemudian.
Palu, Pukul 7 pagi.
Halaman Universitas Tadulako rame. Wisuda. Tenda putih, bunga, kamera di mana-mana. Di barisan kursi orang tua, ada perempuan 38 tahun, jilbab segiempat abu-abu, baju gamis sederhana tapi rapi. Duduknya tegap. Di kiri kanannya, gadis 14 tahun pake seragam SMP, sama anak cowok 13 tahun pake batik, rambut klimis. Di panggung, MC manggil, "Faris Maulana, Fakultas Teknik, IPK Cumlaude"
Perempuan itu berdiri. Tepuk tangan paling kenceng. Matanya basah, tapi senyumnya lebar. Sara. Faris turun panggung, bawa map biru, langsung lari ke Sara. Sujud, peluk kaki ibunya. "Mah, ini buat Mama."
Sara angkat kepala anaknya, kecup kening. "Ini buat kamu, Nak. Mama cuma nganterin."
Naura sibuk foto-foto pake HP. Arfan, yang udah SMP, benerin toga abangnya, gaya sok dewasa. "Kak, pinjem toganya buat foto profil ya."
Orang-orang liat keluarga kecil itu. Nggak ada bapak. Tapi nggak ada yang nanya. Soalnya dari sorot mata mereka, lengkap.
Siang, mereka makan di rumah. Bukan kontrakan petak lagi. Rumah 6x12, tembok batako udah diplester, cat biru muda, lantai keramik. Di depan ada plang: "Warung Makan Berkah Ibu Cabang 2".
lya, cabang 2. Cabang pertama masih di tempat lama, dijaga karyawan 2 orang. Sara udah nggak masak subuh-subuh lagi. Dia yang ngatur duit, belanja, sama setoran. Pegang 2 warung, omset 800 ribu sehari. Di ruang tamu, foto besar: Ibu Sara, Bu Aminah, Pak Idrus. Di bawahnya tulisan: "Utang Budi Dibayar Hidup"
Pak Idrus masih sehat, tiap minggu ke rumah, ngajarin Arfan ngaji.
HP Sara bunyi. WA.
Rendi.
lya, Rendi. 10 tahun ini dia nepatin janji. Dateng tiap bulan, bawa martabak, nonton bola sama Faris, ngajarin Naura matematika, nganter Arfan sunat. Nggak pernah nuntut rujuk. Nggak pernah mabuk lagi. Kerja jadi mandor proyek, udah punya rumah sendiri di Donggala, tinggal sama Mama mertua yang udah sepuh.
Isi WA: "Selamat ya, Sar. Faris hebat. Makasih udah jadiin dia laki-laki. Maafin Ayah nggak bisa dampingin dari awal. Ayah bangga. Kirim salam buat anak-anak."
Sara bales: "Iya. Makasih udah nepatin janji. Nanti Faris telpon."
Nggak ada cinta lagi. Tapi ada damai. Dan buat Sara, itu lebih mahal dari emas. Sore, Sara ke makam. Bukan makam ibu di kampung. Jauh, nggak kesampaian. Dia bikin "makam" di halaman belakang. Batu nisan kecil, tulisannya: Ibu. Di bawahnya, Sara kubur kalung imitasi yang dulu digadai di bidan, yang udah dia tebus 5 tahun lalu.
Dia duduk, bawa surat. Surat terakhir. Ditulis tangan, kertas biru.
Bu,
Sara lulus, Bu. Bukan wisuda. Sara lulus jadi manusia.
Faris sarjana. Naura juara kelas, mau jadi dokter kaya Winda. Arfan tahfidz 5 juz. Mereka nggak dendam sama Bapaknya. Sara ajarin, benci itu capek. Warung Sara ada dua, Bu. Rumah udah keramik. Utang udah lunas. Ke Pak Idrus, ke bank, ke masa lalu.
Rendi? Dia bapak yang telat. Tapi telat lebih baik dari nggak sama sekali. Sara ikhlas.
Bu, 13 tahun lalu Sara kabur dari Donggala, bawa dua anak, hamil, duit 23 ribu. Sekarang Sara punya tiga anak, rumah, usaha, sama hati yang nggak bolong lagi.
Ternyata Bu bener: sakitnya ibu obatnya anak ibu bahagia.
Sara bahagia, Bu. Capek, tapi bahagia. Kalau Ibu bisa liat dari sana, peluk Sara ya, lewat angin. Sara kangen.
Anak Ibu,
Sara
Sara lipat surat, taro di bawah batu nisan. Dia tabur kembang, siram air. Terus duduk, sampe magrib. Faris nyusul, bawa sajadah. "Mah, sholat di sini aja?"
Sara angguk. Ibu-anak sholat magrib di depan "makam" itu. Angin sore lewat, dingin, wangi kembang. Sara yakin, itu pelukan ibu. Malam, di kamar, Sara buka laci. Isinya: KTP status Cerai Hidup, Akta Lahir 3 anak, Sertifikat Rumah, SIUP Warung, sama satu benda kecil: surat cerai lecek dari 10 tahun lalu. Dia senyum. Surat itu saksi, Sara pernah hampir mati. Tapi nggak jadi.
Naura masuk, "Mah, besok Naura lomba pidato. Judulnya 'Pahlawanku'."
Sara nengok, "Terus?"
Naura ketawa, "Naura mau cerita tentang Mama. Boleh?"
Sara peluk Naura. Kenceng. "Boleh, Nak. Tapi jangan bilang Mama pahlawan. Bilang aja Mama manusia. Yang pernah salah, pernah kalah, tapi milih bangun lagi."
Naura angguk. Lari ke kamar.
Sara ke jendela. Liat langit Palu. Bintang banyak. Dia bisik, pelan banget, cuma buat dirinya sendiri:
"Cukup, ya Bu. Cukup nangisnya. Cukup takutnya. Sara udah pulang. Beneran pulang."
Di kamar sebelah, Faris baca buku. Naura latihan pidato. Arfan ngaji. Suara mereka nyampur, jadi musik paling indah yang pernah Sara denger. Nggak ada Rendi. Nggak ada Mbak Tika. Nggak ada suara panci dibanting. Ada Sara. Ada anak-anak. Ada rumah yang dibangun dari nol, dari kalung imitasi, dari nasi kuning, dari air mata yang udah kering.
Dan itu, cukup.
TAMAT
Terima kasih udah nemenin Sara dari Bab 1 sampai Epilog. Kalau kamu nangis, berarti kamu manusia. Kalau kamu marah, berarti kamu peduli. Kalau kamu lega, berarti kamu ngerti: perempuan nggak butuh diselamatkan. Dia cuma butuh kesempatan buat nyelamatin dirinya sendiri.