Aroma bawang goreng dan kuah sup ayam menyeruak dari arah dapur, menyusup ke bawah pintu kamar tumpukan buku tempat Aris sedang menatap layar laptopnya dengan penat. Sudah dua tahun sejak Aris memutuskan bekerja secara *remote* dari rumah masa kecilnya di kota kecil ini. Baginya, kenyamanan rumah adalah obat dari bisingnya dunia kerja metropolitan yang sempat ia rasakan.
"Aris, makan malam sudah siap! Panggil Bapak sekalian di teras," teriakan Ibu terdengar nyaring, mengalahkan suara desis penggorengan.
Aris meregangkan otot-otot lehernya yang kaku, lalu melangkah keluar. Di teras depan, seorang pria berambut keperakan sedang sibuk membersihkan daun-daun kering yang gugur dari pohon mangga. Bapak. Sosok yang dulu tampak begitu perkasa di mata Aris saat kecil, kini jalannya mulai sedikit lambat, meski guratan tegas di wajahnya tidak pernah hilang.
"Pak, Ibu sudah panggil. Sup ayamnya keburu dingin," ujar Aris sambil menghampiri.
Bapak menoleh, tersenyum kecil sembari menepuk-nepuk debu di celananya. "Wah, pas sekali. Perut Bapak sudah demo dari tadi."
Di meja makan kayu yang usianya mungkin lebih tua dari umur Aris, tiga mangkuk sudah tertata rapi. Namun, pandangan Aris sempat tertuju pada satu kursi kosong di sebelah kanannya. Kursi milik tawa riang adik perempuannya, Rara, yang kini sedang menempuh kuliah di luar kota.
"Rara tadi telepon Ibu," kata Ibu seolah bisa membaca pikiran anak sulungnya itu sembari menyendokkan nasi ke piring Bapak. "Katanya kangen sup ayam Ibu. Di sana dia cuma makan mi instan dan makanan cepat saji."
"Biar kapok," sahut Bapak terkekeh. "Dulu di rumah disuruh makan sayur susahnya minta ampun. Sekarang baru tahu rasa kalau merantau."
Aris tersenyum, menyuap sendokan pertama sup hangat itu. Rasa gurih yang familier langsung memeluk lidahnya. Baginya, masakan Ibu bukan sekadar makanan, melainkan jangkar yang selalu menariknya kembali ke bumi setiap kali ia merasa stres dengan tekanan hidup.
"Kamu ada masalah di kerjaan, Ris? Dari kemarin Ibu lihat dahimu berkerut terus kalau depan laptop," tanya Ibu lembut, tatapannya penuh selidik khas seorang ibu yang tahu persis perubahan emosi anaknya.
Aris sempat terdiam, memutar-mutar sendoknya. "Hanya proyek besar yang tenggat waktunya mepet, Bu. Agak menguras pikiran."
Bapak meletakkan sendoknya sebentar, menatap Aris dengan teduh. "Ris, kerja keras itu harus. Tapi ingat, badan dan pikiranmu itu punya hak untuk istirahat. Jangan sampai kamu mengejar dunia, tapi lupa menikmati hidup yang sedang berjalan. Kalau lelah, berhenti sebentar. Rumah ini tidak akan ke mana-mana."
Nasihat Bapak sederhana, tanpa nada menggurui, namun selalu berhasil meruntuhkan ego dan beban di pundak Aris.
Malam itu ditutup dengan panggilan video bersama Rara. Melalui layar ponsel yang diletakkan di tengah meja makan, suara cempreng Rara kembali memenuhi ruangan, mengisi "kursi kosong" yang tadi sempat membuat sepi. Mereka tertawa bersama, saling melempar ejekan ringan, dan berbagi cerita remeh-temeh.
Setelah panggilan berakhir dan rumah kembali hening, Aris berjalan kembali ke kamarnya. Kali ini langkahnya terasa lebih ringan.
Aris menyadari satu hal, keluarga bukanlah tempat yang sempurna tanpa masalah. Keluarga adalah tentang orang-orang yang tetap menerima kita apa adanya saat dunia luar menuntut kita menjadi sempurna. Di dalam semangkuk sup hangat Ibu dan petuah bijak Bapak, Aris tahu ia selalu punya tempat aman untuk pulang.