Gue selalu mikir kalau hidup itu kayak playlist Spotify yang dicurasi dengan rapi. Sejak kecil, track hidup gue isinya cuma lagu-lagu indie yang chill. Ekonomi keluarga stabil, bokap punya bisnis bareng Abang, dan Nyokap adalah definisi home yang sesungguhnya. Rumah kami wangi aroma masakan dapur dan penuh backsound tawa. Gue tumbuh jadi cowok yang dimanja oleh keadaan.
Sampai akhirnya, algoritma hidup gue rusak total.
Semua dimulai waktu Bokap ambruk. Gue gak pernah tahu dia sakit apa secara medis—komunikasi kami selalu error, tipe hubungan bapak-anak khas Asia yang kaku dan penuh sekat. Penyakit Bokap memaksa dia masuk ruang operasi, memakan semua tabungan, dan otomatis memutus salah satu jalur pendapatan utama keluarga. Abang harus kerja double shift sendirian sampai matanya selalu punya kantung hitam yang tebal.
Di titik terendah itu, Nyokap mengambil keputusan besar: kerja ke luar kota. Katanya demi salary yang lebih menjanjikan.
Selama setahun Nyokap pergi, rumah kami berubah jadi tempat yang asing. Dingin, sunyi, cuma ada bau obat-obatan. Gue yang waktu itu masih terlalu bocah dilarang masuk ke ruang rawat inap. Tugas gue cuma satu: berdoa ke langit yang sering kali kerasa kayak ruangan kosong tanpa jawaban.
Suara dari Balik Pintu Kamar
Setelah setahun yang melelahkan, Nyokap akhirnya pulang. Bokap juga sudah diizinkan rawat jalan di rumah. Logikanya, gue harusnya merasa full of joy, kan? Kembalinya sang ibu, bersatunya kembali keluarga inti. Happy ending.
Tapi insting gue menolak vibe itu. Ada yang off dari cara Nyokap menatap rumah ini.
Malam itu, saat Bokap sudah terlelap karena pengaruh obat penenang, gue berjalan ke dapur buat mengambil segelas air. Langkah kaki gue terhenti tepat di depan kamar mandi bawah tangga. Ada suara bisikan yang terlalu lirih, tapi terlalu intens untuk ukuran obrolan antar-saudara.
"Iya, Sayang... Aku juga kangen. Nanti kalau dia sudah tidur lagi, aku telepon ya."
Dunia gue rasanya kayak di-pause paksa. Suara di seberang telepon itu adalah suara cowok. Dan panggilannya bukan panggilan formal atau kekeluargaan. Itu suara dari "seseorang yang baru" di hidup Nyokap. Pria asing yang bahkan gue gak tahu mukanya kayak gimana, tapi berhasil merampas sisa kebahagiaan yang gue punya.
Sejak hari itu, rumah kami berubah jadi medan perang yang pasif-agresif. Ekonomi yang hancur memicu sumbu pendek di kepala Bokap. Dia berubah jadi pria pemarah yang toksik. Dan tebak siapa yang jadi punching bag emosinya sehari-hari? Gue.
"Anak idiot! Gak bisa diandalkan!" Kalimat itu dilempar ke muka gue hampir setiap hari, kayak notifikasi spam yang gak bisa di-block. Gue gak berani melawan, dan jujur, di level tertentu, gue udah mati rasa. Gue gak peduli lagi.
Tapi yang paling merusak mental gue adalah pemandangan sehari-hari: Bokap yang marah-marah sampai urat lehernya mau putus, Nyokap yang menangis sesenggukan di pojok kamar, tapi beberapa jam kemudian, Nyokap bakal bersembunyi di balik jemuran baju, tersenyum manis sambil mengetik pesan untuk selingkuhannya.
That dynamic altered my brain chemistry. Kejadian itu melahirkan sebuah ketakutan baru yang berakar di dalam dada gue. Ketakutan setengah mati pada lawan jenis. Pada perempuan.
Gue membuat sebuah statement gila di cermin kamar mandi malam itu: "Gue bersumpah, gue gak akan pernah jatuh cinta sama cewek."
Alasannya simpel tapi traumatis. Gue takut kalau semua perempuan punya software yang sama dengan Nyokap. Gue takut ketika hidup gue berada di titik paling bawah, di level paling nadir, perempuan yang gue percayai bakal mencari pelarian ke cowok lain. Gue benci konsep itu. Tapi di sisi lain, gue juga gak punya ketertarikan sama sesama jenis. Gue cuma... stuck dalam ruang hampa yang gue buat sendiri.
Notifikasi yang Memicu Panic Attack
Tahun berganti, dan sekarang gue udah menyentuh angka 18. Umur legal, tapi mental gue masih terjebak di ruang bawah tangga tempat gue mendengar Nyokap selingkuh. Gak ada yang berubah. Gue tetap jadi cowok introver yang memasang benteng setinggi langit untuk setiap cewek yang mencoba mendekat.
Sampai suatu hari di kelas XII, sebuah pesan masuk ke DM Instagram gue dari akun anonim.
"Hei... lo tahu gak sih? Sebenarnya Keyla dari kelas sebelah udah lama suka sama lo. Dia cuma bingung gimana cara ngomongnya karena lo sedingin es batu."
Membaca teks itu, dunia gue mendadak berputar. Ini bukan perasaan senang atau tersanjung kayak di film-film komedi romantis. Ini adalah bencana.
Detak jantung gue langsung melompat ke angka 130 BPM. Telapak tangan gue basah kuyup oleh keringat dingin. Perut gue mendadak melilit hebat, memicu rasa mual yang luar biasa sampai gue harus berlari ke toilet sekolah, mencengkeram pinggiran wastafel, dan memuntahkan cairan bening dari lambung gue yang kosong.
Panic attack. Trauma itu bermanifestasi secara fisik. Gue benci fakta bahwa ada seseorang yang mengarahkan emosi romantisnya ke gue. Gue benci karena dalam kepala gue, didekati cewek berarti bersiap untuk dikhianati.
Gue memutuskan untuk langsung pulang hari itu, mengabaikan semua kelas tersisa. Gue butuh kamar gue. Gue butuh kasur gue. Gue butuh kesunyian.
Kebenaran di Balik Layar Kaca
Sore hari di rumah, suasana sepi. Abang belum pulang kerja, Bokap sedang kontrol ke klinik ditemani tetangga, dan Nyokap sedang pergi belanja belanjaan pasar. Gue duduk di lantai kamar, memeluk lutut, mencoba mengatur napas yang masih terasa berat.
Tiba-tiba, HP Nyokap yang tertinggal di atas meja ruang tamu bergetar hebat. Ada telepon masuk.
Langkah kaki gue kayak dituntun oleh rasa penasaran yang masokis. Gue turun ke bawah, melihat layar HP yang menyala. Nama kontaknya cuma sebuah emoji bumi (🌍). Gue menggeser tombol hijau, lalu menempelkannya ke telinga tanpa bersuara.
"Halo, Ibu Kinanti? Ini dari pihak rumah sakit pusat di Jakarta," suara di seberang sana terdengar sangat formal dan dingin. "Kami ingin mengonfirmasi bahwa seluruh dokumen klaim bantuan biaya pengobatan jangka panjang untuk suami Ibu sudah selesai diproses oleh donatur utama kami."
Gue mengernyitkan dahi. Suara ini... bukan suara personal. Ini suara administrasi.
"Maaf," suara gue bergetar saat memotong pembicaraan. "Donatur utama? Maksudnya gimana ya, Mbak?"
"Oh, maaf, ini dengan putra Ibu Kinanti? Begini, Dek... Selama satu tahun penuh saat Ibu Kinanti bekerja di Jakarta dulu, beliau sebenarnya bekerja sebagai perawat pribadi khusus untuk seorang pengusaha yang mengalami kelumpuhan. Pengusaha tersebut, sebelum wafat, memberikan dana hibah dan bantuan medis penuh untuk keluarga Ibu Kinanti sebagai bentuk balas budi karena Ibu Kinanti sudah merawatnya seperti keluarga sendiri. Komunikasi intens yang dilakukan Ibu Kinanti selama ini adalah dengan pihak yayasan hukum beliau untuk mencairkan dana medis berkala bagi ayahmu."
Gue mematung. Handphone di tangan gue rasanya seberat beton.
"Jadi... laki-laki yang sering ditelepon ibu saya selama ini...?"
"Itu adalah Pak Januar, kepala kuasa hukum yayasan donatur, Dek. Beliau yang mengurus semua verifikasi data agar dana pengobatan ayahmu tidak terputus dari pusat. Ibu Kinanti selalu menelepon malam hari karena menyesuaikan waktu luang Pak Januar yang sangat sibuk."
Klik. Telepon ditutup.
Dunia di sekitar gue runtuh, tapi dengan cara yang sama sekali berbeda. Semua narasi yang gue susun di kepala gue selama bertahun-tahun—tentang Nyokap yang berselingkuh, tentang perempuan yang bakal berkhianat di titik terendah—ternyata hanyalah sebuah kesalahpahaman raksasa yang dirakit oleh ego anak kecil yang ketakutan.
Nyokap gak pernah mengkhianati Bokap. Nyokap justru menjual waktu, tenaga, dan mengorbankan perasaannya di luar kota, menahan makian Bokap yang temperamental demi memastikan Bokap tetap bisa hidup lewat dana bantuan itu. Dan semua bisikan "Sayang" yang gue dengar di balik pintu kamar mandi bertahun-tahun lalu? Itu adalah rekaman suara Abang gue waktu balita yang sengaja Nyokap putar ulang dari HP jadulnya setiap kali dia merasa rindu rumah dan butuh kekuatan untuk bertahan.
Gue jatuh terduduk di lantai ruang tamu. Air mata gue luruh tanpa bisa ditahan.
Ternyata, selama ini musuh terbesar gue bukan perempuan. Bukan Nyokap. Bukan Keyla yang menyukai gue di sekolah. Musuh terbesar gue adalah asumsi gue sendiri yang mengunci diri di dalam penjara trauma yang salah alamat.
HP gue di saku bergetar. Satu notifikasi DM masuk lagi dari akun yang sama.
> "Keyla nanya, lo kenapa tiba-tiba pulang? Dia khawatir banget. Dia cuma mau ngasih ini..."
>
Di bawah pesan itu, ada lampiran foto. Sebuah catatan pelajaran rapi dengan tulisan tangan khas perempuan, dan di ujung kertasnya ada gambar coretan kecil berbentuk wajah tersenyum dengan tulisan: "Semangat ya! Lo gak sendirian kok."
Gue menghapus air mata gue dengan punggung tangan. Perut gue gak lagi melilit. Jantung gue berdetak normal. Untuk pertama kalinya dalam 18 tahun hidup gue, gue membuka aplikasi Instagram, menekan profil Keyla, dan mengetik sebuah pesan balasan dengan tangan yang akhirnya berhenti gemetar.
> "Sorry tadi gue tiba-tiba balik. Besok... kita bisa ngobrol di kantin?"
>
Gue baru sadar, playlist hidup gue belum rusak total. Gue cuma perlu menekan tombol next untuk mendengar lagu yang baru.