Satu tahun setelah malam runtuhnya imperium "Aura Luxury", sisa-sisa kejayaan Sarwendy tidak lebih dari sekadar legenda urban yang membusuk di sudut-sudut internet. Pengadilan telah menyita seluruh asetnya, namun lantai delapan puluh gedung pencakar langit di pusat ibu kota itu tetap berdiri seperti monumen mati. Penthouse terkutuk itu dibiarkan kosong, dikunci rapat dengan garis polisi yang perlahan memudar dimakan debu, hingga sebuah lelang rahasia negara memindahkan kepemilikannya ke tangan seorang miliarder anonim yang kemudian menyewakannya kembali dengan harga miring.
Masuklah Brandon, seorang aktor pendatang baru berusia dua puluh tiga tahun yang sedang berada di ambang frustrasi terbesar dalam hidupnya. Brandon memiliki modal fisik yang sempurna—rahang tegas, tubuh proporsional, dan wajah yang sangat menjual. Namun, di industri yang kini digerakkan oleh algoritma digital dan mistisisme terselubung, bakat dan ketampanan saja tidak pernah cukup. Setelah berkali-kali gagal dalam audisi peran utama dan melihat posisinya digeser oleh talenta-talenta instan yang mendadak viral, Brandon mulai dihinggapi penyakit mental yang paling berbahaya bagi seorang seniman: ambisi buta dan iri hati yang berkarat.
Sebagai seorang pemuda kota yang dibesarkan dalam lingkungan akademis dan modern, Brandon selalu bangga dengan pola pikirnya yang logis. Ia tidak percaya pada takhayul, hantu, apalagi cerita konyol tentang pesugihan Gunung Kawi yang menewaskan Sarwendy. Bagi Brandon, Sarwendy hanyalah seorang pebisnis psikopat yang cerdas memanfaatkan psikologi massa dan kebetulan menderita gangguan penuaan dini akibat stres ekstrem.
"Tempat ini hanya butuh dekorasi ulang dan sedikit pencahayaan," ujar Brandon hari itu kepada manajernya, semberi menapakkan kaki di atas lantai marmer penthouse lantai delapan puluh yang baru saja ia sewa menggunakan seluruh uang tabungannya. Ia sengaja memilih tempat ini untuk membangun citra kemewahan di media sosialnya—sebuah taktik pemasaran logis untuk menarik perhatian para produser besar.
Namun, logika manusia adalah makanan paling empuk bagi entitas yang telah kelaparan selama satu tahun di tempat itu.
Sejak minggu pertama menempati penthouse tersebut, suasana berubah menjadi aneh, namun Brandon selalu menemukan penjelasan rasional untuk setiap kejadian. Ketika lampu gantung kristal di ruang tengah berkedip-kedip di tengah malam, ia menganggapnya sebagai masalah instalasi arus pendek khas gedung tua. Ketika aroma bunga kamboja busuk bercampur belerang mendadak menguar di kamar mandinya, ia menyalahkan saluran pembuangan komunal yang tersumbat. Bahkan ketika ia menemukan segenggam tanah kering berwarna hitam di bawah karpet barunya—tanpa ia ketahui itu adalah sisa tanah makam ritual Sarwendy yang luput dari pembersihan—Brandon hanya mengumpat pada kecerobohan kru dekorasi interiornya.
Demi mendongkrak popularitasnya, Brandon mulai melakukan siaran langsung (live streaming) hampir setiap malam di akun media sosialnya, memamerkan gaya hidup mewahnya di atas awan Jakarta. Netizen menyambutnya dengan antusiasme yang gila. Kolom komentar selalu dipenuhi oleh puluhan ribu penonton yang tidak hanya mengagumi ketampanannya, tetapi juga mulai menyadari hal-hal ganjil di latar belakang video Brandon.
"Brandon, coba tengok kaca di belakangmu, ada bayangan wanita rambut panjang berjalan patah-patah!" tulis seorang netizen di kolom komentar.
"Gila, itu baunya sampai sini gak sih? Muka Brandon kok makin hari makin putih pucat kayak mayat?" sahut yang lain.
Brandon hanya tertawa menanggapi komentar-komentar tersebut. "Kalian ini terlalu banyak menonton film horor. Ini hanya efek pencahayaan dari lampu ring yang saya gunakan," jawabnya tegas, mempertahankan personanya sebagai pria modern yang skeptis.
Namun, obsesi Brandon untuk menjadi terkenal mulai menuntunnya pada perubahan perilaku yang tidak ia sadari. Di dalam keheningan penthouse, ia mulai sering berlama-lama menatap pecahan cermin besar di kamar mandi yang sengaja tidak ia ganti karena menganggap pola retakannya artistik. Di balik logika berpikirnya yang keras, alam bawah sadar Brandon telah terinfeksi oleh sisa-sisa energi pesugihan Sarwendy yang tertinggal di dinding-dinding beton tempat itu. Ia mulai terobsesi dengan konsep kekayaan instan. Ia menghabiskan waktu berjam-jam membaca arsip kasus "Aura Luxury", bukan untuk menjauhinya, melainkan untuk mempelajari bagaimana Sarwendy bisa mengendalikan begitu banyak orang kuat dalam waktu singkat.
Malam petaka itu tiba tepat di bulan ketiga Brandon tinggal di sana. Langit Jakarta malam itu sangat bersih, namun anehnya, dari jendela lantai delapan puluh, kabut putih tebal mendadak naik memeluk seluruh dinding kaca gedung, memutus pemandangan lampu kota di bawahnya. Brandon sedang mengadakan siaran langsung besar-besaran untuk merayakan pencapaian satu juta pengikutnya di media sosial.
Ia duduk di kursi kulit tinggi—kursi yang dulu sering digunakan Sarwendy saat memimpin rapat kematian. Brandon mengenakan kemeja sutra hitam longgar. Di bawah sorotan lampu studio, wajah Brandon tampak sangat tampan, namun ada pendar aneh pada kulitnya; warna kulitnya seputih kapur kafan, kontras dengan bibirnya yang mendadak memerah alami tanpa riasan.
"Malam ini, saya akan menunjukkan kepada kalian semua rahasia terbesar dari penthouse ini," ujar Brandon ke arah kamera ponselnya yang disangga tripod. Penonton live melonjak drastis menyentuh angka seratus ribu orang dalam hitungan detik. "Banyak dari kalian yang bilang tempat ini berhantu karena bekas Sarwendy. Mari kita buktikan secara ilmiah bahwa hantu itu tidak ada."
Brandon berdiri, membawa ponselnya berjalan menuju ke sudut ruangan paling terlarang—kamar tanpa jendela yang dulu menjadi ruang ritual tanah makam Sarwendy. Ruangan itu kini ia ubah menjadi ruang penyimpanan jas dan koleksi sepatu mahalnya.
Saat Brandon melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, seluruh penonton di jagat maya mendadak menangkap perubahan suara latar. Suara bising angin dari luar gedung lenyap, berganti menjadi suara bisikan ghaib yang berlapis-lapis, seperti suara ribuan orang yang sedang merintih kesakitan di dalam ruang bawah tanah.
"Brandon, keluar dari situ! Suasananya gak enak banget!" ketik netizen di kolom komentar yang bergerak secepat kilat.
"Lihat bayangan di bawah baju-baju gantung! Ada makhluk hitam besar!"
Brandon mengabaikan peringatan tersebut. Ia mengarahkan kamera ke arah sudut ruangan di mana lantai tanah lama berada. Namun, tepat pada detik itu, logika yang selama ini ia agungkan runtuh berkeping-keping. Tubuh Brandon mendadak membeku. Ia melihat dari sela-sela gantungan jas mewahnya, muncul sesosok wanita tua dengan wajah hancur bergelambir hitam, mengenakan sisa-sisa gaun sutra hitam yang terbakar—itu adalah sisa raga spiritual Sarwendy yang kini telah menjelma menjadi demit penunggu penthouse.
Demit Sarwendy tidak menyerang Brandon secara fisik; makhluk itu hanya menatap lurus ke dalam sepasang mata Brandon, lalu melepaskan senyuman yang mematikan.
Pada momen itulah, kesurupan massal paling mengerikan dalam sejarah media sosial terjadi secara langsung di hadapan ratusan ribu saksi mata.
Tubuh Brandon mendadak bergetar hebat. Ponsel di tangannya jatuh ke lantai dengan posisi kamera menghadap ke atas, merekam seluruh tubuh Brandon dari sudut bawah (low angle). Di depan kamera yang terus menyiarkan secara langsung, Brandon mulai meliukkan tubuhnya ke belakang dalam posisi yang mustahil. Sendi-sendi tangannya berbunyi kretak-kretak keras seolah dipatahkan paksa dari dalam.
Wajah tampan aktor muda itu mendadak berubah drastis. Saraf-saraf di wajahnya menegang, matanya mendelik ke atas hingga hanya menyisakan bagian putih yang dipenuhi urat darah merah yang menyala. Dari tenggorokannya, keluar suara ganda yang sangat berat dan parau—suara yang sangat dikenali oleh jutaan netizen yang dulu pernah menonton video investigasi kasus "Aura Luxury".
"Takhta ini... belum kosong..." suara itu menggema dari mulut Brandon, terdengar begitu dingin dan berwibawa namun sarat akan hawa kematian.
Brandon yang sedang kesurupan itu berjalan patah-patah mendekati kamera ponselnya. Ia berjongkok, menghadapkan wajah hancur spiritualnya tepat di depan lensa. Di layar gawai ratusan ribu penonton, mereka bisa melihat bahwa di balik kornea mata Brandon yang putih, muncul siluet bayangan Gunung Kawi yang diselimuti kabut hitam.
"Kalian semua yang menonton... adalah saksi kontrak yang baru," lanjut suara dari mulut Brandon sembari melepaskan tawa melengking yang memekakkan gendang telinga. "Satu klik dari kalian... satu tontonan dari kalian... adalah energi yang menghidupkan kembali kerajaanku!"
Layar siaran langsung itu mendadak dipenuhi oleh distorsi digital berwarna merah darah sebelum akhirnya terputus secara sepihak, meninggalkan kepanikan massal di seluruh jagat maya. Twitter, TikTok, dan Instagram seketika dipenuhi oleh potongan video kesurupan Brandon. Kata kunci "Brandon Kesurupan Sarwendy" dan "Demit Penthouse 80" langsung memuncaki tangga tren global. Netizen dari seluruh penjuru negeri dirundung rasa penasaran dan ketakutan yang mencekat; apakah ini hanya pengaturan (settingan) demi konten, ataukah iblis Gunung Kawi telah menemukan raga baru untuk kembali berburu?
Di dalam penthouse, setelah siaran langsung terputus, Brandon jatuh telentang di atas lantai marmer dalam kondisi pingsan. Namun, petualangan baru yang jauh lebih rumit dan menyeramkan justru baru saja dimulai dari titik ini.
Ketika Brandon terbangun beberapa jam kemudian menjelang subuh, ia mengira dirinya hanya mengalami serangan panik biasa akibat kelelahan. Ia mencoba bangkit dan berjalan ke arah cermin kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Namun, saat ia menatap pantulan dirinya, sebuah plot twist yang membuat jantungnya seakan copot terjadi.
Wajah di dalam cermin itu adalah wajahnya, Brandon. Namun, ketika ia menggerakkan tangan kanannya untuk menyentuh pipi, bayangan di dalam cermin justru tetap diam menatapnya dengan senyuman dingin. Bayangan Brandon di dalam cermin itu kemudian berbicara tanpa menggerakkan bibir fisik Brandon.
"Logikamu telah menyelamatkanmu dari rasa takut, Brandon... tapi ambisimu telah membukakan pintu bagi kami," bisik bayangan itu dengan suara Sarwendy. "Mulai hari ini, kau tidak perlu lagi mengemis peran utama kepada produser. Kami yang akan membawakan seluruh dunia ke bawah kakimu... asalkan kau bersedia menyelesaikan apa yang belum sempat aku selesaikan."
Brandon melangkah mundur dengan napas memburu, menyadari bahwa jiwanya kini tidak lagi sendirian di dalam tubuh fisik tersebut. Ia telah menjadi wadah baru dari sisa-sisa kesepakatan jahanam. Di luar gedung, matahari terbit dengan warna merah darah yang pekat, sementara di bawah sana, beberapa agensi artis besar dan produser film ternama mulai mengirimkan pesan kerja sama bernilai miliaran rupiah setelah melihat video viral kesurupan semalam.
Dunia hiburan tanah air bersiap menyambut lahirnya megabintang baru, tanpa pernah tahu bahwa di dalam raga tampan Brandon, danyang penguasa kegelapan sedang bersiap merajut kembali imperium darahnya dengan skala yang jauh lebih brutal dan meluas melampaui apa yang pernah dicapai oleh Sarwendy. Petualangan hitam di lantai delapan puluh telah resmi berganti nahkoda, dan kali ini, seluruh netizen yang terobsesi menontonnya adalah target tumbal berikutnya! Hmmm???