Malam yang mengurung lantai delapan puluh griya tawang alias penthouse mewah milik Sarwendy tidak lagi terasa seperti bagian dari kota Jakarta. Di luar jendela kaca antipeluru yang menjulang tinggi, langit ibu kota menghitam pekat, bergulung-gumpal oleh awan badai yang tidak menurunkan setetes pun air hujan. Udara di dalam ruangan berubah menjadi sangat berat, bertekanan tinggi, dan dipenuhi aroma besi berkarat bercampur busuknya daging mati. Di tengah kepungan lampu gantung kristal buatan Italia yang mulai berkedip-kedip tidak beraturan, Sarwendy berdiri dengan raga yang retak.
Penuaan gaib akibat serangan balik (ainul murtaddah) dari gagalnya santet terhadap Roni dan Nur telah merenggut paksa sisa-sisa kemolekan tubuhnya. Kulit porselen yang dulu dipuja-puja kini bergelambir layu, dipenuhi bercak-bercak hitam serupa lebam mayat. Rambut indahnya yang dahulu berkilau pekat kini rontok dalam gumpalan-gumpalan putih kelabu di atas lantai marmer. Namun, di dalam rongga matanya yang cekung, sepasang bola mata amethyst itu tidak lagi memancarkan kepanikan manusia; melainkan kilat kegilaan yang murni, seekor predator yang tahu ajalnya mendekat namun memilih untuk meruntuhkan seluruh dunia bersamanya.
Di tangannya, ponsel rahasia merekam sebuah pesan suara terakhir dari Adrian. Pria itu tidak sekadar melarikan diri ke polisi; ia telah menyerahkan seluruh dokumen palsu, mutasi rekening yayasan gaib, hingga daftar koordinat tanah kuburan fiktif yang dibeli "Aura Luxury" di lereng Gunung Kawi kepada Kejaksaan Agung. Di bawah gedung, sirine mobil korps aparat hukum merungung bersahut-sahutan, membelah barikade demonstran yang masih bertahan memegang obor kemarahan. Hukum dunia sedang bersiap mendobrak pintu depan, sementara di dalam ruang ritual khusus beralaskan tanah makam, danyang penguasa kegelapan yang telah lapar selama sepuluh tahun mulai menjulurkan lidah gaibnya, menuntut nyawa Sarwendy sendiri sebagai penutup kontrak darah.
"Belum..." bisik Sarwendy, suaranya parau seperti gesekan dua bilah kayu nisan. "Kalian semua tidak akan bisa mengambil takhtaku."
Dengan sisa kekuatan dari sisa umur yang ia pinjam dari iblis, Sarwendy merangkak masuk ke dalam kamar ritualnya. Ia tidak lagi menggunakan boneka jerami atau foto. Kali ini, ia melepas seluruh pakaian mahalnya, membiarkan tubuhnya yang kurus kering dan keriput bersentuhan langsung dengan tanah kuburan Gunung Kawi yang dingin. Ia mengambil belati perak berukir naga, lalu tanpa ragu menyayat dalam-dalam bagian bawah perutnya—tepat di atas rahimnya yang selama sepuluh tahun telah disegel hitam agar mandul. Darah segar berwarna merah kehitaman menyembur keluar, membasahi tanah pekuburan tersebut. Ini adalah ritual Mati Rogo, sebuah nekat tingkat tertinggi di mana seorang pemuja pesugihan menyerahkan raga fisiknya secara sukarela untuk dirasuki sepenuhnya oleh sang danyang utama, demi menghancurkan semua musuhnya dalam satu gelombang kutukan masal.
Pada saat yang sama, sebuah mobil serbaguna hitam merangsek masuk melompati pembatas jalan di pelataran bawah gedung pencakar langit tersebut. Pintu mobil terbuka kasar, dan Ustadz Faizal melangkah keluar dengan jubah putih yang berkibar diterpa angin badai yang gila. Di belakangnya, Geri sang produser podcast, Roni yang masih gemetar dengan baju penuh tanah, serta Nur yang dipapah dengan wajah sepucat kain kafan, ikut melangkah dengan tergesa-gesa. Ustadz Faizal tidak menunggu lift; beliau tahu lift gedung telah dimatikan secara mistis oleh energi negatif yang memancar dari lantai teratas. Dengan mushaf Al-Qur'an kecil di tangan kiri dan tas berisi air ruqyah di tangan kanan, beliau memimpin rombongan itu menaiki tangga darurat dengan langkah kaki yang konstan dan dipenuhi ketukan takbir.
Atmosfer di dalam tangga darurat itu berganti menjadi labirin neraka. Setiap kali mereka naik sepuluh lantai, dinding beton di sekeliling mereka mendadak merembeskan cairan merah kental yang berbau anyir darah. Suara tawa melengking, geraman babi hutan, hingga bisikan-bisikan manise yang menyebut nama Nur dan Roni bergema dari sudut-sudut tangga yang gelap.
"Jangan menoleh! Teruskan zikir! La ilaha illallah, wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa 'ala kulli syai'in qadir!" seru Ustadz Faizal, suaranya menggelegar memecah frekuensi gaib yang mencoba merusak gendang telinga dan fokus mental kru podcast di belakangnya.
Ketika mereka akhirnya mencapai lantai delapan puluh dan mendobrak pintu darurat, pemandangan di dalam penthouse membuat Geri dan Roni tercekat. Seluruh perabotan mewah—kursi kulit berharga ratusan juta, patung kristal, hingga lukisan-lukisan koleksi seni tingkat tinggi—telah diselimuti oleh lapisan jamur hitam tebal yang tumbuh dalam hitungan menit. Udara begitu dingin hingga setiap hembusan napas mereka membentuk kristal es kecil. Di ujung koridor mewah, pintu ruang ritual khusus milik Sarwendy terbuka lebar, memancarkan pendar cahaya merah darah yang pekat.
Ustadz Faizal melangkah paling depan, menjejakkan kakinya ke dalam ruangan yang beralaskan tanah makam tersebut. Di tengah ruangan, Sarwendy tidak lagi tampak seperti manusia. Tubuhnya melayang beberapa senti di atas tanah, dengan posisi kepala terkulai patah ke samping namun matanya terbuka lebar, memancarkan sinar merah menyala yang murni. Luka sayatan di perutnya tidak lagi mengeluarkan darah, melainkan gumpalan asap hitam yang membentuk tentakel-tentakel gaib di udara.
"Kau datang untuk menyerahkan nyawa, wahai manusia berjubah?" sebuah suara ganda—perpaduan antara suara parau Sarwendy dan gemuruh raungan ribuan makhluk halus—keluar dari tenggorokan wanita itu, membuat kaca-kaca jendela di seluruh penthouse bergetar hebat hingga retak.
Ustadz Faizal membuka mushafnya dengan tenang, matanya menatap lurus ke arah entitas kegelapan di hadapannya tanpa ada sedikit pun rasa gentar. "Aku datang untuk memutus rantai jahanam yang kau ikat di atas penderitaan orang-orang tidak berdosa, Sarwendy. Kembali lah kepada kehancuran yang telah ditetapkan Allah untukmu dan sekutu-sekutumu dari kalangan jin!"
Tanpa menunggu lama, Ustadz Faizal memulai konfrontasi spiritual terakhir ini. Beliau melantunkan Surat Al-Jin ayat 1-5 dengan nada جهر (lantang) yang menggetarkan. Setiap bait ayat suci yang keluar dari lisan beliau berubah menjadi gelombang energi yang kasat mata, menghantam kepulan asap hitam yang mengelilingi raga Sarwendy.
Raungan kengerian pecah. Tubuh Sarwendy yang melayang mendadak terhempas ke dinding marmer dengan keras, namun makhluk yang menguasai raganya segera bangkit kembali. Tentakel asap hitam di sekelilingnya melesat cepat, mencoba mencengkeram leher Ustadz Faizal. Ustadz Faizal dengan cepat mengambil botol air ruqyah, lalu menyiramkannya ke arah kepulan asap tersebut sembari meneriakkan kalimat takbir: "Allahu Akbar!"
Saat air ruqyah bersentuhan dengan asap gaib itu, ledakan hawa panas terjadi, menciptakan suara mendesis keras seperti besi membara yang dicelupkan ke dalam air es. Bau busuk belerang kian menyengat, membuat Geri dan Roni yang bertahan di ambang pintu harus menutup hidung mereka agar tidak pingsan.
Namun, di tengah jalannya ruqyah yang mencekam itu, sebuah plot twist pertama mulai terurai dari lisan sang danyang yang merasuki Sarwendy. Makhluk itu tertawa melengking, sebuah tawa yang sarat akan ejekan jahat yang ditujukan langsung kepada Nur yang sedang berdiri lemah di belakang Geri.
"Kau pikir kau suci, Nur?!" raung suara ganda dari mulut Sarwendy, sepasang mata merahnya mengunci pandangan Nur. "Kau pikir kau adalah pahlawan yang menyelamatkan teman-temanmu?! Tanya pada dirimu sendiri... siapa yang mengetik nama-nama korban di atas kertas perkamen darah itu?! Siapa yang menyusun daftar karyawan terbaik untuk dikirim ke resor Gunung Kawi?!"
Nur mendadak jatuh berlutut, wajahnya yang semula pucat kini dipenuhi air mata ketakutan yang luar biasa. Tubuhnya bergetar hebat.
"Tidak... saya tidak tahu kalau itu untuk tumbal... saya hanya melakukan tugas administrasi..." rintih Nur, memegangi kepalanya yang mendadak diserang rasa sakit yang menusuk.
"Kau tahu, Nur! Di dalam hatimu yang serakah, kau tahu!" makhluk itu kembali meraung, melangkah mendekat dengan raga Sarwendy yang bergerak patah-patah. "Kau menikmati bonus miliaran rupiah yang diberikan Sarwendy dari setiap nyawa yang hilang! Kau adalah bagian dari kontrak ini! Jiwamu telah digadaikan bersama kami sejak hari pertama kau menerima uang haram itu!"
Geri dan Roni menatap Nur dengan pandangan tidak percaya. Informasi ini tidak pernah diungkapkan oleh Nur di dalam studio podcast. Ternyata, Nur bukan sekadar saksi mata yang tidak bersalah; ia adalah roda penggerak birokrasi pesugihan yang secara tidak sadar—atau setengah sadar karena tergiur materi—telah membantu Sarwendy mengorbankan teman-temannya sendiri demi mempertahankan posisinya sebagai sekretaris kesayangan dengan gaji fantastis.
Melihat fokus spiritual di ruangan itu mulai goyah akibat pengakuan sang iblis, Ustadz Faizal segera menghentikan manipulasi psikologis tersebut. Beliau meletakkan tangannya di atas kepala Nur sejenak, membacakan doa ketetapan hati, lalu kembali berbalik menghadapi Sarwendy. "Jangan dengarkan tipu daya syaitan! Apapun masa lalu Nur, pintu taubat Allah selalu terbuka bagi hamba-Nya yang bersujud! Dan hari ini, hukuman atas keserakahanmu, Sarwendy, telah tiba!"
Ustadz Faizal kemudian melantunkan Surat Ash-Shaffat ayat 1-10, ayat-ayat yang dikenal sebagai pemotong dan pembakar eksistensi jin-jin pembangkang. Suara beliau kian meninggi, memenuhi setiap sudut penthouse lantai delapan puluh itu dengan getaran tauhid yang murni.
Pertempuran mencapai titik puncaknya. Udara di dalam ruangan mulai memancarkan percikan-percikan cahaya putih yang berbenturan langsung dengan aura merah kehitaman dari tanah kuburan. Tubuh Sarwendy mulai mengeluarkan darah dari mata, hidung, dan telinganya karena raga manusianya tidak lagi kuat menahan benturan energi suci Al-Qur'an dan kekuatan danyang yang menolak keluar.
"Lepaskan dia, wahai makhluk terkutuk!" seru Ustadz Faizal sembari menekan dahi Sarwendy dengan jemarinya yang basah oleh air ruqyah.
Namun, tepat pada detik-detik kritis di mana makhluk itu tampak akan terusir, plot twist kedua yang jauh lebih mengerikan terjadi dari arah belakang ruangan. Pintu rahasia di sudut kamar ritual yang tertutup tanaman rambat plastik mendadak terbuka perlahan. Dari dalam kegelapan lorong rahasia itu, muncul sesosok pria dengan langkah gontai dan tatapan mata yang sepenuhnya hancur.
Itu Adrian.
Roni dan Geri terkejut melihat Adrian yang mengira pria itu telah pergi ke kantor polisi. Namun, ada yang aneh dengan pembawaan Adrian. Di tangan kanannya, ia tidak memegang dokumen atau ponsel, melainkan sebuah belati perak yang sama persis dengan yang digunakan Sarwendy untuk menyayat perutnya. Di leher Adrian, terdapat guratan simbol kuno Gunung Kawi yang diukir menggunakan darah segar.
Adrian tidak kembali untuk menyelamatkan diri atau menghancurkan Sarwendy; ia telah kembali sebagai tumbal sejati yang paling akhir.
"Kau terlambat, Ustadz..." suara Adrian terdengar datar, kosong, tanpa ada emosi manusia yang tersisa. Ia menatap Sarwendy dengan pandangan cinta yang telah bermutasi menjadi kegilaan total. "Pikiranku memang sempat terlepas pagi ini... tapi kontrak ini tidak bisa diputus oleh kertas atau hukum manusia. Jiwaku sudah menyatu dengan Wendy sejak sepuluh tahun lalu. Jika dia harus hancur, maka aku yang akan menjadi minyak terakhir agar dia tetap hidup."
Sebelum Ustadz Faizal sempat berbalik atau melepaskan bacaan ruqyahnya untuk menahan Adrian, sang konglomerat muda itu tersenyum dingin. Dengan satu gerakan cepat yang didorong oleh kekuatan gaib, Adrian menghujamkan belati perak di tangannya tepat ke arah jantungnya sendiri di hadapan semua orang.
"Adrian!!!" jerit Sarwendy—kali ini dengan suaranya yang asli, suara seorang wanita yang menyaksikan satu-satunya aset dan pria yang benar-benar memujanya jatuh bersimbah darah di atas tanah pekuburan.
Darah segar Adrian mengalir deras, membanjiri lantai tanah dan langsung diisap oleh bumi kamar ritual tersebut seperti spons yang kering. Kematian sukarela dari seorang pria berkuasa dan berharta tinggi seperti Adrian adalah jenis tumbal Pamungkas—sebuah persembahan tertinggi yang seketika mengembalikan seluruh kekuatan gaib yang sempat bocor dari tubuh Sarwendy.
Ledakan energi negatif yang luar biasa besar terjadi seketika. Geri, Roni, bahkan Nur terlempar keluar dari ruangan, menghantam dinding koridor hingga lemas tak berdaya. Ustadz Faizal sendiri terdorong mundur beberapa langkah, kakinya menancap kuat di atas tanah makam sementara jubah putihnya robek di beberapa bagian akibat hantaman hawa murni kegelapan yang mendadak meluap kembali.
Raga Sarwendy yang tadinya menua dan rapuh, mendadak mengalami metamorfosis terakhir yang mengerikan. Darah Adrian yang meresap ke dalam tanah seolah mengalir naik melalui kaki Sarwendy, mengisi kembali sel-sel tubuhnya yang layu. Garis-garis keriput di wajahnya hilang dalam sekejap, digantikan oleh kulit yang kembali kencang namun dengan warna yang seputih kapur kafan. Rambut putihnya memanjang dengan cepat, berubah menjadi hitam kelam kembali, memancarkan aroma bunga kamboja kuburan yang sangat pekat. Ia terlahir kembali bukan sebagai dewi kosmetik, melainkan sebagai Ratu Pesugihan yang utuh, raga manusia yang telah sepenuhnya mati dan digantikan oleh perwujudan danyang Gunung Kawi.
"Sekarang, siapa yang akan menghentikan aku, manusia?" tanya Sarwendy, suaranya kini menggelegar seperti guntur yang membelah langit malam, bergema langsung di dalam jiwa siapa saja yang mendengarnya.
Ustadz Faizal perlahan bangkit, menyeka darah segar yang mulai keluar dari sudut bibirnya akibat hantaman energi tumbal pamungkas tadi. Beliau berdiri tegak, membetulkan posisi mushaf Al-Qur'an di tangannya, lalu menatap Sarwendy dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa iba sekaligus ketegasan iman yang tak tergoyahkan.
"Kau telah menukar akhiratmu dengan bangkai dunia yang fana, Sarwendy. Kau pikir darah pria itu bisa menyelamatkanmu dari ketetapan Allah? Demi Allah, kekuatan yang kau banggakan ini tidak lebih kuat dari selembar sarang laba-laba di hadapan ayat-ayat-Nya!"
Ustadz Faizal mengambil napas dalam-dalam, lalu memulai rakaat doa terakhirnya. Beliau tidak lagi membaca dengan suara keras; beliau memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa energi tauhid dan kepasrahan totalnya kepada Sang Khalik, lalu mulai melantunkan Surat Al-Hasyr ayat 21-24 dengan nada yang sangat bergetar, syahdu, namun sarat akan kekuatan penghancur bagi segala bentuk kesombongan makhluk.
“Lau anzalna hazal-qur'ana 'ala jabilil lara'aitahu khasi'am mutasaddi'am min khasy-yatillah...” (Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah...)
Ketika ayat tentang gunung yang hancur itu dilantunkan, lantai tanah pekuburan Gunung Kawi yang berada di dalam penthouse tersebut mendadak mulai bergetar hebat. Retakan-retakan besar mulai muncul di lantai marmer di bawah tanah tersebut, menjalar cepat ke arah dinding-dinding kaca luar gedung. Aura merah darah di sekeliling Sarwendy mulai bergolak tidak stabil, seolah-olah fondasi mistis Gunung Kawi yang melandasinya sedang diguncang oleh gempa spiritual yang dahsyat.
Sarwendy mencoba melangkah maju untuk mencengkeram jantung Ustadz Faizal, namun setiap kali ia mencoba melangkah, seolah ada dinding cahaya tak terlihat yang membakar ujung jemarinya hingga hangus menjadi abu. Makhluk di dalam tubuhnya mulai menjerit ketakutan; mereka menyadari bahwa Ustadz Faizal malam itu tidak sedang bertarung dengan kekuatan manusianya, melainkan sedang menjadi perantara dari turunnya ketetapan azab Allah bagi para sekutu setan.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Aku adalah penguasa! Aku kaya! Aku memiliki segalanya!" raung Sarwendy, suaranya mulai terpecah antara jeritan wanita tamak dan lengkingan iblis yang terbakar.
Ustadz Faizal terus melanjutkan bacaannya hingga ayat terakhir dari Surat Al-Hasyr, menyebut nama-nama keagungan Allah: Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam, Al-Mu'min, Al-Muhaimin, Al-'Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir!
Tepat pada penyebutan nama Al-Mutakabbir (Yang Memiliki Segala Keagungan dan Kesombongan), sebuah keajaiban spiritual terjadi. Kilatan petir raksasa dari luar jendela mendadak menyambar lurus menembus kaca antipeluru penthouse, menghantam tepat ke arah tubuh Sarwendy yang sedang melayang. Ledakan cahaya putih yang menyilaukan mata memenuhi seluruh ruangan, membuat Geri, Roni, dan Nur harus memejamkan mata mereka rapat-rapat.
Suara jeritan terakhir Sarwendy terdengar begitu memilukan, sebuah jeritan yang merangkum seluruh penyesalan dari jiwa yang telah terlambat untuk bertaubat. Ketika cahaya putih itu memudar, raga Sarwendy telah jatuh terhempas di atas tanah pekuburan dalam kondisi yang mengenaskan.
Seluruh raga indahnya telah hangus terbakar menjadi hitam legam serupa arang, meninggalkan bau busuk yang perlahan lenyap ditiup angin malam yang masuk melalui pecahan kaca jendela. Jiwanya telah diseret paksa menuju pertanggungjawaban abadi, sementara danyang Gunung Kawi yang selama sepuluh tahun memanjakannya telah pergi meninggalkannya, kembali ke kegelapan lereng gunung tanpa membawa apa-apa selain kutukan.
Di sisi lain ruangan, raga Adrian juga terbujur kaku, menjadi saksi bisu dari akhir tragis sebuah dinasti kekayaan yang dibangun di atas fondasi darah keluarga dan sesama manusia.
Ustadz Faizal perlahan menurunkan tangannya, menutup mushaf Al-Qur'an kecilnya dengan sisa tenaga yang ada. Beliau jatuh terduduk di atas lututnya, beristighfar berulang kali sembari memuji kebesaran Allah yang telah mengakhiri malam jahanam tersebut dengan kemenangan iman.
Geri, Roni, dan Nur perlahan merangkak masuk kembali ke dalam ruangan, menatap sisa-sisa kehancuran sang dewi kosmetik dengan perasaan campur aduk antara ngeri, lega, dan trauma yang mendalam. Di bawah gedung, suara dobrakan pintu oleh aparat kepolisian yang akhirnya berhasil merangsek naik terdengar menggema dari koridor luar, menandakan bahwa hukum dunia kini siap mengambil alih sisa-sisa peninggalan materi dari kerajaan "Aura Luxury" yang telah runtuh. Perjanjian hitam Gunung Kawi telah selesai ditulis, meninggalkan sebuah pesan bisu yang mengerikan bagi siapa saja yang berani menukar kesucian jiwa demi tumpukan harta yang tak akan pernah bisa dibawa mati.