Mentari pagi yang muncul di balik kabut polusi Jakarta tidak membawa kehangatan bagi Sarwendy. Di dalam Penthouse lantai delapan puluh yang kini terasa seperti sangkar emas yang pengap, ia menatap bayangan dirinya di cermin kamar mandi yang tersisa. Goresan luka akibat pecahan cermin ritual semalam tampak memerah di pipinya, namun yang lebih mengerikan adalah apa yang terjadi di bawah kulitnya. Kehalusan porselen yang ia banggakan selama sepuluh tahun mulai memudar; warna kulitnya mendadak kusam, dan ketika ia meraba sudut matanya, ia merasakan lipatan-lipatan halus keriput yang selama ini berhasil ia bendung dengan darah para tumbalnya. Danyang Gunung Kawi mulai menarik proteksi estetikanya sebagai hukuman atas kegagalan santet semalam.
Ponsel rahasia Sarwendy kembali bergetar, menampilkan pesan singkat dari salah satu informan setianya di lapangan. Sebuah tautan video baru kembali diunggah oleh saluran podcast milik Geri. Sarwendy mengira itu adalah perkembangan kondisi Nur, namun saat ia menekan tombol putar, wajah yang muncul di layar justru membuat rahangnya mengatup rapat hingga giginya bergemertak. Itu adalah Roni.
Roni adalah mantan supir pribadi Sarwendy yang bekerja selama lima tahun pertama masa kejayaan "Aura Luxury". Pria bertubuh tegap dengan gurat wajah penuh penyesalan itu duduk di samping Geri, mengenakan jaket jinjing kumal. Berbeda dengan Nur yang banyak bergerak di ranah administrasi kantor, Roni adalah orang yang memegang kemudi langsung ke mana pun Sarwendy pergi—termasuk perjalanan-perjalanan rahasia tengah malam yang tidak pernah tercatat di agenda resmi perusahaan.
Dengan suara serak yang sesekali terhenti karena menahan pasokan udara yang mendadak terasa berat, Roni mulai membuka kotak pandora yang jauh lebih hitam. Ia bersaksi di depan kamera bahwa tugasnya bukan sekadar mengantar Sarwendy dari satu pertemuan bisnis ke pertemuan lain.
"Saya yang mengantar Ibu Sarwendy ke lereng Gunung Kawi setiap kali ada direktur atau manajer yang dikabarkan 'sakit mendadak' atau 'kecelakaan'," ujar Roni, jemarinya bergetar saat menggenggam segelas air putih. "Saya sering diminta membawa kotak-kotak kayu kecil yang baunya seperti tanah basah dan melati busuk dari gunung untuk ditanam di bawah pondasi pabrik baru atau disimpan di ruang kerja korban sebelum mereka meninggal. Saya awalnya tidak tahu itu apa, sampai saya sadar... semua orang yang ruangannya saya titipi kotak itu pasti mati dalam waktu sebulan."
Roni juga membongkar bahwa dirinyalah yang mengantar mendiang adik bungsu Sarwendy ke rumah sakit saat sekarat, sementara Sarwendy sendiri menolak ikut dan justru memilih pergi berbelanja barang mewah di Singapura. Kesaksian Roni menjadi peluru sekunder yang menghantam sisa-sisa kredibilitas Sarwendy. Jika kesaksian Nur membongkar sistem korporasi gaibnya, maka kesaksian Roni melengkapinya dengan bukti keterlibatan fisik yang bisa diseret ke ranah hukum pidana umum atas dugaan pembunuhan berencana menggunakan perantara. Jagat maya kembali meledak; petisi untuk menyeret Sarwendy ke pengadilan mencapai jutaan tanda tangan dalam hitungan jam.
Stres yang dialami Sarwendy kini berlipat ganda menjadi paranoia yang akut. Di tengah kepungan berita dan ancaman penangkapan oleh pihak kepolisian yang mulai melakukan gelar perkara, pintu kamar utamanya mendadak terbuka dengan kasar. Adrian melangkah masuk.
Kondisi Adrian sudah jauh dari kata prima. Tubuhnya yang dulu tegap kini tampak ringkih, binar matanya yang berwibawa telah lenyap digantikan pandangan sayu yang kosong akibat energinya yang terus diisap selama bertahun-tahun. Namun pagi ini, ada sisa-sisa kesadaran manusiawi yang mendadak bangkit di dalam kepala Adrian. Skandal yang viral di seluruh televisi dan media sosial rupanya berhasil menembus kabut hipnotis yang selama ini mengunci otaknya. Efek balik dari gagalnya santet Sarwendy semalam rupanya ikut melemahkan sihir pengikat (pelet) yang tertanam di tubuh Adrian.
"Benar semua itu, Wendy?" suara Adrian bergetar, parau dan sarat akan keputusasaan. Ia memegang ponselnya yang menampilkan video kesaksian Roni dan Nur. "Keluargamu... karyawanmu... bahkan sebagian harta yang aku berikan kepadamu, semuanya digunakan untuk ritual sialan itu? Selama ini aku tidur dengan seorang monster?"
Sarwendy berbalik perlahan, mencoba menampilkan senyuman mistisnya yang biasa digunakan untuk menekuk lutut kehendak Adrian. Namun, dengan wajahnya yang mulai menua dan aura magisnya yang bocor, pesona itu tak lagi bekerja sempurna.
"Adrian, Sayang... kamu jangan percaya dengan omongan sampah para mantan karyawan yang sakit hati karena saya pecat," kata Sarwendy, melangkah mendekat dengan tangan yang terulur hendak membelai dada Adrian. "Mereka hanya ingin menjatuhkan bisnis kita. Kamu tahu seberapa besar aku mencintaimu, kan? Rahimku... semuanya hanya untukmu."
"Cukup, Wendy! Jangan sebut kata rahim!" Adrian menepis tangan Sarwendy dengan kasar hingga wanita itu terhuyung ke belakang. Napas Adrian memburu. "Aku baru sadar sekarang... kenapa setiap kali aku mengajakmu menikah resmi, kamu selalu menolak dengan alasan medis? Kenapa setiap kali kita membicarakan anak, kamu selalu membuatku melupakan hal itu? Kamu sengaja mengunci rahimmu demi perjanjian dengan iblis itu, kan? Kamu menumbalkan kesuburanmu, menumbalkan keluargamu, dan sekarang kamu mengisap hidupku!"
Adrian melangkah mundur, matanya dipenuhi kengerian yang mendalam saat melihat retakan di cermin kamar mandi dan bau kemenyan yang masih tersisa dari ruangan khusus Sarwendy. "Aku akan mencabut seluruh asetku dari perusahaanmu. Aku akan pergi ke polisi dan menceritakan semua aliran dana rahasia yang aku kirim ke rekening yayasanmu di luar negeri. Aku tidak mau ikut terseret ke neraka bersamamu!" teriah Adrian sebelum berbalik dan berlari keluar dari penthouse, meninggalkan Sarwendy yang berdiri terpaku di tengah ruangan.
Kepergian Adrian adalah pukulan telak yang meruntuhkan benteng logistik Sarwendy. Jika Adrian mencabut dukungannya dan memberikan kesaksian kepada jaksa, maka Sarwendy tidak hanya akan menghadapi danyang gunung, tetapi juga ancaman hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati atas konspirasi pembunuhan dan pencucian uang. Situasi menjadi sangat rumit; ia dikepung oleh hukum manusia di bumi dan ditagih oleh hukum iblis dari kegelapan.
Dalam kondisi terdesak dan setengah gila, Sarwendy tidak lagi memikirkan strategi penyelamatan aset. Insting predatornya kembali mengambil alih. Fokus balas dendamnya kini meluas; ia harus melenyapkan Roni sebelum mantan supirnya itu menyerahkan bukti fisik berupa sisa kotak kayu yang konon sempat disimpan oleh Roni sebagai jaminan keselamatan dirinya.
Sarwendy kembali masuk ke dalam ruangan khususnya yang beralaskan tanah makam. Luka sayatan di tangannya yang belum kering ia robek kembali menggunakan kukunya sendiri, membiarkan darah segar mengucur deras di atas sebuah foto baru: foto Roni yang ia cetak dari tangkapan layar video *podcast*.
"Danyang penguasa Kawi! Jangan ambil kecantikanku dulu! Ambil nyawa sopir sialan itu!" raung Sarwendy, suaranya melengking memenuhi ruangan hampa tersebut. Ia mengambil segenggam tanah kuburan yang berbau busuk, mencampurnya dengan darahnya, lalu mengepal tanah tersebut sembari merapalkan mantra Sihir Jaran Goyang yang diputarbalikkan menjadi mantra pembunuh jiwa (Sihir Teluh Braja). Ia berniat mengirimkan santet kecelakaan fatal yang akan membuat mobil yang dikendarai Roni atau kendaraan di sekitarnya hancur berkeping-keping di jalan raya.
Sementara itu, di rumah aman, situasi pasca-ruqyah Nur masih menyisakan ketegangan. Nur yang sudah mulai sadar meskipun tubuhnya masih sangat lemah, menangis tersedu-sedu saat mendengar bahwa Roni juga ikut bersuara di podcast.
"Roni dalam bahaya, Mas Geri," bisik Nur dengan bibir yang pecah-pecah kepada sang produser. "Ibu Sarwendy tidak akan membiarkan Roni hidup. Roni tahu tempat-tempat pembuangan sisa tumbal yang tidak diketahui oleh orang lain. Dia pasti akan diincar."
Ustadz Faizal yang masih berada di lokasi untuk memantau perkembangan kondisi spiritual Nur, segera mengambil tindakan. Beliau meminta kru podcast untuk segera menghubungi Roni dan memintanya datang ke rumah aman tersebut agar bisa diberikan perlindungan spiritual yang sama. "Sihir dari wanita itu sedang mengamuk karena kiriman pertamanya berhasil kita mentahkan dengan izin Allah. Sekarang dia seperti binatang buas yang terluka; dia akan menyerang siapa saja secara membabi buta," tegas Ustadz Faizal sembari menyiapkan kembali air ruqyah dan menyuruh semua orang di dalam rumah untuk tetap menjaga wudhu mereka.
Roni, yang saat itu sedang berada di dalam mobil amannya dalam perjalanan menuju ke sebuah hotel tersembunyi di pinggiran kota, mendadak merasakan keanehan pada kendaraannya. Setir mobilnya terasa sangat berat, seolah-olah ada beban seberat ratusan kilogram yang menekan bagian depan kap mobil. Lampu dasbor mobilnya mulai berkedip-kedip tidak beraturan, dan suhu di dalam kabin mobil mendadak turun drastis hingga embun dingin mulai menyelimuti kaca depan, menghalangi pandangannya ke jalan raya.
Dari kaca spion tengah, Roni melihat sebuah pemandangan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Di jok belakang mobilnya, yang seharusnya kosong, mendadak duduk sesosok makhluk dengan tubuh hitam legam berbulu lebat, dengan wajah menyerupai babi hutan bermata merah menyala yang menatapnya dengan liur berdarah yang menetes ke jok kulit. Makhluk itu menjulurkan tangannya yang panjang dan berkuku tajam, bersiap mencengkeram leher Roni dari belakang.
"Ibu... ampun, Bu..." teriak Roni histeris, mencoba menginjak rem namun pedal remnya terasa keras seperti batu yang tak bisa ditekan. Mobilnya mulai melaju kencang di jalur berliku menuju jurang di pinggir jalan alternatif.
Tepat pada saat kritis itu, ponsel Roni yang diletakkan di dasbor berdering keras. Panggilan dari Geri berhasil masuk. Anehnya, meskipun sinyal seluler di daerah itu buruk, suara Ustadz Faizal yang sengaja mengambil alih ponsel Geri terdengar sangat lantang menggema di dalam kabin mobil melalui pelantang suara. Ustadz Faizal langsung membacakan *Ayat Kursi* dengan nada yang tinggi dan tegas.
"Allahulaa ilaaha illa huwal hayyul qayyum..."
Suara bacaan Al-Qur'an itu bergetar hebat di dalam mobil Roni. Makhluk di jok belakang menjerit kesakitan, suaranya melengking tinggi merusak kaca jendela mobil hingga retak. Cengkeramannya di leher Roni terlepas saat makhluk itu mulai terbakar oleh hawa panas yang dihasilkan dari ayat-ayat suci yang mengalun dari ponsel. Kemudi mobil Roni mendadak kembali ringan, dan dengan sisa tenaga serta kesadarannya, Roni berhasil membanting setir ke kiri, menabrak gundukan tanah pembatas jalan hingga mobilnya berhenti total, hanya beberapa meter sebelum bibir jurang yang curam.
Roni keluar dari mobil dengan merangkak, tubuhnya gemetar hebat namun ia selamat tanpa luka fisik yang berarti. Khodam kiriman Sarwendy kembali gagal mengeksekusi korbannya karena intervensi spiritual yang tepat waktu.
Di penthouse-nya, kegagalan kedua ini berakibat fatal bagi fisik Sarwendy. Saat mantra santetnya dipatahkan oleh bacaan ruqyah Ustadz Faizal dari balik telepon, energi negatif yang ia lepaskan berbalik menghantam dirinya sendiri dengan kekuatan dua kali lipat. Sarwendy menjerit histeris saat merasakan dadanya seperti dihantam oleh gada besi yang sangat besar. Ia memuntahkan darah hitam kental ke atas tanah kuburan di ruang ritualnya.
Saat ia mencoba berdiri dengan bertumpu pada tangannya, ia melihat ke arah pecahan kaca di lantai. Wajahnya kini telah berubah drastis; penuaan yang seharusnya terjadi dalam waktu dua puluh tahun mendadak diakumulasikan dalam satu malam. Rambut hitam indahnya mulai memutih dan rontok di lantai, matanya yang semula berkilau mistis kini tampak cekung dan layu seperti mata seorang nenek tua yang sedang menghitung hari kematiannya. Kekayaan triliunan rupiah di rekeningnya tak lagi mampu membeli satu detik pun kemudaan yang telah ditarik kembali oleh penguasa kegelapan Gunung Kawi.
Di luar penthouse, suara sirine mobil kepolisian dan tim dari Kejaksaan Agung mulai terdengar bersahut-sahutan di jalanan bawah, bersiap untuk merangsek naik guna melakukan penjemputan paksa terhadap sang dewi kosmetik yang kini telah menjelma menjadi raga yang rapuh dan terkutuk. Masalah yang bermula dari sebuah ambisi gila di lereng gunung kini telah mencapai titik puncaknya, siap menyeret semua pihak ke dalam pusaran pengadilan dunia dan akhirat yang tak terelakkan.