Malam jahanam di rumah aman itu kian menderu. Tubuh Nur di atas ranjang kayu meliuk-liuk ekstrem dalam posisi yang tidak masuk akal bagi anatomi manusia normal; tulang punggungnya melengkung ke atas hingga membentuk busur, sementara kepala dan tumitnya menjadi dua tumpuan yang menahan berat badan. Dari pori-pori kulitnya yang memucat, keluar keringat dingin berwarna kehitaman yang berbau anyir busuk, seperti minyak ketel yang bercampur darah mati. Rasa sakit di dalam perutnya semakin tidak tertahankan—seolah-olah ada sekantong kaca cermin yang sengaja dipecahkan di dalam lambungnya, lalu pecahan-pecahan tajam itu diaduk paksa menggunakan besi panas. Nur tidak lagi bisa berteriak; suaranya telah habis, berganti menjadi lengkingan parau yang sesekali berubah menjadi geraman berat seekor binatang buas yang sedang sekarat. Matanya mendelik ke atas, hanya menyisakan bagian putih yang mulai dipenuhi urat-urat darah yang pecah.
Di luar pintu kamar, kepanikan melanda kru podcast investigasi yang sejak awal berkomitmen melindungi Nur. Geri, sang produser utama, beserta dua kameramennya berdiri gemetar menyaksikan gagang pintu kuningan kamar tersebut berputar-putar sendiri dengan cepat, seolah-olah ada puluhan tangan tak terlihat yang mencoba mendobrak keluar dari dalam. Bau belerang dan kemenyan menyengat dari sela-sela kusen jendela, membuat udara di dalam rumah aman itu menjadi begitu pekat dan menyesakkan dada. Di atas meja ruang tengah, gawai milik Geri terus berdering tanpa henti; panggilan dari tim hukum, desakan dari jurnalis nasional, hingga pesan-pesan dari netizen yang melacak keberadaan mereka terus menumpuk, namun fokus mereka malam itu telah lumpuh. Mereka sadar, video yang mereka unggah bukan lagi sekadar konten viral penyingkap skandal korporasi, melainkan sebuah pemantik perang gaib yang kini taruhannya adalah nyawa di depan mata mereka.
Tepat pada jam setengah empat pagi, sebuah mobil serbaguna hitam berhenti mendadak di pelataran rumah aman dengan ban yang mencicit di atas tanah basah. Pintu mobil terbuka, dan turunlah Ustadz kharismatik bernama ustadz Faizal, seorang praktisi ruqyah syar'iyyah yang sengaja dihubungi oleh Geri melalui jaringan pesantren di Jawa Timur sejak sore hari ketika kondisi Nur mulai menunjukkan gejala aneh. Ustadz Faizal turun dengan tenang, mengenakan jubah putih bersih dan membawa sebuah tas kain berisi mushaf Al-Qur'an serta sebotol besar air yang telah diruqyah. Wajahnya memancarkan ketenangan yang kontras dengan atmosfer kegelapan yang sedang mengepung rumah tersebut. Tanpa membuang waktu, Ustadz Faizal meminta kru podcast untuk merapatkan baris, berwudhu jika belum, dan memperbanyak zikir perlindungan sebelum mereka bersama-sama melangkah masuk ke dalam kamar Nur.
Saat pintu kamar berhasil dibuka setelah Ustadz Faizal membacakan awal surat Al-Baqarah, pemandangan di dalam ruangan membuat salah satu kameramen instan jatuh terduduk sambil muntah-muntah karena syok. Ribuan kelabang dan ulat belatung yang beberapa jam lalu merayap di lantai kini telah meleleh menjadi cairan hitam pekat yang bergerak seperti hidup, mencoba merayap naik ke kaki ranjang Nur. Di sudut ruangan, udara tampak memelintir, membentuk distorsi bayangan hitam yang sangat besar dengan dua titik merah menyala yang menatap tajam ke arah pintu—itu adalah khodam perewangan kiriman dari Gunung Kawi yang diperintah langsung oleh jaminan darah Sarwendy.
Sementara itu, di lantai delapan puluh istana betonnya, Sarwendy berada dalam kondisi kegilaan spiritual yang belum pernah ia alami sebelumnya. Kamar khususnya yang beralaskan tanah pekuburan kini dipenuhi asap hitam tebal dari pembakaran tujuh jenis kemenyan langka. Pakaian sutra hitamnya telah basah oleh keringat dan bercak darah dari telapak tangannya sendiri yang sengaja ia sayat berulang kali untuk memberi makan boneka jerami perwujudan Nur. Wajah cantiknya tak lagi menampakkan keanggunan seorang CEO; matanya melotot liar, urat-urat di pelipisnya menegang, dan bibirnya bergerak secepat mesin, merapalkan bait-bait kutukan kuno pengikat tumbal.
Sarwendy merasa terhina. Bagi wanita yang telah menukar seluruh nyawa keluarganya demi takhta kekayaan, pengkhianatan Nur adalah sebuah noda yang harus dihapus dengan kepunahan total. Setiap kali ia menusukkan jarum emas ke dada boneka jerami itu, ia berteriak histeris, menyebut nama Nur, nama bapak Nur, hingga mengutuk seluruh keturunan mantan karyawannya tersebut. Ia tidak peduli lagi bahwa di luar sana, kerajaan bisnis "Aura Luxury" sedang diamputasi oleh otoritas hukum. Berita di televisi yang menyala tanpa suara di ruang tengah penthouse menunjukkan bahwa kepolisian telah menyegel pabrik utamanya, dan kejaksaan agung mulai membekukan rekening-rekening domestiknya atas tuduhan pencucian uang dan keterlibatan sekte sesat. Bagi Sarwendy, semua kerugian triliunan rupiah itu bisa dibangun kembali, asalkan Nur mati malam ini sebagai tumbal penebusan atas kemarahan danyang Gunung Kawi yang menagih janji perlindungan.
Kembali ke rumah aman, Ustadz Faizal mulai mengambil posisi di samping ranjang Nur. Beliau meletakkan tangan kanannya di atas dahi Nur yang sedingin es batu, lalu dengan suara yang lantang, berwibawa, dan penuh keyakinan, beliau mulai melantunkan ayat-ayat Ayat Kursi, diikuti dengan surat Al-A'raf ayat 117-122 yang menceritakan tentang runtuhnya sihir para penyihir Fir'aun.
Begitu ayat-ayat suci itu menggetarkan udara kamar, tubuh Nur mendadak kejang hebat. Suara yang keluar dari mulut Nur bukan lagi suara wanita; melainkan perpaduan geraman babi hutan dan lengkingan tawa nenek sihir yang sangat memekakkan telinga. "Diam kau, manusia sialan! Wanita ini sudah dijual kepada kami! Darahnya adalah milik penguasa Kawi!" teriak makhluk yang merasuki tubuh Nur dalam bahasa Jawa kasar, mencoba mencakar wajah Ustadz Faizal dengan kuku-kukunya yang mendadak menghitam dan memanjang.
Ustadz Faizal tidak bergeming sedikit pun. Beliau meningkatkan volume bacaannya, memperjelas makhorijul huruf-nya, memohon pertolongan langsung kepada Penguasa Semesta Alam. "Keluarlah wahai musuh Allah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sihir ini akan dihancurkan!" seru beliau sembari memercikkan air ruqyah ke wajah dan perut Nur. Setiap kali air itu menyentuh kulit Nur, terdengar suara mendesis seperti daging yang dipanggang di atas bara api, dan kepulan asap putih berbau busuk keluar dari tubuhnya.
Pertempuran metafisika ini berimbas langsung secara fisik ke dua tempat. Di penthouse Sarwendy, setiap kali Ustadz Faizal menyelesaikan satu surat perlindungan, lilin-lilin hitam di sekeliling Sarwendy mendadak padam satu per satu dengan suara letupan keras. Boneka jerami yang dipegang Sarwendy mendadak menjadi sangat panas hingga membakar telapak tangannya. Sarwendy menjerit kesakitan, namun egonya yang telanjur menyatu dengan iblis membuatnya semakin beringas. Ia mengambil sisa darah di tangannya, membalurkannya ke seluruh permukaan foto Nur, lalu menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah untuk menyemburkan ludah berdarah itu ke arah cermin besar di hadapannya, mengirimkan gelombang santet susulan yang lebih destruktif. "Ambil nyawanya sekarang juga! Jangan sisakan sepotong daging pun!" raung Sarwendy kepada khodamnya.
Meluasnya masalah ini tidak lagi bisa dibendung di ranah supranatural saja. Kru podcast yang berada di ruang tengah, yang awalnya berniat merekam audio prosesi ruqyah sebagai bukti pelengkap jurnalisme mereka, menyadari bahwa gawai mereka mulai menangkap fenomena aneh. Sinyal internet di sekitar rumah aman mendadak mati total, namun anehnya, perangkat kamera digital yang diletakkan di sudut ruangan tetap menyala dan merekam bayangan-bayangan hitam yang melintas cepat di dinding. Di media sosial, netizen yang telah terbelah menjadi kelompok rasional dan kelompok yang percaya mistis mulai melakukan perang opini massal. Beberapa akun peretas anonim mulai menyebarkan dokumen-dokumen internal "Aura Luxury" yang menunjukkan manifestasi pengiriman barang-barang aneh ke daerah Gunung Kawi selama sepuluh tahun terakhir, termasuk pembelian tanah-tanah pemakaman fiktif atas nama perusahaan. Jagat maya benar-benar mendidih; skandal ini telah bertransformasi dari sekadar isu korporasi menjadi fenomena krisis sosial budaya nasional yang menyeret perhatian pemuka agama, sosiolog, hingga ahli hukum pidana.
Di dalam kamar, proses ruqyah telah memasuki jam kedua yang kritis. Nur mulai memuntahkan cairan hitam kental yang dipenuhi dengan benda-benda tajam yang tidak masuk akal: belasan jarum pentul berkarat, beberapa helai rambut panjang yang terikat benang kain kafan, dan gumpalan kawat tembaga kecil. Setiap kali benda-benda itu keluar dari mulutnya, Nur menangis histeris, sementara kesadarannya perlahan-lahan mulai kembali secara terputus-putus. "Ustadz... sakit... dada saya seperti dibakar..." rintih Nur dengan suaranya yang asli, sebelum kembali diambil alih oleh geraman gaib.
Ustadz Faizal terus membaca tanpa jeda, meskipun pelipisnya sendiri mulai dibanjiri keringat akibat tekanan energi negatif yang luar biasa besar di ruangan tersebut. Beliau tahu, sihir yang dihadapi kali ini adalah jenis Sihir Maradh (sihir penyakit) dan Sihir Qatl (sihir pembunuhan) yang diikat dengan perjanjian tingkat tinggi yang membutuhkan keteguhan tauhid yang luar biasa untuk mengurainya. Beliau menginstruksikan Geri dan kru lainnya untuk terus membacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas berulang-ulang di belakangnya, menciptakan benteng spiritual yang solid.
Mendekati waktu subuh, kekuatan santet Sarwendy mulai mencapai titik nadirnya karena kehabisan bahan bakar spiritual. Di lantainya yang mewah, Sarwendy jatuh telentang di atas tanah kuburan dalam kondisi lemas, napasnya memburu seperti orang yang tenggelam. Tujuh lilin hitamnya telah habis terbakar menjad gumpalan lilin mati, dan cermin besar di hadapannya mendadak retak seribu dari tengah hingga hancur berkeping-keping, mengirimkan pecahan kaca yang menggores pipi mulusnya hingga mengeluarkan darah segar—sebuah tanda bahwa sihirnya telah berbalik menyerang balik sang tuan (ainul murtaddah). Wajah porselennya yang selama sepuluh tahun bertahan tanpa kerutan, malam itu juga tampak menua secara drastis dalam hitungan jam; garis-garis keriput dalam mulai muncul di sekitar mulut dan matanya, rona mudanya lenyap digantikan warna abu-abu keibuan yang layu.
Saat azan subuh pertama berkumandang dari masjid di dekat rumah aman, Nur melepaskan satu jeritan panjang terakhir sebelum akhirnya tubuhnya terkulai lemas di atas kasur, jatuh pingsan dalam kondisi napas yang teratur dan tenang. Matanya tertutup rapat, tidak ada lagi kejang, dan cairan hitam di lantai telah mengering menjadi abu biasa yang tidak lagi bergerak. Ustadz Faizal menyeka keringat di dahinya, lalu menghembuskan napas lega yang panjang. "Alhamdulillah, ikatan utamanya telah putus. Makhluk-makhluk itu telah pergi dan hancur oleh kalamullah," ujar beliau sambil menyodorkan air minum sisa ruqyah kepada Geri untuk nanti diminumkan saat Nur terbangun.
Pagi itu, matahari terbit dengan membawa realitas baru yang porak-poranda bagi seluruh pihak. Kru podcast segera merilis pernyataan tertulis bahwa Nur selamat dari serangan fisik misterius dan kini berada dalam pemulihan medis serta spiritual penuh. Berita ini langsung memicu gelombang desakan yang lebih radikal di luar sana; masyarakat yang berang mulai mendatangi rumah-rumah keluarga Sarwendy yang dulu, mencari sisa jejak sejarah pesugihan tersebut, sementara polisi anti-huru-hara terpaksa dikerahkan untuk menjaga ketat Penthouse lantai delapan puluh tempat Sarwendy mengurung diri. Masalah telah meluas melampaui batas kendali siapa pun; hukum negara kini sedang bersiap mengetuk pintu depan istana Sarwendy, sementara hukum gaib dari Gunung Kawi yang telah ia khianati karena kegagalannya mengeksekusi Nur, kini sedang bersiap menagih sisa hutang nyawa dari dirinya sendiri yang telah kehilangan segalanya.