Keheningan lantai delapan puluh penthouse mewah milik Sarwendy malam itu mendadak pecah bukan oleh suara angin gunung, melainkan oleh getaran konstan dari lusinan gawai pintar yang diletakkan di atas meja marmer Italia miliknya. Sarwendy, yang baru saja selesai membalas surel ekspansi bisnisnya ke pasar Timur Tengah, mengernyitkan alis saat melihat ribuan notifikasi meluncur deras tanpa henti di seluruh akun media sosial pribadinya dan korporasi "Aura Luxury". Nama perusahaannya, namanya sendiri, hingga kata kunci seperti "Gunung Kawi", "Tumbal Korporat", dan "Sihir Kosmetik" mendadak memuncaki daftar tren utama di seluruh jagat maya hanya dalam hitungan menit. Detak jantung Sarwendy yang biasanya tenang dan berirama dingin, mendadak melompat satu ketukan ketika asisten pribadinya menelepon dengan suara yang gemetar hebat, memintanya untuk segera membuka sebuah tautan video yang baru saja diunggah dua jam lalu di saluran podcast alias siniar investigasi independen terbesar di tanah air. Tautan itu menampilkan wajah seorang wanita yang sangat ia kenali—Nur, mantan sekretaris kepercayaan dan kepala divisi administrasi rahasia yang telah bekerja mendampinginya selama tujuh tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri secara mendadak tiga bulan lalu dengan alasan kesehatan mental.
Di dalam studio siniar yang remang-remang itu, Nur duduk dengan wajah pucat, mata yang sembap, dan tubuh yang sesekali bergetar hebat menahan tangis yang pecah berulang kali. Di hadapan mikrofon dan kamera yang merekam setiap sudut ekspresinya, Nur memutuskan untuk menghancurkan seluruh surat perjanjian kerahasiaan bernilai miliaran rupiah yang pernah ia tandatangani di bawah tekanan hukum "Aura Luxury". Nur membuka suaranya dengan pengakuan yang langsung membuat jutaan penonton menahan napas; ia menyatakan bahwa dirinya tidak bisa lagi hidup dalam ketakutan dan rasa bersalah yang membakar jiwanya setiap malam. Ia dihantui oleh wajah teman-teman sejawatnya, para eksekutif muda, manajer, hingga buruh pabrik yang tewas atau kehilangan akal sehat secara tidak wajar selama ia menjabat sebagai tangan kanan Sarwendy. Dengan suara bariton yang bergetar namun sarat akan kejujuran, Nur mulai membeberkan kronologi demi kronologi, membuka lembar demi lembar catatan hitam yang selama ini disembunyikan rapat di balik laporan keuangan publik perusahaan yang tampak berkilau.
Nur mengungkapkan dengan sangat detail bagaimana setiap kontrak kerja bagi karyawan tingkat atas di "Aura Luxury" selalu melibatkan prosesi aneh di mana mereka diwajibkan membubuhkan cap jempol darah di atas selembar kertas perkamen khusus sebelum menandatangani kontrak resmi di atas meterai. Ia membongkar rahasia di balik program retret tahunan di resor lereng Gunung Kawi, menjelaskan bahwa tempat itu bukanlah fasilitas rekreasi, melainkan sebuah labirin penjagalan spiritual. Nur bersaksi bahwa ia pernah secara tidak sengaja melihat Sarwendy turun ke ruang bawah tanah resor tersebut pada malam pemujaan, mengenakan jubah hitam dengan aroma kemenyan yang menyengat, sementara keesokan harinya, salah satu kepala divisi terbaik mereka dilaporkan "terpeleset ke jurang" saat mendaki. Lebih jauh dan mengerikan, Nur membeberkan bahwa kesuksesan luar biasa dari produk kosmetik "Aura Luxury" bersumber dari ritual pengisian energi gaib yang memanfaatkan sisa-sisa fatalitas para korban korporat tersebut, mengubah darah dan usia mereka menjadi daya pikat mistis yang membuat konsumen kecanduan secara psikologis.
Dampak dari tayangan podcast berdurasi tiga jam itu meledak seperti bom megaton di tengah masyarakat. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, video tersebut telah ditonton oleh lebih dari lima puluh juta kali, dibagikan di berbagai platform digital, dan memicu gelombang kemarahan massal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern. Ruang siber seketika dipenuhi oleh seruan boikot total terhadap seluruh produk "Aura Luxury". Di dunia nyata, situasi berkembang menjadi kekacauan massal yang mengerikan; ribuan wanita yang menjadi pelanggan setia produk kecantikan Sarwendy berbondong-bondong membuang kosmetik mereka ke tempat sampah, bahkan ada yang membakarnya di depan umum karena ketakutan bahwa mereka selama ini telah mengoleskan kutukan dan energi mayat ke wajah mereka sendiri. Saham "Aura Luxury" di bursa efek ambles ke titik terendah dalam sejarah, mengalami suspensi otomatis setelah kehilangan nilai pasarnya hingga triliunan rupiah dalam satu sesi perdagangan. Di depan gedung pencakar langit kantor pusat Sarwendy, massa mulai berkumpul melakukan demonstrasi besar-besaran, menuntut aparat kepolisian dan kementerian terkait untuk segera menangkap Sarwendy atas dugaan pembunuhan berencana dan praktik pesugihan yang merugikan publik.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun berada di puncak kejayaan, Sarwendy merasakan apa yang dinamakan stres dan kepanikan yang nyata. Ia berdiri di balik jendela kaca antipeluru penthouse-nya, memandang ke bawah di mana kerumunan manusia tampak seperti semut yang membawa obor kemarahan. Wajahnya yang biasanya seputih porselen kini tampak tegang dengan rahang yang mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol. Ia mencoba menghubungi para pejabat tinggi, jenderal, dan menteri yang selama ini menerima aliran dana suap dan dukungan politik dari gurita bisnisnya, namun nomor-nomor telepon penting itu mendadak tidak aktif atau sengaja memutus kontak dengannya. Mereka semua berbalik arah, menyelamatkan diri masing-masing dari pusaran skandal gaib yang terlalu besar untuk diredam oleh hukum duniawi. Di dalam kamar setianya, Adrian yang semakin kurus kering hanya bisa mengerang lemah, tidak mampu memberikan solusi atau perlindungan apa pun bagi wanita yang telah menghancurkan jiwanya tersebut. Sarwendy merasa dikepung oleh dinding-dinding tak terlihat; ruang gerak sosial dan bisnisnya menyusut drastis dalam hitungan hari. Citra dewi korporat yang ia bangun dengan tumbal darah seluruh keluarganya kini hancur berkeping-keping menjadi sosok monster yang paling menjijikkan di mata dunia.
Namun, alih-alih menyerah atau merenungi dosa-dosanya, tekanan psikologis yang luar biasa itu justru memicu kegilaan dan kebrutalan yang lebih dalam di dalam benak Sarwendy. Rasa stresnya bertransformasi menjadi kemarahan hitam yang murni kepada satu target tunggal: Nur. Bagi Sarwendy, Nur adalah tikus pengkhianat yang harus dilenyapkan dengan cara yang paling menyakitkan, sebuah pesan berdarah bagi siapa saja yang berani mengusik takhtanya. Malam itu juga, ketika badai petir melanda langit ibu kota, Sarwendy mengunci diri di dalam sebuah ruangan khusus di sudut penthousenya—sebuah ruangan terlarang tanpa jendela yang lantainya dilapisi tanah yang ia bawa langsung dari area pekuburan Gunung Kawi. Di tengah ruangan, ia menyalakan tujuh lingkaran lilin hitam yang mengelilingi sebuah boneka buatan tangan yang ditenun dari sisa potongan rambut dan pakaian bekas milik Nur yang sempat tertinggal di kantor. Di samping boneka itu, terletak foto Nur yang wajahnya telah ditusuk menggunakan jarum karatan tepat di bagian kedua matanya.
Sarwendy duduk bersila di atas tanah kuburan tersebut, membiarkan rambut hitam panjangnya terurai menyentuh lantai. Ia mulai merapalkan mantra kutukan yang jauh lebih pekat dan berbahaya daripada yang pernah ia gunakan sebelumnya; ia tidak lagi meminta kekayaan, melainkan meminta kematian yang instan dan penuh siksaan bagi mantan bawahannya itu. Dengan mata yang berkilat kemerahan mencerminkan api lilin, ia memanggil seluruh danyang, jin perewangan, dan makhluk pengisap darah yang bersemayam di Gunung Kawi untuk dikerahkan sepenuhnya menuju tempat persembunyian Nur. Ia menawarkan sisa energi dari sisa kejayaan bisnisnya sebagai jaminan, asalkan jiwa Nur bisa diseret ke hadapannya dalam kondisi hancur. Gairah balas dendam itu membuatnya mengabaikan rasa sakit ketika ia menggores telapak tangannya sendiri dengan belati perak, membiarkan darah segarnya menetes membasahi boneka jerami perwujudan Nur, menyegel perintah santet tingkat tinggi yang akan mengejar korbannya ke mana pun ia pergi.
Sementara itu, di sebuah rumah aman yang dijaga ketat oleh beberapa aktivis kemanusiaan di pinggiran kota yang terpencil, Nur sedang duduk di sudut kamar dengan perasaan cemas yang luar biasa. Meskipun ia merasa lega karena telah menyuarakan kebenaran kepada dunia, ia tahu betul bahwa Sarwendy tidak akan tinggal diam. Tepat pada jam tiga pagi, keheningan rumah aman itu mendadak berubah menjadi mencekam. Udara di dalam kamar Nur mendadak turun drastis hingga sedingin es, disertai bau busuk yang sangat menyengat seperti bau bangkai binatang yang telah membusuk berminggu-minggu di bawah terik matahari. Nur mendongak, dan seketika itu juga rasa takut yang melumpuhkan menjalar ke seluruh tubuhnya; dari sela-sela ventilasi udara dan bawah pintu kamar, mengalir keluar ribuan kelabang raksasa, kalajengking hitam, dan ulat belatung yang merayap cepat menuju ke arah ranjangnya. Dari luar jendela, terdengar suara tawa melengking seorang wanita yang bercampur dengan suara lolongan anjing yang panjang, memecah kesunyian malam di desa terpencil tersebut.
Serangan santet kiriman Sarwendy telah tiba dengan kekuatan penuh. Nur mencoba menjerit meminta pertolongan kepada para penjaga di luar, namun tenggorokannya mendadak tercekat seolah-olah ada tangan tak terlihat yang mencekik lehernya dari belakang. Tubuhnya mendadak kaku, tidak bisa digerakkan sedikit pun ketika kawanan serangga gaib itu mulai merayap naik ke atas kakinya. Pada saat yang sama, Nur merasakan perutnya mendadak membesar dan mengeras seperti batu, diikuti oleh rasa sakit yang luar biasa hebat seakan-akan ada ratusan paku karatan dan silet yang sedang berputar di dalam lambungnya, merobek dinding-dinding organnya dari dalam. Darah segar mulai keluar dari hidung, telinga, dan sela-sela kuku jarinya. Dalam kepungan rasa sakit yang mematikan itu, di sudut kamar yang gelap, Nur bisa melihat bayangan hitam raksasa bermata merah berdiri tegak—perwujudan danyang Gunung Kawi yang dikirim langsung oleh mantan atasannya untuk mencabut nyawanya sebagai tumbal penutup skandal.
Di penthouse-nya, Sarwendy tertawa terbahak-bahak di tengah ritualnya, merasakan setiap hantaman rasa sakit yang dialami oleh Nur melalui ikatan batin boneka jerami yang terus ia tusuk dengan bilah-bilah jarum panas. Kegilaan telah sepenuhnya mengambil alih kesadaran pengusaha wanita tersebut; di tengah kehancuran imperium bisnisnya di dunia nyata, ia memilih untuk menegaskan kekuasaannya di dunia kegelapan, membuktikan bahwa meski seluruh dunia mengutuknya, ia tetap memiliki kekuatan mutlak untuk menentukan hidup dan mati seseorang yang berani menantang jalannya. Di bawah kilatan petir yang menyambar-nyambar di langit Jakarta, perang antara ambisi hitam seorang dewi kosmetik gadungan dan jeritan keadilan seorang mantan karyawan kepercayaan terus berlangsung, mengukir lembaran paling berdarah dalam sejarah pesugihan modern yang tak akan pernah dilupakan oleh jagat maya maupun nyata.