Sepuluh tahun telah berlalu sejak nisan terakhir dari keluarga kandung Sarwendy tertanam di tanah pemakaman, dan selama satu dekade itu pula, nama "Aura Luxury" tidak lagi sekadar menjadi merek kosmetik; ia telah menjelma menjadi sebuah dinasti imperium yang mencengkeram nadi perekonomian kelas atas. Sarwendy tidak lagi berjalan di bumi sebagai manusia biasa yang beruntung, melainkan sebagai sebuah entitas yang memancarkan aura kekuasaan yang absolut, dingin, dan mengerikan. Di usianya yang kini memasuki kepala empat, hukum alam seolah bertekuk lutut di hadapan parasnya. Tidak ada satu pun kerutan di sudut matanya, tidak ada kekenduran pada kulit lehernya; ia justru terlihat semakin muda, dengan pendar kulit yang seputih susu namun memiliki kilau aneh seperti porselen makam kuno yang terus-menerus dipoles. Kecantikan mistis yang ia tebus di Gunung Kawi telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih agresif—sebuah daya pikat beracun yang membuat siapa saja yang menatap matanya terlalu lama akan merasakan kombinasi antara gairah yang meledak-ledak dan ketakutan yang mencekat tenggorokan. Ia telah melampaui status sebagai wanita simpanan yang dimanjakan; kini, Adrian, sang konglomerat yang dulunya menguasai Asia Tenggara, telah turun kasta menjadi pion setianya yang paling patuh, seorang pria yang urusan bisnis dan politiknya sepenuhnya disetir dari balik tirai sutra penthouse mewah Sarwendy.
Namun, keserakahan Sarwendy tidak mengenal batas kepuasan, karena esensi dari pesugihan yang ia jalani adalah lubang hitam yang terus menuntut pasokan energi kehidupan untuk mempertahankan kejayaannya. Ketika seluruh anggota keluarga sedarahnya telah habis dikonsumsi oleh danyang gunung, kontrak gaib itu menuntut perluasan wilayah tumbal. Sarwendy tidak merasa gentar sedikit pun; ia justru menyambut tuntutan itu dengan kegembiraan seorang predator yang melihat padang perburuan baru. Karena ia tidak memiliki anak dan menolak keras untuk melahirkan, serta tidak lagi memiliki kerabat, hak kepemilikan gaib atas nyawa-nyawa di sekitarnya dialihkan kepada mereka yang menggantungkan hidup dan memberikan kesetiaan mutlak kepadanya: para karyawan, bawahan, dan buruh di bawah bendera kerajaannya bisnisnya. Kantor pusat "Aura Luxury" yang kini menempati seluruh lantai di gedung pencakar langit tertinggi di ibu kota berubah menjadi altar persembahan modern yang berkedok korporasi sekuler. Di balik dinding-dinding kaca yang megah, karpet tebal yang meredam suara langkah kaki, dan lampu-lampu kristal yang berkilauan, atmosfer kerja di perusahaan itu lambat laun berubah menjadi sangat pekat, dipenuhi oleh kecemasan yang tidak kasat mata namun dirasakan oleh setiap jiwa yang bekerja di sana.
Sarwendy menerapkan sistem manajemen yang brutal, sebuah metode penyaringan alami di mana hanya mereka yang memiliki dedikasi paling buta yang bisa bertahan di dekatnya. Ia tidak lagi membutuhkan sekadar pekerja yang kompeten; ia membutuhkan budak korporat yang bersedia menyerahkan seluruh waktu, pikiran, dan secara tidak sadar, jatah usia mereka demi target perusahaan yang tidak masuk akal. Setiap kali "Aura Luxury" hendak meluncurkan lini produk baru atau melakukan akuisisi terhadap perusahaan kompetitor, Sarwendy akan mengadakan rapat direksi tertutup pada tengah malam. Di ruang rapat yang kedap suara itu, di bawah pengaruh wewangian aromaterapi khusus yang baunya samar-samar menyerupai kemenyan Gunung Kawi yang disublimasikan dengan parfum Prancis, Sarwendy akan menatap bawahannya satu per satu. Sepasang matanya yang gelap akan mengunci target baru—biasanya manajer berprestasi yang paling ambisius, atau sekretaris setia yang tahu terlalu banyak tentang jadwal rahasianya. Tanpa disadari oleh korban, ketika mereka menandatangani pakta kerja atau menerima bonus insentif dalam jumlah fantastis yang diserahkan langsung oleh tangan dingin Sarwendy, mereka sebenarnya sedang menandatangani lembar penyerahan nyawa mereka sendiri kepada penguasa kegelapan yang bersemayam di dalam tubuh sang CEO.
Korban pertama dari kalangan bawahannya adalah direktur pemasaran setianya, seorang pria muda jenius bernama bayu yang telah mendedikasikan waktu tidurnya selama tiga tahun terakhir demi menaikkan valuasi saham "Aura Luxury". Bayu adalah tipe pekerja yang mengagumi Sarwendy layaknya seorang dewi, bersedia melakukan apa saja demi mendapatkan anggukan persetujuan dari wanita itu. Pada malam setelah laporan keuangan kuartal pertama menunjukkan keuntungan bersih yang memecahkan rekor dalam sejarah perusahaan, Bayu diundang ke ruangan pribadi Sarwendy untuk menerima penghargaan khusus. Di sana, Sarwendy menuangkan sendiri segelas wiski tua ke dalam cangkir Bayu, sambil membelai pundak pria itu dengan jemarinya yang dingin. Malam itu, Bayu pulang dengan perasaan melayang karena pujian sang ratu, namun sesampainya di apartemennya, tubuhnya mendadak didera demam hebat yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Dalam waktu empat puluh delapan jam, dokter mendiagnosisnya terkena kegagalan fungsi organ ganda yang sangat langka; paru-paru, hati, dan jantungnya mendadak berhenti bekerja seolah-olah seluruh cairan kehidupan di dalam dirinya telah diisap habis oleh sebuah pompa tak terlihat. Ketika Bayu menghembuskan napas terakhirnya dengan mata melotot penuh kengerian di ruang ICU, saham "Aura Luxury" di bursa efek melonjak sebesar lima puluh persen dalam satu pagi, sebuah fenomena ekonomi yang membuat para analis keuangan geleng-geleng kepala namun disambut Sarwendy dengan senyuman kemenangan di balik meja kerjanya.
Kematian Bayu segera diikuti oleh serangkaian "tragedi kebetulan" lainnya di lingkungan internal perusahaan. Kepala divisi riset yang berhasil menemukan formula serum antipenuaan terbaru mendadak menderita stroke fatal di meja labnya tepat beberapa jam setelah formula itu dipatenkan atas nama Sarwendy. Tiga orang model utama yang menjadi wajah dari kampanye kosmetik "Aura Luxury" mengalami kecelakaan fatal beruntun dalam waktu satu tahun; ada yang mobilnya terjun ke jurang saat melakukan syuting di Bali, ada yang overdosis obat tidur secara misterius di hotel bintang lima, dan ada yang wajahnya hancur akibat serangan air keras oleh orang tak dikenal yang kemudian hilang bak ditelan bumi. Yang mengerikan adalah, setiap kali salah satu dari ikon kecantikan itu tewas atau hancur, produk kosmetik yang mereka iklankan justru menjadi semakin legendaris dan dicari di seluruh dunia. Para konsumen wanita rela mengantre berjam-jam dan membayar puluhan ribu dolar demi mendapatkan botol serum yang konon mengandung rahasia kemudaan abadi Sarwendy. Mereka tidak pernah tahu bahwa kilau memikat yang dihasilkan oleh kosmetik tersebut berasal dari sari pati nyawa manusia yang telah dikurbankan untuk memberi makan danyang Gunung Kawi yang kini telah bersarang sepenuhnya di dalam setiap aspek operasional "Aura Luxury".
Sarwendy semakin brutal dalam menjalankan taktik bisnis dan spiritualnya; ia tidak lagi menunggu danyang gunung memilih korbannya sendiri. Ia mulai aktif "berburu" di antara ribuan karyawannya yang tersebar di berbagai belahan dunia. Melalui departemen sumber daya manusia yang dikendalikan oleh seorang kepala divisi yang juga telah ia pengaruhi secara magis, Sarwendy mengimplementasikan program retret tahunan bagi para karyawan terbaik ke sebuah resor mewah terpencil yang sengaja ia bangun di lereng yang tak jauh dari kompleks Gunung Kawi. Resor itu tampak seperti surga peristirahatan bagi para eksekutif yang lelah, namun di bawah fondasinya, terdapat ruang bawah tanah rahasia yang replika persis dari altar batu tempat Sarwendy pertama kali melakukan perjanjian darah. Setiap kali rombongan karyawan terbaik datang untuk melakukan retret, satu atau dua orang dari mereka dipastikan tidak akan pernah kembali ke kota dengan selamat. Ada yang dilaporkan hilang saat melakukan pendakian malam, ada yang ditemukan tenggelam di kolam renang resor yang airnya mendadak sedingin es, dan ada pula yang mengalami gangguan jiwa mendadak hingga nekat melompat dari tebing. Semua kematian itu ditutupi dengan rapi oleh tim hukum "Aura Luxury" dengan kompensasi uang duka yang sangat besar, membuat keluarga korban memilih untuk bungkam dan menerima takdir dengan pasrah. Bagi Sarwendy, manusia-manusia di bawahnya hanyalah angka, sekumpulan baterai biologis yang tugasnya adalah habis terbakar demi menjaga agar lampu-lampu di istana kekayaannya tetap menyala terang benderang.
Ekspansi bisnis Sarwendy selama sepuluh tahun ini telah mencapai tingkat yang hampir tidak masuk akal untuk ukuran seorang pengusaha yang memulai segalanya dari sebuah warung kelontong yang bangkrut. Ia telah mengakuisisi tiga jaringan hotel bintang lima terbesar di Eropa, memiliki ribuan hektar perkebunan kelapa sawit di Kalimantan yang ia gunakan sebagai kedok pasokan bahan baku kosmetiknya, dan menguasai saham mayoritas di beberapa perusahaan media massa terbesar di tanah air. Dengan kendali atas media, ia bisa dengan mudah membentuk opini publik, menghapus setiap rumor negatif tentang kematian misterius di perusahaannya, dan menampilkan dirinya sebagai sosok filantropis yang suci, seorang pahlawan wanita modern yang menginspirasi generasi muda. Di tengah semua kesuksesan raksasa itu, hubungannya dengan Adrian tetap terjaga dalam status yang sama: sebuah ikatan perzinaan yang paling mewah dan paling merusak. Adrian kini telah bercerai dari istri sahnya setelah skandal perselingkuhannya dengan wanita lain sengaja direkayasa oleh Sarwendy untuk menghancurkan reputasi sang istri sah, namun setelah bercerai pun, Adrian tidak pernah bisa menikahi Sarwendy. Sarwendy tetap menolak dengan dingin setiap kali Adrian membawa kotak berisi cincin berlian seratus karat ke hadapannya. Ia lebih memilih membiarkan Adrian hidup dalam ketidakpastian, menjadi budak cinta yang terus mengemis perhatian darinya sementara seluruh kekayaan Adrian perlahan-lahan dipindahkan ke dalam struktur yayasan luar negeri yang hanya dikendalikan oleh Sarwendy seorang diri.
Adrian telah berubah menjadi bayang-bayang dari dirinya yang dulu; ketampanannya mulai pudar, digantikan oleh wajah pucat dan pandangan mata yang kosong, efek dari energi kehidupannya yang juga perlahan-lahan diisap oleh Sarwendy selama bertahun-tahun tidur di ranjang yang sama. Namun, di bawah pengaruh sihir pesugihan, Adrian tidak mampu memberontak; ia justru merasa bahwa menyerahkan seluruh hidup dan hartanya kepada Sarwendy adalah satu-satunya tujuan hidupnya yang tersisa. Sarwendy merawat Adrian seperti seseorang merawat seekor kuda pacuan berharga yang sudah mulai tua—memberikannya kemewahan, membelai rambutnya dengan penuh kepalsuan, namun tidak pernah mengizinkan pria itu memiliki klaim hukum apa pun atas dirinya atau rahimnya. Rahim Sarwendy tetap menjadi sebuah ruang kosong yang tersegel rapat oleh mantra kuno, sebuah kuil sterilitas yang tidak akan pernah ternoda oleh proses kehamilan yang ia anggap menjijikkan. Ia bangga dengan keputusannya untuk tidak memiliki anak; di dunia di mana para wanita kaya lainnya sibuk memikirkan ahli waris, Sarwendy justru berniat untuk membawa seluruh kekayaannya ke dalam kubur bersama dirinya ketika saatnya tiba nanti, membiarkan imperiumnya hancur bersamanya daripada harus membaginya dengan jiwa lain yang lahir dari tubuhnya.
Kebrutalan Sarwendy mencapai puncaknya ketika sebuah serikat pekerja internal di salah satu pabrik kosmetik terbesarnya di pinggiran Jakarta mulai melakukan aksi protes dan mengancam akan membongkar kondisi kerja yang tidak manusiawi serta beberapa kasus hilangnya buruh pabrik secara misterius ke media independen. Pemimpin serikat pekerja itu, seorang wanita paruh baya yang vokal dan idealis bernama dwi, menolak semua tawaran uang suap yang diajukan oleh manajemen "Aura Luxury". Dwi bersumpah akan membawa kasus ini ke ranah hukum dan meruntuhkan citra sempurna Sarwendy di mata publik. Mendengar laporan pembangkangan itu, Sarwendy tidak marah; ia hanya duduk di kursi kulitnya yang tinggi, memutar-mutar sebuah pulpen emas berukir naga, lalu memerintahkan sekretaris barunya untuk menjadwalkan kunjungan mendadak dirinya ke pabrik tersebut. Hari itu, ketika helikopter pribadi Sarwendy mendarat di pelataran pabrik, ribuan buruh berdiri diam dalam ketakutan; aura kemewahan dan kekejaman yang terpancar dari sosok Sarwendy saat ia turun dari helikopter dengan kacamata hitam dan gaun desainer premium mampu membungkam nyali sebagian besar demonstran.
Sarwendy meminta untuk berbicara empat mata dengan Dwi di dalam kantor kepala pabrik yang telah dikosongkan. Di dalam ruangan itu, Dwi mencoba mempertahankan sikap tegasnya, membacakan daftar tuntutan dan bukti-bukti pelanggaran yang telah ia kumpulkan. Sarwendy mendengarkan tanpa memotong, ia perlahan melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan sepasang mata amethyst-nya yang berkilau dalam kegelapan ruangan yang tirainya sengaja ditutup. Sarwendy melangkah mendekati Dwi, gerakannya begitu anggun seperti seekor macan tutul yang sedang mendekati mangsa yang terluka. Ketika jarak mereka hanya tinggal beberapa senti, Sarwendy membisikkan sesuatu di telinga Dwi—bukan sebuah ancaman pembunuhan, melainkan sebuah mantra kutukan kuno yang ia pelajari langsung dari bisikan danyang Gunung Kawi selama meditasi malamnya. Pada detik itu juga, Dwi merasakan seluruh tubuhnya membeku; matanya melebar penuh horor saat ia melihat bayangan di belakang tubuh Sarwendy membesar dan membentuk siluet makhluk raksasa bertaring dengan mata merah menyala yang seolah siap menelan jiwanya hidup-hidup. Dua jam setelah pertemuan empat mata itu selesai, Dwi keluar dari ruangan dengan pandangan mata yang benar-benar kosong dan air liur yang menetes dari sudut bibirnya; ia telah kehilangan seluruh kesadaran dan fungsi otaknya, menjelma menjadi seorang wanita dengan gangguan jiwa parah yang tidak bisa lagi mengucapkan satu patah kata pun yang masuk akal. Dokumen bukti-bukti yang ia bawa telah dibakar habis di dalam tong sampah ruangan tersebut oleh tangan Sarwendy sendiri.
Dengan hancurnya mental sang pemimpin serikat, aksi protes buruh itu bubar dalam waktu satu hari akibat ketakutan massal yang menyebar di antara para pekerja; mereka menyadari bahwa bos besar mereka bukan sekadar manusia kaya yang memiliki koneksi politik, melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, sebuah kekuatan gaib yang bisa menghancurkan hidup mereka tanpa perlu mengotori tangannya dengan hukum duniawi. Setelah insiden pabrik tersebut, bisnis "Aura Luxury" berkembang semakin agresif tanpa ada lagi yang berani mengusik. Sarwendy mulai merambah ke bisnis teknologi kecantikan digital, menciptakan aplikasi pengubah wajah berbasis kecerdasan buatan yang secara tidak sadar menggunakan algoritma pemikat psikologis yang bersumber dari energi pesugihannya, membuat ratusan juta pengguna ponsel di seluruh dunia kecanduan untuk terus menatap layar dan memuja visual yang diciptakan oleh perusahaannya. Setiap klik, setiap unduhan, dan setiap transaksi digital yang terjadi di dalam ekosistem bisnisnya mengalirkan pundi-pundi kekayaan baru yang tak terhitung jumlahnya ke dalam brankas rahasia Sarwendy yang tersebar di Swiss, Cayman Islands, dan Singapura.
Kini, setelah sepuluh tahun berada di puncak kegelapan, Sarwendy berdiri di balkon penthouse-nya yang terletak di lantai delapan puluh, memandang hamparan lampu kota Jakarta yang tampak seperti hamparan permata kecil di bawah kakinya. Di dalam dekapannya, terdapat sebotol anggur merah yang harganya setara dengan rumah mewah seorang manajer menengah di perusahaannya. Di dalam ruangan di belakangnya, Adrian terbaring lemah di atas ranjang sutra, tertidur dalam kondisi setengah sadar akibat ketergantungan obat dan kepasrahan jiwa yang telah habis diisap. Sarwendy tersenyum, sebuah senyuman yang memancarkan kepuasan mutlak dari seorang pemenang yang telah berhasil menipu takdir duniawi. Ia telah membuktikan bahwa dengan kecantikan yang mematikan, ambisi yang tanpa batas, dan kesiapan untuk mengorbankan setiap jiwa yang mendekatinya, seorang wanita bisa menjadi penguasa absolut tanpa perlu tunduk pada kodrat pernikahan atau keibuan yang melelahkan. Di bawah langit malam yang pekat, samar-samar ia bisa mendengar suara angin gunung yang berhembus dari arah selatan—bisikan dari Gunung Kawi yang terus memanggil namanya, meminta lebih banyak tumbal, dan menjanjikan lebih banyak takhta kekuasaan. Sarwendy mengangkat gelas kristalnya ke arah kegelapan malam, bersulang untuk masa depan kerajaannya yang akan terus berdiri kokoh di atas fondasi darah, air mata, dan kejayaan abadi yang tak akan pernah bisa runtuh oleh waktu.