Malam itu, lereng Gunung Kawi tidak menyisakan ruang bagi udara hangat. Kabut tebal turun seperti tirai putih yang menelan pepohonan beringin tua, menyembunyikan akar-akar raksasa yang mencengkeram tanah pekuburan suci. Di dalam sebuah taksi sewaan yang mesinnya mulai batuk-batuk menanjak jalur berliku, Sarwendy duduk tegak dengan jemari yang mencengkeram erat tas jinjing kulit mahalnya. Lampu dasbor mobil yang temaram memantulkan bayangan wajahnya di kaca jendela—seorang wanita yang secara objektif berparas jelita, namun di matanya sendiri, bayangan itu selalu terasa kurang. Kurang tirus, kurang bersinar, kurang memancarkan aura kekuasaan yang bisa bertekuk lutut di hadapan lembaran uang. Ia tidak ingin sekadar menjadi cantik seperti pajangan toko baju di mal; ia ingin kecantikan yang beracun, jenis kecantikan yang sanggup meruntuhkan iman seorang pria berharta dalam sekali tatap. Selama bertahun-tahun hidup dalam jerat utang keluarga, melihat warung kelontong orang tuanya bangkrut, dan menyaksikan saudara-saudaranya merengek meminta pinjaman yang tak pernah bisa ia penuhi, Sarwendy sampai pada satu kesimpulan mutlak bahwa kemiskinan adalah penyakit mental yang paling menjijikkan. Ia lelah menjadi orang baik yang selalu mengalah, lelah menjadi kakak yang harus berkorban demi masa depan adik-adiknya, sementara dirinya sendiri membusuk dalam ketidakpastian ekonomi. Di atas gunung ini, di tempat yang dikenal sebagai episentrum perjanjian gaib tanah Jawa, ia berniat menukar semua beban moral itu dengan takhta tertinggi.
Taksi berhenti di sebuah pelataran sepi yang hanya diterangi oleh satu lampu minyak dari warung kelontong yang hampir tutup. Supir taksi, seorang pria tua dengan guratan kecemasan yang dalam di wajahnya, enggan menatap spion tengah saat Sarwendy menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan tanpa meminta kembalian. Supir itu tahu betul, wanita yang datang sendirian menjelang tengah malam dengan pakaian serba hitam namun rapi seperti hendak menghadiri pesta makan malam mewah, tidak sedang melakukan ziarah biasa. Sarwendy melangkah keluar, membiarkan sepatu hak tingginya mengetuk aspal basah dengan irama yang menantang kesunyian malam. Bau kemenyan yang bercampur dengan aroma bunga kamboja busuk segera menyergap indra penciumannya, namun alih-alih mual, wewangian mistis itu justru membakar adrenalin di dalam dadanya. Ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju kompleks pemakaman kuno, dipandu oleh seorang lelaki paruh baya bernama Ki Suro yang sudah ia hubungi satu minggu sebelumnya melalui perantara seorang bandar tanah di kota. Ki Suro berjalan di depannya tanpa banyak bicara, memegang sebuah obor bambu yang apinya menari-nari ditiup angin gunung. Langkah kaki mereka memecah keheningan, meninggalkan dunia rasional di belakang, bergerak masuk ke dalam wilayah di mana logika manusia tunduk pada hukum-hukum kuno yang ditulis dengan darah dan air mata.
Mereka tiba di sebuah pelataran kecil di bawah pohon beringin kurung yang konon merupakan tempat bersemayamnya danyang penguasa kekayaan tanpa batas. Ki Suro menyuruh Sarwendy duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah dipersiapkan, di hadapan sebuah altar batu yang dipenuhi sesaji: ayam cemani yang masih hidup namun terikat, pisang raja, bubur panca warna, dan sebotol minyak wangi tanpa alkohol. Sarwendy memperhatikan semua itu dengan mata dingin, tidak ada sedikit pun keraguan atau ketakutan yang biasanya membuat para peziarah pemula gemetar. Ki Suro menatap wanita di hadapannya, mencoba membaca kedalaman ambisi yang terpancar dari sepasang mata jeli tersebut. Pria tua itu berdeham, suaranya parau seperti gesekan kayu kering, menjelaskan bahwa Gunung Kawi tidak memberikan hadiah cuma-cuma; setiap lembar rupiah yang mengalir ke rekening banknya nanti harus dibayar dengan sesuatu yang memiliki ikatan darah paling murni. Sarwendy tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak mengerikan di bawah cahaya obor yang bergoyang. Ia menyatakan dengan lantang, tanpa ada getaran di pita suaranya, bahwa ia siap memberikan apa saja yang diminta oleh penghuni kegelapan gunung ini, termasuk nyawa dari orang-orang yang selama ini menyebutnya sebagai darah daging mereka.
Ki Suro mulai merapalkan mantra dalam bahasa Jawa kuno, sebuah kidung yang terdengar seperti bisikan ribuan ular yang merayap di atas daun-daun kering. Asap kemenyan mulai membubung tinggi, menggumpal tebal di sekitar kepala Sarwendy, membuatnya merasa seolah-olah ruang dan waktu di sekitarnya sedang bergeser ke dimensi yang berbeda. Dalam kepungan asap yang pekat itu, udara mendadak menjadi sangat dingin hingga hembusan napas Sarwendy membentuk kabut putih. Tiba-tiba, ayam cemani di atas altar mati seketika tanpa sempat berkokok atau mengepakkan sayap, darah segar mengalir dari paruhnya yang terbuka, membasahi batu altar. Pada momen itulah, Sarwendy merasakan sebuah kehadiran yang luar biasa besar di belakang punggungnya. Sesuatu yang tak kasat mata namun memiliki berat yang menekan pundaknya hingga ia harus mengerahkan seluruh kekuatan ototnya agar tidak tersungkur ke tanah. Sebuah suara, yang tidak terdengar oleh telinga fisik melainkan bergema langsung di dalam tempurung kepalanya, mulai berbisik dengan nada yang sangat berwibawa namun dipenuhi hawa busuk kematizan. Suara itu bertanya tentang apa yang paling diinginkan oleh jiwa yang begitu haus akan dunia ini, dan apa yang bersedia ia lepaskan sebagai gantinya.
Sarwendy memejamkan mata, membiarkan pikirannya sepenuhnya dikuasai oleh ambisi yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Di dalam benaknya, ia merumuskan permintaannya dengan sangat spesifik, seolah-olah sedang menandatangani kontrak bisnis dengan investor paling berkuasa di dunia. Ia tidak meminta kekayaan instan seperti sekoper uang yang jatuh dari langit, karena ia tahu uang seperti itu mudah habis dan mengundang kecurigaan aparat hukum. Ia meminta agar penampilannya diubah menjadi magnet kosmetik yang tak terbantahkan—kulit yang memancarkan pendar kemewahan, struktur wajah yang begitu proporsional hingga setiap orang yang melihatnya akan terhipnotis, dan sepasang mata yang mampu mengunci kehendak pria mana pun. Dengan kecantikan mistis itu, ia ingin jalannya sebagai seorang pengusaha kosmetik dan mode kelas atas terbuka lebar tanpa hambatan. Ia ingin setiap produk yang ia rilis, setiap butik yang ia buka, menjadi tren utama yang mendatangkan keuntungan berlipat ganda secara gaib. Namun, inti dari permintaannya bukan sekadar menjadi wanita karir mandiri; Sarwendy menegaskan bahwa ia ingin takdirnya dipertemukan dengan seorang pengusaha kaya raya, tampan, berkuasa di dunia politik dan bisnis, yang akan menjadikannya wanita simpanan nomor satu.
Ia secara sadar menolak konsep pernikahan legal yang membosankan dan penuh drama pembagian harta yang rumit di pengadilan jika terjadi perceraian. Ia memilih menjadi istri selingkuhan, simpanan yang paling dicintai dan dimanjakan dengan kemewahan tanpa batas, sebuah posisi di mana ia bisa mengeruk keuntungan finansial terbesar tanpa harus terikat oleh kewajiban moral seorang istri sah. Lebih dari itu, Sarwendy memberikan syarat tambahan yang sangat ekstrem dalam batinnya: ia sama sekali tidak menginginkan kehadiran seorang anak. Di matanya, anak adalah beban fisik yang akan merusak keindahan tubuh yang telah ia tebus dengan harga mahal, penghambat ambisinya untuk terus mendaki tangga sosial, dan pemecah fokus dari tumpukan kekayaan yang ingin ia kuasai sendiri. Ia ingin rahimnya dikunci selamanya oleh kekuatan gaib gunung ini, menjadikannya tanah gersang yang hanya menghasilkan gairah dan uang, bukan kehidupan baru. Sebagai gantinya, ketika suara gaib itu menuntut bayaran berupa nyawa untuk menyegel kesepakatan, Sarwendy tanpa berkedip menyerahkan seluruh keluarga kandungnya—orang tuanya yang ringkih, adik-adiknya yang malas, dan siapa saja yang berbagi DNA dengannya—untuk diambil satu per satu sesuai dengan kebutuhan sang danyang sebagai bahan bakar kejayaannya.
Kesepakatan itu dikunci dengan sebuah rasa sakit yang luar biasa hebat yang tiba-tiba menghantam seluruh tubuh Sarwendy, seolah-olah ribuan jarum perak panas sedang menusuk masuk ke dalam pori-pori kulitnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia ingin menjerit, namun tenggorokannya tercekat oleh rasa manis darah yang tiba-tiba mengalir dari sela-sela giginya. Selama beberapa menit yang terasa seperti keabadian, ia merasakan struktur tulang wajahnya seolah direnggangkan dan dibentuk kembali oleh tangan-tangan tak terlihat, sementara sejenis energi dingin mengalir masuk ke dalam rahimnya, mematikan setiap sel telur yang ada di sana dengan segel hitam yang pekat. Ketika proses itu selesai, asap kemenyan mendadak buyar ditiup angin kencang yang datang entah dari mana, dan suasana kembali hening seperti sediakala. Ki Suro yang duduk di seberang altar menatap Sarwendy dengan mata terbelalak dan napas terengah-engah; wajah wanita di hadapannya telah berubah secara dramatis hanya dalam hitungan menit. Kulit Sarwendy kini tampak seputih porselen mahal dengan rona merah alami di pipi, matanya berkilau seperti batu kecubung yang paling dalam, dan seluruh pembawaannya memancarkan aura erotis yang sangat berbahaya sekaligus berkelas. Ritual telah berhasil, kontrak darah telah ditandatangani di atas batu altar Gunung Kawi, dan lembaran baru kehidupan Sarwendy yang bergelimang harta dan tumbal resmi dimulai malam itu juga.
Satu bulan setelah malam jahanam di Gunung Kawi, transformasi Sarwendy mulai memakan korban pertamanya sekaligus membuka pintu gerbang menuju impian besarnya. Adik laki-laki tertuanya, yang selama ini menjadi beban keluarga karena kecanduan judi online, ditemukan tewas mengenaskan akibat kecelakaan tabrak lari di jalan tol dengan tubuh yang hancur hampir tak dikenali. Di tengah tangisan histeris ibu mereka di rumah duka yang pengap, Sarwendy berdiri di sudut ruangan dengan pakaian berkabung hitam yang justru membuat kulit putih susunya terlihat semakin kontras dan menakjubkan. Tidak ada satu tetes air mata pun yang jatuh dari matanya yang kini selalu tampak bersinar mistis. Alih-alih merasakan kesedihan, Sarwendy merasakan gelombang energi baru yang mengalir di dalam tubuhnya setiap kali ia memikirkan kematian adiknya; ia tahu bahwa kematian itu adalah tumbal pertama yang telah dicairkan oleh penguasa gunung untuk modal usahanya. Benar saja, tiga hari setelah pemakaman, seorang investor misterius yang melihat profil profesional Sarwendy di media sosial tiba-tiba menawarkan suntikan dana segar sebesar lima miliar rupiah tanpa syarat yang memberatkan untuk mendirikan perusahaan kosmetik impiannya yang diberi nama "Aura Luxury".
Dalam waktu singkat, bisnis kosmetik Sarwendy melesat seperti roket yang tak bisa dihentikan oleh hukum pasar normal. Setiap produk lipstik, serum wajah, dan bedak yang dikeluarkan oleh perusahaannya selalu habis terjual dalam hitungan jam setelah diluncurkan, terlepas dari harganya yang sangat mahal dan tidak masuk akal untuk ukuran merek baru. Para wanita yang menggunakan kosmetik dari perusahaan Sarwendy mengaku merasa seolah-olah mereka mendapatkan kepercayaan diri yang magis, sementara para pria yang melihat wanita-wanita tersebut menjadi sangat patuh—sebuah efek domino dari sihir Gunung Kawi yang tertanam di setiap gram formula produknya. Kantor pusat "Aura Luxury" kini menempati lantai teratas dari sebuah gedung pencakar langit di kawasan bisnis utama Jakarta, dengan dinding kaca yang menyajikan pemandangan seluruh kota di bawah kakinya. Sarwendy menjelma menjadi ikon pengusaha wanita baru yang paling dikagumi dan ditakuti; ia adalah perwujudan dari kecantikan sempurna dan kecerdasan bisnis yang dingin, seorang dewi korporat yang tidak pernah gagal dalam melakukan negosiasi apa pun karena setiap pria yang duduk di seberang meja rpatnya pasti akan kehilangan daya konsentrasi akibat terpesona oleh pesona mistisnya.
Namun, puncak dari rencana Sarwendy baru benar-benar terwujud ketika ia menghadiri sebuah gala dinner amal yang mempertemukan para elit bisnis dan politik papan atas negeri ini. Di sanalah ia pertama kali bertemu dengan Adrian, seorang konglomerat muda berusia tiga puluh lima tahun yang memimpin salah satu gurita bisnis terbesar di Asia Tenggara, dengan wajah setampan aktor film klasik dan tatapan mata yang memancarkan otoritas mutlak. Adrian sudah menikah dengan seorang wanita dari keluarga terpandang demi aliansi politik bisnis orang tua mereka, sebuah pernikahan tanpa cinta yang kering dan formalitas belaka. Ketika mata Adrian bertemu dengan mata Sarwendy di tengah dentingan gelas kristal dan musik klasik yang mengalun lembut, kontrak gaib yang dibuat di Gunung Kawi langsung bekerja dengan kekuatan penuh. Adrian seolah melupakan seluruh status sosialnya, melupakan istri sahnya yang berdiri hanya beberapa meter di dekatnya, dan sepenuhnya terpaku pada sosok Sarwendy yang malam itu mengenakan gaun sutra merah yang mengekspos bahu indahnya. Bagi Adrian, Sarwendy bukan sekadar wanita cantik; dia adalah candu, sebuah obsesi baru yang harus ia miliki tidak peduli berapa pun biaya yang harus ia keluarkan dari pundi-pundi kekayaannya.
Dalam waktu kurang dari dua minggu setelah pertemuan pertama itu, Sarwendy telah resmi menjadi penguasa rahasia di dalam hidup Adrian. Pria itu menyewakan sebuah penthouse termewah di kawasan paling elit di ibu kota, sebuah istana di atas awan dengan fasilitas pelayan pribadi, kolam renang dalam ruangan, dan akses lift khusus yang langsung menuju ke tempat tidur mereka. Sarwendy menerima posisi sebagai istri simpanan itu dengan kepala tegak dan hati yang dipenuhi kemenangan; ia tidak perlu memasak, tidak perlu mengurus urusan rumah tangga yang remeh, dan tidak perlu menghadapi mertua yang cerewet. Tugasnya hanyalah menjadi sosok yang paling indah, paling memikat, dan paling siap memuaskan setiap fantasi Adrian ketika pria itu melarikan diri dari kepenatan dunia bisnisnya. Setiap bulan, jutaan dolar mengalir dari rekening rahasia Adrian ke dalam rekening perusahaan Sarwendy, membiayai ekspansi bisnisnya hingga ke luar negeri, membelikannya perhiasan berlian langka yang harganya setara dengan satu pulau kecil, dan memberikan kekuasaan yang bahkan tidak dimiliki oleh istri sah Adrian. Sarwendy telah mendapatkan semua yang ia minta: ia kaya raya, ia memiliki bisnis raksasa yang terus menggulung uang, dan ia dicintai secara gila-gilaan oleh pria paling berkuasa tanpa perlu merusak bentuk tubuhnya dengan kehamilan.
Namun, danyang Gunung Kawi tidak pernah tidur; mereka selalu menuntut bagian mereka tepat waktu ketika kejayaan sang pemuja sedang berada di puncaknya. Setahun setelah hubungannya dengan Adrian berjalan, ketika Sarwendy sedang menikmati liburan mewah di atas kapal pesiar pribadi di Paris yang didanai penuh oleh kekasih gelapnya, ponselnya bergetar menyampaikan kabar dari tanah air. Ibu kandungnya, wanita yang melahirkannya ke dunia, ditemukan tewas di dalam kamar mandi rumah lamanya dengan kondisi leher patah akibat terpeleset secara misterius. Sarwendy menerima kabar itu sambil menyesap sampanye termahalnya di bawah rona merah matahari terbenam Menara Eiffel. Wajahnya tetap datar, seolah-olah ia baru saja mendengar laporan tentang penurunan saham yang tidak seberapa. Ia tahu betul bahwa ini adalah harga dari kesuksesan butik barunya yang baru saja dibuka di kawasan mode Paris; nyawa ibunya adalah minyak yang melumasi roda bisnisnya agar tetap berputar kencang di pasar internasional. Ketika Adrian mendekatinya dari belakang, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Sarwendy yang tetap ramping sempurna tanpa cacat, dan bertanya apakah ada masalah, Sarwendy hanya berbalik, tersenyum dengan kecantikan mistisnya yang membuat Adrian langsung melupakan pertanyaannya dan menenggelamkan diri dalam pelukan wanita itu.
Sifat dingin dan tanpa empati yang dimiliki Sarwendy justru menjadi bumbu utama yang membuat Adrian semakin bertekuk lutut di bawah kakinya. Adrian berkali-kali menawarkan untuk menceraikan istri sahnya dan menikahi Sarwendy secara resmi agar mereka bisa membangun keluarga dan memiliki keturunan yang akan mewarisi seluruh kerajaan bisnis mereka. Namun, setiap kali topik itu muncul, Sarwendy selalu menolaknya dengan kelembutan yang manipulatif namun tegas. Ia akan membelai rahang tegas Adrian, menatap matanya dengan tatapan menghipnotis, dan berbisik bahwa hubungan mereka yang sekarang jauh lebih murni dan membara karena tidak dikotori oleh urusan birokrasi dan tekanan untuk memiliki anak. Sarwendy dengan jujur, namun dengan nada yang terdengar seperti sebuah pengorbanan romantis, mengatakan bahwa rahimnya adalah tempat yang suci yang hanya dipersembahkan untuk menyimpan cinta mereka berdua, bukan untuk melahirkan anak-anak yang hanya akan memecah perhatian Adrian dari dirinya. Adrian yang sudah sepenuhnya berada di bawah pengaruh sihir pesugihan itu hanya bisa mengangguk patuh, menganggap penolakan Sarwendy sebagai tanda bahwa wanita itu adalah sosok yang unik, mandiri, dan tidak materialistis—sebuah ironi terbesar karena seluruh hidup Sarwendy saat itu justru digerakkan oleh kerakusan akan materi dan darah keluarga sendiri.
Tahun-tahun berlalu, dan satu per satu anggota keluarga Sarwendy yang tersisa habis diambil oleh gunung. Ayahnya meninggal karena serangan jantung mendadak, diikuti oleh adik perempuannya yang paling bungsu yang terserang penyakit aneh yang membuat tubuhnya kurus kering seperti tengkorak hidup dalam waktu satu bulan sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir. Kini, Sarwendy benar-benar sebatang kara di dunia ini, tidak ada lagi satu pun orang yang memiliki hubungan darah dengannya yang masih bernapas. Namun, hilangnya seluruh keluarga kandung itu berbanding lurus dengan kekayaan dan kecantikannya yang justru semakin tidak masuk akal. Di usianya yang seharusnya mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan, kulit Sarwendy tetap sekencang remaja usia dua puluh tahun, tanpa bantuan operasi plastik atau botoks; kecantikannya adalah kecantikan abadi yang dipelihara oleh sisa-sisa energi kehidupan para tumbalnya. Perusahaan "Aura Luxury" miliknya kini telah menjelma menjadi konglomerasi internasional yang menguasai jaringan hotel mewah, lini pakaian haute couture, dan produk kecantikan di berbagai ibu kota mode dunia. Ia berdiri di puncak dunia yang ia ciptakan sendiri dari atas tumpukan tulang belulang keluarganya, menjadi wanita simpanan paling berkuasa yang sejarah bisnis pernah catat, seorang pengusaha sukses yang dikagumi jutaan orang tanpa pernah ada yang tahu bahwa rahasia di balik senyum sempurnanya tersimpan rapat di bawah kabut abadi Gunung Kawi.