Sekolah ini memiliki aroma yang khas, sesuatu yang tidak akan bisa kau temukan di gedung perkantoran modern atau pusat perbelanjaan. Ini adalah perpaduan antara debu semen yang menempel di dinding-dinding tua, bau oli mesin yang meresap ke dalam lantai beton, serta aroma apak kayu yang seolah menolak untuk lapuk dimakan usia. Sebagai mahasiswa magang di sekolah menengah kejuruan ini, tugasku seharusnya hanyalah berurusan dengan berkas-berkas kurikulum dan data administratif. Namun, entah mengapa, takdir seolah sengaja menjebakku di gedung belakang, tempat di mana mesin-mesin berat itu berada.
Gedung itu adalah peninggalan era lama. Langit-langitnya tinggi, dengan jendela-jendela besar berjeruji besi yang sudah berkarat dimakan oksidasi. Setiap kali aku melintas di sana, bulu kudukku sering kali berdiri tanpa alasan yang jelas. Ada tekanan udara yang berbeda, seolah ruangan itu menyimpan massa yang tidak kasat mata. Para guru senior sering berbisik dengan nada rendah tentang "tamu tak diundang" di ruang praktik, atau cerita-cerita tentang mesin bubut dan mesin penggiling yang menyala sendiri tepat tengah malam, padahal listrik sekolah selalu diputus total oleh penjaga sekolah pukul enam sore.
"Jangan terlalu sering menoleh kalau kau merasa ada yang memperhatikan di dekat ruang praktik," bisik Pak Haryo, salah satu guru praktik tertua di sekolah ini, suatu pagi. Tangannya yang kasar memegang cangkir kopi, sementara matanya terlihat sangat lelah—kantung mata yang menghitam itu adalah tanda nyata bahwa dia sudah lama tidak menikmati tidur yang nyenyak. "Tempat ini punya sejarah yang jauh lebih panjang dari sekadar kurikulum teknik, Nak. Ada hal-hal yang terkubur di bawah fondasi ini, hal-hal yang menolak untuk tenang."
Aku hanya tersenyum simpul saat itu, menganggapnya sebagai takhayul orang tua yang terlalu lelah bekerja. Namun, semakin lama aku menjalani hari-hari magang di sana, semakin intens keanehan itu merayap ke dalam keseharianku. Suara langkah kaki di lorong saat jam istirahat, pintu ruang kelas yang terbuka sendiri, atau bisikan-bisikan halus yang terdengar seperti gumaman dalam bahasa yang tidak kupahami.
Sore itu, suasana sekolah terasa jauh lebih berat dari biasanya. Langit di atas Kupang yang biasanya menawarkan rona jingga yang cantik, kini berubah menjadi kelabu pekat dalam hitungan menit. Awan hitam berarak rendah, menelan cahaya matahari hingga sekolah itu tenggelam dalam remang yang mencekam. Hujan yang turun bukan sekadar gerimis sore; itu adalah badai yang mengamuk. Air jatuh dengan intensitas tinggi, menghantam atap seng sekolah hingga suaranya memekakkan telinga, menciptakan simfoni kekacauan yang membuat dadaku sesak.
Aku terjebak di ruang guru. Tumpukan laporan mingguan yang harus kuselesaikan seolah menatapku dengan sinis. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore lewat. Sekolah sudah sangat sepi, hampir tidak ada lagi siswa yang berkeliaran. Hanya tersisa suara tetesan air yang jatuh dari plafon yang bocor dan dentuman guntur yang sesekali menggetarkan kaca jendela.
Ketika aku akhirnya memutuskan untuk membereskan meja dan bergegas pulang, aku melewati koridor panjang yang mengarah ke kelas agama katolik. Ruangan itu memiliki riwayat yang unik; dulunya adalah ruang kantin besar sebelum direnovasi menjadi kelas. Setiap kali melewati ambang pintunya, hawa dingin yang menusuk akan langsung menyambut, seolah-olah ruangan itu berada di dimensi yang berbeda dari bagian sekolah lainnya.
Di depan ruangan itu, berdiri sebuah pohon beringin raksasa. Batangnya besar, berlekuk-lekuk dengan tekstur yang kasar, dan akar-akarnya menjalar ke tanah seperti jemari raksasa yang sedang mencengkeram bumi dengan posesif. Pohon itu terlihat hitam pekat, kontras dengan langit yang abu-abu.
Sesuatu dalam diriku—sebuah insting purba yang tidak bisa kujelaskan—merasa ditarik. Mataku tertuju ke arah lapangan di balik batang beringin itu.
Di tengah guyuran hujan yang merapat, pandanganku mengunci pada satu sosok.
Dia berdiri di sana, di tengah lapangan yang becek dan penuh genangan lumpur. Dia mengenakan seragam praktik khas anak STM—kemeja bengkel berwarna biru kusam yang sudah pudar warnanya, celana panjang dengan banyak saku yang penuh noda oli dan debu industri, serta sepatu *boots* karet yang tenggelam dalam lumpur. Rambutnya pendek sebahu, lepek menempel di tengkuknya karena guyuran hujan.
Dia adalah Raina Amelia Putri.
Namanya muncul di benakku begitu saja, sebuah memori yang entah datang dari mana, seolah-olah takdir sedang membisikkannya ke dalam ingatanku.
Dia mulai bergerak.
Gerakannya bukan seperti gerakan manusia yang sedang berlatih tari. Itu adalah tarian kesakitan. Tubuhnya meliuk-liuk, berputar dengan tempo yang tidak stabil, namun ada kekakuan yang mengerikan pada persendiannya. Setiap kali kakinya menghantam genangan air, percikan lumpur seolah menari bersamanya, membentuk pola-pola yang tak lazim. Itu adalah tarian dendam, tarian tentang penyesalan yang tidak pernah menemukan pintu keluar.
"Raina..." bisikku pelan. Suaraku hampir tertelan oleh suara gemuruh hujan.
Seolah mendengar namaku yang kusebut, dia berhenti berputar secara mendadak. Dia memutar lehernya dengan gerakan yang patah-patah, lalu menoleh lurus ke arahku.
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Detik itu, waktu seolah melambat. Dalam kilatan petir yang menyambar, aku melihat wajahnya dengan sangat jelas. Sisi kanan wajahnya tidak lagi utuh—kulitnya koyak, dagingnya hancur, memperlihatkan jejak mesin penggiling berat yang pernah merenggut nyawanya bertahun-tahun silam. Itu adalah luka yang sangat brutal, sebuah memori dari kecelakaan praktik yang tragis. Namun, yang jauh lebih menakutkan dari lukanya adalah sorot matanya.
Mata itu—gelap, tajam, dan penuh dengan akumulasi dendam yang membeku selama belasan tahun—seolah menembus tirai hujan, menembus jarak, dan langsung menghujam ke dalam jiwaku. Dia tidak sekadar menatapku; dia sedang menilaiku. Dia sedang menari dalam tangis, namun dalam amarah yang meluap. Dia tampak seperti tidak siap untuk menerima kematiannya, namun di saat yang sama, dia membenci kehidupan yang tidak memberinya kesempatan.
Di sekelilingnya, udara terasa bergetar. Aku bisa mendengar suara jeritan-jeritan halus yang tertahan di balik gemuruh hujan—suara siswa lain, suara guru, atau mungkin suara dari masa lalu yang terjebak di sekolah ini. Pohon beringin itu seolah menjadi pusat dari segalanya, akar-akarnya menggeliat seperti ular hitam yang lapar, mencoba menariknya kembali ke dalam tanah.
Aku ingin lari, tapi kakiku terasa berat. Ribuan tangan tak kasat mata seolah memegangi pergelangan kakiku, melarangku untuk bergerak.
"Mengapa kau menari, Raina?" batinku bertanya, meski suaraku tertahan di kerongkongan.
Seolah menjawab pertanyaanku, Raina menghentakkan kakinya ke tanah dengan sangat keras. Seketika itu juga, gelombang energi dingin menyapu sekolah. Lampu-lampu koridor yang mati secara ajaib berkedip terang secara serentak, lalu meledak satu per satu dalam percikan api kecil, meninggalkan koridor dalam kegelapan total.
Kegelapan itu menyelimutiku. Namun, di saat itulah, aku sadar bahwa aku tidak sendirian. Sesuatu yang hitam, besar, dan jahat sedang memperhatikan kami berdua dari balik dahan beringin. Sosok Kuntilanak penunggu pohon itu mulai menampakkan kehadirannya, berusaha menguasai tarian Raina, berusaha mencengkeram jiwa gadis itu agar tetap menjadi bagian dari sekolah yang terkutuk ini.
Dalam sekejap, hujan berhenti. Suasana mendadak sunyi senyap, seolah dunia berhenti berputar. Saat aku mengedipkan mata, Raina lenyap. Hanya menyisakan genangan air yang tenang di lapangan, tanpa riak, tanpa jejak.
Aku terduduk lemas di ubin yang dingin. Napasku memburu, dadaku terasa sesak. Di pergelangan tanganku, samar-samar, aku merasakan sensasi panas, seperti bekas luka yang baru saja terbakar. Aku baru saja masuk ke dalam dunianya. Dan aku tahu, mulai saat ini, dia akan selalu ada di sana, menungguku untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada Jumat kelabu itu. Tarian jiwa mati ini baru saja dimulai, dan aku adalah satu-satunya saksi hidup yang tersisa.