Untuk dirimu yang masih menungguku,
Ini adalah kisah seorang laki laki pengecut.
Semenjak kecil hidup ku penuh dengan bunga. Maksudku, dari kecil ekonomi keluarga ku berjalan dengan stabil. Ayah bekerja dengan anak sulungnya. Ibu tetap menjadi peran rumah tangga. Sungguh, saat itu aku seperti merasakan bahwa hidup sangat indah jika ekonomi keluarga stabil. Orang tua ku selalu berusaha memberikan apa pun yang aku mau jika itu memang di butuhkan. Mereka (orang tua) sangat akrab pada saat itu, rumah kami penuh dengan tawa dan kebahagian.
Tapi kebahagian itu berkurang sedikit demi sedikit. Dimulai dari ayahku yang terkena penyakit yang membuatnya harus masuk kedalam rumah sakit dan menjalankan operasi. Aku tidak tau dia sakit apa, karena sungguh aku sangat tidak dekat dengan ayahku. Semenjak ayah sakit, ekonomi kami menurun drastis. Mungkin karena yang bekerja pada saat itu adalah ayah dan kakak pertama ku, sehingga ketika ia sakit membuat kakak ku bekerja sendirian.
Di kondisi ini membuat ibu harus bekerja keluar kota demi mencari pekerjaan yang katanya mendapatkan gaji lebih besar daripada di kota yang sedang ia tinggali. Ia hanya bekerja satu tahun, selama itu putra sulung lah yang selalu merawat ayah di rumah sakit. Aku mungkin ingin membantu, tapi saat itu aku masih belum di perbolehkan masuk kedalam rumah sakit.
Hari demi hari kami (mungkin aku juga?) berdoa kepada tuhan untuk membantu masalah ini. Sampai akhirnya setahun berlalu, sampai akhirnya ibu pulang dari pekerjaannya. Saat itu, ayah sudah di perbolehkan untuk pulang. Aku merasa senang karena ibu bisa kembali berkumpul dengan kami.
Tapi aku merasakan ada yang aneh dengannya. Aku menyadari satu hal. Sikap ibu mulai berubah. Jujur dia adalah wanita yang sangat ku cintai sebagaimana layaknya seorang ibu dan anak. Tapi kali ini aku menemukan sifat buruknya. Ketika ayah sedang tidur, ibu mulai menelpon seseorang yang jika ku dengar suaranya adalah laki-laki. Saudara? Awalnya aku berpikir begitu, sampai akhirnya aku salah. Itu adalah "pacar" mamah.
***
Ini menyakitkan, hari demi hari ibu selalu berkomunikasi dengan laki-laki asing itu yang bahkan aku belum tau nama ataupun wajahnya. Bahkan ketika ayah sudah pulih dari penyakitnya, ia tetap melakukan hal itu sampai sekarang.
Tidak sampai di situ, semenjak ekonomi kami menurun, suasana rumah juga mulai berubah. Ayah dan ibu sering bertengkar. Terkadang ibu di buat menangis dengan watak ayah yang kaku dan pemarah. Aku juga merasakan hal itu. Ayah adalah laki-laki pemarah, entah kenapa aku adalah satu satunya yang selalu menjadi amarahnya. Ia juga mengatakan bahwa aku ini adalah anak idi*t.
Aku tidak berani menanyakan alasannya, karena aku juga tidak peduli sama sekali. Sungguh.
Pertengkaran mereka tiada habisnya, bahkan ibu juga masih berkomunikasi dengan pria aneh itu. Semua peristiwa ini menimbulkan rasa takut yang tumbuh di dalam diriku. Rasa takut kepada lawan jenis. Wanita. Aku tidak tau harus menjelaskan bagaimana. Aku benar benar merasakan takut ketika harus berhubungan atau berkomunikasi dengan lawan jenis. Rasa takut ini membuatku mengatakan sesuatu yang mungkin bisa di bilang gila. "Aku berjanji, aku tidak ingin jatuh suka kepada wanita."
Alasanku merasakan takut ini hanya satu, aku takut bahwa semua wanita akan sama dengan ibuku. Aku takut ketika aku berasa di level terendah, mereka (para wanita) melakukan hal yang sama seperti ibuku. Sungguh, aku sangat membenci wanita, tetapi aku tidak menyukai sesama jenis.
***
Rasa takut ini tetap ada sampai sekarang. Aku yang sekarang sudah berusia 18 tahun ini tetap merasakan hal yang sama. Tidak ada yang berubah dariku.
Suatu hari, aku mendengar kabar bahwa ada seseorang wanita yang menyukaiku. Mendengar hal itu, hatiku terasa sangat sakit. Tubuhku mengeluarkan banyak keringat, perutku juga sakit. Rasanya aku ingin sekali memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutku. Rasa takut itu muncul. Aku benci ini.
Tapi aku berusaha untuk tetap diam, layaknya seorang anak yang bisu. Aku tidak ingin membuatnya sakit hati. Aku sangat menghargai perasaan itu. Aku begitu penasaran, seperti apa wanita yang katanya menyukaiku. Yang ada di dalam pikiran ku saat itu adalah seorang wanita tinggi dengan rambut poni dan lesung pipi. Tapi ternyata aku salah, dia hanyalah perempuan berkaca mata. Tebakanku hanya benar di lesung pipi.
Entah sejak kapan aku mengajaknya berbicara untuk pertama kali. Aku sudah lupa. Bahkan ketika menanyakan namanya saja aku sudah lupa. Tapi yang pasti dia adalah ******. Yang pasti aku menghabiskan banyak waktu dengannya tanpa aku sadari. Tapi saat itu aku sadar, kenapa aku tidak meras takut ketika berbicara dengannya?
Dia sedikit pemarah, tapi dia juga baik. Dia adalah satu satunya teman wanita yang sudah aku anggap "akrab" denganku. Dia juga orang yang selalu mendukungku dari belakang, ketika aku sedih ia selalu memberiku semangat. Sungguh. Aku tidak merasakan rasa takut ketika berada di dekatnya.
Terkadang ketika kami sedang berdua, suasana menjadi canggung. Kami hanya diam. Tapi aku ingin sekali mengajaknya berbicara. Aku ingin menanyakan kabarnya dan kondisinya. Tapi perempuan mana yang suka jika ada laki-laki jelek bertanya tentang hal itu?
Aku sempat berpikir "apakah aku menyukai dia?" Tapi pemikiran itu langsung kutolak begitu saja, mana mungkin dia menyukai cowok pendek, jelek, dan bodoh seperti aku? Mungkin rumor tentang dia menyukai ku itu hanyalah kebohongan.
Sampai sekarang aku masih bingung dengan rasa ini. Tapi jika benar dia menyukai ku, maka aku ingin sekali mengatakan maaf kepadanya. Aku masih takut dengan hal itu. Tapi percayalah, aku sedang berusaha menghilangkan rasa takut ini. Tapi mungkin hanya akan memakan waktuku.
Rasanya masih sulit menghilangkan rasa takut ini, karena aku adalah laki-laki pengecut. Aku hanya bisa mengucapkan maaf dan terima kasih kepada tuhan karena telah mempertemukan ku dengan dia.