Ruang Nostalgia
Aroma bubuk kopi yang pekat bercampur dengan embun dari mesin pendingin ruangan langsung menyambut Della begitu dia mendorong pintu kaca kafe. Suasana sore itu cukup ramai.
Della mengedarkan pandangan, mencari meja kosong di sudut dekat jendela, tempat favoritnya kalau sedang malas berinteraksi dengan dunia luar.
Dia menarik kursi, meletakkan tas tas kecilnya, lalu melirik jam di pergelangan tangan. Sudah jam empat lewat lima belas menit.
"Reno kebiasaan, kalau janji jam empat baru jalan jam empat," gumam Della ketus sambil membuka ponselnya.
Baru saja dia mau mengetik pesan protes untuk temannya itu, pandangannya mendadak terpaku pada punggung seorang cowok yang sedang berdiri di depan meja kasir.
Cowok itu tinggi, memakai kemeja flanel gelap dengan lengan yang digulung sampai siku. Potongan rambutnya rapi, tipe cowok yang lurus-lurus saja dan tampak teratur.
Dada Della mendadak berdesir agak aneh. Siluet itu terasa sangat familier. Punggung kaku yang tegak itu mengingatkannya pada seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak dia dengar kabarnya.
Farhan.
Della mengerjapkan mata, mencoba menghalau bayangan masa lalu yang tiba-tiba berputar di kepalanya.
Pikiran Della langsung terlempar kembali ke ruang kelas XI-IPA 2 yang selalu berisik seperti pasar malam setiap kali jam kosong.
Di kelas itu, Della adalah tipe siswi yang duduk di barisan belakang, santai, dan baru panik kalau bel masuk berbunyi sementara tugas matematika belum disentuh sama sekali.
Sedangkan Farhan? Dia adalah si anak emas guru-guru, ranking satu umum yang duduk di barisan depan dengan meja yang selalu rapi.
"Farhan, lo mah pelit banget sih jadi manusia! Cuma minjam rumus diskriminan doang gak dikasih!"
Suara cempreng Reno menggema di ingatan Della. Dulu, Reno selalu jadi ketua geng barisan belakang yang hobi bikin rusuh.
"Makanya belajar, Ren. Jangan main gim terus," jawab Farhan waktu itu, suaranya datar tanpa ekspresi, bahkan tanpa menoleh dari buku paketnya.
"Sok tegang lo, Han! Tuh, si Della juga belum ngerjain, emang lo tega liat dia berdiri di depan kelas dijemur Pak Bambang?" sahut Reno lagi, memprovokasi.
Saat itu, Della yang baru datang dengan napas terengah-engah hanya bisa nyengir pasrah di ambang pintu. Tapi anehnya, Farhan yang biasanya langsung menutup buku kalau didekati Reno, mendadak menggeser buku tugasnya ke ujung meja yang paling dekat dengan jalur jalan Della. Tanpa sepatah kata pun.
Cewek-cewek penyorak di pojokan kelas yang melihat momen itu langsung heboh.
"Ciyeee! Farhan mah pelitnya cuma ke Reno doang! Kalau ke Della mana bisa!"
ledek mereka kompak, membuat pipi Della saat itu mendadak terasa panas, sementara Farhan hanya berdeham pelit sambil pura-pura sibuk menulis.
Della tersenyum sendiri mengingat memori konyol itu. Masa-masa SMA yang berisik, ramai, dan penuh drama kecil. Setelah lulus, semuanya buyar begitu saja.
Farhan kuliah di luar kota, Della sibuk dengan dunianya sendiri, dan mereka kehilangan kontak sama sekali seolah-olah tidak pernah saling kenal.
"Della, kan?"
Sebuah suara berat membuyarkan lamunan Della.
Della tersentak, mendongak, dan hampir saja menjatuhkan ponselnya. Cowok berkemeja flanel tadi sekarang sudah berdiri tepat di samping mejanya, memegang secangkir iced americano.
Wajahnya sudah jauh lebih matang, rahangnya lebih tegas, tapi sorot matanya yang tenang itu tidak berubah sama sekali.
"Farhan?" Della memastikan dengan nada sangsi.
Farhan tersenyum tipis—jenis senyuman kecil yang dulu jarang banget dia tunjukkan di kelas. "Gue pikir gue salah lihat dari kasir tadi. Boleh gue duduk di sini?"
"Eh? Boleh, boleh. Duduk aja," jawab Della agak gugup, mendadak kehilangan gaya santainya.
Farhan menarik kursi di depan Della lalu meletakkan kopinya. Suasana sempat hening beberapa detik, terasa agak canggung karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tapi getaran familier itu langsung terasa menyelimuti meja mereka.
"Apa kabar, Del? Masih hobi telat?" tanya Farhan memecah keheningan dengan nada meledek yang santai.
Della mendengus, rasa canggungnya langsung menguap digantikan rasa kesal yang familier.
"Sialan. Ketemu lagi setelah sekian tahun, yang ditanyain malah hobi telat. Kabar gue baik. Lo sendiri gimana? Jadi ilmuwan ya sekarang?"
Farhan tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah. "Gak lah. Cuma kerja di perusahaan swasta biasa, bagian analisis data. Gak sekeren bayangan lo."
"Tetep aja mainannya angka. Emang dasar otaknya beda," sahut Della sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Eh, lo tahu gak, si Reno sekarang buka bengkel modifikasi motor. Tapi sifat rusuhnya gak hilang. Ini gue lagi nungguin dia, tapi anaknya belum muncul juga."
"Reno? Hebat juga dia," kata Farhan, matanya menatap Della dengan lekat.
"Gue malah gak tahu kabar anak-anak lagi sejak pindah. Makanya pas lihat lo di sini, gue beneran kaget."
Obrolan pun mengalir begitu saja dengan sangat natural.
Mereka mulai ngetawain hal-hal absurd zaman sekolah. Tentang guru sejarah yang suka ketiduran saat menyetel video dokumenter, tentang geng cewek pojokan kelas yang sekarang sudah pada menikah, sampai kebiasaan Della yang hobi mencontek.
"Tapi serius deh, Han," Della menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Farhan dengan rasa penasaran yang sudah dia pendam sejak dulu.
"Gue dari dulu penasaran. Lo kan terkenal pelit banget sama yang namanya contekan. Si Reno sampai mau nangis darah aja gak pernah lo kasih. Tapi kenapa tiap kali gue yang belum ngerjain tugas, lo selalu sengaja naruh buku lo di tempat yang gampang gue intip?"
Farhan terdiam sebentar.
Dia menyesap kopinya lambat-lambat, seolah sengaja mengulur waktu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius.
"Lo beneran mau tahu?" tanya Farhan balik.
"Iyalah. Masa misteri masa lalu gak terpecahkan."
Farhan memajukan sedikit badannya, menumpukan kedua lengannya di atas meja, menatap Della lurus-lurus tanpa ragu.
"Dulu gue sengaja selalu nulis rumus ringkas di ujung meja, atau nyisain space lembar jawaban yang gampang lo contek. Soalnya kalau lo gak contek punya gue, lo pasti bakal remedial."
"Ya iya, terus?"
"Kalau lo remedial, lo harus ikut kelas tambahan sore. Dan kalau lo ikut kelas tambahan, lo gak bakal bisa pulang bareng anak-anak kelas. Lo bakal pulang sendirian," kata Farhan dengan nada suara yang sangat tenang tapi lugas.
"Gue cuma mau lo tetep sekelas sama gue di semester berikutnya, Del. Biar gue gak perlu nyari alasan buat bisa ngeliat lo tiap hari."
Della langsung membeku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau jawaban Farhan bakal se-blak-blakan ini dengan gaya santainya yang tanpa beban.
Ternyata, kebaikan kecil di masa lalu itu punya arti yang jauh lebih dalam.
Sebelum Della sempat merespons, sebuah suara cempreng yang sangat dikenal memotong momen mereka.
"WOY! Della! Farhan?!"
Reno tiba-tiba muncul dengan jaket denim belewengnya, langsung menepuk pundak Farhan dengan heboh sampai cowok itu hampir tersedak.
"Demi apa lo berdua berduaan di sini?! Gila, reuni mini kagak ngajak-ngajak gue!"
Suasana romantis yang baru saja terbangun langsung ambyar seketika karena kehebohan Reno.
Della berdeham, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih karang-kabut, sementara Farhan hanya tersenyum maklum melihat tingkah ajaib temannya yang tidak berubah.
Reno langsung duduk di kursi kosong di samping mereka, memesan minuman dengan suara keras, dan langsung nyerocos menceritakan banyak hal tanpa titik koma.
Della hanya menanggapi seadanya, sementara fokus matanya sesekali melirik ke arah Farhan yang juga sedang menatapnya diam-diam di sela-sela omongan Reno.
Setengah jam berlalu dengan obrolan segitiga yang didominasi oleh Reno. Farhan kemudian melirik jam tangannya lalu berdiri.
"Ren, Del, gue kayaknya harus cabut duluan. Ada urusan kerjaan yang harus diselesaiin sore ini."
"Yah, buru-buru amat lo, Han! Baru juga kangen-kangenan," protes Reno.
"Next time kita nongkrong lagi," kata Farhan santai.
Dia kemudian menatap Della. Ada kilat kecewa yang sempat tertangkap di matanya, seolah dia belum puas mengobrol berdua dengan Della.
Della merasakan ada perasaan tidak rela yang mendadak muncul di dadanya.
Dia takut kalau pertemuan ini selesai begitu saja, mereka akan kembali menjadi dua orang asing yang berjalan di jalur berbeda selama bertahun-tahun ke depan.
Dia tidak mau kehilangan momen ini lagi.
Pas Farhan baru saja berbalik mau melangkah, Della langsung memanggilnya refleks.
"Farhan!"
Farhan berbalik.
Tapi ternyata, tangannya sudah memegang ponselnya sendiri yang layarnya sudah menyala. Cowok itu tersenyum, mengarahkan layar ponselnya ke depan Della.
"Del, nomor lo yang belakangnya 07 dulu masih aktif?" tanya Farhan langsung, memotong kalimat yang belum sempat Della ucapkan.
"Gue gak mau kehilangan kontak lo lagi kayak pas lulusan dulu."
Della terpaku sejenak, sebelum akhirnya senyum lebar terkembang di wajahnya. Rasa hangat menjalar di hatinya. Dia mengeluarkan ponselnya sendiri dari tas.
"Udah ganti. Sini, gue ketik nomor baru gue," jawab Della lugas.
Farhan memberikan ponselnya, membiarkan Della mengetik deretan angka di sana.
Setelah selesai, Farhan menerima kembali ponselnya, memasukkannya ke saku kemeja, lalu menatap Della dengan tatapan yang jauh lebih berani daripada zaman SMA dulu.
"Gue duluan ya. Nanti malam gue chat. Akhir pekan ini luang, kan? Kita jalan berdua, bukan buat ngerjain tugas matematika lagi," kata Farhan sambil mengedipkan sebelah matanya tipis.
"Woy, gue gak diajak?!" teriak Reno dari kursinya, tapi langsung dikacangin oleh Farhan yang hanya melambaikan tangan tanpa menoleh sambil berjalan keluar kafe.
Della kembali duduk di kursinya dengan perasaan yang membuncah.
Dia memperhatikan punggung Farhan yang perlahan menghilang di balik pintu kaca kafe.
Kali ini, Della tahu pasti kalau langkah kaki cowok itu tidak akan membawanya pergi terlalu jauh lagi.
Mereka bukan lagi sekadar memori masa lalu di lembar jawaban; mereka adalah cerita baru yang baru saja dimulai.
TAMAT~