Malam itu, bulan kembali menghiasi langit dengan cahayanya yang memancar lembut, ditemani bintang-bintang yang bertaburan. Di bawah sinarnya yang tenang, seorang mahasiswa baru berjalan perlahan menuju apartemennya. Usianya baru menginjak delapan belas tahun tahun, namun beban yang dipikul terasa jauh lebih berat dari usianya. Kesunyian mengitari dirinya di bawah bayang sinar rembulan. Dengan raut wajah pasrah penuh tekanan hidup membuatnya hampa
Masa SMA telah berlalu dengan berbagai kenangan, baik manis maupun pahit. Baginya, masa itu adalah masa-masa penuh dengan kesepian. Dia adalah seorang pengamat yang selalu berada di pinggir, tidak pernah benar-benar masuk ke dalam lingkaran pertemanan. Namun, dia tetap seorang mahasiswa berprestasi, meski dalam kesendiriannya.
Malam itu berbeda.
Alih-alih pulang langsung ke apartemennya, Zeedan memutuskan untuk berjalan tanpa arah. Dia terhenti di sebuah taman kecil yang sepi, tempat di mana ia bisa merenung. Rasa penat dan hampa selalu menyelimutinya. Tanpa sadar, air mata mengalir di pipinya. Kenangan tentang keluarganya yang hancur dan harapan yang pupus terus menghantuinya.
Zeedan duduk di bangku taman itu, membiarkan air mata mengalir tanpa hambatan. Di bawah sinar bulan yang lembut, pikirannya kembali ke masa-masa sebelum semuanya berubah. Keluarganya dulu bahagia, penuh canda tawa dan kehangatan. Namun, takdir merubah segalanya. Rumah yang dulu hangat kini terasa dingin dan kosong, meninggalkan luka yang dalam di hatinya.
Suara langkah kaki membangunkan Zeedan dari lamunannya. Dia menoleh dan melihat seorang gadis berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. “Hei.. kamu nggak papa?” tanya gadis itu dengan suara pelan. Wajahnya tampak lembut di bawah cahaya bulan, berambut panjang halus biru kehitaman, dengan wajahnya yang putih dan halus, bagai terang bulan purnama dengan mata yang tampak peduli dan penasaran. “Ti.. Tia?” kata Zeedan melihat sosok gadis itu dengan samar.
“Siapa dia?” tanya gadis itu. Zeedan mengusap air matanya, merasa malu karena menangis di depan orang. “Ah, iya, aku nggak apa-apa. Cuma lagi merenung aja,” jawabnya, mencoba tersenyum meskipun hatinya masih terasa berat.
“Aku sering datang ke sini kalau lagi stres. Taman ini punya suasana yang menenangkan, ya,” katanya sambil melihat ke arah langit yang penuh bintang. “Terkadang, kita butuh waktu untuk menangis, tapi jangan lupa untuk bangkit lagi” ucap gadis itu dengan lembut namun penuh keyakinan.
Gadis itu mengeluarkan sapu tangan dari tasnya dan menyerahkannya kepada Zeedan. “Nih, jangan sampai pilek, dingin tau” lanjutnya dengan senyum hangat. Zeedan mengambil sapu tangan itu dengan tangan yang gemetar. “Terima kasih” ucapnya lirih, merasa sedikit terhibur oleh perhatian sederhana itu. Sosok gadis itu, mengingatkan Zeedan pada sosok hangat yang selalu ada untuk dirinya.
Setelah memberikan sapu tangan, gadis itu berdiri sejenak. “udah ya, aku pergi dulu” katanya sebelum berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Zeedan yang masih terkejut dengan pertemuan singkat tersebut. Dalam keheningan malam, Zeedan merasa ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya, seolah-olah ada sedikit beban yang terangkat dari pundaknya.
Zeedan melihat sapu tangan di tangannya, memperhatikan tanda yang dijahit rapi di sudutnya, sebuah huruf “N” yang elegan. Dia merasakan hangatnya perhatian dari orang yang muncul tiba- tiba. Sambil tersenyum kecil, dia berpikir, “Ah... aku lupa menanyakan namanya.”
Malam yang kelam itu berlalu, dan kini Zeedan harus mengikuti kelas dengan raut wajah yang datar. Saat bel berbunyi menandakan jam pelajaran akan dimulai, Zeedan mengambil tempat duduknya di pojok ruangan. Dia hanya memperhatikan pelajaran tanpa sekalipun berinteraksi dengan yang lainnya, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Teng,” bel kembali berbunyi, menandakan waktu istirahat telah tiba. Para mahasiswa lainnya segera bangkit dari tempat duduk, bercengkrama dan melepas penat dengan candaan riang dan gembira. Namun, Zeedan tetap di tempatnya, tidak bergeming.
Dia membuka buku catatannya, berpura-pura sibuk, meskipun pikirannya masih terbayang pada malam hari itu. Tatapannya jatuh pada sapu tangan bertulisan huruf “N” yang anggun terlipat rapi di antara halaman bukunya. Sekilas, dia merasakan kembali hangatnya perhatian dari gadis itu.
Zeedan menghela napas panjang dan mencoba fokus kembali pada catatannya. Namun, pikirannya terus kembali pada gadis misterius itu. “Siapakah dia? Mengapa dia peduli pada ku?” pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Zeedan memutuskan untuk tidak tenggelam dalam pikirannya lagi. Mungkin, pikirnya, dia bisa menemukan jawaban jika dia mulai membuka diri. Dengan sapu tangan “N” sebagai petunjuk.
Jam sudah menunjukkan waktu tujuh malam, tepat pada saat kelas Zeedan selesai. Para remaja mulai bergegas untuk pulang, tak terkecuali dirinya. Zeedan terlihat murung seperti biasa dengan tatapan muram. Saat dia keluar dari kelas, Zeedan memperhatikan beberapa senior sedang melakukan bullying kepada mahasiswa lainnya. Zeedan hanya mengacuhkannya dan terus melanjutkan perjalanan. Hanya saja tindakan tersebut membawa akibat bagi dirinya sendiri.
Salah satu senior memanggil dengan nada yang merendahkan. “Hei, lo pikir lo mau pergi ke mana dengan wajah bodoh seperti itu? Lo buat kita jengkel aja dengan wajah jelek lo itu. Dah gua bilang ke lo dari kemarin juga” ucap seorang senior mencegat arah Zeedan pergi.
Para senior membawa Zeedan ke tempat terpencil, kemudian mulai mengintimidasi dan bahkan menyiramnya dengan ember penuh air dingin, tubuh Zeedan gemetar akibat dingin, sementara pakaiannya basah kuyup. “Huh? sapu tangan apa ini” ucap salah satu senior.
“Brekk” suara sapu tangan dengan sengaja dirobek.
Zeedan yang hanya berdiam diri menatap sapu tangan yang retas berhelai-helai jatuh keluar jendela. Pikirannya sudah penuh dengan semua hal. Zeedan sudah tidak punya lagi orang yang bisa membantunya, yang tersisa hanyalah rasa kehampaan dalam dirinya yang mendalam.
Waktu telah berlalu, Suasana malam yang sunyi menyelimuti kampus setelah semua mahasiswa pulang, meninggalkan satu-satunya sosok gadis yang menggambarkan paras sang bulan yang terlihat berjalan dengan langkah pelan di bawah sinar rembulan. Matanya tidak sengaja menangkap sebuah serpihan sapu tangan yang tergeletak. Gadis itu mendekati sapu tangan tersebut. Saat mengambilnya, dia terkejut karena dalam kondisi yang basah. Namun, kejutan sebenarnya datang saat dia menyadari bahwa sapu tangan itu bertuliskan tanda “N”.
Ketika hendak menelusuri sekitar, pandangannya tertuju pada jejak basah yang menuntun ke arah tangga atas. Rasa penasaran membuat dirinya ingin mengetahui hal yang lebih jauh. Sambil memegang sapu tangan basah miliknya itu. Dengan langkah berdebar, gadis itu menelusuri jejak basah tersebut, pikirannya dipenuhi dengan segala kecemasan yang mungkin terjadi.
Benar saja, jejak basah mengarahkannya ke bagian paling atas gedung kampus, terlihat seseorang di luar pinggiran gedung menatap rupanya bulan namun tertutupi gumpalan awan “bahkan bulan tak lagi menemani diriku” bisiknya. Tubuhnya lelah, merasakan dingin yang menusuk tulang. Sungguh, ia sudah bersiap mengakhiri penderitaannya dan bertemu Sang Pencipta, mencari jawaban atas pertanyaan “untuk apa aku dilahirkan?”.
“ZEEDANN!” Teriakan penuh kekhawatiran terdengar disambut dengan matanya yang terbelalak dari si gadis berlari menuju remaja itu yang menatap langit terselimuti awan tebal.
Zeedan, terkejut oleh teriakan itu, spontan berpaling dan melihat gadis yang berdiri di hadapannya. Terlihat awan mulai bergerak memunculkan kembali cahaya rembulan yang hadir menyinari gadis itu. Zeedan tiba-tiba meneteskan air mata, lalu mulai letih terserang oleh rasa dingin.
Tubuhnya limbung di pinggir atap gedung “Ti..a?”, gadis itu dengan cepat meraih tangan Zeedan yang ingin jatuh, lalu menariknya ke tengah atap gedung. Gadis itu, dengan cepat menampar wajah Zeedan. “Apa yang kamu lakukan?! Kamu tidak boleh melakukan ini!” serunya dengan suara yang bergetar namun tegas.
Zeedan terkejut, matanya melebar saat menatap sosok gadis itu dan melihat tanda pengenalnya, “Nadya” sang bunga kampus yang memiliki pesona seperti rembulan. Rasa sakit dari tamparan itu membuatnya tersadar dari kebingungannya. Air mata mulai mengalir di pipinya saat dia merasakan rasa sakit yang sebenarnya tidak hanya di pipinya, tetapi juga di hatinya. Nadya, dengan keanggunannya dan ketegasan yang memancarkan kewibawaannya, memandangnya dengan campuran kekhawatiran dan ketegasan.
“Aku... aku hanya tidak tahu harus bagaimana lagi,” ujarnya dengan suara serak. “Semuanya terasa begitu berat dan tidak ada jalan keluar.”
Nadya menggelengkan kepala, menatap Zeedan dengan mata penuh keprihatinan. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa kau sadar yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan itu?” tanya gadis itu sosok sebenarnya yang bernama Nadya. Mendengar perkataan Nadya, Zeedan kembali berwajah muram.
Detik demi detik berlalu suasana mulai hening dan canggung. “Maaf aku banyak tanya ya.., sepertinya aku terlalu ikut campur” kata maaf terucap dari mulut Nadya.
“Aah... nggak kok, ini bukan salahmu, ini semua karena kebodohanku. Baiklah, aku bisa menceritakannya padamu,” ujar Zeedan dengan suara yang sarat kesedihan. “Sebenarnya, yang terjadi... kakakku, telah pergi meninggalkan dunia ini.” Dengan berat hati, Zeedan mulai membuka diri kepada Nadya, menceritakan segala masalah yang menghantuinya dalam kesedihan, kehilangan, dan kehampaan yang membuat hidupnya terasa tak berarti. Hingga pada titik di mana ia merasa putus asa dan mencoba mengakhiri penderitaannya sendiri.
“Aku tahu ini berat bagimu. Namun, dibalik itu, aku yakin kau pasti bisa menghadapinya,” kata Nadya dengan lembut, mencoba menenangkan Zeedan. “Aku tahu ia sangat berharga bagimu, tapi kau harus mengikhlaskan dia dan memulai semuanya dengan kenangan manis yang baru.”
“Ya, benar. Kakakku sangat berharga bagiku. Dia begitu hangat, bagai rembulan yang selalu ada menemaniku. Aku ini seorang introvert yang pengecut. Namun, sejak kecil hingga sekarang, hanya kakakku yang selalu menemaniku. Dia selalu ada di sampingku saat aku sakit, sedih, bingung, dan lainnya. Kakak rela menghabiskan waktu bersamaku, meski aku seorang pengecut. Aku yakin dia akan lebih bahagia jika bersama orang lain dengan kepribadian yang lebih baik daripada aku” ucap Zeedan sambil menahan pedihnya air mata.
“Hey, yang kau katakan tidak benar. Siapa yang bilang kamu pengecut dan bukan siapa-siapa? Kamu adalah adiknya. Kenapa kamu berpikir seperti itu? Faktanya, kakakmu selalu menerimamu apa adanya karena tentu saja dia menyayangimu,” kata Nadya, berusaha menyemangati Zeedan yang terpuruk.
Perkataan Nadya membuat hati Zeedan yang sedang terpuruk merasa sedikit tenang dengan kehadirannya di sini. Zeedan melihat ke arah luar, menatap bulan di langit-langit. “Malam sudah begitu larut, bintang-bintang bertaburan, dan rembulan terlihat sangat indah di sini,” ujarnya.
Nadya semakin menatap khawatir Zeedan. Matanya sendu menatap Zeedan yang terlihat pasrah akan penderitaannya. Jari-jemarinya sigap menjemput tangan Zeedan yang kini ia genggam dengan erat. Genggaman itu membuat kekhawatiran Zeedan mereda, tatapan keduanya saling sambut membuat suasana manis ala film romansa..
“Heyy... aku penasaran tentang kakakmu, ceritakan lagi dong padaku tentangnya” ujar Nadya mencoba menenangkan suasana dengan senyum manis hangatnya.
Zeedan menghela nafas mengendalikan emosinya agar tidak terlalu tegang dengan suasana ini. Membuat ketegangan di hati Zeedan luruh.
“She.. used to be my everything” kata terucap dari mulut Zeedan. Berat baginya untuk menceritakan hal itu setelah kepergiannya, bahwa sosok kakaknya, yang telah memenuhi ruang di hatinya. Meskipun ketakutan melanda, Nadya semakin menggenggam erat tangan Zeedan, seolah-olah mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja ada aku di sini.
Waktu terasa semakin berlalu, obrolan itu terlihat seperti dua Handai yang sedang menceritakan salah satu orang kesayangan mereka. Di bawah cahaya rembulan yang memancar lembut, bagaikan dua insan yang larut dalam kenangan pahit-manis masa lalu.