Untuk kedua kalinya, aku harus merasakan betapa sakitnya ditinggal sendirian dari sosok yang berperan untuk menjagaku.
Aku tidak menjual kesedihan, tapi percayalah di kehidupan yang penuh cobaan aku harus merelakan kepergian orang yang terus menjagaku selama ini.
Semuanya berawal ketika aku masih berada di bangku sekolah dasar.
Ibuku menitipkan aku di rumah ayah. Dia beralasan harus pergi jauh, tapi nyatanya ia tidak ingin merawat ku dan mencoba meninggalkan tanggung jawab nya sebagai seorang Ibu.
Kemudian, ayah menerimaku lagi. Awalnya mereka tidak menginginkan anak seperti ku. Dokter pernah bilang kalau kondisi mental ku lemah, jadi emosi ku sering tidak stabil.
Ayah tetap tulus mencintai ku sebagai seorang anak. Meski masih duduk di sekolah dasar, aku sangat ingin membalas kebaikan ayah.
────
Aku dan Ayah tinggal di rumah pemberian mendiang kakek. Di sana masih terpajang foto ayah ketika masih muda, bersama keluarganya.
Langkahku terhenti, aku mulai menatap foto itu lama. Mataku tidak berkedip, di dalamnya ayah masih terlihat bahagia, jauh ketika dia bersama Ibu.
Selain foto ada beberapa barang milik ayah yang sering ia kenakan. Misalnya syal musim dingin yang benangnya mulai terurai keluar dan kamera kecil yang ayah gunakan untuk bekerja.
Ayah ku bekerja di kantor pajak, tetapi jika dia senggang ayah akan kerja sambilan sebagai 𝘱𝘩𝘰𝘵𝘰𝘨𝘳𝘢𝘱𝘩𝘦𝘳. Semua itu dia lakukan untuk memberi kehidupan yang layak bagi ku dan dirinya.
Sebagai bentuk terimakasih aku belajar lebih giat lagi. Aku belajar dari pagi hingga bertemu pagi. Memang tidak mudah, tapi demi membalas kebaikan ayah aku rela melakukannya.
Sebab karena dirinya aku masih mendapat kasih sayang sebagai seorang anak dari satu keluarga kecil.
────
Aku masih bercerita tentang bagaimana aku bisa membalas budi ayah selama ini.
Percayalah, pikiran ku terasa seperti dipaksa dunia untuk berpikir keras. Sama kerasnya dengan dunia ini. Emosi ku terkadang tidak stabil, jarang sekali aku bisa tenang.
Sampai akhirnya, ayah pulang membawa manisan untuk ku.
Katanya, aku sudah bekerja keras untuk belajar meski masih kecil. Manisan itu dia beli sebagai bentuk apresiasi. Aku bisa melihat matanya, ada air mata yang hampir turun membasahi wajahnya.
Dari sini, setiap hari Jum'at ayah selalu pulang dengan manisan di tangannya. Mungkin bagi sebagian orang ini hal normal dalam hubungan antara ayah dan anak.
Tapi bagiku, ini momen yang hanya bisa didapatkan ketika seorang ayah rela menghabiskan uang nya untuk membawakan anaknya manisan sederhana.
Ada kalanya aku meminta agar ayah berhenti membelikan ku manisan. Ayah justru menolak, ia hanya ingin putrinya mempunyai kenangan manis dari dirinya.
Aku tidak bisa menyangkalnya. Semasa aku masih tinggal bersama Ibu, tidak ada kenangan yang tumbuh. Walau hal kecil seperti makan malam bersama dan bermain di taman. Itu tidak menyisahkan jejak manis, tapi pahit.
Namun ketika aku mulai tinggal bersama ayah, perlahan ada bibit kenangan yang tumbuh di hatiku. Bibit itu tumbuh jadi kenangan paling indah yang tak akan dilupakan.
────
Cerita berlanjut hingga aku memasuki sekolah menengah pertama.
Ayah ku datang saat hari pertama aku sekolah. Memakai baju putih dan celana panjang berwarna hitam, tidak lupa dengan syal yang ada di lehernya. Pakaian sederhana yang ia selalu kenakan, rasanya menjadi spesial.
Ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama, ayah selalu menawarkan diri untuk memotret diriku. Dari potret aku memakai seragam baru untuk pertama kalinya sampai saat aku menginjakkan kaki langsung di depan gedung sekolah itu.
Senyum ayah tidak bisa diajak berbohong, jelas di sana ayah tersenyum lebar sembari memotret beberapa gambar wajahku.
Ia benar-benar terharu bisa membesarkan putrinya sampai bisa melanjutkan pendidikan nya di sekolah menengah pertama.
Sungguh, ayah yang luar biasa, bukan?
────
Sebenarnya aku punya ribuan pertanyaan untuk ayah. Semenjak dia pulang setelah berkunjung ke rumah duka milik kakek ia membawa parfait dari kafe seberang jalan.
Awalnya aku mengira itu hanya keinginan ayah. Tapi kelamaan parfait itu terus muncul di atas meja makan, manisan itu menciptakan kesan mewah bagiku.
Apa ayah memang sangat menyukai parfait?
Atau ini adalah bagian dari kenangan yang dia ingin bagikan kepadaku.
Jika saja ada sosok kakek kala itu, yang akan dia lakukan mungkin juga bertanya-tanya seperti ku.
Tapi tidak ada yang tau isi pikiran ayah. Yang pasti aku akan membiarkan apa yang membuat nya senang.
────
Waktu bergerak diam diam. Siapa yang akan tahu kalau sekarang aku sudah melanjutkan sekolah ku di sekolah paling bergengsi di kota.
Ini semua berkat perjuangan ayah. Ia berjuang untuk mendorong diriku ke cahaya kesuksesan. Aku sangat berterima kasih kepada nya.
Seperti orang tua pada biasanya, melihat anaknya tumbuh secepat ini, mereka hanya bisa menatap dengan tatapan yang hangat. Pikiran mereka hanya berisi kenangan ketika kita masih kecil dan belum sebesar sekarang.
Di balik kesibukan ayah saat ini, masih ada kehangatan yang ia tinggalkan. Ayah selalu membuatkan bekal yang tertata di dalam kotak bekal.
Rasanya lucu jika mengingat itu lagi. Bahkan disaat dia harus berusaha mencari uang untuk hidup berkecukupan, ayah tetap satu satunya orang yang masih menyayangiku.
Meski sederhana, aku akan tetap menangis saat melihat hal itu.
Bukan hanya bekal, ayah masih senantiasa membelikan manisan setiap hari Jum'at, atau parfait setiap ia mendapatkan uang bonus. Ayah masih sering datang menemui kakek. Terkadang aku ikut dengannya.
Rumah baru kakek yang tenang dan dilindungi malaikat ini seperti sedang melihat rumah sederhana yang dibangun sebagai akhir perjalanan manis selama di dunia.
Tempat mengenang berakhirnya perjalanan dan perjuangan seseorang melawan kerasnya dunia.
Seperti sedang berperang, tetapi ini jauh lebih menyakitkan.
────
Aku sangat ingin bercerita lebih banyak. Tapi bumi tidak ingin berputar di kehidupan lama ku saja. Kini, aku tumbuh jauh lebih besar dari sebelumnya.
Semua hal yang diberikan ayah ku saat aku kecil masih ku ingat. Sekarang aku ingin menceritakan kenangan itu kepada suamiku.
Iya, aku akan segera mengadakan pernikahan bersama laki-laki pilihanku.
Aku selalu merasa dia lah sosok yang mirip dengan ayahku. Dari segi sikap dan cara dia memperlakukan ku nantinya. Benar-benar laki-laki yang sempurna.
Tapi ada satu hal yang mendadak berubah di hidupku.
Yaitu aku yang mulai merasa bahwa sesi pemotretan adalah hal yang sulit.
Semua itu karena seseorang yang selalu memotret kenangan manis ku sudah menemukan tempat nya.
Tempat dia mengakhiri perjalanan nya dan berhenti melanjutkan tugasnya untuk berjuang demi aku.
Tidak ada lagi latar rumah kecil peninggalan mendiang kakek. Tidak ada lagi syal yang terikat di leher dirinya saat berfoto. Aneh rasanya kalau aku bilang aku tidak sedih.
Susunan foto aku bersamanya tidak lagi sama. Karena di tengah foto itu ada wajah baru dari suamiku yang menambah kehangatan disana.
Setiap jum'at aku bertamu ke rumah barumu, bersama dengan laki-laki lain di samping ku. Bukan ayah, bukan kakek, dan bukan orang asing. Tapi peran yang menggantikan ayah untuk menjagaku.
Semua hal kecil seperti manisan, parfait, bekal, dan hal berharga milikmu akan ku jaga baik baik.
Mulai saat itu, kehidupan ku tidak hanya kelabu, masih ada warna cerah di sisi lain diriku.
Ayah, parfait yang kau selalu belikan untuk ku sekarang sudah tidak manis. Aku tidak bisa menyalahkan rasa parfait itu sendiri. Karena aku masih tidak rela diri ini ditinggalkan oleh dirimu.
Jika ada saatnya aku bisa mengulang waktu, izinkan aku mengulang kenangan kita dan membiarkan aku membelikan ayah parfait yang lebih banyak dari biasanya.
Itu adalah salam pertama ku di rumah barumu. Percayalah semua perlakuan mu kala itu akan ku jadikan contoh untuk anak anak ku kelak.
Semoga aku bisa menjadi sosok periang dan penyayang seperti dirimu, ayah.
Dan semoga aku masih bisa menikmati rasa manis dari parfait favorit mu di masa mendatang.
Sekali lagi aku berterima kasih atas perjuangan mu membesarkan aku, ayah, pahlawan masa kecil ku.
—END
🍀