**(Yang belum baca bagian #1, #2 dan #3, silahkan cek yang profil ku biar tau alur cerita sebelum nya. Karena ini adalah bab penutup dari seri ini)**
"Tolong... Bantu aku..."
Sesosok wanita merangkak mendekatiku. Jemarinya yang pucat dan sedingin es mencengkeram pergelangan kakiku dengan sangat erat, menyalurkan rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang.
"Tolong! Lepaskan! Aku tidak tahu cara menolongmu! Hentikan ini, jangan ganggu aku!"
Dalam posisi terduduk di lantai, aku berusaha sekuat tenaga memundurkan tubuhku, menendang-nendangkan kaki demi melepaskan diri dari cengkeraman mati itu. Namun, sepasang mata hitam pekatnya menatapku lurus, bergetar hebat penuh keputusasaan.
"Hanya kau... hanya kau yang bisa melihatku..."
Gasg!
Aku tersentak bangun, napas gembung di tenggorokan. Jantungku bertalu-talu memukul dada.
Lagi-lagi mimpi itu. Ini bukan kali pertama wanita bergaun putih kumal itu menyusup ke dalam tidurku. Semenjak kakek wafat beberapa bulan lalu, sekat di mataku seolah runtuh. Orang-orang menyebutnya "Indra Keenam". Sesuatu yang tidak pernah kuinginkan.
Aku menyadari kutukan penglihatan ini saat pertama kali melihat arwah kakek. Beliau sering duduk membisu di luar omah, tepat di dekat pilar rumah yang adem di bawah naungan pohon jambu air—tempat yang paling sering beliau telusuri semasa hidupnya.
Rumahku kebetulan berhadapan langsung dengan pekarangan gersang itu. Di seberang jalan, rumah kayu ulin kuno yang kini karam ditelan semak belukar setinggi dada tampak seperti monumen kematian. Pohon-pohon Wanyi yang mengelilinginya sudah terlalu tua, dahan-dahannya menjulang ringkih. Musim penghujan sudah dekat. Jika angin barat mengamuk, pohon-pohon terkutuk itu bisa tumbang dan menghantam jalan, atau lebih buruk lagi, meremukkan atap rumahku.
Mitos tentang rumah itu memang simpang siur, bumbu kengeriannya sengaja ditebalkan dari mulut ke mulut setiap tahunnya.
Aku tahu cerita tentang sepasang pendatang yang lari tunggang-langgang dari sana belasan tahun lalu. Dan dari jendela kamarku pula, aku pernah melihat sosok wanita itu berdiri di ambang pintu yang lapuk. Ketika ia sadar aku bisa melihatnya, ia menoleh. Wajahnya pucat pasi, bibirnya pecah-pecah mengalirkan darah segar ke pipi, lalu ia menyeringai lebar. Detik itu juga, duniaku gelap. Aku pingsan karena ketakutan.
Sejak hari itu, mimpi buruk itu terus mengejarku.
Keesokan paginya, di bawah temaram cahaya fajar, aku memberanikan diri mendekati ibu yang sedang sibuk di dapur.
"Bu, bener enggak kalau hantu di rumah depan itu... seorang wanita?"
Ibu menghentikan aktivitasnya, menatapku tajam. "Iya, Riki. Memang ada apa?"
"Dia... dia selalu datang ke mimpi Riki, Bu. Dia minta tolong. Aku harus—"
"Heh! Jaga mulutmu, Rik!" potong Ibu cepat, wajahnya sirat akan kepanikan. "Enggak boleh ngomong sembarangan begitu. Pamali! Apalagi ini masih pagi."
"Enggak, Bu, Riki beneran. Coba Ibu dengerin Riki dulu kali ini."
Melihat keseriusanku, Ibu akhirnya mengajakku duduk di kursi tamu. Ayah dan Abangku yang penasaran ikut merapat.
Di rumah ini, mereka tidak punya pilihan selain percaya. Sebab, setiap kali aku membicarakan hal-hal gaib, hawa di sekitarku mendadak bergeser menjadi sedingin es. Bahkan jika energinya terlalu kuat, tubuh ringkihku yang baru berusia 13 tahun ini bisa diambil alih.
Aku menceritakan setiap detail dari mimpi burukku. Kata demi kata yang diucapkan wanita itu kuuntai kembali.
"Jadi, Bu... dia minta rumah itu dihancurkan, lalu dibakar sampai habis. Apinya harus membakar hangus tanah gersang itu untuk memutus kutukan. Pohon-pohon Wanyi di sekelilingnya juga harus ditebang, sebelum membawa sial dan tumbang menimpa warga."
Ayah dan Ibu terdiam lama, merenungkan omonganku yang terdengar mustahil.
"Tapi Rik... kalau kamu cerita begini... sekarang wanita itu... ada di mana?" tanya Abangku, suaranya bergetar sembari melirik sudut-sudut ruangan yang remang.
"Tuh, di sebelah Abang," tunjukku datar ke sisi kanannya.
Sreeet!
Abangku melompat dari kursi, bergeser cepat bersembunyi di balik punggung Ibu dengan wajah pucat.
"Badan saja yang gede, tapi penakut," cibir Ibu, walau sepasang matanya sendiri ikut bergerak gelisah.
"Ya takutlah, Bu! Siapa yang enggak ngeri kalau tiba-tiba dibilang ada hantu duduk di sebelah!" protes Abangku.
"Enggak kok, dia enggak di situ sekarang. Dia cuma berdiri di depan pintu luar. Dia enggak berani masuk, karena energi negatifnya terlalu pekat, dia tahu diri," ujarku, menatap lurus ke arah pintu depan yang tertutup.
"Yah, terus bagaimana? Enggak mungkin kan kita sendiri yang membakar rumah itu? Bisa ditangkap polisi kita," sahut Ibu bingung.
Ayah yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, "Hal seperti ini harus dibicarakan dengan Pak RT dan warga desa. Kita tidak bisa bergerak sendiri."
"Tapi, apa mereka mau percaya?" tanyaku ragu.
Semua mata tertuju padaku, menyisakan keheningan yang berat. Memang, siapa yang mau memercayai bualan mistis seorang anak kecil?
Sore harinya, halaman depan rumah kami mendadak ramai. Pak RT, tetangga sekampung, dan beberapa tetua adat berkumpul atas desakan Ayah. Aku berdiri di tengah-tengah mereka, mencoba menjelaskan perintah dari sang penunggu rumah seberang.
Sesuai dugaan, kepalaku dihadiahi gelengan sanggahan.
"Ah, kamu ini masih kecil, Riki. Jangan mengada-ada. Rumah itu memang angker, tapi kalau dibakar, bagaimana kalau apinya merembet?" sanggah salah seorang warga, disusul bisik-bisik ketidakpercayaan dari yang lain. Beberapa orang bahkan mulai membawa-bawa mitos lain yang entah dari mana asalnya.
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan itu, mataku menangkap pergerakan di seberang jalan.
Sosok wanita bergaun putih itu berjalan melintasi rimbunnya semak belukar. Ia menyeberang jalan, melangkah pelan menuju ke arahku. Semakin dekat ia melangkah, dadaku terasa semakin sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarku tersedot habis. Hawa dingin yang pekat mengunci persendianku.
Ketika jarak kami hanya tersisa selangkah, duniaku runtuh. Rasanya seperti terlempar ke dalam jurang kegelapan, lalu terjatuh di atas hamparan bulu yang sangat empuk. Begitu sunyi, begitu nyenyak, namun samar-samar aku bisa merasakan seluruh otot tubuhku menegang kesakitan karena dipaksa meliuk di luar kendaliku.
"Riki... Riki... bangun, Le..."
Suara sayup-sayup memanggil namaku, disusul dengan lantunan suara jernih adzan yang ditiupkan tepat di telinga kananku. Gema kalimat tauhid itu perlahan mengikis kegelapan di kepalaku. Aku bergerak, mencoba mencari jalan keluar menuju secercah cahaya terang di ujung sana.
Sebelum aku benar-benar melangkah keluar dari kegelapan, sosok wanita itu kembali muncul di hadapanku. Namun, kali ini penampilannya sama sekali berbeda. Tidak ada lagi gaun putih yang compang-camping penuh noda darah. Tidak ada bibir pecah-pecah maupun wajah biru lebam. Di depanku berdiri seorang wanita yang sangat cantik, mengenakan kain kebaya rapi dengan wajah bersih berseri-seri. Ia tersenyum tulus, memancarkan kedamaian yang mendalam.
"Maturnuwun, ya, Nak..." bisiknya lembut, sebelum perlahan memudar menjadi pendar cahaya dan hilang ditiup angin.
"Riki! Riki!"
Mata belalakku terbuka sepenuhnya. Aku tersedak, menghirup udara sore dengan rakus. Seluruh bajuku basah kuyup entah dari air yang mungkin saja disiramkan ke tubuhku atau keringat dingin. Aku mendapati diriku sedang terduduk lemas di pilar dekat warung kecil milik keluarga kami.
Di sekelilingku, puluhan warga berdiri mematung dengan wajah-wajah yang dipenuhi ketakutan dan syok luar biasa—seperti baru saja menyaksikan pertunjukan sirkus yang mengerikan. Seluruh tubuhku rasanya penat dan pegal, seolah habis memikul beban berkuintal-kuintal. Mataku pun terasa perih.
"Ah... aku baru saja kerasukan," batinku seketika.
Saat aku menoleh ke arah seberang jalan, pemandangan di sana sudah berubah total. Belasan warga dengan beringas membabat habis rerumputan liar menggunakan parang. Struktur dinding kayu ulin rumah tua itu mulai dirobohkan dengan tali tambang. Di sudut jalan, sebuah mobil pemadam kebakaran sudah bersiaga penuh dengan selang-selang air yang terulur.
"Aku ketinggalan berita... Apa yang sebenarnya terjadi, Bu?" tanyaku parau, memegangi leherku yang kaku.
Ibu mengelus rambutku dengan tangan yang masih gemetar. "Sudah, tidak apa-apa. Yang penting sekarang mereka semua sudah percaya dengan omonganmu. Bang, bawa adikmu masuk kamar. Biarkan dia istirahat dulu."
"Iya, Bu," sahut Abangku, langsung memapah tubuhku yang lemas.
Kami berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kamar tertutup, aku langsung menuntut penjelasan.
"Bang, tadi sebenarnya apa yang terjadi pas aku hilang kesadaran?"
Abangku menelan ludah, wajahnya masih menyisakan sisa-sisa kengerian. "Kamu beneran mau tahu?"
"Pakai nanya lagi. Cepetan, Bang!"
"Jadi begini... pas warga lagi ramai berdebat enggak percaya, tiba-tiba mukamu berubah jadi pucat pasi. Kamu melotot, terus teriak kencang banget pakai suara perempuan yang melengking sampai bikin merinding. Kamu kerasukan, Rik!" Abangku memperagakan tubuhnya yang meliuk-liuk. "Terus, kamu... maksudku hantu itu, berjalan maju sambil terus-menerus mengelus perutmu yang kempis, kayak gaya ibu-ibu yang lagi hamil tua."
Abangku bergidik mengingat momen itu. "Di depan Pak RT dan warga, hantu itu menjelaskan sendiri dengan suara menangis, kenapa rumahnya harus dihancurkan dan dibakar. Dia bilang tanah itu sudah meminum darah kutukan, dan hanya api yang bisa membersihkannya. Pas warga sudah ketakutan, tiba-tiba kamu lari kencang ke arah pilar warung ini... sepertinya hantu itu melihat arwah Kakek yang lagi duduk di sana. Begitu sampai di depan pilar, kamu langsung ambruk enggak sadarkan diri. Makanya Ayah langsung lari dan mengadzani telingamu."
Aku menghela napas panjang, bersandar di kasur. "Pantas saja seluruh badanku rasanya mau remuk begini."
"Lagian hantu itu ada-ada saja, mau olahraga tapi enggak punya kaki, malah pinjam badanmu," canda Abangku, mencoba mencairkan suasana walau matanya melirik waswas ke jendela.
"Ehm.. Bang, hantunya ada di—"
"E-eh! Abang cuma bercanda lho, Rik! Jangan diseriusin, jangan panggil dia lagi!" potong Abangku panik, buru-buru merapat ke kasurku.
Satu jam berlalu. Dari balik kaca jendela kamar yang buram, aku menyaksikan kepulan asap hitam yang pekat bergulung-gulung naik menembus langit sore yang mulai menggelap. Bau kayu ulin yang terbakar hebat tercium samar, membawa pergi sisa-sisa aroma manis buah Wanyi yang selama puluhan tahun menyembunyikan maut.
Rumah itu sudah rata dengan tanah, dibakar hingga menjadi abu di bawah pengawasan ketat warga dan petugas damkar.
Aku memejamkan mata, membiarkan rasa lelah menguasai tubuhku. Seiring dengan runtuhnya tiang-tiang kayu di seberang sana, aku tahu... teror Tanah Terkutuk itu akhirnya telah selesai, menguap bersama asap yang hilang ditelan malam.