Langit sore itu tampak cerah, secerah hatiku saat ini. Memandangi langit yang begitu indah, membuat pikiranku lelap dengan kenangan masa lalu.
“Aksa,” nama itu tiba-tiba muncul dipikiranku.
“Siapa Aksa?,” tanyaku heran sendiri.
Butuh waktu hampir lima belas menit untuk mengingat siapa Aksa.
“Oh! Aksa. Gimana ya kabarnya?,” gumamku saat tersadar siapa Aksa itu. Laki-laki yang aku temukan saat aku mengenakan seragam putih biru, tepatnya di kelas delapan. Kami dipisahkan karena jarak, dan tanpa kata putus. Semua itu terjadi saat Aksa menghilang entah ke mana.
Aku terlalu sibuk dengan urusan sekarang, sampai-sampai nama itu lama tak muncul dipikiranku.
Namun sore ini berbeda, entah karena suasana sore yang begitu tenang, atau karena lagu yang sedang kuputar saat itu, kenangan tentangnya lewat di kepalaku tanpa permisi.
Lagu yang sedang kuputar adalah lagu yang dibawakan oleh salah satu band kesukaan Aksa. Dulu, ia sering menyanyikan lagu dari band itu, bahkan semua lagu yang ada di album nya, dia hafal.
“Gelang…,” gumamku seraya memperhatikan pergelangan tangan kiriku yang kosong. Aku ingat, dulu ia memberi ku bracelet Hinda—band kesukaan Aksa.
Senyum kecil tanpa sengaja keluar dari wajahku. Dari semua kenangan yang telah Aksa beri, justru gelang itu yang pertama kali membuatku tersenyum, sangat sederhana. Bahkan pertemuan kami pun sederhana.
Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Aku bahkan tak tahu akan bertemu Aksa di kelas delapan ini, karena selama kelas tujuh, aku tidak pernah mendengar atau melihat siswa yang bernama Aksa.
Di bangku belakang kelas, selalu terdengar riuh. Kadang suara teman-teman yang sedang bermain kartu, atau bahkan ada yang sedang memainkan gitar. Biasanya yang bawa gitar itu Reno, dan Aksa bagian nyanyi.
“Melepas perasaan tinggi ke angkasa, menantang dunia,” sepenggal lagu yang dinyanyikan saat itu.
Aku menoleh ke belakang, melihat Aksa yang terlalu mendalami makna lagu itu. Di balik Aksa yang mendalami lagu, raut wajah Reno menyimpan banyak pertanyaan yang membuatku terkekeh pelan melihat tingkah mereka.
Sejak saat itu, aku sering memperhatikan Aksa dari jauh, entah kenapa. Aku rasa tubuh Aksa menyimpan magnet.
Hari selasa waktu itu, aku masih ingat betul, karena itu hari pertama aku berinteraksi lebih dekat dengannya. Hari itu kelas kita diisi dengan pelajaran seni budaya, guru memberi tugas mencampur warna, atau mengenal warna primer dan sekunder.
“Ra, kamu tahu band Hindia gak?,” tanya Aksa tiba-tiba.
“Tahu. Aku juga suka sama band itu.”
“Sama dong. Suaraku sama kayak penyanyi aslinya gak?,” tanya Aksa. Aku hanya sanggup menggeleng dan tersenyum aneh ke arahnya.
“Awas, nanti jadi suka sama suaraku,” goda Aksa setelah melihat ekspresiku.
“Kalau sama orangnya, gak boleh?,” godaku.
“Boleh,” jawabnya. Aku terkejut mendengar jawaban Aksa.
Sejak hari itu, Aksa menjadi orang yang paling sering mengganggu hariku. Ia selalu punya banyak cara untuk mengajakku bicara. Tiada hari tanpa kejahilannya.
Suatu hari saat istirahat, beberapa dari siswa yang di kelas memilih untuk kumpul di bangku belakang. Suara canda tawa menjadi musik diantara kami. Saat itu aku duduk di sebelah Aksa.
“Kalian tuh, pacaran?,” tanya salah satu siswa yang ada di sana.
“Belum, gak tahu kapan,” jawab Aksa. Aku terkejut mendengar ucapan Aksa, refleks memukul pelan pundak Aksa saat itu juga.
Tawa teman-teman langsung pecah mendengar ucapan itu. Wajahku terasa panas saat itu, sementara Aksa tersenyum tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Saat itu, aku masih belum tahu, bahwa beberapa bulan kemudian, aku harus berpisah dengan mereka semua.
“Kamu pindah ya waktu kelas sembilan, pindah ke Mojokerto,” ucapan ayah membuatku hampir tersedak saat makan. Tiba-tiba sekali.
Sejak hari itu, aku sering pulang pergi dari Surabaya ke Mojokerto. Suatu hari, aku izin tidak masuk sekolah karena akan berkunjung ke sekolah tujuan di Mojokerto. Di tengah perjalanan, kami mampir ke salah satu cafe di Mojokerto.
“Hayo! Gak sekolah, bolos, ihh,” suara laki-laki yang tak tampak wujudnya itu membuatku terkejut, menoleh ke kanan kiri tak tampak wujudnya. Sampai saat aku menoleh ke belakang, laki-laki dengan hoodie hitam, mukanya tak begitu jelas terlihat karena tertutup oleh topi yang ia pakai. Saat langkahnya hampir dekat denganku, laki-laki itu melepas topinya, ternyata itu Aksa.
“Eh? Kamu. Ngapain ke sini?,” tanyaku heran.
“Cari cewek cantik. Bolos, ihh,” goda Aksa.
“Gak ya! Aku udah izin. Tadi katamu apa? ‘cari cewek cantik’ amit-amit, Sa,” ucapku. Aksa hanya tertawa geli mendengar balasanku.
“Cebol!,” goda Aksa.
“Hei! Gak sopan, Sa. Dasar tiang,” balasku. Aksa terkekeh geli mendengar itu.
Sejak saat itu, kedekatanku dengan Aksa semakin gak wajar. Dia sering menungguku piket kelas, sering menemaniku di saat aku sendiri di kelas. Hingga suatu hari, dia menungguku piket kelas, menunggu di depan kelas.
“Kalian nih… serius gak pacaran?,” celetuk salah satu temanku yang piket saat itu juga.
“Belum,” timpal Aksa santai.
“Bukan ya! Mana ada pacaran,” timpalku.
Selesai piket, aku pulang bersama teman-teman yang lain, terutama Aksa. Dia berjalan tepat di sampingku. Tak lama, lenganku terasa hangat, seperti ada seseorang yang menyentuh lenganku.
“Sini sebentar,” ucap Aksa sambil menarik tanganku.
“Kenapa?,” tanyaku.
“Aku suka kamu,” terus Aksa, aku hanya sanggup menggeleng saat itu.
“Kamu telat,” ucapku. Terlihat jelas wajah Aksa menyimpan banyak pertanyaan saat aku bicara seperti itu.
“Kamu sudah punya pacar?,” tanya Aksa.
“Bukan. Kelas sembilan aku sudah tidak di sini.”
“Maksudnya? Aku gak paham, Ra.”
“Pindah, Sa.”
“Kenapa? Kok tiba-tiba banget.”
“Ikut orang tua.”
Aksa mengangguk dan tersenyum mendengar jawabanku, entah apa yang ia pikirkan saat itu.
“Itu penolakan halus atau…,” Aksa menunduk mengucapkan itu.
“Penolakan? Aku gak gila,” timpalku dengan tawa pelan. “Aku juga menyimpan perasaan sama kamu! Ya, kali aku menolak kamu,” timpalku.
Ucapanku membuat Aksa terdiam dan terpaku di tengah jalan, “sejak kapan? Kenapa kamu gak bilang?”
“Kamu gila ya? Masa aku yang ungkapin dulu? Kalau kamu tanya sejak kapan… sejak awal pertama aku lihat kamu di kelas ini.”
“Jadi…”
“Aku gak nolak. Tapi, aku takut kita gak bakal lama,” ucapku dengan suara yang sedikit gemetar.
“Kalau dua-duanya mau, kenapa harus takut?”
Aku mengangguk paham mendengar ucapan Aksa, “tapi, kamu yakin?”
“Yakin.”
“Jalani dulu,” timpalku sambil tertawa geli melihat ekspresi Aksa saat itu.
Hubungan pertama kami terjalin selama satu bulan. Selama itu pula, banyak kenangan yang kami buat. Dimulai dari Aksa yang selalu tidur di sebelahku, dan aku yang sering membelai rambutnya.
“Sayang, aku tidur di sebelah kamu ya,” ucap Aksa. Aku mengangguk dan menepuk pelan tempat yang dimaksud oleh Aksa.
“Kemarin aku sibuk banget sayang, capek.”
“Aku bantuin acara keluarga kemarin sampai ngantuk,” terusnya. Semua ocehan itu hanya aku tanggapi dengan anggukan dan belaian untuk Aksa. Aku sangat suka membelai rambut Aksa.
“Sayang, aku beli bracelet Hindia dua, kamu satu ya,” ucap Aksa sambil menarik tanganku. Ia memasangkan gelang itu di tangan kiriku.
Setelah aku pindah, pesan dari nya masih sering masuk, dan masih sering bertukar kabar. Namun perlahan, pesan dari nya mulai jarang masuk hingga suatu hari Aksa benar-benar menghilang.
Semua kenangan itu memutar bagai film pendek di kepalaku. Mengenang semua itu, membuat mataku meneteskan air mata dengan sendirinya.
“Apa kabar kamu, Jagantara Aksa Putra?,” gumamku sambil mengusap air mataku.
“Nama mu… akan abadi di lagu ini, dan karyaku,” timpalku dan senyum mulai menghiasi wajahku.
Amanat: Tidak semua orang yang datang ditakdirkan untuk menetap. Ada yang hanya singgah sebentar, lalu mengajarkan bagaimana rasanya dicintai.