Setiap jam 22.00, Ayah selalu menggertak kami untuk segera tidur. Tak boleh keluar kamar, apa pun situasinya, apa pun alasannya. Kami berpikir kalau Ayah sedang mengajari kami disiplin. Tapi...
...
“Bu, Yura berangkat, ya. Study tour nya gak jadi dibatalkan.” Yura menyalimi ibunya. Belum sempat ibunya menjawab, kalimatnya di dahului ayah. “Pulang jam berapa?” tanyanya ketus.
“Kurang tau, Yah. Tapi sepertinya pulang malam,” sahut Yura. Ia menghampiri ayahnya untuk salim, namun ditepis.
“Kalo pulang malam, Ayah tidak setuju,” ucapnya tanpa menoleh ke arah Yura.
“Kalau kamu tetap ingin pergi, silakan. Asal kan pulangnya jangan malam,” lanjutnya.
“Kenapa begitu, Yah? Study tour ini, tempatnya jauh. Tidak memungkinkan jika pulangnya sore...” Yura menggoyangkan lengan ayahnya, berusaha membujuk agar Yura diizinkan untuk ikut. “Ayah kan sudah tanda tangan kemarin di lembar izin orang tua,” ucap Yura memelas.
“Terserah, kalau kamu tetap pulang malam. Usahakan jangan sampai jam 10.” Ayah menjulurkan tangannya, mengisyaratkan Yura untuk salim terlebih dahulu sebelum berangkat.
“Yay, terima kasih, Ayah.”
Yura menarik koper kecilnya sambil melongok ke dalam bus. Kursi beludru biru tersusun rapi, AC-nya sudah dingin bercampur pengharum mobil, teman-teman sudah berada di dalam bus, sibuk berebut jendela.
Yura melambaikan tangan di jendela, ke arah Ayah dan Ibunya yang menunggu di depan gerbang sekolah.
...
Tak terasa. Bus yang Yura tunggangi, sudah sampai di destinasi. Perjalanan terasa begitu cepat karena sepanjang jalan, para siswa sibuk bercanda, menyanyi, dan membicarakan hal-hal tidak penting: dari gosip kelas sebelah, sampai asal-usul nenek moyang yang entah dari silsilah ke berapa.
“Yang sudah turun langsung baris, jangan mengeluyur!” titah Pak Harto—selaku pembina sekaligus pemateri study tour hari ini. “Cepat, buat dua barisan memanjang ke belakang. Laki-laki dan perempuan dipisah!” lanjutnya.
Yura berlari kecil, menghampiri teman-temannya yang sudah berbaris rapi di bawah terik matahari. Keringat mulai menetes di pelipis matanya, tapi ia tetap berdiri tegak, berusaha menyimak peraturan yang diinformasikan oleh Pak Harto.
Sudah hampir 2 jam Pak Harto menjelaskan mengenai benda-benda bersejarah yang ada di museum. Kepala Yura sudah mulai pusing karena tidak sempat mengganjar perut sebelum turun dari bis. Untungnya, waktu pemberian materi sudah selesai, dilanjut dengan kegiatan ISOMA: istirahat, salat, makan.
“30 menit, ya! Istirahat, salat, makan. Habis itu kita kumpul lagi jam 5 pas,” kata guru pendamping sambil membagikan nasi kotak.
Yura mengintip isi nasi kotak yang telah dibagikan. Berbinar matanya saat melihat ayam goreng sambal korek di dalam kotak tersebut.
“Waaahh... baru saja aku membayangkan makan ini,” bisiknya sendiri sambil terkekeh pelan.
Tak terasa 30 menit berlalu. Semua peserta sudah berkumpul, berbaris lagi seperti awal.
“Akhirnya, kita telah menyelesaikan kegiatan study tour pada hari ini. Sebelum berangkat pulang, alangkah baiknya jika kita berdoa terlebih dahulu, meminta pertolongan serta keselamatan kepada Tuhan yang maha esa, selama di perjalanan...” ujar Pak Harto memberi arahan kepada peserta. “Berdoa, dimulai....”
Mesin bus itu menggeram pelan, lalu melaju meninggalkan Museum Balanga. Yura menyenderkan kepalanya ke kaca jendela. Ia membayangkan kisah cintanya dengan Jungkook—anggota boy group asal Korea Selatan, BTS.
“Yura, maukah kau menjadi kekasihku?” Jungkook mengusap lembut punggung tangan Yura.
“Tentu, Kook. Aku mau jadi kekasihmu.”
Yura tersenyum konyol. Teman-teman yang melihatnya, jelas keheranan. Mereka mengira, Yura sedang kemasukan arwah penunggu museum. Sontak lelaki di sebelahnya menepuk pundak Yura. “Waras?” katanya.
Tiba-tiba, bus berhenti mendadak. Suara ban berdecit keras, disertai bunyi ‘Duar!’ yang membuat Yura terlempar sedikit ke depan.
Sopir bus keluar dengan tergesa-gesa, wajahnya panik. Sedangkan teman-teman mulai bersungut-sungut, mengeluh kelaparan.
Yura memegangi bungkus makanan ringan yang sebagian isinya loncat keluar. Isinya tinggal sedikit, namun lumayan untuk mengisi perut.
“Hufftt, ada aja masalah,” keluh Yura. Ia mengecek jam di HP-nya. Pukul 19.57. Setengah jam lagi baru sampai rumah.
Yura melamun, memperhatikan jalanan sepi yang minim pencahayaan. Lagi-lagi otaknya berulah, ia membayangkan jika ada The Dancing Lady yang sedang menari di bawah pilar lampu.
Mendadak, ponselnya menjerit.
Tiiitt... Tiiittt... Tiiitt...
Suara dering telepon yang cukup nyaring, membuyarakan lamunan Yura. Layar ponsel menyala terang, terpampang jelas nama ‘Ayah’ di dalamnya. Dengan cepat, Yura langsung mengangkat panggilan itu.
“Sudah dimana?” tanya Ayah di balik telepon. Suaranya terdengar serak dari seberang sana.
“Masih di jalan, Ayah. Ban pecah, terpaksa harus menunggu sopir kembali membawa ban yang baru.
“Kirim lokasi, Ayah jemput saja. Kelamaan.” Panggilan ditutup.
Yura berdecak kesal. Untuk apa ayah repot-repot datang kesini?
...
Yura menghempaskan tubuhnya di kasur kamarnya. Ia menatap langit-langit kamar, Lampu 18 watt itu menyilaukan pandangannya.
“Yura, kunci pintu kamar. Sebentar lagi jam 10, langsung tidur yaa. Jangan begadang!” teriak ibunya dari dapur.
Yura menghembus napas kasar, malas sekali jika harus beranjak dari kasurnya walau hanya sebentar.
Jam 10. Yura melihat ke arah jam digital yang terletak di nakas. Ia memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Tiba-tiba saja, cahaya putih melintas tepat di depannya. Ia mengedipkan matanya cepat, matanya terasa pedih saat cahaya itu melintas.
“Cahaya apa tadi?” Karena penasaran, Yura pelan-pelan beranjak dari tidurnya. Ia berjalan pelan agar Ayah dan Ibunya tidak mendengar suara langkah kakinya.
BRAAKKKK
Langkahnya terhenti. Ia mengedarkan pandangan, berusaha mencari sumber suara.
“Suara itu pasti berasal dari luar!”
Yura nekat mendekat ke arah pintu, berniat ingin mengintip lewat celah-celah. Namun, niatnya gagal. Ia mendengar suara langkah kaki dari arah luar.
Langkah kaki itu terasa berbeda. Setiap langkahnya, menghasilkan bunyi yang cukup nyaring, getaran yang dihasilkan mampu membuat Yura melayang.
Tidak, itu bukan Ayah maupun Ibu. Aku harus mengeceknya.
Yura kembali mengumpulkan niatnya. Tanpa rasa takut, ia berjalan sedikit cepat ke arah pintu. Ia berjongkok, mengintip lewat celah pintu.
HAH. Betapa terkejutnya Yura saat melihat pemandangan itu. Sosok hitam bertubuh besar berada di rumahnya. Ia mengelilingi sebuah nampan yang berisi sesajen lengkap. Yura mundur perlahan, tidak mau melanjutkan penglihatannya.
Tak sengaja, ia menabrak kursi belajar berbahan besi miliknya. Kursi itu berdecit pelan. Yura mengembus napas, bersyukur suaranya tak terlalu nyaring.
Namun, terrnyata dugaan Yura salah. Sosok hitam itu bisa mendengar apa pun, sekecil apa pun. Kini, bahaya sudah di depan pintu. Gagang pintu kamarnya mulai diputar dari luar. Perlahan.