**(SILAHKAN baca di profil saya yang #1 dan #2 agar tau alur cerita ini)**
Bertahun-tahun telah berlalu sejak malam mengerikan itu. Jasad Joko ditemukan membusuk di atas ranjang besi oleh beberapa warga yang curiga karena bau busuk menyengat mengalahkan wangi buah Wanyi. Pihak berwajib mengira itu hanyalah kecelakaan tragis semata.
Sejak hari itu, rumah kayu ulin tersebut dibiarkan mati. Dua belas tahun berlalu, ingatan warga mulai mengabur, namun kengeriannya menolak luntur. Rerumputan liar dan belukar berduri tumbuh merambat, menelan seluruh bangunan hingga rumah itu nyaris tak kasat mata dari pinggir jalan.
Anehnya, pohon-pohon Wanyi di sekelilingnya justru makin perkasa. Setiap musimnya tiba, buah-buah Wanyi bergelantungan lebat, menebarkan aroma manis yang begitu pekat, ditiup angin hingga ke pemukiman warga. Godaan buah itu begitu kuat. Beberapa warga yang nekat kadang mencuri-curi kesempatan untuk memetiknya. Namun, ada satu hukum tidak tertulis yang selalu mereka patuhi demi keselamatan: mereka harus menyisakan satu buah terbaik untuk diletakkan di undakan pintu depan rumah tersebut. Sebuah sesajen, tanda permisi kepada penunggu yang tak terlihat.
Hingga pada suatu sore yang temaram, sepasang suami-istri pendatang menapakkan kaki di tanah gersang itu. Mereka adalah perantau dari tanah Jawa yang datang tanpa harta, hanya membawa gundah dan seorang bayi kecil yang terlelap di gendongan sang istri.
"Mas, kita mau tinggal di mana lagi? Sudah dua hari kita luntang-lantung di Kalimantan ini..." bisik sang istri, suaranya parau menahan tangis.
"Sabar, Istriku. Mas juga masih bingung mencari alamat kerabat kita," jawab sang suami, menyeka keringat di dahinya.
Langkah mereka terhenti di depan semak belukar yang rimbun. Di balik dedaunan, mereka melihat siluet atap rumah kayu yang terbengkalai.
"Mas, lihat. Ada rumah. Memang kelihatan tidak layak, tapi untuk menumpang semalam dua malam, kurasa cukup daripada kita tidur di jalanan."
Suaminya menatap ragu. "Apa tidak apa-apa, Istriku? Kita membawa bayi kecil ke dalam rumah kosong seperti itu."
"Hanya sementara, Mas. Sampai kakak ipar membayar utangnya besok, lalu kita langsung pulang ke Jawa."
Mengingat langit yang mulai meredup menuju waktu Maghrib—waktu di mana angin hutan mulai terasa dingin dan wingit—mereka bergegas. Mengandalkan tangan kosong dan sebilah kayu, mereka menyibak rerumputan liar agar bisa mencapai pintu depan. Pintu kayu ulin itu rupanya tidak terkunci. Ketika didorong, suara deritnya terdengar ngilu, menyambut keluarga kecil itu masuk ke dalam keheningan yang pengap.
Keesokan harinya, kehadiran keluarga asing itu mulai disadari oleh warga sekitar. Sore itu, saat sang istri sedang menjemur pakaian bayi di halaman, seorang wanita paruh baya dari seberang kampung berjalan mendekat dengan wajah cemas.
"Bu... kenapa tinggal di sini?" tanya tetangga itu setengah berbisik, matanya melirik liar ke arah pintu rumah yang terbuka.
Sang istri tersenyum segan. "Maaf, Bu. Kami pendatang baru dari Jawa, tidak punya tempat tinggal. Kami melihat gubuk tua ini kosong, jadi kami menumpang beberapa hari sambil menunggu uang untuk ongkos pulang."
Raut wajah wanita tua itu langsung berubah pucat. "Astagfirullah, Ibu... Ibu dan suami seharusmya menumpang di rumah warga sini saja. Kenapa harus tinggal di rumah ini toh, Bu?"
"Memang... ada apa ya, Bu?" Jantung sang istri mendadak berdesir aneh.
"Dua belas tahun lalu, di dalam sana terjadi pembunuhan keji, Bu. Seorang adik tega membantai kakak kandungnya yang sedang hamil tua dan kakak iparnya. Setelah keluar penjara, si adik mati mengenaskan juga di dalam kamar itu. Saya saja kalau lewat sini jalan kaki, aduuuh... merindingnya sampai ke ubun-ubun!"
Wanita tua itu mendekat, suaranya makin lirih. "Tahu tidak, Bu? Jangankan tinggal, warga sini kalau mau membersihkan pekarangan ini saja harus 'kulonuwun' atau izin dulu sama yang punya di dalam. Kalau tidak, bisa kena penyakit parah. Penyakit dari 'orang atas'."
"Maksudnya 'orang atas' itu bagaimana, Bu?"
"Penyakit yang tidak masuk akal. Dokter tidak bisa sembuhkan, tidak bisa disebutkan namanya. Hanya orang atas—para leluhur dan roh tanah ini—yang memberi hukuman. Itu kata orang tua dulu. Percaya tidak percaya."
Sang istri tertegun, mendadak hawa di sekitarnya terasa sangat dingin. "Bu... nanti malam saya akan bicara dengan suami saya."
"Iya, secepatnya ya, Bu. Saya takut kalian jadi korban selanjutnya. Rumah ini... sudah dikutuk." Setelah mengatakan itu, si tetangga bergegas pergi, meninggalkan sang istri yang berdiri mematung di bawah bayang-bayang pohon Wanyi.
Malamnya, kegelapan mencengkeram rumah itu dengan sangat pekat. Suara jangkrik di luar mendadak senyap, digantikan oleh suara dahan pohon Wanyi yang bergesekkan ditiup angin malam.
Sang istri menidurkan bayinya di atas kasur lipat seadanya di ruang tengah. Merasa tenggorokannya kering, ia melangkah ke bagian belakang rumah yang remang-remang untuk mengambil segelas air minum.
Namun, ketika ia kembali ke ruang tengah, langkah kaki wanita itu terkunci seketika. Gelas di tangannya hampir saja lolos dari jemari yang mendadak lemas.
Di samping bayinya yang sedang tertidur, duduk sesosok wanita berpakaian putih kumal. Rambutnya hitam panjang, menutupi sebagian wajahnya yang pucat pasi seputih kapur. Sosok itu sedang mengulurkan tangan pucatnya, jemari yang dingin itu bergerak pelan di atas wajah sang bayi, seolah sedang mengajaknya bermain.
"S-siapa... kau?" suara sang istri bergetar hebat, tercekat di kerongkongan.
Sosok wanita berbaju putih itu tidak menyerang. Ia menoleh perlahan, memperlihatkan separuh wajahnya yang tampak lebam kebiruan dengan mata yang hitam pekat tanpa selaput putih.
"Pergi dari sini sekarang..." bisik wanita itu. Suaranya bukan seperti suara manusia, melainkan gema yang berdesir dingin langsung di dalam kepala sang istri. "Aku tidak ingin mencelakai kalian."
"A-apa kau..."
"Pergi!" suara itu mendadak meninggi, penuh penekanan yang membuat kaca jendela bergetar samar. "Atau kalian akan tiada. Aku tidak ingin rumah ini ditinggali siapa pun. Tempat ini beracun untuk kalian. Antara kau, atau suamimu... tanah ini akan meminta nyawa. Pergi!"
Didorong oleh rasa takut yang luar biasa demi keselamatan anaknya, sang istri tidak berpikir dua kali. Ia menyambar tas pakaian di sudut ruangan, lalu dengan gemetar merengkuh bayinya ke dalam pelukan. Tanpa menunggu suaminya yang sedang keluar, ia berlari menembus kegelapan malam, meninggalkan gubuk terkutuk itu tanpa pernah menoleh lagi.
Sejak malam itu, keluarga pendatang tersebut tidak pernah terlihat lagi di tanah Kalimantan. Namun, desas-desus mengerikan segera menyebar di kalangan warga desa beberapa hari kemudian.
Kutukan tanah gersang itu ternyata tidak bisa ditawar. Sumpah darah yang diucapkan belasan tahun lalu terlalu kuat untuk dihentikan, bahkan oleh belas kasihan arwah sang kakak.
Terdengar kabar dari kampung sebelah, bahwa tepat empat hari setelah mereka melarikan diri dari rumah tersebut, sang suami mendadak jatuh sakit. Kulitnya kering bersisik, napasnya sesak seperti dicekik, dan ia mengembuskan napas terakhirnya di atas ranjang tempat ia menumpang tidur di rumah kerabatnya. Penyakit misterius yang tak bisa dijelaskan medis—Penyakit Orang Atas.
Sementara sang istri dan bayinya dikabarkan langsung naik kapal, kembali ke tanah Jawa dengan trauma yang akan mereka bawa seumur hidup.
Rumah kayu ulin itu kini kembali sunyi, perlahan-lahan tenggelam dalam pelukan semak belukar yang makin meninggi. Sejak kejadian itu, tidak ada satu pun warga yang berani mendekat. Bahkan, ketika musim buah tiba dan wangi manis buah Wanyi menyerbak memenuhi udara desa, tidak ada lagi tangan yang berani memetiknya.
Aroma manis itu kini sepenuhnya menyaru dengan bau maut. Tanah itu telah menutup diri, tidur dalam kutukannya yang abadi, menunggu orang asing berikutnya yang cukup bodoh untuk mengetuk pintu depan.