Konon, masa sekolah adalah masa anak anak remaja bisa saja menemukan cinta sejatinya. Kalimat ini cocok untuk Kanaya yang baru saja menginjak usia 16 tahun dan mulai memasuki sekolah menengah atas.
Di hari pertama nya, Kanaya bangun lebih awal sebelum matahari sempat membuka mata. Ia begitu semangat memakai seragam baru dan ingin segera bertemu dengan teman baru.
Jika Kanaya diminta memberitahu hari apa yang paling berkesan, mungkin jawabannya adalah hari ketika dia pertama kali masuk sekolah menengah atas sejak dia lahir.
Cahaya matahari mulai terlihat dari ufuk timur. Kanaya menggendong tasnya di pundak. Cermin di kamar nya tidak luput dari perhatian nya. Untuk kesekian kalinya, Kanaya memastikan bahwa penampilannya sudah sempurna.
────
Setibanya di Sekolah, rasanya sangat berbeda. Ada suasana baru, wajah dari orang-orang baru, dan tentu saja energi kegembiraan yang memenuhi pagi itu.
Sebenarnya Kanaya adalah orang yang cenderung tidak berani untuk berkata langsung pada orang tertentu. Itu menyebabkan ia kesusahan untuk berkenalan dengan teman baru.
Sampai ada seseorang yang menghampiri nya.
Mata Kanaya dan sosok itu bertemu. Senyumannya tulus serta tatapan mata bulatnya membuat kesan seperti anak yang polos.
Sosok itu bernama Nirmala.
Ketika tangan Nirmala mengarah ke hadapan Kanaya rasanya cukup canggung. Hal perdana seperti ini mungkin tidak tercatat di pikiran Kanaya saat berlatih untuk berkenalan.
Tapi dengan begitu, Kanaya tetap mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebentar dengan Nirmala.
Sungguh, itu hal paling memalukan sepanjang hari pertama sekolah bagi Kanaya.
────
Setelah berkenalan, semua siswa baru dibawa ke kelasnya masing-masing termasuk Kanaya dan teman barunya.
Jarak dari lapangan menuju kelas baru mereka rupanya tidak sedikit pun mengurangi semangat Nirmala.
Dia justru masih sempat untuk bicara dengan suaranya yang nyaring dan melompat ke sana kemari. Kanaya hanya termenung, dia mengernyitkan dahinya pertanda heran.
Sungguh, wajah Kanaya benar-benar menunjukkan apa yang dia rasakan selama Nirmala ada dibelakangnya.
Tidak melelahkan, hanya sedikit heran bagi Kanaya karena Nirmala satu-satunya orang yang aktif ketika semua siswa sudah tidak ada tenaga lagi.
Malah sebenarnya itu belum semua energi yang dikeluarkan Nirmala. Jika dikeluarkan semua mungkin Nirmala akan mengajak seluruh siswa untuk menari bersamanya.
Inilah wujud dari kebalikan sifat Kanaya.
Iya, itu adalah Nirmala sendiri.
Meski kelas mereka sudah tidak jauh lagi, kaki Kanaya mulai terasa goyah. Nirmala yang awalnya ada dibelakang Kanaya mulai berpindah posisi menjadi di samping Kanaya.
Nirmala memapah Kanaya dengan tangannya menuju kelas. Sedangkan di samping kanan ada laki-laki yang memapah salah satu temannya yang hampir saja terjatuh.
Hingga akhirnya Kanaya dan siswa lain sampai di kelas barunya. Letak kelas itu tidak terlalu jauh dari perpustakaan dan sangat sesuai untuk siswa yang gemar menghabiskan waktu nya disana.
Kelas itu sering dijuluki kelas paling beruntung. Di sisi kanan kelas ada perpustakaan sekolah, lalu di sisi kiri ada toilet siswa dan guru, dan jarak untuk ke kantin mungkin tidak akan memakan waktu yang lama.
Kelas itu adalah sebuah mahakarya kecil dari sekolah untuk siswa yang akan menempatinya.
────
Sesi perkenalan kembali dimulai. Kali ini Kanaya tidak segugup awalnya. Pikiran nya mulai tenang dan jantungnya tidak berdegup begitu kencang.
Hanya saat tiba gilirannya ia tersela dengan anak laki-laki yang baru datang ke kelas.
Kedatangan siswa laki-laki sempat menarik perhatian, meskipun tidak sampai membuat seisi kelas heboh.
Laki-laki itu memakai seragam yang rapi dan rambut coklat yang tertata di setiap helainya. Baru ini Kanaya tidak mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu.
Guru akhirnya membiarkan laki-laki itu mengenalkan dirinya terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan Kanaya yang diam mematung.
Tepat saat Ia menyebutkan namanya telinga Kanaya mendadak memerah. Lantaran itu adalah nama laki-laki yang sama dengan yang pertama kali Kanaya bertemu ketika mendaftar ke sekolah.
Namanya Sedanu. Anak laki-laki tunggal yang umurnya baru menginjak 15 tahun itu sudah menjadi siswa SMA di sekolah yang sama dengan Kanaya.
Sedanu memang sudah pernah bertemu Kanaya ketika datang ke sekolah untuk mendaftarkan diri. Namun ia tidak peduli dengan orang orang yang datang ke padanya.
Yang Kanaya pikir laki-laki itu terlihat familiar ternyata memang benar. Setelah itu pikiran nya dipenuhi saat saat kenapa dia tidak ingat dengan laki-laki itu.
Jika saja Kanaya mengenalnya lebih awal ada kemungkinan Sedanu adalah teman pertamanya. Pandangan Kanaya tetap tertuju ke Sedanu. Namun laki-laki itu tidak menoleh ke arahnya.
────
Waktu memang selalu menolak untuk diajak istirahat sejenak. Karena itu, tidak terasa yang awalnya baru saja hari pertama sekolah, kini Kanaya sudah bersekolah di sana hampir setengah tahun.
Masih sama, yang berbeda hanya cuaca yang datang berlalu lalang ketika bersekolah. Terkadang langit memberi tanda agar segera turun hujan, tapi nyatanya tidak, justru awan menepi dan membiarkan cahaya menghangatkan daratan.
Sekarang, Nirmala bukanlah satu-satunya teman yang dimiliki Kanaya. Kini ia naik pangkat menjadi sahabat Kanaya.
Dan teman-teman baru Kanaya mulai mengisi hari-harinya dengan warna yang berbeda.
Beberapa jam dilewati dengan berbagai cobaan seperti tugas dan materi yang beragam. Kanaya tidak bisa berbohong kalau ia tidak mengerti beberapa dari itu semua.
Berbeda dengan salah satu temannya yang mengerti meski tidak belajar sedikit pun. Rhea adalah wujud dari kepintaran itu sendiri.
Walau begitu, usaha Kanaya tidak sia sia karena akhirnya dia tetap mendapatkan nilai sempurna di beberapa tugas yang diberikan.
Kanaya tetap percaya bahwa hasil terbaik akan datang kepada mereka yang memberikan usaha terbaiknya.
Ini bukan motto hidupnya. Melainkan prinsip yang ia selalu pegang ketika menghadapi hal hal yang tidak ia mengerti.
────
Setelah itu, suara paling dinantikan selama belajar telah terdengar. Bukan suara pergantian belajar, tetapi juga bukan suara pengumuman pergantian kepala sekolah.
Suara ini adalah bel yang menunjukkan waktu nya jam istirahat sejenak sebelum melanjutkan belajar.
Bagi sebagian murid, ini adalah suara emas dari ruang siaran sekolah saat ini.
Para siswa berbondong-bondong keluar kelas dan berlarian menuju kantin, ada juga yang berjalan santai karena tau akan tetap mendapatkan makanan.
Kanaya dan yang lain memutuskan untuk tidak ke Kantin saat melihat sekilas kondisi nya yang memprihatinkan.
Ramai dan penuh dengan orang yang ingin membeli makanan.
Lalu, apa yang dilakukan Kanaya dan yang lain ketika tidak ke Kantin?
Mereka hanya meratapi nasib yang tidak bisa menghabiskan uang bernominal kecil ini ke kantin membeli makanan tercinta. Justru uang itu menolak keluar dan memilih melipat dirinya sendiri di dalam saku seragam.
Satu kelas itu sekarang tidak ada siapa-siapa, hanya terdapat Kanaya, Nirmala, Rhea, Demayu, dan kelompok milik Sedanu yang tidur di pojok kelas.
Sisanya sudah keluar entah kemana. Kalau menurut imajinasi Kanaya mereka sudah berlarian mengelilingi sekolah seolah mengelilingi satu dunia.
Di sisi lain Sedanu dan teman-temannya tidak benar-benar tertidur. Mereka melamun memikirkan sesuatu, seperti ujian, guru yang menakutkan, materi yang tiada habisnya, atau teman yang mendengkur saat tidur pulas saat ini.
Tidak ada yang bisa menebak keajaiban siswa kelas paling beruntung ini, termasuk Kanaya sendiri.
Kanaya sudah menyadari kalau cepat atau lama dia pasti akan terjerumus ke dalam keajaiban tersebut.
────
Selanjutnya rasa bosan mulai dirasakan semua orang yang tersisa di kelas. Tidak ada obrolan. Yang terdengar hanya hembusan nafas dari orang yang sama.
Tidak ada yang berniat memulai percakapan. Akibatnya, keheningan tetap bertahan di kelas.
Dari sini, Kanaya berdiri di depan teman-temannya yang mengantuk dan bersiap tidur di kursi yang mereka duduki.
Kanaya berniat mengajak mereka ke perpustakaan. Bukan kebetulan, mengingat perpustakaan sekolah terdapat fasilitas seperti bantal dan pendingin udara sepertinya tidak masalah untuk menumpang istirahat di sana.
Ide itu ditolak mentah-mentah, bukan dengan ucapan, tetapi dengan keadaan wajah yang mengantuk dan tindakan dari Rhea serta Demayu yang tertidur pulas.
Lima menit kemudian, mereka serentak menyusun kursi dan tidur bersama saling bersandar di pundak satu sama lain.
────
Hari mulai menjelang sore.
Matahari yang awalnya mengawasi dari atas kini berganti perlahan meninggalkan jejak oranye di langit.
Angin bergerak menerbangkan dirinya ke segala arah sementara bunga dan pohon melambai mengikuti nyanyian sang angin.
Kanaya baru saja pulang dari perpustakaan di pusat kota, dia berencana menghabiskan waktu sepulang sekolah nya dengan berjalan-jalan.
Satu persatu tempat ia kunjungi, dari ujung jalan hingga sampai di tempat terakhir. Kanaya memang suka menghabiskan waktunya sendiri, itu membuat nya tenang tanpa beban di pikirannya.
Dia memasuki kafe yang menjadi destinasi terakhir perjalanan nya. Tepat di meja dekat jendela, Kanaya melihat seseorang yang familiar untuk nya. Wajahnya tertutup topi sehingga tidak mudah untuk melihat wajahnya secara langsung.
Kanaya duduk tak jauh dari sana, ia memesan satu cangkir teh dengan kue yang sangat ingin dia cicipi.
Tapi itu tidak membuat nya tenang. Entah kenapa Kanaya seperti sedang diamati oleh seseorang. Hal itu memicu perasaan cemas dari hatinya. Jantungnya berdetak kencang, tangan nya tak bergerak saat masih memegang sendok dan garpu.
Kanaya terdiam, matanya melihat sekeliling mencari sosok yang memperhatikan nya. Sampai... Kanaya bertatap mata dengan sosok itu.
Ketika diperhatikan kembali, sosok itu adalah Sedanu. Ia terlihat membawa buku dan pena kecil di tangannya seperti sedang menulis sesuatu.
Pena itu terus bergerak di atas kertas, meninggalkan jejak tinta yang membentuk deretan kata.
Dari situ, Kanaya semakin sadar akan kehadiran Sedanu saat bertatap muka dengannya.
────
Pagi hari dimulai seperti biasa.
Kanaya bangun dan segera beranjak dari tempat tidur nya. Ia membuka jendela dan menyapa burung-burung yang bertengger di ranting pohon.
Setelah itu, Kanaya memakai seragam dan merapikan rambutnya yang berantakan.
Kemudian Kanaya menuruni tangga bersama tas yang ada di atas bahunya. Orang tua Kanaya menyuruhnya sarapan terlebih dahulu lalu mengenakan sepatu sebelum berangkat ke Sekolah.
Sesudah sarapan, Kanaya membuka pintu dan mengeluarkan sepeda miliknya. Sepeda itu menjadi kendaraan satu-satunya yang bisa dia gunakan untuk berpergian.
Selama perjalanan Kanaya menyapa tetangganya yang kebetulan satu arah dengan nya. Mereka melakukan aktivitas seperti olahraga atau hanya sekedar jalan jalan kecil.
────
Baru saja memasuki kelas, Kanaya sudah disambut suara nyaring dari sisi pojok kelas. Ia melihat sumber suara itu dan terheran-heran karena itu lagi-lagi adalah suara Nirmala.
Dilanjutkan dengan Demayu dan Rhea yang baru tiba di sekolah, mereka menemukan Kanaya yang ada di dalam pelukan Nirmala memasang wajah pasrah.
Kanaya yang melihat teman-temannya tertawa langsung menatap sinis ke arah mereka. Pelukan itu memang terasa hangat, tapi bagi Kanaya bukan saatnya dia dan Nirmala berpelukan, apalagi ini masih pagi.
Bel pelajaran telah berbunyi, tetapi tidak ada guru yang datang ke kelas mereka. Beberapa menit kemudian, ketua kelas memberi tahu bahwa guru mata pelajaran mereka sedang kurang sehat dan tidak dapat mengajar hari itu.
Mendengar kabar tersebut, seisi kelas langsung bersorak gembira. Bagi mereka, kehilangan satu jam pelajaran terasa seperti hadiah kecil di tengah padatnya kegiatan sekolah.
Nirmala dan yang lain sepakat pergi ke kantin untuk membeli makanan. Berbeda dengan mereka, Kanaya memilih menghabiskan waktu di perpustakaan untuk belajar sendiri.
Setelah mendengar keputusan itu, mereka hanya mengangguk dan membiarkan Kanaya pergi ke perpustakaan.
Begitu tiba di perpustakaan langkah Kanaya tak kunjung berhenti menyusuri tiap rak mencari-cari buku yang ingin dibaca. Satu persatu rak di tiap lorong ia lewati bersamaan dengan tangannya yang bersentuhan langsung dengan sampul buku-buku lainnya.
Di perpustakaan yang cukup tenang, kehadiran Sedanu menjadi hal kedua yang dilihat Kanaya. Baginya, tempat tenang dan damai seperti ini tidak mungkin dikunjungi Sedanu yang berisik dan pecicilan.
Kanaya terus berusaha tidak menggubris keadaan Sedanu yang duduk di meja barisan kedua. Sekarang dia bisa bernapas lega. Sedanu terlihat lebih tenang dari biasanya, sibuk menulis sesuatu di atas buku yang terbuka di hadapannya.
────
Semenjak pertemuannya dengan Sedanu di perpustakaan, tidak ada kejadian besar yang terjadi.
Kanaya masih menjadi gadis yang pemalu. Nirmala, Rhea, dan Demayu juga tetap menjadi sumber keributan dalam hari-harinya.
Waktu terus berjalan tanpa menunggu siapa pun. Hingga tanpa disadari, hari kelulusan semakin dekat.
Di saat itulah sesuatu mulai terjadi di dalam hati Kanaya.
Awalnya, pintu itu tertutup rapat dan tak seorang pun mampu membukanya. Namun, semakin sering ia bertemu dengan Sedanu, pintu itu perlahan melemah.
Tanpa sadar, Sedanu telah menempatkan dirinya di dalam hati Kanaya.
Tentu saja, semua itu tidak terjadi begitu saja.
Di balik pertemuan-pertemuan yang terlihat kebetulan, ada beberapa rencana kecil yang sengaja dibuat agar Sedanu bisa mendekati Kanaya sedikit demi sedikit.
Awal bulan Juni pun tiba.
Seperti biasanya, Kanaya kembali menceritakan pujaan hatinya kepada ketiga sahabatnya.
Tanggapan mereka pun beragam.
Nirmala dan Rhea sudah mengetahui rencana itu sejak awal. Sementara Demayu masih sulit percaya bahwa Kanaya bisa menyukai laki-laki seperti Sedanu.
Di tengah percakapan dan tawa mereka, ujian datang silih berganti, membawa mereka semakin dekat menuju akhir perjalanan di sekolah menengah atas.
Tak seorang pun tahu bagaimana kisah itu akan berakhir.
────
Ujian dilewati Kanaya tetap bersenda gurau satu sama lain. Tak terasa semakin banyak hari yang mereka lewati, nama Sedanu semakin memenuhi pikiran Kanaya.
Nirmala selalu berusaha agar Kanaya dan Sedanu bisa mengobrol meski hanya sesaat.
Sementara Rhea dan Demayu meminta bantuan pada teman-teman Sedanu supaya Kanaya dan pujaan hatinya bisa mengungkapkan perasaan mereka berdua.
Semua usaha keras itu tidak terbayar. Nyatanya Sedanu masih tidak berani untuk mengobrol langsung bersama Kanaya dan itu tidak membuat adanya kemajuan dalam hubungan mereka.
Kanaya hanya bisa meratapi perasaan.
Lalu Sedanu? dia masih menyimpan perasaannya di dalam buku harian kecil miliknya. Di setiap halaman selalu tertulis Nama Kanaya sebagai perempuan yang ia sukai.
Keduanya merasa belum terlambat untuk mengatakan rasa suka dan belum menemukan waktu yang tepat untuk itu.
Cepat atau lambat, waktu pasti akan mempertemukan keberanian mereka.
────
Kini, perjalanan Kanaya di sekolah menengah atas akan berakhir.
Kanaya akan menggunakan seragam sekolah yang ia punya untuk terakhir kalinya. Wajahnya berseri-seri karena inilah momen yang telah lama ia tunggu.
Matahari kembali muncul menyinari langit. Beberapa awan sesekali menutupi cahayanya, sementara bunga-bunga di tepi jalan bermekaran dengan warna warna yang indah.
Kanaya kembali menata dirinya di depan cermin. Ia baru saja mendapatkan saran dari Nirmala terkait perasaannya kepada Sedanu.
Ia ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini disimpannya. Sebab setelah hari ini, ia tidak tahu kapan dirinya dan Sedanu akan bertemu lagi.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Kanaya membiarkan mulutnya tertutup rapat. Tiada satu kata yang keluar dari mulut nya.
Ia terus mengingat saran dari sahabatnya dan berusaha untuk percaya bahwa dirinya bisa mengucapkan kata-kata itu.
Kanaya tetap berjalan menuju kelasnya dengan sudut mata yang menjelaskan ketakutan nya. Suasana kelas pagi itu dipenuhi tawa riang dan suara kamera dari beberapa arah.
"Bagaimana? udah siap belum?" tanya Nirmala kepadaku.
"belum.. "
Rhea dan Demayu yang duduk di samping Nirmala merasa itu adalah hal yang wajar. Pasalnya Kanaya tidak pernah jatuh cinta, lalu kemudian dia menempatkan satu laki-laki di hatinya.
Perasaan tulus itu membuatnya semakin menyukai Sedanu dari beberapa bulan terakhir.
"Jemian, kamu ada liat Sedanu dimana?"
Spontan Rhea menanyakan salah satu teman Sedanu yang asyik berfoto bersama penggemar nya.
"Tadi sih dia ke arah tangga, katanya mau ambil barang yang ketinggalan bareng Bima."
Nirmala menatap mata Kanaya dengan penuh yakin kalau sahabatnya bisa melewati ini. Namun ketakutan atas penolakan masih membuat langkah nya berat.
────
Akhirnya, Nirmala setuju untuk mengantar Kanaya ke tangga untuk menghampiri Sedanu.
Benar saja, Sedanu sedang duduk di anak tangga mendengarkan Bima yang bercerita dengan beberapa barang di samping nya.
Nirmala memberi kode ke arah Bima agar pergi dan membiarkan Kanaya berbicara dengan sang pujaan hati.
Kode itu diterima dengan senang hati oleh Bima. Ia kemudian menepuk pundak Sedanu dan mengajaknya untuk berdiri. Meski begitu, Sedanu tidak mencurigai Bima sama sekali.
"𝘎𝘰𝘰𝘥𝘭𝘶𝘤𝘬, aku pantau dari pojok sana, ya."
Nirmala kemudian meninggalkan Kanaya sendiri di anak tangga yang berada lebih tinggi dari Sedanu.
Kanaya mencoba menarik napasnya pelan-pelan dan mengumpulkan keberanian. Dari kejauhan ia mengungkapkan perasaan nya.
"Sedanu, aku suka kamu."
"Hah?"
Mungkin dalam pikiran Kanaya suaranya belum cukup keras untuk di dengar Sedanu. Kemudian ia mengulang kembali perkataan nya.
"Aku suka kamu, Sedanu!"
"Kamu bicara apa sih? 𝘴𝘢𝘺 𝘪𝘵 𝘭𝘰𝘶𝘥𝘦𝘳, Kanaya Paradista."
"Sedanu kamu ga bisa dengar ya?!"
"Aku bilang, aku suka kamu!!"
Kalimat itu terdengar hampir ke segala penjuru sekolah. Sedanu tersenyum lebar sembari menatap mata Kanaya, bersiap mengucapkan sesuatu.
"Baguslah. Mulai sekarang aku tidak perlu menyimpan buku harian ini lagi."
Sedanu mengangkat buku hariannya tepat di hadapan Kanaya dan itu membuatnya terdiam. Kanaya berpikir dirinya yang pertama kali menyukai Sedanu.
Tetapi, selama ini Sedanu sendiri yang pertama kali jatuh cinta pada Kanaya.
"Perasaan kamu diterima. Aku juga suka kamu, Kanaya."
"...Aku senang kamu mau menerima nya"
"Aku merasa terhormat menjadi salah satu bagian hidupmu. "
"Aku juga, Sedanu Dirgantara. Sekali lagi terimakasih."
Setelah mengatakan itu, Kanaya menuruni beberapa anak tangga hingga sejajar dengan Sedanu.
Mereka saling bertatapan. Tatapan mereka seolah mengatakana apa yang sulit diungkapkan dengan kata kata.
Pada akhirnya, suara hati mereka menjadikan hari kelulusan itu sebagai awal dari kisah baru yang akan mereka jalani bersama.
Begitulah akhir perjalanan Kanaya di sekolah menengah atas, sekaligus hari ketika ia memulai kisah baru bersama Sedanu Dirgantara.
—END
🍀