Nisa selalu menyukai perjalanan.
Bukan sekadar berpindah tempat, tetapi melarikan diri sejenak dari rutinitas, menghirup udara baru, melihat wajah-wajah asing, dan mengingatkan dirinya bahwa dunia jauh lebih luas daripada kesedihan yang pernah ia alami.
Di usia dua puluh tujuh tahun, ia masih sendiri.
Banyak orang bertanya mengapa perempuan seusianya belum menikah.
Nisa biasanya hanya tersenyum.
Tidak semua orang tahu bahwa ada beberapa kehilangan yang mengubah seseorang lebih dari yang terlihat.
Hari itu ia duduk di sebuah pantai sambil memandang ombak yang datang dan pergi.
Angin sore memainkan rambutnya ketika sebuah suara laki-laki terdengar dari belakang.
"Maaf, kamu Nisa bukan?"
Ia menoleh.
Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya.
Wajahnya terasa familiar, tetapi Nisa tidak mampu mengingat siapa dia.
"Iya, aku Nisa. Maaf, kamu siapa ya?"
Pria itu tersenyum kecil.
"Aku Rendy. Teman SD-mu. Dulu aku yang paling pendek di kelas."
Nisa terdiam beberapa detik.
Rendy?
Anak kecil yang dulu kurus, pendek, dan selalu membuat keributan di kelas?
Pria di depannya sekarang tinggi, atletis, berkulit putih, dan memiliki senyum yang membuat orang merasa nyaman tanpa alasan.
"Rendy Saputra?"
"Iya."
"Atlet senam lantai itu?"
Rendy tertawa.
"Akhirnya ingat juga."
Nisa ikut tertawa kecil.
Ia tidak menyangka pertemuan untuk mencari ketenangan justru mempertemukannya dengan seseorang dari masa lalu.
Mereka berbicara cukup lama sore itu.
Tentang pekerjaan.
Tentang kehidupan.
Tentang masa kecil yang ternyata masih mereka ingat dengan cukup jelas.
Saat mereka bertukar nomor telepon sebelum berpisah, Nisa tidak menyadari bahwa pertemuan itu akan mengubah hidupnya.
Namun satu hal yang ia sadari ketika meninggalkan pantai saat itu adalah...
sudah lama sekali ia tidak merasa senyaman ini saat berbicara dengan seorang pria.
---
Beberapa minggu kemudian Nisa kembali menikmati malam dengan caranya sendiri.
Lampu warna-warni memenuhi ruangan.
Dentuman musik DJ menggema di seluruh club.
Ia menyukai suasana seperti ini.
Bukan untuk mencari pasangan.
Bukan untuk mencari perhatian.
Ia hanya menyukai musik dan kebebasan yang dirasakannya ketika berada di tengah keramaian tanpa harus menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.
Saat sedang menikmati musik, seorang pria yang tidak dikenalnya mencoba mendekat.
"Hai, sendirian?"
Nisa tersenyum sopan.
"Iya, tapi aku baik-baik saja."
Namun pria itu terus mendekat.
Sampai tiba-tiba seseorang berdiri tepat di belakang Nisa.
"Dia nggak tertarik."
Nisa mengenali suara itu bahkan sebelum menoleh.
Rendy.
Pria itu memilih pergi setelah melihat kehadiran Rendy.
Nisa menghela napas lega.
"Kamu ngapain di sini?"
Rendy mengangkat bahu.
"Kayaknya aku yang harus tanya itu."
Mereka tertawa bersamaan.
Malam itu mereka menghabiskan waktu berbicara sambil menikmati musik.
Dan untuk pertama kalinya Nisa menyadari sesuatu.
Ia tidak hanya tertarik pada wajah Rendy.
Ia menyukai rasa aman yang hadir setiap kali pria itu berada di dekatnya.
---
Pertemuan ketiga terjadi beberapa bulan kemudian.
Di gym.
Nisa yang baru mencoba tempat olahraga baru hampir menjatuhkan botol minumnya saat melihat seseorang berjalan ke arahnya.
"Serius?"
Rendy tertawa.
"Aku juga mikir begitu."
"Dunia kecil banget ternyata."
"Atau memang kita ditakdirkan sering ketemu."
Kalimat itu membuat Nisa memutar mata sambil tertawa kecil.
Sejak saat itu mereka mulai lebih sering bertemu.
Kadang mereka olahraga bersama.
Kadang riding malam.
Kadang hanya duduk menikmati kopi sambil membicarakan hal-hal sederhana.
Dan perlahan...
tanpa disadari...
Nisa mulai menunggu pesan dari Rendy setiap pagi.
---
Suatu malam mereka berhenti di sebuah tempat yang menghadap ke kota.
Lampu-lampu terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi.
"Aku suka kamu."
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Rendy.
Nisa menoleh.
"Aku serius, Nisa."
Tidak ada bunga.
Tidak ada drama.
Tidak ada kejutan besar.
Hanya seorang pria yang menatapnya dengan jujur.
"Aku suka kamu sejak lama."
Nisa tersenyum kecil.
"Sejak kapan?"
"Sejak SD."
Nisa tertawa.
"Kamu bercanda."
"Aku serius."
Rendy ikut tertawa.
"Dulu kamu atlet lari sekolah. Semua orang tahu kamu."
"Lalu?"
"Aku juga tahu kalau aku nggak mungkin saingan sama piala-piala kamu."
Nisa tertawa semakin keras.
Namun di balik tawanya, hatinya terasa hangat.
"Kalau sekarang?"
Rendy menatapnya.
"Sekarang aku nggak mau kehilangan kesempatan kedua."
Nisa terdiam beberapa saat.
"Aku juga suka kamu, Rendy."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
ia mengizinkan seseorang masuk ke dalam hidupnya.
---
Hubungan mereka berkembang dengan perlahan.
Tidak terburu-buru.
Tidak dipaksakan.
Mereka menikmati waktu bersama seperti dua orang dewasa yang akhirnya menemukan tempat pulang.
Rendy mulai mengenal sisi rapuh Nisa.
Tentang trauma yang masih ia bawa.
Tentang ketakutannya.
Tentang malam-malam yang terkadang terasa terlalu sepi.
Sementara Nisa mulai mengenal luka yang dimiliki Rendy.
Tentang masa kecil yang dipenuhi pertengkaran.
Tentang rumah yang tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah.
Tentang seorang anak kecil yang tumbuh terlalu cepat karena keadaan.
Anehnya...
mereka tidak mencoba memperbaiki satu sama lain.
Mereka hanya memilih untuk tetap tinggal.
Dan terkadang itu sudah cukup.
---
Hubungan mereka dipenuhi hal-hal sederhana.
Sarapan bersama setelah olahraga pagi.
Riding tanpa tujuan saat akhir pekan.
Menikmati matahari terbenam.
Menonton film sampai tertidur di sofa.
Saling mengganggu hanya untuk mendengar tawa satu sama lain.
Sesekali mereka berdebat.
Sesekali mereka berbeda pendapat.
Tetapi tidak pernah ada hari di mana mereka berhenti memilih satu sama lain.
---
Suatu sore Rendy mengajak Nisa kembali ke pantai tempat mereka pertama kali bertemu.
Tempat semuanya dimulai.
"Ada apa?"
Rendy tersenyum.
"Kamu ingat waktu pertama kita ketemu lagi di sini?"
"Ingat."
"Aku gugup setengah mati waktu itu."
Nisa tertawa.
"Kamu kelihatannya santai."
"Itu akting."
Nisa kembali tertawa.
Rendy mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
Seketika dunia terasa diam.
"Nisa."
Ia menatap pria di depannya.
"Aku nggak janji hidup akan selalu mudah."
"Aku nggak janji kita nggak akan bertengkar."
"Aku juga nggak janji bisa menghapus semua luka yang pernah kamu alami."
Rendy menarik napas pelan.
"Tapi aku janji akan tetap ada."
Air mata mulai memenuhi mata Nisa.
"Maukah kamu menikah denganku?"
Nisa tersenyum sambil mengangguk.
"Iya."
Jawabannya sederhana.
Tetapi itulah jawaban yang sudah lama ingin mereka dengar.
---
Pernikahan mereka berlangsung sederhana.
Dihadiri keluarga dan orang-orang terdekat.
Tidak mewah.
Tidak berlebihan.
Tetapi dipenuhi kebahagiaan.
Saat menggenggam tangan Rendy di hari itu, Nisa menyadari sesuatu.
Kadang hidup memang mengambil banyak hal dari seseorang.
Kadang hidup meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar hilang.
Tetapi hidup juga memiliki cara yang aneh untuk mengembalikan harapan.
Bagi Nisa...
Rendy adalah bukti bahwa setelah kehilangan, seseorang masih bisa menemukan kebahagiaan.
Dan bagi Rendy...
Nisa adalah rumah yang selama ini ia cari.
Semua itu bermula dari sebuah pantai.
Sebuah sapaan sederhana.
Dan seorang teman SD yang datang kembali pada waktu yang tepat.
Karena terkadang...
cinta tidak datang dari orang baru.
Melainkan dari seseorang yang diam-diam sudah menunggu sejak masa lalu.