“Apa?! Mengapa saya harus mencabut nyawa manusia? Bukannya sudah ada yang bekerja di bidang tersebut?”
“IX, kamu harus mengerti bahwa dalam hidup, terkadang kita harus bisa menerima hal yang tidak kita suka dan ini salah satu contohnya.”
“Bos, masalahnya saya tidak pernah mencabut nyawa manusia. Saya sudah terbiasa mencabut nyawa hewan dan tumbuhan namun mengapa saya langsung diubah posisi menjadi pencabut nyawa manusia? Ini kan tidak adil! Belum lagi saya juga harus bekerja langsung keesokan harinya.”
“Saya tahu kamu paling benci manusia namun bagaimana lagi? Si X tidak bisa ditemukan di mana-mana, hanya kamu yang bisa menggantikannya.”
“Kan ada malaikat maut lainnya yang bisa menggantikan posisi X, lihat tuh, Si XI saja sedang makan donat sambil tertawa-tawa. Mengapa harus saya? Anda kira saya punya banyak waktu luang? Mencabut nyawa manusia itu lama sekali. Saya juga harus bersih-bersih rumah Bos!”
“Kamu kan malaikat maut! Ngapain bersih-bersih rumah?”
“Saya malaikat maut clean freak, masa Anda tidak tahu? Saya sudah bekerja di perusahaan ini selama 2704 tahun loh!”
“Sudahlah! Intinya kamu mau tidak mau harus tetap menggantikan posisi X mulai besok! Saya tidak peduli kamu clean freak atau bukan. Pokoknya kamu harus sudah bisa bekerja sebagai pencabut nyawa manusia!”
“Tapi Bos-“
“Latihanlah sendiri di rumah! Minta tolong rekan kerjamu sana!”
Pintu belakang tertutup rapat dan IX keluar dari ruangan bosnya dengan hati yang berat. IX adalah malaikat maut yang bekerja di Perusahaan DEATH.Co, Ia sudah bekerja sebagai pencabut nyawa hewan dan tumbuhan selama ratusan tahun. Namun, suatu hari dia secara terpaksa harus mengambil pekerjaan mencabut nyawa manusia. Untuk mencabut nyawa manusia, seorang malaikat maut harus melakukan sebuah ritual yang berlangsung selama 1 hari dalam waktu malaikat maut, beda halnya dengan mencabut nyawa hewan dan tumbuhan yang hanya perlu waktu beberapa jam. IX tidak sabaran dan ia sangat benci manusia. Menurut dia, manusia adalah makhluk yang tidak peduli siapapun selain dirinya sendiri dan hanya penuh ego. Waktu pulang, dia meminta tolong temannya yang sudah lama bekerja dalam bidang pencabutan nyawa manusia.
Keesokan harinya, IX langsung melakukan pekerjaannya. Ia mencabuti nyawa orang-orang, ia melihat manusia-manusia yang sakit, kesulitan, dan berbagai macam kesengsaraan pun ia perhatikan. Ada yang berbaring di rumah sakit, ada yang sedang bersama keluarga, ada yang mengonsumsi obat-obatan, dan lainnya.
“Penyakit kanker huh... Sudah ada berapa banyak yang meninggal akibat penyakit ini? Jika bukan dari penyakit mesti karena mereka bunuh diri.”
Dalam hukum malaikat maut, orang-orang yang bunuh diri akan diantar ke neraka yang paling dalam, di sana hanya ada ratap tangis dan kertak gigi, kegelapan dan api memenuhi dunia tersebut. Siapapun yang masuk sudah tidak akan bisa keluar, terperangkap di sana selamanya. IX tidak suka berkunjung ke neraka karena ia tidak nyaman melihat penyiksaan yang dihadapi para manusia. Sudah satu minggu IX melakukan pekerjaannya dan ia sudah mulai terbiasa mencabuti nyawa orang-orang. Di kantor, ia didatangi oleh temannya, V.
“Hey hey hey!! IX, kamu nggak kesulitan kan di pekerjaan barumu?”
“Ada apa V?”
“Kamu nggak ada rasa ketertarikan gitu kan?”
“Ketertarikan apaan?”
“Terhadap manusia lah! Kamu belum pernah dengar kejadian I?”
“Kejadian I?”
“Iyaaa, 365 tahun yang lalu, malaikat maut pertama yang kerja di sini pernah jatuh cinta dengan manusia! Akhirnya, ia dihukum dan dikeluarkan dari DEATH.Co.”
“Jatuh cinta? Tapi kan kita nggak punya perasaan seperti itu? Terus dia bagaimana sekarang?”
“Aku nggak tahu sih, tidak ada informasi setelah itu. Tapi aku dengar hukumannya keras sekali, kamu jangan sampai jatuh cinta sama manusia loh ya! Hihihi~” gurau V.
”Apaan sih, mana mungkin aku suka manusia? Sudahlah, nggak usah banyak ngomong. Aku perlu kembali kerja, waktu istirahatku sudah selesai.”
“Ih, nggak seru banget sih kamu ini! Ya sudah, aku pergi dulu ya. See you later!”
IX melanjutkan pekerjaannya di bumi sambil terngiang-ngiang perkataan V. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa seorang malaikat maut mencintai seorang manusia? Seiring berjalannya waktu, IX melihat sisi berbeda dari manusia. Awalnya ia berpikir manusia adalah makhluk yang sangat sombong namun setelah menyaksikan berbagai kejadian di bumi, IX merasa bahwa manusia merupakan makhluk yang unik dan sulit dimengerti. Malaikat maut dan manusia adalah dua spesies yang berbeda, malaikat maut tidak mempunyai perasaan kasihan ataupun cinta, namun mereka bisa menunjukkan emosi selain itu. Beda halnya dengan manusia, mereka bisa merasakan kasih sayang, emosi yang tidak dimiliki malaikat maut. IX mulai penasaran mengenai perasaan yang dalam diri manusia.
Selesai kerja, ia segera ke Perpustakaan La Morte. Perpustakaan yang memiliki semua buku dari seluruh alam semesta. Tempat itu sangat luas, ribuan buku ditata dengan rapi di rak-rak berwarna hitam dan di tengah perkumpulan buku-buku ada meja kayu mewah yang disoroti meja lampu kecil. Di sana, duduklah figur menggunakan jubah hitam. Wajahnya tertutup namun bisa terlihat ia menggunakan kacamata kotak, ia mengangkat kepalanya dan bertanya kepada IX,
“Apa yang sedang Anda cari?”
“Saya sedang mencari buku yang membahas perasaan manusia dan kejadian malaikat maut pertama. Apakah ada di sini?”
“Saya periksa sebentar. Anda bisa duduk di sana sambil menunggu, nanti saya panggil.”
“Baiklah, terimakasih.”
Beberapa menit berlalu dan resepsionis memanggil IX,
“Buku yang Anda cari ada di seksi 1908, baris 9388. Di sana ada petunjuk dan informasi mengenai buku-buku di bagian tersebut.”
“Siap, makasih”
IX memutar badannya untuk menuju ke seksi 1908, tiba-tiba sang resepsionis memanggilnya dan berkata,
“Hati-hati dalam pekerjaanmu, jangan sampai Anda melakukan hal yang dilakukan malaikat maut pertama.”
“Memangnya kenapa?”
“Percayalah, Anda tidak ingin hal yang sama terjadi pada Anda.”
IX menelan ludah dengan gugup lalu kembali mencari buku di seksi yang sudah diberitahu oleh resepsionis. IX mengambil sebuah buku berwarna biru muda dengan judul ‘Cara Mendapatkan Pacar yang Tidak Kurang Ajar’. Ia mengerutkan kening dan lanjut mencari buku lain, setelah beberapa lamanya menggali buku-buku. Akhirnya, dia menemukan buku hitam yang menjelaskan sejarah malaikat maut pertama. Di buku tersebut dijelaskan bahwa ada seorang malaikat maut yang bertugas di bumi untuk mencabuti nyawa manusia, hewan, tumbuhan. Suatu hari, sang malaikat maut bertemu dengan manusia yang seharusnya meninggal karena kecelakaan namun karena malaikat maut jatuh cinta dipandangan pertama, sang malaikat maut menjelma menjadi manusia dan tinggal bersama manusia tersebut. Mereka bersatu dan mempunyai anak, namun sang malaikat maut tertangkap basah oleh Perusahaan DEATH.Co sehingga ia dihukum karena telah melanggar aturan perusahaan.
“Hukuman apa yang dihadapi malaikat maut pertama?”
Saat IX membalik lembar ke-68, halaman 69 kosong, hanya ada bekas robekan. Tidak ada penjelasan mengenai hukuman malaikat maut pertama. Hal tersebut membuat IX kebingungan, ia pulang dengan penuh penasaran dan keheranan. Keesokan harinya, saat ia sedang bekerja, dia menemukan seorang bayi yang nyawanya perlu ia cabut. Saat IX hendak melakukan ritual, tiba-tiba ada suatu perasaan dalam hatinya yang menghambatnya mengambil nyawa sang bayi.
“Perasaan apa ini? Mengapa aku merasa.. salah untuk mengambil nyawa manusia ini?” IX menghela nafas,
“Ah, sudahlah! Siapa peduli tentang manusia kecil ini. Semua manusia sama saja! Ayo IX kamu nggak usah berpikir yang aneh-aneh, nanti nasibmu bisa sama seperti malaikat maut pertama!”
Saat IX mengangkat sabitnya, sang bayi tiba-tiba tertawa. Kelihatannya bayi tersebut merasakan kehadiran IX, IX pun berhenti seperti batu. Dia memandang bayi manusia itu dengan rasa kasihan. Ia menurunkan tangannya dan segera meninggalkan bayi itu dan kembali melakukan pekerjaannya di tempat lain. Dia pun kembali ke dunia maut.
“Apa yang harus kulakukan? Mengapa ada suatu perasaan aneh dalam diriku? Jangan bilang aku merasa kasihan terhadap bayi tadi.. Bukannya malaikat maut tidak bisa merasakan cinta dan kasih sayang?”
IX mengusap wajahnya, ia dipenuhi dilemma. Dia kebingungan antara menelusuri perasaan manusia atau lanjut bekerja sebagai malaikat maut dan membunuh bayi tersebut. Setelah sejenak berpikir, akhirnya dia menentukan untuk merawat bayi manusia sembari bekerja sebagai malaikat maut. Dimensi malaikat maut dan dimensi manusia memiliki jarak waktu yang berbeda, 1 hari dalam dunia manusia berarti 1 tahun dalam dunia maut. Karena itu, IX selalu menyiapkan timer untuk menentukan kapan ia menjelma menjadi manusia dan kapan ia perlu kembali ke wujud aslinya.
“Hei bayi manusia, mulai hari ini aku akan merawatmu. Ini bukan karena aku sayang kamu tapi karena aku kepo dengan perasaanku, jadi jangan salah paham!”
Bayi manusia itu hanya melongo karena tidak mengerti apapun yang dikatakan IX, lalu IX mencari informasi mengenai keluarga bayi tersebut. Ternyata 4 hari yang lalu, orangtuanya baru saja meninggal dunia, tidak ada kerabat keluarga yang mampu merawat bayi itu. IX mengernyitkan dahinya dan berpikir,
“Manusia sungguh makhluk yang egois. Mereka bahkan tidak peduli jika manusia kecil ini mati! Ini menjengkelkan sekali.”
IX menggeram dan lanjut dengan rencananya untuk merawat bayi itu sambil bekerja. Ia pun memberikan bayi itu nama ‘Cherie’. IX merawat Cherie sampai ia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan ceria. IX menjadi sosok ayah bagi Cherie, awalnya memang sangat sulit karena IX tidak mengerti emosi yang ditunjukkan manusia dan bagaimana cara merawat homo sapien di masa kecil mereka. Namun seiring berjalannya waktu, ia belajar banyak mengenai perasaan manusia dan cara merespon perasaan tersebut. 13 tahun sudah lewat di dunia manusia sedangkan 4745 tahun di dunia maut dan Bos DEATH.Co mulai curiga tentang berkali-kali hilangnya keberadaan IX. IX pun dipanggil ke ruangan Bos dan diinterogasi oleh Bosnya.
“IX, tahun-tahun ini saya sering melihat kamu menghilang selama berhari-hari dan kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Hal itu membuat saya berpikir, apa yang kamu lakukan selama menghilang?”
“S-Saya tidak melakukan apa-apa kok, Bos!” ujar IX terbata-bata,
“Begitukah? IX, saya tidak akan marah jika kamu jujur. Saya hanya ingin tahu apa yang kamu lakukan selama kamu menghilang.”
IX terdiam, ia bingung mau menjawab apa,
“Huft, baiklah. Jika kamu tidak berani memberitahu sebenarnya, saya mau tidak mau harus turun tangan. IX, mulai hari ini, kamu akan diawasi oleh petugas senior jadi jangan berbuat aneh-aneh. Jika kamu tetap menghilang, kamu akan dijatuhi hukuman.”
“Hukuman..?”
“Kamu akan dikeluarkan dari DEATH.Co dan bekerja sebagai janitor di neraka.”
“Apa?! Bukannya itu keterlaluan?!”
“Kamu sendiri yang tidak mau jujur, itulah hukuman yang harus engkau tanggung. Masih lebih mending daripada hukuman pertama.”
“Hukuman pertama?”
“Sudah, keluarlah dari ruanganku dan bekerjalah sungguh-sungguh sebagai malaikat maut.”
“Baik Bos.. Maafkan saya…”
Setelah kejadian itu, IX diawasi oleh petugas senior setiap saat. Dia jadi tidak bisa menemui Cherie dan hal itu mengkhawatirkannya. Akhirnya saat ada kesempatan untuk ke bumi, ia dengan bersicepat menjelma sebagai manusia dan menghilang dari dunia maut. Saat malaikat maut menjelma menjadi manusia, malaikat maut lain tidak akan bisa mendeteksi bahwa manusia itu juga satu spesies dengan mereka. Hanya malaikat maut dengan pangkat XXX yang bisa mengenali penyamar tersebut. Untungnya, malaikat maut dengan pangkat XXX sangat sedikit jumlahnya jadi persentase IX dapat ditemukan sangat kecil. IX kabur dari perusahaannya dan lanjut hidup menjelma sebagai manusia untuk merawat Cherie. 3 tahun di bumi lewat dan IX tidak bisa ditemukan di dunia maut.
“Ayah, hari-hari ini aku bisa melihat hal-hal yang aneh di sekitar sekolahku..” kata Cherie,
“Maksudmu?” tanya IX,
“Di dekat sekolah ada beberapa makhluk bersayap hitam menggunakan topeng tengkorak..” gumam Cherie,
“Apa? Ayah nggak dengar apa yang kamu katakan.”
“Sorry, nggak jadi Ayah. Rasanya cuma bayanganku aja deh..” jawab Cherie sambil tertawa. Cherie turun mobil dan masuk sekolah. Cherie memiliki hubungan yang baik dengan IX, ia tahu bahwa IX bukan ayah kandungnya tapi ia tetap mengasihi IX seperti keluarganya sendiri dan sudah tinggal bersama selama 17 tahun. Selesai sekolah, Cherie langsung masuk ke kamarnya dan mengerjakan PR sedangkan IX bekerja sebagai pegawaidi kantor.
Menjelang malam hari, perjalanan pulang kantor, tiba-tiba IX ditangkap oleh seorang malaikat maut dan dibawa kembali ke dunia maut. IX panik dan bingung bagaimana malaikat maut lain bisa menemukan dia di bumi. Ia ditaruh di sebuah ruangan tertutup, di sana gelap sekali, hanya ada 1 lampu yang menyinari ruangan tersebut. Beberapa menit kemudian, pintu logam terbuka, masuklah Bos di ruangan itu.
“IX,” panggil Bos.
“B-Bos..? Bagaimana Anda bisa tahu..?”
Bos menghela nafas dan menjawab, “Aku sangat kecewa denganmu IX.”
“Kamu telah melanggar peraturan yang pertama dan terutama.. Malaikat maut dilanggar untuk berhubungan dengan manusia. Mengapa kamu melakukannya?”
“Aku.. tidak tahu.. Bos! Cherie tidak apa-apa kan?! Jangan bilang kalian melukainya!”
“Kamu ditangkap dan hendak dihukum namun kamu tetap khawatir tentang manusia itu?”
“Aku tidak peduli apa yang akan kalian lakukan terhadapku tapi jangan sampai kalian melukai Cherie!” bentak IX,
“Kita tidak akan melakukan hal yang buruk ke anak itu. Namun, hukuman yang perlu kamu hadapi berhubungan dengan anak itu.”
“Maksud Anda?”
“Saya akan memberimu dua pilihan. Pilihan pertama, kamu kembali bekerja sebagai malaikat maut dan kami mencabut nyawa anak asuhmu atau yang kedua, kamu menjadi manusia selamanya dan memori anak asuhmu kami hapus. Jadi dia akan melupakanmu dan segala yang terjadi antara kalian berdua. Jadi, kamu mau pilih yang mana?”
“…”
“Saya akan memberimu waktu untuk memilih, besok saya akan kembali.”
Bos meninggalkan ruangan dan membiarkan IX berpikir mengenai hukuman yang perlu ia lewati. IX merenung memorinya dengan Cherie, ia mempertimbangkan pilihan yang diberikan oleh Bosnya dan akhirnya dia menentukan Keputusan. Keesokan hari, Bos datang kembali dan menanyakan IX mengenai hukumannya, IX pun menjawab,
“Saya memilih untuk menjadi manusia.. Biarkanlah anakku hidup..”
Bos terdiam sebentar dan membalas, “Baiklah. Mulai hari ini kamu akan hidup sebagai manusia dan anakmu akan melupakan segala memori menganimu. Setuju?”
“Iya Bos.. Terima kasih atas tahun-tahun ini. Maafkan saya, saya telah gagal sebagai malaikat maut..”
“Selamat tinggal, IX.”
Bos mengubah IX menjadi manusia terbatas yang tinggal di bumi. IX segera mencari Cherie, ia berlari kembali ke rumah dan menemukan anaknya. Cherie memandang figur di depan pintu kamarnya. IX memeluk Cherie dengan erat sambil menangis, ia lega Cherie masih hidup dan sehat. Cherie pun ikut menangis lalu kedua manusia tersebut tertawa bahagia.
“Cherie, kamu mengingat Ayah?”
“Pastilah! Mana mungkin aku melupakan ayahku sendiri!”
“Bagaimana bisa?”
“Aslinya tadi ada malaikat maut yang datang dan menjelaskan keadaan Ayah.”
Cherie menjelaskan kejadian yang ia lewati saat IX ditangkap. Ternyata Bos datang sebagai malaikat maut menemui Cherie dan menanyakan dia beberapa hal,
“Apakah kamu Cherie?”
“S-Siapa kamu?!!”
“Saya adalah malaikat maut, hanya engkau satu-satunya manusia yang bisa melihat kami.”
“Apa?”
“Ayah kandungmu dulunya adalah seorang malaikat maut. Dia seorang yang patut dihormati, namun ia melanggar peraturan dan beranak dengan manusia. Karena kamu mempunyai darah malaikat maut, kamu bisa melihat kami tapi kamu tidak memiliki kekuatan seperti kami.”
“M-Maksudmu..?”
“Ayah asuhmu sedang dalam tahanan karena dia telah melanggar aturan dengan mengabaikan kematianmu dan merawatmu.”
“Ayah di mana sekarang!?”
“Aku akan bertanya kepadamu, apakah kamu mengasihinya?”
“Jelaslah! Beritahu aku dia di mana!?”
“Jangan konyol, dia sekarang berada di dunia maut. Kamu tidak akan bisa mencapainya. Jika aku memberimu pilihan untuk hidup sebagai manusia biasa namun ayahmu kami ambil, apakah kamu akan menerima?”
“Tidak! Aku hanya mau hidup jika ada ayah di sisiku!”
“Bagaimana kalau kamu mati tapi ayahmu selamat?”
“K-Kalau itu..” Cherie mengernyitkan kening dan terdiam sebentar,
“Hmm, kamu masih ragu-ragu. Kalau gitu saya anggap kamu tidak begitu mengasihinya.”
“Bukan begitu! Aku.. takut jika ayah selamat tapi hidup dalam kesedihan karena aku tidak ada..”
“Begitukah?”
“Tapi kalau kamu memberiku pilihan itu, aku lebih memilih untuk menyelamatkan ayah!” ujar Cherie dengan tegas. Bos pun terkejut dengan jawaban Cherie, ia pun melanjutkan kalimatnya,
“Baiklah, kasihmu menyelamatkan keluargamu. Saya tidak akan mengambil nyawa ataupun ingatanmu, namun ada malaikat maut lain yang akan mengambil ingatanmu tapi tenang saja. Kamu tidak akan lupa karena mereka lebih lemah daripadaku.”
“Ayah bagaimana?!”
“Nanti dia akan kembali. Kalau begitu, saya pergi dulu.”
Bos membuka sayap hitamnya yang bertuliskan XXX lebar-lebar bagaikan burung gagak yang hendak lepas landas dan ia terbang meninggalkan bumi untuk kembali ke dunia maut. Setelah kepergiannya IX. Terlihat bahwa Bos DEATH.Co duduk di ruangannya. Ia memandangi selembar kertas robekan berisi hukuman malaikat maut pertama dan halaman 69 tertulis di bagian bawah kertas. Ia menutup matanya, mendongak, dan berkata,
“Teman, anakmu sehat-sehat saja jadi tenanglah. Aku sekarang mengerti mengapa engkau melanggar hukum malaikat maut. Memang.. manusia itu sungguh menarik haha..
Aku berharap kamu baik-baik saja di akhirat.”