Jika sebuah pelukan itu sangat dirindukan, maka itu yang dirasakan seorang gadis kecil bernama Serly. Tinggal didesa hanya berdua bersama ibunya, membuat gadis kecil itu hidup mandiri dan sederhana. Rumah sederhana dengan halaman kecil, terlihat cukup hangat. Kehangatan bukan berasal dari luar, namun berasal dari dalam.
Pagi ini bukanlah pagi yang biasa bagi Serly. Ini adalah pagi yang spesial, dimana hari ini adalah hari pertama sekolah di jenjang SD. Semangat yang membara merelung jiwa Serly. Bertemu dengan baru adalah hal yang ditunggu-tunggu olehnya. Bercermin, memperhatikan penampilannya dengan seragam baru serta rambut panjang yang telah terikat rapi.
“Serly, ayo makan nak. Nanti terlambat loh!”
“Iya ibu, sebentar!”
Melihat dirinya telah siap, dengan segera ia menyambar tasnya dan keluar dari kamarnya.
Dilihatnya sang ibu sedang menata makanan yang telah ia siapkan sejak lagi tadi. Melihat sepiring nasi goreng istimewa buatan ibunya, membuat perutnya semakin keroncongan.
“Wahh, asik nasi goreng!”
Kegirangan anaknya saat melihat makanan sederhana yang ia buat membuat hati sang ibu terasa hangat. Serly adalah anak tersayang, permata yang tersisa baginya.
“Makanlah nak. Hari ini membuatkan nasi goreng spesial untukmu!”
“Ehm, terima kasih ibu!” Serly dengan segera menyantap nasi goreng itu dengan riang gembira.
Di tengah kegiatan sarapan yang hikmat itu, datanglah seorang lelaki paruh baya. Laki-laki tua yang tetap berwibawa. Seorang lelaki tua yang hidup berdua bersama istrinya. Tanpa anak, tanpa saudara. Tetangga paling di sayang oleh Serly.
“Loh, nduk maaih makan toh. Simbah kira sudah selesai,” ujarnya saat melihat Serly yang masih duduk di meja makan ditemani piring dan sendok.
“Paklik tunggu sebentar ya, atau pakklik mau ikut makan juga?” tawar ibu
“Nggak usah, nduk. Paklik mah sudah makan sama buklik tadi. Durung mangan, paklik mboten kesini toh.” candanya
“Ayo, simbah! Serly sudah siap!” ujar Serly sambil berlari keluar dan bersiap memakai sepatu barunya.
“Wihh, sepatu baru ya, nduk,”
“Iya, simbah. Ibu belikan Serly sepatu baru buat sekolah baru Serly!” girangnya sambil memamerkan sepatunya. Tak lupa dia bergaya menampilkan wajah lucu khas anak-anak.
“Yowes ayo berangkat. Simbah yang antar seperti biasa.”
“Ibu tidak ikut?” tanya Serly sambil menatap ibunya
Sang ibu menunduk sedih. Dirinya sangat ingin mengantar putrinya sekolah di hari pertamanya memasuki jenjang baru. Hanya saja, pekerjaannya tidak bisa ditinggal. Sebagai single parent, dirinya harus berperan sebagai ayah dan ibu bagi anaknya. Dan mencari nafkah adalah hal yang harus ia lakukan.
“Maaf ya, sayang. Ibu tidak bisa mengantar hari ini. Serly akan memaafkan ibu, kan?”
Serly menatap ibunya. Ia tersenyum seolah mengatakan bahwa itu bukanlah masalah. Serly tahu bahwa ibunya sibuk bekerja. “Tidak apa ibu. Ayo simbah, kita berangkat!” serunya sambil menari lengan kakeknya itu.
“Aku berangkat dulu ibu. Assalamualaikum!” pamitnya dengan tak lupa menyalami ibunya sebelum berangkat.
“Waalaikumsalam. Hati-hati, ingat dengarkan apa yang ibu guru katakan dan jangan nakal, mengerti!” Serly hanya mengangguk sebagai balasan tak lupa dengan senyuman manis ia berikan.
“Ayo berangkat, nduk!”
“Bye bye, ibu!” teriak Serly sudah jalan sambil melambikan tangan pada ibunya.
Sesampainya di sekolah, Serly berdiri tepat di depan gerbang sekolah. Inilah hal yang ditunggu-tunggu. Sekolah baru dan bertemu dengan teman baru.
“Serly, ingat harus patuh dengan arahan guru ya. Jangan nakal, nanti simbah marah loh!”
“Hihihi, oke simbah. Simbah tenang saja. Serly akan menjadi gadis yang manis selama di sekolah, janji,” ujarnya sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
Simbah yang tahu segera ikut mengulurkan jari kelingkingnya.
“Sudah, sana masuk!”
“Baik simbah, Serly sekolah dulu. Assalamualaikum,” pamitnya dan tak lupa salamnya. Kemudian Serly berlari memasuki area sekolah
“Waalaikumsalam,” jawab Simbah yang pasti sudah tak didengar Serly yang sudah berlari menjauh.
Simbah berdiri diam memandang ke arah gadis kecil itu. Anal kecil yang tak takut padanya, padahal setiap anak kecil yang melihatnya akan menangis ketakutan. Bahkan bisa saja mereka berlari menghindar.
“Bersekolahlah dengan nyaman ya, nduk.” gumamnya
Serly berjalan memasuki sekolah barunya. Melihat seseorang dikenalnya, Serly berlari menghampiri.
“Cici!” panggilnya.
Cici yang terpanggil menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya sang sahabat berlari menghampirinya.
“Serly!” ujarnya dengan riang dan berlari memeluk Serly.
Hihihi
Terdengar suara tawa saat melihat interaksi kedua gadis kecil. Berpelukan rindu seakan tak bertemu selama seabad. Namun, ada rasa syukur saat melihat interaksi hangat kedua anak itu.
“Serly sayang, kau tak merindukan tante?”
Serly mendongak dan melepas pelukannya dengan sahabatnya untuk melihat siapa itu. Ibu dari sang sahabatlah yang sedang menatap dirinya dengan sayang.
“Tentu saja Serly merindukan tante juga!” ujarnya sambil berlari memeluk kaki wanita dewasa itu.
Melepas pelukan, Serly menatap ibu sahabatnya. Sungguh cantik, secantik ibunya. Yang berbeda hanya cara berpakaiannya. Jika sang ibu berpakaian sederhana dan tertutup sesuai kewajiban muslimah, maka ibu sahabatnya itu tampil modis namun tetap sopan.
“Mana ibumu? Tidak datang mengantar?” tanyanya saat tak melihat sosok ibu gadis itu.
Gelengan kepalalah sebagai jawaban, “Serly tidak diantar ibu tapi diantar simbah. Ibu harus kerja hari ini!” Mendengar hal itu tentu saja ia paham. Tak mudah menjadi orang tua tunggal dengan anak sekecil Serly. Hidup berdua, tanpa suami yang menemani.
Teng... Teng...
“Eh, sana masuk. Dengar, bel sudah berbunyi!” suruhnya sambil mendorong pelan kedua gadis kecil itu.
“Mama, tunggu aku ya. Jangan pulang dulu!” teriak Cici
Waktu cepat sekali berlalu. Saat ini sudah memasuki jam makan siang. Semua siswa mengeluarkan bekal yang telah dibawa dari rumah.
“Wah, bekal Cici cantik!” puji Serly yang melihat makanan bekal Cici yang tertata sangat rapi dan lucu.
“Ehm, mama yang membuatnya. Karena hari ini spesial, mama yang kali ini memasak.” Serly hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar cerita itu.
Selagi menikmati makanan, terlihat seseorang menghampiri meja Cici dan Serly, “Heh Cici! Kenapa kamu mau berteman dengan anak itu. Dia kan tidak punya ayah,” ujarnya
Mendengar hal itu, sontak saja suasana terdiam. Tak lama, suara bisik-bisik siswa lain mulai terdengar di dalam kelas.
“Apa yang kau katakan Reno? Serly punya ayah kok.”
Seketika suara tawa Reno yang begitu keras terdengar.
“Kau? Punya ayah? Kalau punya, dimana dia? Kau kan hanya punya ibu. Aku selalu melihatmu hanya bersama ibunya saja,” ejeknya
Ejekan itu terdengar sangat menyakitkan. Serly yang tak tau harus berbuat apa hanya bisa menangis. Cici yang berada disamping Serly mencoba menenangkan Serly dan menatap tak suka Reno.
“Reno, kau keterlaluan!” marah Cici
Tak lama, seorang guru masuk menenangkan situasi. Melihat Serly yang masih menangis, bu guru pun segera menuntun Serly keluar dari kelas untuk menenangkan diri.
“Baiklah, semuanya. Duduk di tempat kalian masing-masing!” tegasnya
Kemudian merangkul Serly agar berjalan mengikutinya. “Ayo, sayang. Kita keluar dulu ya. Jangan nangis, nanti cantiknya hilang loh!”
Serly mendongak, menatap ke arah guru kelasnya. “Benarkah?”
“Tentu saja, gadis cantik tidak boleh menangis. Nanti cantiknya menghilang karena tak ingin merasakan basah!” hiburnya yang mampu mengembalikan senyum kecil di bibir gadis mungil itu.
“Sudah tenang, Serly?” tanya guru tersebut saat sudah tak mendengar suara isak tangis lagi.
“Sudah ibu. Tapi Serly tak mau ke kelas lagi. Serly tak mau bertemu dengan Reno.” ujarnya
Mengerti situasi, sang guru pun paham. Suasana murid kecilnya sedang tidak baik. Daripada terjadi hal yang tidak-tidak, akhirnya ia memutuskan membawa Serly ke ruang kesehatan untuk beristirahat.
Malam pun datang. Keheningan malam dengan suhu yang cukup dingin menambah kesan suram pada hari itu. Kesuraman itu juga sedang dirasakan oleh gadis kecil yang sangat periang.
Sang ibu menjadi heran dengan sikap putrinya. Biasanya anak itu akan menceritakan kegiatan gadis kecil selama di sekolah kepadanya. Namun kini, keterdiaman yang ia dapat sejak gadis itu pulang dari sekolahnya.
Merasa ada yang aneh, sang ibu pun mulai bertanya, “Serly sayang, ada apa dengannu hari ini, sayang?”
Hanya gelenganlah yang ia dapat. Mulut mungil gadis itu begitu terkunci. Namun yang pasti, sang ibu tau bahwa suasana hati putrinya sangat mendung dan sedih. Ingin tau apa yang terjadi, ia pun segera menghubungi guru kelas Serly.
Setelah berbincang, akhirnya sang ibu tau penyebab suasana hati putrinya yang ceria menjadi mendung, gundah gulana. Menghampiri putrinya yang sedang duduk lesehan dengan buku gambarnya.
Dilihatnya sebuah gambar anak kecil yang digandeng oleh kedua orang tuanya. Seketika senyum pedih muncul di hati sang ibu.
“Kau sangat merindukan ayahmu ya sayang,” batinnya saat melihat gambar putrinya. Jika dirinya ditinggal sosok suami, maka putrinya ditinggal sosok ayahnya, hero yang selalu melindunginya.
“Serly sayang, Serly ingin tau tentang ayah?” ujarnya sambil mengelus kepala putrinya dengan lembut.
“Ayah?”
“Iya, ayah. Ayo, ibu pertemukan Serly dengan ayahnya Serly,” ajaknya kepada sang putri.
Di dalam kamar, sang ibu mengeluarkan sebuah koper. Dibukanya koper tersebut. Serly yang penasaran pun ingin melihat isi di dalam koper itu.
“Apa itu ibu?”
“Ini adalah kenang-kenangan dari ayah untuk kita. Ayo sini, ibu ceritakan mengenai ayahnya Serly.”
Dalam pangkuan sang ibu, Serly dapat melihat dengan jelas isi koper tersebut. Sebuah seragam militer lengkap dengan lencananya. Tak lupa topi militer, terlihat sangat keren di mata Serly.
“Lihatlah Serly, ini foto ayahnya Serly,”
Ditunjukkannya sebuah foto yang tersimpan sangat rapi. Semua barang dalam koper itu tertata dan terlihat masih sangat bagus.
“Ayah sangat tampan. Ibu lihat, ayah memakai seragam itu!” tunjuknya pada foto tersebut.
“Tentu saja, ayahnya Serly kan tentara yang sangat hebat. Dia sangat kuat dan tegas. Dan lihat, dalam foto itu juga ada Serly yang masih bayi.”
“Wah, ini Serly! Serly berfoto dengan ayah!” girangnya bukan main.
Namun, kegirangan itu seketika lenyap begitu saja. Serly kembali mendung merasakan rindu.
“Tapi ibu, dimana ayah sekarang?” tanyanya mengingat bahwa dirinya tak pernah melihat kehadiran sang ayah.
Ibu hanya diam. Dirinya memikirkan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan anaknya. Apalagi mengingat kepergian suaminya yang mendadak. Gugur dalam tugas adalah sebuah penghormatan bagi para prajurit, namun bagi keluarga yang dtinggal? Itu adalah sebuah ujian yang sangat berat. Dirjnya adalah anak yatim piatu, mengenal sang suami yang berasal panti asuhan yang sama dan bercita-cita membuat keluarga sendiri, berdua bersama anak mereka kelak. Itulah pemikiran saat itu.
Saat cita-cita itu terwujud, impian menjadi kenyataan namun pil pahit kembali menghampiri. Berpulangnya sang suami menjadi pukulan terberat untuknya. Hanya Serly, putrinyalah obat pelipur lara untuknya.
Dipeluknya sang anak. Sungguh, memori kelam itu masih sangat membekas meskipun sudah 7 tahun lamanya.
“Ayahnya Serly sudah berada di tempat yang sangat indah. Ayahnya Serly tidak merasakan sakit, sekarang pasti dia sedang memperhatikan Serly dari atas langit.” Jawaban lirih itu hanyalah sebuah bisikan. Suara yang mampu ia keluarkan di kala rindu, sakit dan sedih itu kembali hadir.
“Tempat yang indah?” Serly tak mengerti. Dirinya memandang ibunya bingung.
“Ayah sudah di surganya Allah. Dan cara kita menyampaikan rindu kita hanya bisa melalui doa dan juga bacaan alquran yangs selalu kita lantunkan. Mengerti, Serly?”
“Jadi, jika Serly rindu ayah, Serly harus berdoa. Begitu kan ibu?” jawabnya dengan tatapan polos, tak lupa sebuah binar kecil di matanya itu.
“Yap, benar sekali. Jadi kalau ada yang bertanya mengenai ayah Serly, Serly jawab saja kalau ayah sudah di surga, tempat yang paling indah di atas langit.”
“Begitu ya bu. Baiklah, Serly mengerti!”
Keesokan harinya, pada waktu siang terjadi hal yang tak mengenakkan. Di ruang guru, Serly, Cici dan Reno beserta orang tua mereka berdiam diri bersama dalam sebuah ketegangan. Serly, Cici dan Reno berdiri menunduk saat dihadapan mereka terdapat orang tua mereka.
Para ibu memandang menyelidik ke arah anak mereka. Memindai setiap luka dan raut wajah para anak kecil itu.
“Ini pasti karena haram itu.” gumam mama Reno
Sayangnya, gumaman itu masih terdengar sangat jelas di telinga semua orang dalam ruangan itu.
“Nyonya, apa maksud anda anak haram?” tanya mama Cici
“Tentu saja anaknya Jeng Santi dong. Jeng Karin nggak tau ya, dia kan nggak punya suami. Pasti didikannya nggak benar. Tampilannya aja yang alim dan berpendidikan. Padahal aslinya... Ckckck, nol.”
Kalimat yang sangat tak pantas itu keluar dari mulut seorang wali murid. Kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut sesama seorang ibu. Ibu Serly, orang yang di panggil Santi itu menatap putrinya yang sudah siap menangis.
Dengan cepat ia memeluk putrinya dan berbisik bahwa semua itu tidaklah benar.
“Para ibu, mohon tenang terlebih dahulu. Saya tidak tau perkara kalian. Tapi tolong jangan membahas hal tersebut dihadapan anak-anak. Hal itu bisa berdampak pada sekolah mereka, ibu.” ujar guru tersebut mencoba menenangkan situasi
“Maaf bu guru, bagaimana saya tidak marah? Lihat putra saya itu, pipinya merah karena dipukul bu!”
“Mohon tenang ibunya Reno. Tenang ya, bu!” pintanya agar suasana tidak kembali menegang
“Cici, bisa kau ceritakan kronologi kejadiannya?” pinta sang guru. Cici yang awalnya takut menjadi berani saat melihat mamanya sedang meyakinkan dirjnya.
“Bisa bu guru! Tadi waktu makan siang Reno tiba-tiba menghampiri Serly lagi dan mengejek Serly seperti kemaren. Serly hanya diam dan membalas namun karena Reno terus saja mengejek akhirnya Serly memukul itu pun juga pelan. Tapi Reno langsung menjambak Serly, bu. Jadi saya ikut membantu memisahkan mereka dan memukul Reno juga.”
Mama Cici menatap anaknya dengan bangga. Bangga pada anaknya yang berani mengungkapkan kebenaran, berani jujur dengan apa yang terjadi dan berani membela temannya yang kesulitan.
“Apa benar begitu Serly, Reno?”
Kedua anak itu hanya menganggul membenarkan. Reno pun tak ada celah untuk melawan karena semua yang dikatakan Cici adalah kebenaran. Apalagi ada bukti CCTV menjadi penguatnya.
“Tapi yang saya ucapkan itu benar, bu. Kata mama, Serly itu anak haram. Dia tak pantas memiliki teman!” kesal Reno karena merasa bahwa dirinya tak bersalah. Dirinya hanya ingin membuat Serly tak betah bersekolah di sekolah ini dan segera pergi.
Santi, selaku ibunya Serly merasa marah. Dirinya sudah cukup sabar saat para tetangga menggosipkan dirinya dengan berbagai hal. Namun, kini sang anak ikut terbawa bahkan sampai mengalami perundungan di sekolah.
Dengan garang, Ibu Serly menatap marah Clara, ibunya Reno.
“Nyonya Clara yang terhormat. Inikah cara anda mendidik putra tercinta anda? Jika benar, sungguh ironis.” ujar Karin yang sudah tak tahan mendengar ucapan wanita yang duduk disampingnya itu
“Anda seorang yang berpendidikan, namun mulutnya tak pernah disekolahkan!” lanjutnya dengan sinis
“Maaf ibu guru jika saya lancang. Sebelumnya nyonya Clara, apakah kita pernah bertemu atau saling mengenal? Sepertinya anda sangat tak menyukai saya dan anak saya.” Suara tenang tapi bukan menenangkan melainkan terdengar mengerikan.
“Saya merasa tak mengenal atau pernah bertemu dengan anda. Lantas, alasan apa yang membuat anda begitu ingin menghancurkan nama baik saya dan anak saya.”
“Jika masalah pernikahan saya. Saya menikah secara sah baik hukum dan agama. Anak saya lahir dari pernikahan yang sah dengan suami saya...”
“Dan, jika anda menanyakan keberadaan suami saya. Suami saya gugur dalam bertugas. Dia adalah seorang tentara dengan pangkat mayor. Dia seorang tentara yang terhormat. Lantas, mengapa anda bisa menghina putri yang sangat disayanginya itu!” pecahlah luapan emosi Santi.
Dikeluarkannya dokumen pernikahan, surat kematian suaminya dan biodata suaminya beserta prestasinya. Semuanya ia siapkan karena takut kejadian seperti ini akan terjadi. Bahkan dirinya harus menghubungi mantan atasan suaminya hanya karena hal ini.
“Ini bukti keberadaan suami saya. Jika perlu, saya bisa saja mengajak anda ke makamnya sekarang!”
Semuanya terdiam. Semua menatap ke arah Clara yang wajah sudah memerah karena malu. Lantas menghampiri anaknya dan mengajak keluar dar ruangan itu.
“Huuu, jadi sebelum berbicara cari tau dulu berita itu valid atau hanya gosip!” teriak Karin senang atas kemenangan telak Santi
“Maaf ya bu, atas insiden hari ini!” sesal Santi
“Tak masalah bu, bukan anda yang membuat masalah terlebih dahulu.”
Santi berbalik dan kembali memeluk putrinya. Putrinya adalah obatnya sekaligus penenangnya.
“Sayang, jangan takut ya. Selama kamu dalam pelukan ibu, kamu akan selalu aman. Kejadian hari ini kamu tidak salah, kamu hanya membela diri. Dan ingat pesan ibu, sabar adalah kunci kemenangan. Sabar bukan berarti kita kalah, kita hanya mengalah agar kita sendiri tetap tenang, mengerti?”
“Mengerti Ibu. Serly akan selalu bangga pada ayah dan juga ibu!”