Ada sesosok gadis dengan rambut berwarna putih terang, dan mempunyai postur tubuh pendek yang mungil, dan pupil mata berwarna biru, gadis itu bernama Alice.
Alice mempunyai sebuah keluarga yang tentram dan bahagia namun, semakin lama keluarga tersebut sering bertengkar.
Hingga suatu senja kejadian yang tak terduga terjadi, Alice saat itu pergi membeli beberapa barang belanjaan yang disuruh oleh ibunya, beberapa menit kemudian semua barang sudah di beli oleh Alice.
setelah semua barang yang diminta sang ibu telah dibeli Alice memutuskan untuk pulang ke rumah.
Namun sampai di rumah ia melihat kedua orangtua nya bertengkar lagi di kamar, Alice yang benar-benar capek dengan pertengkaran tersebut.
Alice dengan cepat menaruh barang belanjaan nya di meja, dan pergi ke kamar nya yang ada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar orangtuanya.
Alasan ia tak menegur orangtuanya karena ia sudah capek, dia sering menegur orangtuanya berkali-kali, tapi tetap saja tidak ada yang berubah.
Alice yang ada di kamar saat itu di kagetkan oleh suara histeris ibunya, dengan sedikit bingung dan ragu, jantung nya berpacu hebat, namun ia tak gentar, dan kakinya melangkah perlahan-lahan menyentuh permukaan keramik yang dingin itu.
Sesampainya nya dia di gagang pintu, ia memegang gagang yang dingin itu dengan tangan mungil nya yang berkeringat tersebut, dan perlahan-lahan membuka nya.
Lalu ia perlahan-lahan mendekati kamar orang tua nya yang di tutup tersebut, langkah nya sunyi, senyap, bak siluet bayangan.
Dan sampailah dia di depan pintu tersebut, lalu Alice perlahan-lahan membungkukkan badan nya, dan mengintip orangtuanya di balik celah kunci kecil yang ada. Angin malam sepoi-sepoi lewat menerpa wajah Alice yang tegang, Alice lagi-lagi di kagetkan dengan suara histeris ibunya untuk kedua kalinya.
"ARGHH... Dasar lelaki brengsek dan tidak bertanggung jawab!" Histeris sang ibu yang kesal.
Dan setelah kata-kata itu terucap sebuah sontak sebuah tangan melayang ke arah pipi sang ibu, sebuah tamparan keras dari sang ayah.
PLAKK...
"SIALAN... DIAM KAMU DASAR WANITA JALANG!!!"
Tamparan tersebut membuat pipi sang ibu menjadi merah kebiruan, dan rasa perih membuat mata nya memerah marah.
Lalu sebuah cengkraman tepat di leher sang ibu, cengkraman yang keras membuat sang ibu terbatuk-batuk, dan berlinang air mata.
Alice yang melihat hal tersebut menutup hidung nya, badanya gemetar hebat, ia menahan isaknya, Alice sangat membenci ayah nya, Alice ingin membantu sang ibu, tapi disisi lain ia takut akan ayahnya yang akan memukulinya.
Dalam kamar itu, terdengar suara sang ayah menjerit kesakitan, Alice dengan seluruh badan gemetar, mengintip lagi, kali ini ia melihat sang ibu mengigit ayah nya.
Lalu tangan nya mengulur-ulur laci yang ada di sebelah nya, ayah nya marah karena digigit, saat ingin memukul ibunya lagi, sebuah pisau menancap di perut ayahnya.
JLEB..
Darah kental segar seketika menyembur dari mulut sang ayah. Dengan raungan kemarahan yang mengerikan, ia mencabut paksa pisau yang menancap di perutnya.
Sang ibu tersentak mundur karena terkejut, begitu pula Alice yang menyembunyikan napasnya di balik pintu. Namun, kengerian belum berakhir. Sang ayah tiba-tiba merogoh bagian belakang celananya dan menarik keluar sebuah pistol hitam yang selama ini ia sembunyikan.
Baik sang ibu maupun Alice mengira benda itu hanyalah pistol mainan untuk menakut-nakuti. Sampai akhirnya...
DOOORRR!
Satu peluru panas menembus kepala sang ibu. Tubuh wanita itu ambruk seketika ke lantai, tewas di tempat tanpa sempat bersuara. Mendengar dentuman keras itu, Alice reflex tersentak. Gerakan kecilnya membuat sang ayah menoleh.
Sepasang mata yang haus darah itu langsung mengunci pandangan ke arah celah kunci tempat Alice mengintip. Seperti seorang psikopat yang menemukan mangsa baru, sang ayah mulai berjalan mendekat dengan langkah berat yang berlumuran darah.
Ketakutan luar biasa memacu adrenalin Alice. Ia berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju kamarnya. Dengan tangan gemetar, ia mengunci pintu rapat-rapat. Ingatannya langsung berputar kembali ke masa lalu, pada sebuah hari di mana sang ibu memanggilnya secara rahasia.
"Alice... sini sebentar, ada yang ingin Ibu berikan kepadamu," bisik ibunya kala itu.
"Apa itu, Bu?" tanya Alice dengan wajah polosnya.
Sang ibu mengulurkan sebuah pistol asli beserta beberapa butir peluru. Seketika, tubuh Alice membeku. Tangan mungilnya berkeringat dingin dan bergetar hebat saat menerima benda logam yang berat itu.
"I-ini buat apa, Bu...?" tanya Alice, suaranya tercekat oleh rasa takut.
Ibunya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh keputusasaan.
"Bawa ini, Alice. Ini akan melindungimu dari ayahmu. Ayahmu sepertinya sudah benar-benar gila. Jika suatu saat terjadi sesuatu pada Ibu, atau jika Ibu sudah tidak ada lagi... gunakan ini untuk melindungimu kalau dia mencoba menyakitimu."
Kembali ke masa sekarang. Alice menggenggam erat pistol pemberian ibunya yang kini telah terisi penuh oleh peluru.
Tepat di depannya, sebuah hantaman keras meremukkan kayu pertahanan kamarnya.
BRAKKK! BRAKKK!
Pintu kamar itu jeblok terbuka. Sang ayah berdiri di ambang pintu, menyunggingkan senyum seringai yang mengerikan menatap putri mungilnya.
"Terlambat sudah, Alice... ini adalah ajalmu," desisnya. Namun, di detik yang sama, Alice tidak lagi merasa takut.
Sesuatu di dalam jiwanya telah patah. Dengan pandangan mata yang mendadak kosong, Alice menarik pelatuk pistolnya berkali-kali.
DOR! DOR! DOR!
Beberapa peluru bersarang telak di dada dan tubuh sang ayah. Lelaki itu terhuyung, lalu tumbang tak bernyawa di atas lantai kamar Alice. Melihat tubuh kaku itu, seulas senyuman bahagia perlahan terukir di wajah Alice.
Rasa lelah dan tertekan yang ia pendam bertahun-tahun lenyap seketika. Dengan adrenalin dan tenaga mungilnya yang sedikit tersisa, Alice menyeret tubuh ayahnya yang berat kembali ke kamar orang tuanya, menyejajarkannya di samping jasad sang ibu yang mulai mendingin.
Di luar dugaan, Alice mengambil jarum dan benang tebal. Dengan gerakan yang tenang dan penuh ketelitian, ia mulai menjahit kedua tubuh orang tuanya agar saling melekat satu sama lain.
Setelah selesai, ia menata kedua jasad tersebut di atas kasur dengan rapi. Alice memiringkan kepalanya, menatap mahakaryanya yang menurut nya indah dengan sebuah senyum lebar yang mengerikan.
"Aku melakukan ini agar kalian bisa tetap bersama... meski tanpa nyawa," bisiknya lembut dengan wajah nya yang tersenyum di balik gelap nya malam.
Malam nya Alice pergi keluar rumah, ia membawa tas kecil berisi pistol dan beberapa perlengkapan lainnya, ia berjalan-jalan perlahan dengan tatapan kosong, seolah dirinya tak ada arti lagi buat melanjutkan hidup.
Di balik gelapnya malam, dan langkah nya yang sepi, hampa, berjalan-jalan tanpa arah dan tujuan, tanpa di sangka langkah kakinya membawa dirinya pada sebuah gedung terbengkalai dan gelap.
Ia menatap dan memerawang gedung tersebut, tiba-tiba saja jantung alice berdegup kencang, seolah-olah gedung tersebut menarik perhatiannya dan menguji adrenalin alice.
Kakinya maju perlahan, hingga tangan mungilnya menyentuh gagang pintu besar yang dingin di gedung tersebut.
KRIEETT...
Iya terpaku menatap seluruh area gedung tersebut, hingga tiba-tiba pintu masuk gedung tersebut tertutup sendiri, alih bingung dengan santai ia berjalan mendekat ke arah pintu yang tiba-tiba tertutup itu.
Tangan mungilnya meraih gagang dan hendak membukanya tiba-tiba suara dentingan logam jatuh yang membuat alice kaget dan melepaskan genggamannya pada Gagang pintu itu.
Dia kaget juga bingung tapi tangannya tetap meraih gagang dan membukanya berkali-kali, ternyata pintu itu tidak bisa terbuka, seolah-olah ada orang dari luar yang sengaja mengurung dan mengunci nya.
Karena sudah muak dengan pintu yang tidak mau terbuka tersebut Ia memutuskan untuk masuk ke dalam gedung untuk menjelajah, juga dia berfikir Siapa tahu dalam gedung tersebut ada jalan alternatif yang bisa membawanya keluar dari gedung yang tampak mencekam tersebut.
Beberapa menit kemudian Alice Sudah sampai di lantai 2 di sana ia melihat gedung tersebut sedikit berbau anyir darah, sangat kotor, lembab, serta banyak rintikan air yang jatuh dari atap gedung yang bocor.
Alice berjalan perlahan, hingga ia sampai pada sebuah lift, dirinya melihat ada bercak-bercak merah pekat seperti darah, juga melihat ada goresan pada lift tersebut berbentuk (xx), Alice dengan cepat merogoh tas nya dan mengambil buku catatan, yang sempat ia bawa saat hendak pergi keluar dari rumahnya, dan langsung mencatat tanda tersebut.
Kakinya berjalan-dan berjalan hingga sampai pada sebuah anak tangga untuk menuju lantai dua, Alice sebenar nya bisa saja ke lantai tiga dengan lift yang ia temui barusan, namun firasat nya mengatakan, (aku tidak boleh naik ke lift ini).
Saat hendak menaiki anak tangga tersebut tiba-tiba sesosok bayangan hitam muncul di belakangnya dan memukul lehernya hingga ia pingsan. Beberapa saar Alice tersadar, ia kaget karena berada dalam ruangan putih, dengan bercak-bercak merah pada dindingnya.
Lalu hidungnya mencium bau-bau kimia bercampur obat-obatan, saat hendak bangun, dirinya dikagetkan lagi dengan kedua tangan dan kakinya diborgol menggunakan lantai besi yang mengikatnya pada ranjang yang ia tiduri.
Ia berteriak keras, tidak ada yang menyahutinya, sepi, sunyi, dan amat mencekam, matanya berlinang air mata, hingga tiba-tiba sesosok hitam keluar dari balik tirai merah yang berada tak jauh dari ranjang Alice.
Ada sesosok dokter yang datang, Alice tersentak melihat dokter tersebut mempunyai dua bola mata dengan warna yang berbeda, dokter tersebut mendekat ke alice dan memegang wajahnya. Alice berkeringat dingin.
Dokter itu tersenyum dan dia mengambil kunci linggis dan berniat untuk mencongkel matanya, Alice menjerit dan meronta-ronta, hingga sebuah Sabit besar yang penuh darah menghantam lengan dokter tersebut.
Iya adalah Jack psikopat berantai, dokter tersebut yang menyadari Jack datang dia mendengus kesal dan kabur pergi keluar, itu alice bingung dan mencerna apa yang terjadi barusan.
Dan disinilah petualangan mengerikan antara Alice dan psikopat berantai Jack.
(Sisanya gaada, kekurangan waktu)
GC Event Rumah menulis)
GHOSTT 2 [Tema 4, Thirrler Psikologis]