Kalian mungkin sering mendengar legenda manusia dikutuk menjadi batu, atau putri yang berubah menjadi keong mas. Cerita lama yang usang. Namun, pernahkah kalian mendengar tentang tanah yang menolak kehidupan, sebuah tanah yang mengunyah kutukan?
Semua bermula pada tahun 1992.
Di sebuah sudut desa yang sepi, berdiri sebuah rumah kayu yang dikelilingi oleh misteri alam. Tanah tempat rumah itu berdiri sebenarnya gersang,
seperti kulit ular tua. Anehnya, di sekeliling tanah gersang itu, pohon-pohon Wanyi tumbuh menjulang dengan sangat perkasa. Daun-daunnya hijau pekat, bergesekkan memecah sunyi. Dan setiap musimnya tiba, buah Wanyi bergelantungan lebat, menebarkan aroma manis yang sangat menyengat—hampir terlalu manis, hingga kadang menyaru seperti bau pembusukan yang samar.
Sepasang suami-istri baru yang menghuni rumah itu melihatnya sebagai berkah. Dari hasil menjual buah Wanyi yang dipetik segar, pondok kecil mereka yang awalnya hanya sepetak kamar sempit, perlahan melebar. Dinding-dinding papan kayunya diganti dengan kayu ulin yang kokoh. Wangi buah Wanyi telah mengubah nasib mereka.
Namun, di mana ada berkah yang mengalir, di situ ada mata busuk yang mengintai dari kegelapan.
Dia adalah adik kandung sang istri. Seorang pemuda yang jiwanya telah digrogoti oleh tuak, kemalasan, dan rasa iri yang bernanah. Lelaki itu tidak pernah sudi berkeringat, namun matanya selalu merah menatap keberhasilan kakaknya. Baginya, tanah warisan sang ayah seharusnya jatuh ke tangannya, bukan ke tangan kakak perempuan yang selalu menasihatinya. Rasa dengki itu memuncak, membusuk, hingga akhirnya malam jahanam itu tiba.
Malam itu, langit hitam pekat tanpa bintang. Angin berembus kencang, membuat dahan-dahan pohon Wanyi memukul-mukul atap seng rumah dengan suara berisik yang janggal. Sang suami baru saja berpamitan, menerobos kegelapan malam dengan sepeda motor tua yang batuk-batuk, demi membelikan istrinya nasi goreng ikan asin pesanan sang jabang bayi.
Di dalam rumah, sang istri yang tengah mengandung delapan bulan duduk mengelus perutnya yang besar. Suasana mendadak terasa mencekam ketika ketukan kasar terdengar di pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
"Ada apa, adikku?" tanya sang kakak saat membuka pintu. Aroma alkohol yang menyengat langsung menusuk hidungnya, mengalahkan wangi buah Wanyi di luar.
"Ayah sakit... Dirumah dia terus memanggil namamu. Ayo cepat, Kak!" napas lelaki itu memburu, matanya liar memandang ke dalam rumah.
"Ayah sakit apa? Tadi siang kakak ke sana, dia baik-baik saja?" Jantung sang kakak mulai berdegup kencang, ada rasa tidak enak yang mendadak merayap di tengkuknya.
"Aku tidak tahu! Buruan, Kak!"
"Iya, sebentar. Tunggu kakak iparmu kembali, ya?"
"Tidak ada waktu lagi!" seru adiknya, melangkah masuk tanpa permisi.
"Baiklah, tunggu kakak ganti pakaian dulu."
Sang kakak bergegas masuk ke dalam kamar, berniat mengganti pakaiannya dengan cepat. Namun, belum sempat selembar kain bertukar, pintu kamar didobrak kasar.
"Astaga! Keluar! Kakak sedang ganti baju!" pekik wanita itu, mencoba menutupi tubuhnya.
Tidak ada jawaban. Yang ada hanya seringai binatang. Dengan beringas, lelaki itu mendorong tubuh kakaknya yang sarat mengandung ke atas ranjang kayu. Jeritan sang kakak diredam dengan kejam; selembar celana dalam diikatkan ke mulutnya hingga ia tersedak air liurnya sendiri. Kedua tangannya yang gemetar diikat mati menggunakan sabuk kulit di kepala ranjang.
Malam itu, di bawah temaram lampu teplok yang bergoyang, sebuah dosa besar terjadi. Tidak ada rasa iba pada darah daging sendiri, tidak ada belas kasihan pada keponakan yang belum lahir. Lelaki itu melampiaskan kebinatangannya berkali-kali. Saat sang kakak mencoba meronta dengan sisa tenaganya, hantaman keras mendarat di wajah dan perut buncitnya. Pandangan wanita itu mengabur, dunianya menggelap saat darah hangat mulai mengalir membasahi seprai ranjang. Ia pingsan dalam penderitaan yang tak terperikan.
Suara raungan motor tua di halaman mengejutkan si pelaku. Kakak iparnya telah kembali.
Dengan cepat, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh kakaknya yang terkulai lemas tak berdaya. Ia menggenggam sebilah pisau dapur yang berkilau tajam di bawah cahaya minim, lalu menyelinap, berdiri membatu di balik pintu kamar yang gelap.
"Sayang... Ini nasi goreng ikan asin pesananmu. Masih hangat," suara sang suami terdengar renyah dari ruang depan. Ia melangkah masuk ke dalam kamar dengan senyum lebar, memegang bungkusan kertas minyak.
Jleb!
Senyum itu runtuh seketika. Bilah besi dingin menembus dadanya saat ia baru saja melewati pintu. Belum sempat ia berteriak, adik iparnya membutakan diri dengan amarah, menghujamkan pisau itu berkali-kali ke dada, perut, dan leher sang suami. Darah segar menyembur, membasahi dinding papan. Tubuh lelaki malang itu ambruk, bergetar hebat di lantai sebelum akhirnya meregang nyawa dengan mata mendelik.
Sambil terengah-engah, si adik menyeret tubuh kakak iparnya yang bersimbah darah, melemparnya ke atas ranjang, tepat di samping kakaknya.
Hantaman tubuh itu membuat sang kakak siuman. Matanya yang sembap terbuka perlahan, langsung dihadapkan pada pemandangan mengerikan.
Suaminya telah menjadi mayat di sampingnya, sementara bagian bawah tubuhnya sendiri mati rasa akibat pendarahan hebat.
Dengan sisa-sisa napas yang terasa mencekat di tenggorokan, sang kakak menatap adiknya dengan tatapan yang tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan kebencian murni yang dingin.
"Apa... yang kau mau?!" bisik wanita itu, suaranya parau, bergetar bersama darah yang menyumbat tenggorokannya.
"Aku... tidak butuh apa-apa lagi. Rumah dan tanah ini milikku sekarang," jawab adiknya sambil menyeka darah di wajahnya.
Kakaknya tersenyum getir, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk si adik mendadak berdiri.
"Aku tahu... kau menginginkan tanah dan rumah ini. Ayah sudah memperingatkanku, tapi aku terlalu bodoh karena tidak percaya kau sebinatang ini. Sumpah demi Tuhanku... aku tidak ridha! Aku tidak ikhlas hak kami kau rebut dengan cara menjijikkan seperti ini!"
Napas wanita itu makin memburu, matanya membelalak menembus netra adiknya.
"Kau sanga menginginkan tanah gersang ini? Ambil! Tapi ingat sumpahku... Siapa pun yang tinggal di tanahku, kau, keturunanmu, atau orang asing setelahmu... kalian semua akan menemui ajal di atas ranjang ini, dengan cara apa pun yang paling menyiksa!"
"Diam!" teriak si adik, ketakutan oleh sorot mata kakaknya.
Dengan kalap, ia mengangkat pisau tinggi-tinggi dan menghujamkannya tepat ke tengah perut buncit kakaknya, menembus rahim yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bayinya.
Malam itu, keheningan kembali mencengkeram rumah kayu tersebut. Pasangan suami-istri itu tewas mengenaskan. Si adik mengira dia telah menang dan mendapatkan segalanya. Namun dia lupa, mulai malam itu, tanah yang dipijaknya bukan lagi sekadar tanah gersang.
Tanah itu telah meminum darah kutukan. Dan ia sedang menunggu mangsa berikutnya.