Perkenalkan namaku Zero umurku sekarang 18 tahun, meskipun begitu jujur saja hidupku itu sangat hampa, aku sendiri tidak tahu mengapa.
Waktu aku masih kecil, aku ini anak nakal dan penyakitan. Aku mengidap penyakit asma yang berasal dari turunan orang tuaku.
Waktu kecil, saking nakalnya aku, aku bahkan pernah berkelahi dengan temanku, yah … itu sih ingatan kabur, aku sendiri tidak begitu mengingatnya.
Aku tidak begitu mengingatnya, tapi yang pasti aku waktu kecil itu nakal dan mulai berubah saat aku masuk sekolah dasar.
Yang aku tahu dan yang masih aku ingat sampai saat ini adalah, bahwa aku sendiri heran mengapa aku selalu mendapatkan perundungan dari teman temanku.
Aku tahu, mungkin karena aku nakal? Tapi itu ketika aku berusia 5 tahun, mungkin? Aku selalu di rundung oleh teman temanku saat aku masih berada di sekolah dasar.
Pada saat itu, aku baru saja mandi, kemudian aku keluar untuk bermain bersama teman temanku. Namun pada saat itu aku di rundung oleh mereka.
Aku di pukul, bahkan di dorong. Aku hanya bisa menangis tak berdaya, aku tidak bisa melakukan apapun selain menangis.
“Zero, mengapa kamu menangis?” tanya salah satu temanku.
Aku menangis sambil memeluk lututku. “aku baru saja mandi, bajuku kotor.” Jawabku sambil menangis.
Setelah itu, ada seorang yang lewat lalu, teman temanku berhenti dan mencoba menolongku.
“Zero, kamu kenapa menangis?” tanya salah satu temanku.
Aku tak menjawab, mereka membantuku. Singkatnya, hari itu berakhir.
Jujur, aku sering bertanya, mengapa harus aku? Mengapa bukan yang lain saja?
Pada saat itu, aku tidak mengatakan hal ini pada orang tuaku, aku takut untuk mengatakannya.
Pernah suatu ketika aku mengatakan bahwa salah satu temanku itu merundungku. Kemudian setelah itu yang terjadi adalah … Aku di jauhi oleh semua teman temanku.
Ketika aku bermain bersama mereka, semua teman temanku seperti menganggap aku tidak ada.
Berjam jam berlalu … bahkan berhari hari aku di perlakukan seperti tidak ada.
“Mengapa harus aku dari banyaknya temanku?” gumamku pelan.
Namun, waktu itu aku tidak pernah berpikir untuk membenci mereka, kenapa ya?
Mungkin jawabannya karena aku tidak punya teman lagi selain mereka atau mungkin juga karena aku ini orang payah?
Atau mungkin karena aku takut dengan mereka?
Keduanya mungkin benar, aku ini payah dan takut pada mereka.
Pernah suatu ketika, aku bermain dengan temanku, pada saat itu celanaku di buka oleh salah satu orang yang kukenal.
Aku pada saat itu telanjang tanpa celana, sedangkan celanaku sendiri di ambil dan dia taruh di tempat tinggi yang tidak bisa aku jangkau.
Dia hanya tertawa seolah itu adalah hal yang lucu, aku hanya menangis dan mencoba menjangkau celanaku.
Pada saat itu temanku tak mencoba membantuku, dia hanya mencoba memperingati temannya itu.
Namun untuk kesekian kalinya, aku takut untuk aku membenci mereka.
Aku selalu memaafkan mereka, bodoh dan pecundang, itulah aku.
Pada intinya, masa kecilku itu adalah sekumpulan, kenakal, perundungan, pembullyan dan penyakitan.
Aku sendiri tidak begitu yakin, tapi penyakit asmaku sudah sembuh sebelum aku masuk sekolah tingkat pertama.
Di sekolah tingkat pertama, aku dan teman temanku sendiri sudah sangat jarang bahkan tidak pernah lagi merundungku.
Pada saat sekolah tingkat pertama sampai sekolah tingkat atas, masalahku bukan lagi di rundung atau sejenisnya.
Aku selalu kurang percaya diri. Teman temanku memiliki keahlian dan prestasi sendiri, aku bahkan tidak memiliki itu.
Aku tidak punya hal yang untuk aku banggakan, bahkan aku takut orang tuaku sendiri kecewa padaku.
Aku tidak memiliki apapun, bahkan prestasi sekalipun, tapi aku ingin sekali membuat orang tuaku bangga.
“Masa kecil di rundung dan penyakitan, dan sekarang masa pubertas, aku kurang percaya sama diriku sendiri.”
“kenapa, ya dulu waktu kecil aku tidak membenci teman temanku. Dan kenapa aku sekarang masih menganggap mereka teman?”
Pertanyaan itu seringkali terlintas dalam pikiranku. Suatu hari, aku mendapatkan jawaban dari apa yang sering aku tanyakan.
“Benar juga, kalau aku tidak memiliki prestasi apapun yang bisa dibanggakan, aku aku jadi anak yang penurut!”
“Mungkin saja, ibu dan ayah bisa bangga memiliki anak sepertiku!”
Aku tersenyum pada saat itu, salah satu pertanyaan yang sering terlintas di kepalaku terjawab.
Pada saat itu, aku lebih sering beribadah, menuruti apa kata orang tuaku. Meskipun jauh dari kata sempurna, setidaknya aku ingin merubah mulai dari saat ini.
Aku juga pada saat itu mulai benar benar memaafkan semua perlakuan temanku padaku dulu, meskipun tidak secara eksplisit aku mengatakan aku memaafkan mereka.
Tapi aku sudah benar benar tidak peduli dan memaafkan mereka.
Aku sendiri sudah mendapatkan jawaban sebenarnya dari kenapa aku tidak membenci mereka.
“Kerena jika aku membenci mereka, itu bukanlah aku. Aku bukanlah orang yang seperti itu, aku bukan seorang pendendam.”
Di sekolah tingkat atas, kehidupan tidak seperti ketika sekolah dasar atau sekolah tingkat pertama.
Aku mendapatkan teman seperti yang aku inginkan. Soalnya, ketika kecil aku itu tipe yang tidak suka bercerita, masalah utamanya adalah, aku sering di tertawakan ketika aku bercerita.
Namun temanku di sekolah tingkat atas ini tidak begitu, aku mulai lebih terbuka, aku juga sudah menjauhkan stigma bahwa kehidupanku “menyedihkan.”
Aku juga mengerti, masih banyak kehidupan di luar sana yang lebih menderita dan lebih kacau, bahkan mungkin mereka tidak pernah bercerita.
Apapun itu, aku sekarang ingin memaafkan dan berdamai dengan masalaluku.
Sekarang aku baru saja lulus dari sekolah, dan kehidupan sebenarnya di mulai sekarang.
Sekarang aku ingin lebih berguna untuk kedua orang tuaku dan tentu saja berguna bagi diriku sendiri.