Malam itu terasa begitu sunyi.
Angin dari jendela yang sedikit terbuka perlahan masuk, membawa udara dingin ke seluruh ruangan. Hujan turun deras di luar sana, ditemani alunan piano yang mengalun pelan dari sudut kamar.
Semua itu menjadikan malam tersebut dipenuhi kesepian.
Mella duduk di kursi di depan televisi sambil membaca sebuah buku, dengan secangkir teh hangat yang terletak di atas meja. Namun, setiap lembar yang ia buka terasa membosankan.
Bagaimana tidak? Ia membaca buku yang sama setiap hari.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya sebuah helaan napas pelan terdengar.
Mella menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping teh yang perlahan mulai mendingin.
Ia menatap ke luar jendela.
Hujan masih turun tanpa tanda akan berhenti.
────
Pandangan Mella tertuju pada sebuah bingkai foto yang terletak di atas nakas di ruang keluarga.
Foto itu adalah salah satu benda paling berharga baginya.
Ia berdiri dari kursi, lalu mengambil bingkai tersebut dan membawanya ke kamar barunya.
Di sana, foto itu ia letakkan di samping sebuah boneka beruang kecil yang berpose seolah sedang tertidur.
Perlahan, penglihatan Mella mulai kabur.
Air matanya jatuh tanpa suara isak sedikit pun, seakan tangisnya dibungkam oleh kesunyian.
Mella merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia berniat beristirahat sejenak, berharap tangis yang sesekali datang itu segera mereda.
────
Pagi pun tiba.
Cahaya matahari menyelinap melalui celah kecil di antara lipatan tirai kamar.
Namun, pagi itu Mella sudah tidak berada di sana.
Ia sengaja bangun lebih awal untuk berolahraga di luar rumah, sekadar berlari kecil mengelilingi perumahan.
Beberapa saat kemudian, Mella kembali dengan pakaian dan rambut yang basah oleh keringat.
Langkahnya terdengar nyaring saat memasuki rumah.
Kedua orang tuanya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Di rumah sebesar itu, hanya ada Mella dan pengasuh yang telah merawatnya sejak kecil.
Perempuan itu biasa dipanggil Bibi Ayu.
"Sudah selesai olahraga nya?" Bibi Ayu melihat kepada Mella, dengan handuk kering di tangannya.
Handuk itu diberikan kepada Mella untuk mengeringkan rambutnya.
Hanya Bibi Ayu yang paham mengapa Mella bisa basah ketika selesai berolahraga walaupun hanya di sekitar perumahan.
Mella mengangguk pelan dan berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Sementara itu, Bibi Ayu kembali menyiapkan sarapan yang akan disantap Dwi nantinya.
────
Hari mulai menjelang siang.
Tidak ada satu pun kegiatan yang Mella bisa lakukan.
Membaca buku sudah membosankan baginya. Ia juga tidak akrab dengan teman-teman sebayanya.
Bibi Ayu tidak hanya mengurus Mella tetapi juga seisi rumah yang besar ini.
Namun, sebesar apa pun rumah itu, penghuninya hanya dua orang: Mella dan Bibi Ayu.
Tak terasa matahari sudah semakin naik ke tengah. Pintu rumah terbuka, di depannya ada sosok laki-laki bertumbuh tinggi sembari mengjinjing keranjang penuh buah.
Mella hanya melirik sekilas. Ia mengenal laki-laki itu dengan baik. Putra Bibi Ayu, orang yang sejak kecil sering datang ke rumah ini.
Laki-laki itu berjalan ke dapur untuk menaruh buah-buahan yang dibawanya.
Sejak kecil, putra Bibi Ayu memang sering datang ke rumah ini. Terkadang ia membawa buah-buahan segar, roti yang masih hangat, atau hanya sekadar menemani ibunya bekerja.
Lama-kelamaan, Mella mulai penasaran dengannya. Bagaimanapun, usia mereka tidak terpaut jauh.
Hingga suatu hari, obrolan pertama mereka dimulai.
Saat itu hujan turun begitu deras. Laki-laki itu datang lagi untuk mengantarkan buah-buahan. Payung putih yang dibawanya diletakkan di teras sebelum ia melangkah masuk ke dalam rumah.
Mella hanya melirik sekilas, lalu kembali mengamati hujan di luar jendela.
"Setiap aku datang, kamu pasti sedang melamun."
Suara itu membuat Mella menoleh.
Tatapannya langsung bertemu dengan sepasang mata yang menatapnya lembut. Untuk beberapa saat, Mella hanya diam, bahkan lupa untuk mengedip.
"Apa salahnya melamun saat hujan?" balasnya pelan.
Laki-laki itu terkekeh kecil.
"Tidak ada. Aku cuma penasaran, apa yang kamu pikirkan setiap melihat hujan."
Mella mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Aku juga tidak tahu."
Laki-laki itu mengangguk pelan.
Namanya Rainer.
Nama yang terdengar cukup unik bagi Mella.
Sejak hari itu, mereka mulai sering mengobrol. Tentang hal-hal sederhana, tentang sekolah, tentang makanan yang disukai, bahkan tentang hujan yang selalu berhasil menarik perhatian Mella.
Dan tanpa disadari, Rainer menjadi orang pertama yang benar-benar bisa disebut sebagai teman oleh Mella.
────
Keesokan harinya Rainer datang lagi, tapi dia tidak hanya membawa keranjang penuh buah, tetapi juga beberapa permainan papan yang sering dia mainkan.
Saat Rainer menunjukkan salah satu permainan papan nya, Mella tidak bisa berkata apapun lagi, tapi akhirnya setuju untuk bermain bersama.
Momen itu terekam dalam kotak kenangan Mella yang terletak di pikiran nya.
Bibi Ayu pun mengabadikan momen itu dengan kamera pribadinya dan menyimpan fotonya dengan baik.
Hari senin, hujan kembali turun bersamaan dengan petir.
Suasana rumah kembali sunyi.
Sampai akhirnya Rainer datang berkunjung lagi.
Senyuman manis terukir di wajah Mella, dia sangat senang karena Rainer datang untuk bermain dengan nya.
Bagi Mella, Rainer bukan hanya teman. Rainer adalah orang pertama yang mau menemani Mella di kala hujan terus melanda.
────
Hari selasa, ini pertama kalinya Rainer tidak berkunjung karena sedang sakit.
Di situ lah Mella kembali murung seperti biasanya.
Tidak ada lagi teman yang menemani nya.
Rasa bosan mulai menghantui Mella. Selama Rainer tidak berkunjung dia benar-benar tidak melakukan apapun.
Bibi Ayu sedang pergi keluar mengantarkan makanan untuk Rainer dirumahnya.
Di rumah ini sekarang hanya ada Mella.
...
Langkah kaki Mella terdengar menuju arah gudang. Sepertinya Ia ingin mencari sesuatu.
Ketika pintu gudang dibuka, debu debu mulai berterbangan keluar dan barang-barang kecil berjatuhan.
Mella masuk ke dalam gudang dan menghidupkan lampu untuk penerangan.
Tidak ada yang menarik, di sana terdapat mainan saat Mella masih bayi, kursi kayu yang sudah rusak, serta buku-buku lama milik kedua orang tua Mella yang jatuh berserakan.
Semua barang itu dirapikan satu persatu dan buku-buku yang berserakan disusun di rak yang ada dalam gudang.
Sampai ada satu barang yang menjadi pusat perhatian Mella.
Kotak kecil bersampul biru dengan pita putih diatas mengelilingi kotak itu.
Mella menatap kotak itu cukup lama. Ada perasaan aneh yang menyelinap di dadanya, seolah-olah benda kecil itu menyimpan sesuatu yang pernah sangat berharga baginya.
Herannya kotak itu tidak berdebu seperti barang barang lainnya. Bahkan pita yang ada di kotak itu masih seperti baru.
────
Di ruang tengah.
Mella menaruh kotak yang ia bawa di atas meja. Ia mulai membuka ikatan pita di sekujur kotak berniat membukanya.
Di dalamnya berisi beberapa foto ketika Mella masih berumur 15 tahun, boneka kelinci kecil yang mulai kotor, dan mahkota bunga yang mengering.
Mella memegang satu buah foto yang berisikan momen dirinya dan Rainer saat pertama kali bertemu.
Jari-jari Mella bergetar saat memegang foto itu.
Entah mengapa dadanya terasa sesak.
Beberapa detik kemudian, isak tangisnya pecah di tengah ruang yang sunyi.
Di sela-sela isak tangis Mella..
Bibi Ayu memasuki rumah, ia menatap gadis itu dan segera menghampiri nya. Bertanya apa yang terjadi.
Mella tak sanggup berkata apa-apa lagi. Kepalanya perlahan menunduk dan rambutnya mulai menutup wajah Mella.
Pandangan Bibi Ayu tertuju pada sebuah secarik foto yang dipegang Mella. Tidak salah lagi, foto itu kembali membuat rasa sedih Mella datang.
Bibi Ayu sudah mengetahui bahwa Mella sering mengalami halusinasi berat sejak Rainer tidak lagi datang.
Mella masih terdiam membiarkan air matanya turun membasahi wajah nya. Sementara itu Bibi Ayu mengelus pelan punggung Mella mencoba menenangkan nya.
────
Kini Mella melamun menatap ke arah pintu yang terbuka, masih dengan secarik foto tadi di tangannya.
Tak tega melihat keadaan Mella, Bibi Ayu duduk di samping Mella membawa dua hingga lebih foto yang dia ambil dengan kamera miliknya.
Foto pertama menunjukkan Mella yang duduk di taman sendirian, tetapi tangannya berada di samping seolah ada seseorang yang menggenggam nya.
Foto kedua menunjukkan Mella yang tertawa sendirian di ruang tengah.
Dan semua itu berlanjut sampai foto terakhir.
Pikiran Mella mulai kacau.
"Sebenarnya Rainer masih ada kan, bi?"
"Tadi juga Bibi antar makanan untuk Rainer, kan?"
"Rainer masih akan berkunjung, kan? dia cuman sakit, kan?"
Suara Mella bergetar.
Ia mengenggam erat foto di tangan nya, berharap seseorang akan menjawab semua pertanyaan nya.
Nyatanya, Bibi Ayu tidak benar-benar mengantarkan makanan untuk Rainer dirumah, tetapi pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan.
Sayangnya, setelah mengetahui kenyataan itu tangisan Mella kembali histeris. Jauh lebih parah dari sebelumnya.
────
Malam kembali turun.
Mella berdiri di dekat jendela kamar dengan boneka kelinci kecil di tangannya dan mahkota bunga yang terletak di atas nakas.
Hujan turun sekali lagi.
Di pantulan kaca, untuk sesaat, Ia merasa melihat sosok Rainer yang berdiri di samping nya.
Namun kali ini Mella tidak menolehkan pandangan nya kesana.
Ia hanya menidurkan kepala nya ke sudut jendela sembari tersenyum kecil.
"Meski Aku tidak mengucapkan selamat tinggal waktu itu, tapi kali ini Aku berterima kasih karna sudah datang ke hidupku, Rainer."
Air matanya kembali jatuh.
"Tapi.. aku harus belajar merelakan mu dan berhenti mencarimu."
Di luar hujan masih turun.
Dan Mella sudah tidak mencoba untuk menghentikan hujan.
Faktanya, hujan adalah wujud dari air mata Mella yang tak benar-benar berhenti sejak kepergian teman lamanya itu.
Mungkin di kehidupan lain, Mereka masih punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal.
—END
🍀