Mika dan keluarganya memasuki rumah baru mereka. Pagarnya menjulang tinggi, halamannya luas dan di penuhi tanaman-tanaman hias, dan arsitekturnya punya gaya Eropa klasik yang kelihatan mewah tapi sedikit membuat merinding. Mika yanb baru berumur delapan tahun tidak memahami itu. Karena bagi anak seumuran itu, rumah besar ini adalah tempat petualangan yang sempurna. Tapi bagi orang dewasa, ada hawa dingin yang aneh yang selalu berembus di lorong-lorongnya.
Mika gak peduli soal hawa dingin itu. Tugasnya cuma satu: mengeksplorasi setiap sudut rumah. Sampai akhirnya, di hari ketiga mereka pindah, Mika menemukan sebuah ruangan di lantai atas yang jendelanya menghadap langsung ke taman belakang. Di sanalah dia pertama kali melihatnya.
Seorang anak laki-laki, memakai kaus putih dan celana pendek hitam, sedang duduk di dekat jendela sambil memandangi luar. Usianya kelihatan persis sama dengan Mika, sekitar delapan tahun.
"Hai," sapa Mika polos, sama sekali gak ada rasa takut. "Kamu anak tetangga ya? Kok bisa masuk ke sini?"
Anak laki-laki itu menoleh. Wajahnya tampan, kulitnya agak pucat, tapi matanya bening banget. Dia tersenyum tipis. "Hai."
"Nama kamu siapa? Namaku Mika."
"Nama aku Kaivan."
Mika langsung merasa punya teman baru. Dia gak tahu—dan gak bakal paham di usia segitu—kalau Kaivan sebenarnya adalah penunggu rumah itu.
Kaivan sendiri adalah sesosok hantu yang meninggal dibunuh oleh pasangannya sendiri di tanah ini, jauh sebelum rumah ini di bangun. Sebenarnya, Kaivan sudah memperhatikan Mika sejak kedatangannya. Biasanya ia akan menakuti siapapun penghuni baru rumah ini.
Tapi, melihat kepolosan Mika yang baru berusia delapan tahun, Kaivan merasa berbeda. Ia bahkan sengaja mengubah wujud energinya menjadi anak-anak demi bisa mendekati Mika.
Hari-hari berikutnya berubah jadi sangat menyenangkan bagi Mika. Mereka main petak umpet, kejar-kejaran di lorong rumah, sampai ngobrol ngalor-ngidul di taman belakang. Anehnya, setiap kali mama atau papa Mika lewat, Kaivan selalu menghilang. Mika sering dibilang punya 'teman hayalan' oleh orang tuanya, dan Mika cuma bisa mengedikkan bahu.
Sampai pada suatu sore yang cerah, saat mereka berdua sedang duduk di bawah pohon rindang di halaman belakang setelah capek bermain. Kaivan menatap Mika dengan tatapan yang sulit diartikan oleh anak seusia mereka.
"Mika," panggil Kaivan lembut.
"Kenapa, Kaivan?" jawab Mika sambil mengunyah biskuitnya.
"Mau gak kamu menikah dengan aku, Mika?"
Mika langsung tertawa cekikikan. Di otaknya yang masih polos, 'menikah' itu cuma kayak main rumah-rumahan, di mana ada pangeran dan putri yang hidup bahagia selamanya. Lagian, dia sayang banget sama Kaivan. Dengan kehadiran Kaivan, ia tidak merasakan kesepian.
"Mau! Nanti kalau kita udah gede, kita nikah ya!" jawab Mika bersemangat sambil tersenyum lebar.
Mika gak pernah tahu kalau kalimat santai yang keluar dari mulut kecilnya itu bukan sekadar permainan. Di dunia astral, ucapan itu adalah sebuah sumpah. Sumpah yang mengikat jiwanya selamanya dengan Kaivan. Malam itu, tanda ikatan yang tak kasatmata resmi terukir di takdir mereka.
♡♡♡
Waktu terus berjalan, dan manusia tumbuh dewasa. Begitu juga dengan Mika.
Seiring bertambahnya usia, dunia Mika mulai dipenuhi dengan hal-hal realistis.
Tugas sekolah, teman-teman baru, ponsel, dan segala hiruk-pikuk dunia remaja. Dan entah sejak kapan, perlahan tapi pasti, Mika mulai kehilangan kemampuannya untuk melihat Kaivan.
Saat usianya menginjak empat belas tahun, Mika benar-benar gak bisa lagi melihat atau mendengar suara Kaivan.
Mika pikir, teman masa kecilnya itu memang cuma teman imajinasi yang biasa dimiliki anak kecil dan hilang sendiri saat dewasa. Mika melupakan Kaivan.
Tapi Kaivan gak pernah melupakan Mika.
Meskipun Mika gak bisa melihatnya, Kaivan tetap ada di sana. Wujudnya gak lagi menjadi anak delapan tahun; dia kembali ke wujud aslinya yang merupakan seorang pemuda tampan, tumbuh secara spiritual bersamaan dengan bertambahnya usia Mika. Kaivan selalu menjaga Mika dari balik bayangan.
Pernah ada kejadian sewaktu Mika hampir kejatuhan pot bunga besar dari balkon lantai dua saat dia berjalan di koridor rumah? Pot itu tiba-tiba bergeser dan jatuh satu meter di samping Mika. Itu kerjaan Kaivan yang menepis pot tersebut dengan kekuatannya. Agar Mika menyadari kehadirannya.
Atau waktu Mika pulang kemalaman pas SMA dan diikuti oleh seorang cowok dengan gerak-gerik mencurigakan di gang dekat rumah? Cowok itu tiba-tiba lari terbirit-birit ketakutan karena melihat bayangan hitam besar bermata merah di belakang Mika—yang sebenarnya adalah manifestasi kemarahan Kaivan yang gak terima gadisnya diganggu.
Kaivan selalu ada di sana. Menemani Mika belajar sampai larut malam, mengusap lembut rambut Mika saat gadis itu menangis karena nilai ujiannya jelek, atau sekadar memandangi wajah tidur Mika dengan penuh kasih sayang. Kaivan menjaga 'calon istrinya' dengan seluruh sisa energi yang dia miliki di dunia fana ini.
♡♡♡
Dunia Mika runtuh saat dia menginjak usia dua puluh tahun. Papanya, cinta pertama dan pelindung utamanya di dunia nyata, meninggal dunia secara mendadak karena serangan jantung.
Hari pemakaman itu terasa sangat kelabu. Hujan rintik-rintik turun, seolah ikut menangis mengiringi kepergian sang papa.
Satu per satu pelayat mulai pulang, meninggalkan area pemakaman yang mulai sepi. Mama Mika sudah dipapah oleh saudaranya untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Tinggallah Mika sendirian, duduk bersimpuh di depan gundukan tanah yang masih basah dengan bunga-bunga yang berserakan di atasnya.
Air mata Mika mengalir deras, membasahi pipinya. Bahunya terguncang hebat. Dia merasa sangat kesepian dan kehilangan arah.
"Papa... Mika harus gimana tanpa Papa? Mika takut..." bisiknya lirih di sela isak tangisnya.
Tiba-tiba, rasa dingin yang sangat familier berembus di sekitarnya. Tapi anehnya, rasa dingin ini gak bikin merinding, melainkan membawa rasa nyaman yang sudah sangat lama gak dia rasakan.
Sebuah payung hitam tiba-tiba terentang di atas kepalanya, menghalau rintik hujan yang mulai menderas. Mika mendongak dengan perlahan.
Di sampingnya, berdiri seorang pemuda bertubuh tegap, mengenakan kemeja hitam. Wajahnya sangat tampan, rahangnya tegas, tapi tatapan matanya begitu lembut dan bening. Wajah pemuda itu, tampak seperti seorang pria muda berusia dua puluh tahun yang matang.
Mika terpaku. Memori masa kecilnya yang sempat terkubur dalam-dalam tiba-tiba berputar bak rol film di kepalanya.
Tatapan mata itu...
"Ka... Kaivan?" bisik Mika ragu, suaranya parau.
Pemuda itu tersenyum lembut, lalu ikut berlutut di samping Mika. Dia mengulurkan tangannya yang tampak agak transparan, menghapus air mata di pipi Mika dengan ibu jarinya. Rasanya dingin, tapi penuh kehangatan emosional.
"Hai, Mika. Ini aku. Jangan nangis lagi ya, ada aku di sini," ucap Kaivan lembut.
Mika gak peduli lagi kalau Kaivan itu hantu atau apa. Di tengah rasa dukanya yang mendalam, kehadiran Kaivan adalah obat penenang yang luar biasa. Mika langsung menubruk dada Kaivan, memeluknya erat. Walaupun rasanya agak hampa karena tubuh Kaivan yang tak sepenuhnya padat, Mika bisa merasakan dekapan pelindung itu.
Kaivan membalas pelukan Mika, mengusap punggung gadis itu, menenangkan jiwanya yang sedang terluka.
Sejak hari di pemakaman itu, Mika bisa kembali melihat Kaivan sepenuhnya. Interaksi mereka pun semakin intens. Kaivan selalu menemani Mika di rumah mewahnya, menghibur Mika yang kesepian karena mamanya sering menginap di rumah sang nenek karena lebih dekat dengan tempat kerjanya.
Mereka sering menghabiskan malam dengan mengobrol di ruang tengah. Dari yang awalnya cuma mengenang masa kecil, obrolan mereka berubah menjadi lebih dalam. Mika menceritakan kuliahnya, mimpinya, dan ketakutannya tentang masa depan. Sementara Kaivan mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali melemparkan lelucon santai yang membuat Mika tertawa.
Seiring berjalannya waktu, getaran di antara mereka mulai berubah. Ada debaran aneh setiap kali mata mereka bertemu. Mika sadar, dia mulai jatuh cinta pada sosok tak kasat mata yang selalu ada untuknya ini. Dan Kaivan, cintanya pada Mika sudah melampaui batas ruang dan waktu.
Hingga pada suatu malam yang sunyi, mereka duduk berdua di balkon kamar Mika, menatap langit malam yang penuh bintang.
"Mika," panggil Kaivan, memecah keheningan.
"Ya?" Mika menoleh, menatap wajah samping Kaivan yang diterangi cahaya bulan.
"Kamu ingat gak, janji kita waktu kita umur delapan tahun di taman belakang?" tanya Kaivan seraya membalikkan tubuhnya menghadap Mika. Matanya menatap Mika dengan intensitas yang tinggi.
Jantung Mika berdegup kencang. "Janji... yang mana?"
"Kamu bilang, kamu mau menikah sama aku kalau kita udah gede," kata Kaivan serius. "Sekarang kita udah gede, Mika. Dan sumpah itu mengikat jiwa kamu sama aku. Aku mau menagih janji itu. Ayo kita bersama selamanya. Aku bisa bawa kamu ke duniaku, atau aku akan terus mengikat jiwa kamu di sini supaya kita gak terpisahkan."
Mika tertegun. Dunia nyata tiba-tiba menghantam kepalanya dengan keras.
Menikah dengan Kaivan? Berarti dia harus melepaskan kehidupan manusianya. Dia harus meninggalkan mamanya yang sekarang cuma punya dia sendirian setelah papanya pergi. Dia harus mengorbankan masa depannya di dunia nyata.
Rasa cinta di dada Mika bergolak hebat, bertarung dengan rasa tanggung jawab dan logikanya sebagai manusia. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Mika. Dia menatap Kaivan dengan pandangan penuh luka.
Mika menggelengkan kepalanya pelan. "Aku enggak bisa, Kaivan... Bagaimana dengan keluargaku? Mamaku cuma punya aku sekarang. Aku punya kehidupan di sini, punya tanggung jawab yang harus aku selesaikan."
Kaivan menatapnya dengan kecewa, "Tapi kamu cinta kan sama aku, Mika? Sumpah itu—"
"Aku cinta padamu, Kaivan," potong Mika cepat, air matanya akhirnya luruh. "Aku sangat cinta padamu. Tapi cintaku pada keluargaku jauh lebih besar. Aku gak bisa egois dan ninggalin mereka demi kebahagiaanku sendiri."
Mika meraih tangan dingin Kaivan, menggenggamnya erat meskipun tangannya terasa menembus batas dimensi.
"Maaf, Kaivan... Kita gak bisa bersatu. Dunia kita berbeda. Kamu dan aku punya jalannya masing-masing. Maafkan kebodohan aku waktu kecil dulu... Semoga kita dipertemukan lagi di kehidupan selanjutnya dengan waktu dan perasaan yang tepat."
Mendengar ucapan Mika yang begitu tulus sekaligus tegas, Kaivan terdiam seribu bahasa. Kalimat itu bagaikan palu besar yang menghancurkan dinding belenggu masa lalunya.
Selama ini, Kaivan terjebak di tempat ini karena dendam dan sakit hati. Lalu, saat bertemu Mika, dia menolak untuk reinkarnasi karena ingin terus bersama Mika dan mengikat jiwa gadis itu lewat janji masa kecil mereka. Tapi sekarang, melihat kedewasaan Mika dan ketulusan cintanya yang rela melepaskan demi kebaikan yang lebih besar, Kaivan tersadar.
Cinta sejati itu bukan memiliki dengan cara memaksa, melainkan merelakan.
Kaivan tersenyum. Senyum paling tulus dan paling tampan yang pernah Mika lihat. Air mata menetes dari mata bening Kaivan.
"Terima kasih, Mika," bisik Kaivan. "Kamu udah menyadarkan aku. Kamu benar... aku gak boleh mengikat kamu di duniaku yang dingin ini. Kamu berhak bahagia di dunia kamu."
Perlahan-lahan, ujung jari kaki Kaivan mulai memancarkan cahaya putih yang berkilauan. Tubuhnya mulai kelihatan memudar dan menjadi transparan. Proses reinkarnasi yang selama ini dia tolak, akhirnya menjemputnya kembali karena hatinya kini sudah benar-benar ikhlas dan lepas dari segala belenggu masa lalu.
"Kaivan..." tangis Mika pecah saat melihat tubuh cowok itu semakin pudar.
"Jangan nangis, Sayang," kata Kaivan, suaranya mulai terdengar bergema dari kejauhan. "Aku pergi dulu ya. Aku akan cari kamu di kehidupan selanjutnya. Atau kehidupan manapun. Aku janji."
Dengan satu kedipan mata terakhir, tubuh Kaivan pecah menjadi butiran cahaya kelap-kelip yang terbang ke langit, menghilang bersama angin malam. Mika terduduk di lantai balkon, menangis sejadi-jadinya, meratapi kepergian cinta pertamanya yang berbeda dunia.
♡♡♡
Di belahan kota yang lain, malam yang sama menyajikan sebuah tragedi yang mencekam.
Seorang pemuda berusia dua puluh tahun bernama Adrian sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan cepat membelah jalanan yang sepi.
Malam itu, pikirannya benar-benar gelap. Dia sengaja menginjak gas sedalam-dalamnya, mengarahkan mobilnya lurus ke arah pembatas jalan beton yang keras.
BRAAAKKKK!!!
Suara benturan keras menggema. Bagian depan mobil itu hancur total. Tubuh Adrian terjepit di dalam kemudi dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya.
Gak lama kemudian, ambulans datang dan langsung melarikan Adrian ke rumah sakit terdekat. Di dalam ruang UGD, para dokter dan perawat bergerak cepat melakukan resusitasi jantung. Monitor detak jantung berbunyi konstan yang mengerikan.
Beeeeeeeeep...
Dokter menghentikan tindakannya, menatap jam dinding. "Pasien dinyatakan meninggal dunia pada pukul 23.45."
Arwah asli Adrian, yang memang sudah menyerah dengan hidupnya dan sengaja memilih jalan bunuh diri, keluar dari tubuhnya dengan perasaan lega. Dia tersenyum, dan langsung berjalan menuju cahaya kedamaian yang menjemputnya. Jiwanya sudah tenang karena dia memang ingin pergi.
Namun, tepat lima menit setelah garis lurus di monitor itu muncul, sebuah keajaiban terjadi.
Tiba-tiba, monitor jantung yang tadinya berbunyi garis lurus langsung melonjak drastis.
Beep... Beep... Beep...
Dokter dan perawat yang sedang merapikan peralatan medis langsung terlonjak kaget. "Dok! Jantungnya berdetak lagi! Pasien hidup kembali!"
Di atas brankar, pemuda bertubuh Adrian itu membuka matanya dengan sentakan napas yang memburu. Dia menghirup oksigen dalam-dalam seolah baru saja muncul dari dalam air. Tapi, tatapan mata pemuda itu... bukan lagi tatapan mata Adrian yang penuh keputusasaan. Matanya kini berubah menjadi bening, tajam, dan penuh dengan kesadaran yang tinggi.
♡♡♡
Satu bulan berlalu sejak kejadian ajaib di rumah sakit. Adrian sudah melewati masa pemulihan fisik dengan sangat cepat.
Keluarga Adrian yang asli sempat bingung karena sifat 'Adrian' berubah drastis menjadi lebih tenang, dewasa, dan tidak lagi murung seperti dulu. Mereka mengira itu adalah efek psikologis setelah lolos dari maut (mati suri), dan mereka sangat bersyukur.
Tapi bagi Adrian yang sekarang, dia punya satu misi utama di hidup barunya ini. Mencari Mikanya.
Sore itu, cuaca sedang cerah berawan. Mika sedang berjalan kaki pulang dari kampus dengan langkah yang agak lesu.
Sudah satu bulan berlalu sejak Kaivan pergi, dan rumahnya terasa sangat sepi. Dia merindukan sosok hantu menyebalkan yang selalu menghiburnya itu.
Mika berjalan melewati sebuah taman kota yang cukup ramai. Tiba-tiba, tali sepatunya terlepas. Mika menghela napas, lalu berjongkok di pinggir jalan untuk membetulkan tali sepatunya.
Saat dia sedang sibuk mengikat tali sepatu, sepasang sepatu kets putih berhenti tepat di depannya.
Mika mendongak. Di hadapannya, berdiri seorang cowok berusia dua puluh tahun yang memakai jaket denim. Wajahnya asing—Mika gak pernah melihat wajah ini sebelumnya—tapi postur tubuhnya, cara dia berdiri, dan yang paling membuat jantung Mika berhenti berdetak adalah... matanya. Mata cowok itu bening banget, persis seperti mata seseorang yang sangat dia kenal.
Cowok itu tersenyum manis, lalu ikut berjongkok di depan Mika. Dia mengulurkan tangannya, membantu Mika mengikatkan tali sepatu yang tersisa dengan cekatan.
Mika terpaku, matanya mulai berkaca-kaca karena merasakan getaran energi yang sangat familiar dari cowok di depannya ini. Rasa dingin yang membawa kenyamanan itu kembali lagi, tapi kali ini terasa nyata dan hangat oleh suhu tubuh manusia.
Setelah selesai mengikat tali sepatu Mika, cowok itu mendongak, menatap langsung ke dalam mata Mika. Dia mengulurkan tangannya yang kini terasa padat, nyata, dan hangat ke depan wajah Mika.
"Hai, Mika. Maaf ya agak lama carinya. Tubuh baru ini butuh waktu buat adaptasi," ucap cowok itu dengan nada suara yang santai, tapi terdengar sangat emosional.
Mika menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagianya langsung tumpah. "Ka... Kaivan?"
Kaivan tersenyum lebar, lalu menggenggam tangan Mika dengan erat. Hangat. Benar-benar hangatnya manusia.
"Iya, ini aku. Sesuai janji aku sebelum pergi... aku datang lagi di waktu dan perasaan yang tepat. Sekarang, aku udah jadi manusia, Mika. Gak ada lagi batasan di antara kita."
Mika langsung menghambur ke pelukan Kaivan. Kali ini, pelukan mereka terasa sangat nyata. Mika bisa mendengar detak jantung Kaivan yang berdegup kencang, menandakan bahwa cowok itu benar-benar hidup di sampingnya.
Di bawah semilir angin sore yang sejuk, di antara hiruk-pikuk manusia lainnya, Kaivan dan Mika akhirnya bisa memulai kisah mereka yang sesungguhnya. Sebuah awal yang baru, tanpa sekat astral, untuk mengarungi sisa hidup bersama selamanya sebagai manusia nyata.