Aku terbangun oleh sesuatu yang tidak bersuara.
Bukan karena mimpi buruk. Bukan pula karena sentuhan. Rasanya lebih seperti... kesadaranku ditarik paksa keluar dari kegelapan yang lebih dalam daripada tidur.
Ketika membuka mata, aku tidak melihat langit-langit.
Tidak ada dinding ataupun cahaya.
Yang ada hanyalah kegelapan pekat yang menelan segala arah. Hitamnya bukan seperti malam. Malam masih memiliki bulan, bintang, atau siluet pepohonan. Tempat ini bahkan tidak memiliki bayangan, seolah warna hitam telah melahap konsep cahaya itu sendiri.
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi.
Kosong.
Apa pun yang seharusnya ada di dalam kepalaku menguap begitu saja, menyisakan kekosongan yang membuat dadaku mendadak sesak.
Aku refleks menarik napas panjang.
Udara memang masuk. Dadaku mengembang. Namun anehnya, aku tetap merasa seperti orang yang sedang tenggelam.
Tidak ada rasa lega.
Paru-paruku bekerja, tetapi udara itu seolah kehilangan makna sebelum sempat menyentuh tubuhku.
Hampa.
Tubuhku hidup, tetapi sesuatu di dalam diriku menolak mempercayainya.
"Ada... siapa?"
Suara itu tidak pernah keluar.
Bibirku bergerak.
Tenggorokanku bergetar.
Namun dunia tetap sunyi.
Aku menyentuh leherku sendiri. Tidak ada luka. Tidak ada darah. Saat lidahku menyentuh langit-langit mulut, semuanya terasa utuh. Namun setiap kali aku mencoba berbicara, suaraku seperti menghilang sebelum sempat lahir.
Panik mulai merayap perlahan.
Aku memaksa berdiri.
Atau setidaknya aku merasa sedang berdiri tapi kakiku tidak merasakan lantai, seolah aku melayang beberapa sentimeter dari permukaan yang tidak bisa kulihat.
Aku mengambil satu langkah.
Tubuhku bergerak.
Namun tidak ada sensasi memijak.
Rasanya seperti berjalan di dalam mimpi, ketika tubuh bergerak tetapi dunia tidak pernah benar-benar memberikan jawaban bahwa kau masih hidup.
Lalu...
Tok.
Suara langkah kaki menggema.
Aku membeku.
Suara itu terdengar jelas.
Sangat jelas.
Namun bukan berasal dariku.
Aku menoleh perlahan.
Kosong.
Kegelapan masih memenuhi segala arah.
Sepertinya hanya halusinasiku. Aku kembali berjalan, namun langkah itu kembali bersuara, lebih keras, lebih jelas.
Aku mulai berjalan lebih cepat.
Langkah itu ikut mempercepat.
Tidak peduli seberapa cepat aku bergerak, suara itu selalu terdengar satu irama di belakangku. Tidak pernah mendekat. Tidak pernah menjauh.
Hanya mengikuti.
Aku berlari.
Dunia di sekelilingku berubah.
Entah sejak kapan, kegelapan mulai membentuk lorong yang sangat panjang. Dindingnya hitam, lantainya hitam, langit-langitnya hitam. Semuanya tampak menyatu seperti terbuat dari tinta yang mengeras.
Jauh di ujung lorong, sebuah titik cahaya putih terlihat samar.
Aku tidak tahu mengapa, tetapi seluruh tubuhku mengatakan bahwa aku harus mencapainya.
Aku terus berlari.
Semakin cepat.
Semakin dekat.
Namun setelah beberapa menit, cahaya itu tidak bertambah besar sedikit pun.
Justru terasa semakin jauh.
Dadaku semakin sesak.
Aku mencoba berteriak meminta tolong.
Tetap tidak ada suara.
Lalu sesuatu berembus tepat di belakang leherku.
Hangat, seperti embusan napas manusia.
Aku menoleh secepat kilat.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun ketika wajahku kembali menghadap depan, aku melihat seseorang berdiri di tengah lorong.
Dia tidak berbentuk, siluet itu kabur.
Seluruh permukaan kulitnya hitam pekat, seolah tersusun dari bayangan yang dipadatkan.
Ia tidak memiliki mata.
Tidak memiliki hidung.
Tidak memiliki mulut.
Hanya wajah kosong yang membuat kepalaku berdenyut hebat.
Aku mundur selangkah.
Sosok itu juga bergerak.
Tidak. Dia langsung berlari ke arahku dengan kecepatan yang mustahil.
Naluri mengambil alih tubuhku.
Aku berbalik dan berlari sekuat tenaga.
Langkah kaki di belakangku kini tidak lagi terdengar tenang.
Ia berlari.
Mengejar.
Lorong itu seolah tidak memiliki ujung.
Aku terus memacu kakiku meski telapak kakiku tidak pernah benar-benar menyentuh lantai.
Lalu suara lain muncul.
Awalnya hanya satu.
"...lari..."
Kemudian dua.
"...jangan lihat..."
Lalu puluhan.
"...percuma..."
"...salahmu..."
"...tetap akan terjadi..."
Bisikan-bisikan itu berdatangan dari segala arah.
Tidak ada teriakan, itu bisikan, tapi karena terlalu banyak, kepalaku terasa seperti dipukul dari dalam.
Aku menutup kedua telinga.
Percuma.
Suara itu bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam kepalaku sendiri.
Bisikan itu semakin keras.
Semakin cepat.
Semakin kacau.
Sampai akhirnya berubah menjadi denging panjang yang membuat penglihatanku bergetar.
Aku hampir kehilangan keseimbangan.
Saat itulah tubuhku menghantam sesuatu.
Brak!
Rasa sakit menjalar dari bahu hingga punggung.
Aku terjatuh.
Di depanku tidak ada apa pun.
Lorong masih terbentang lurus.
Namun ketika aku mengulurkan tangan, telapak tanganku menyentuh sesuatu yang keras.
Dinding. Atau begitulah yang bisa aku sebut. Penghalang.
Aku memukulnya dengan seluruh tenaga.
Aku menggeser tangan ke kiri dan kanan.
Tidak ada ujungnya.
Aku mulai memukul semakin keras.
Semakin panik.
Di belakangku, langkah kaki itu perlahan mendekat.
Tidak lagi berlari.
Ia berjalan santai, seolah tahu aku sudah tidak punya jalan keluar.
Aku memukul dinding itu sampai buku-buku jariku terasa robek. Anehnya, tidak ada darah. Hanya rasa sakit yang begitu nyata.
Aku menoleh perlahan.
Sosok hitam itu kini hanya berjarak beberapa langkah.
Tubuhnya bergoyang pelan seperti asap yang tertiup angin.
Tanpa wajah.
Tanpa mata.
Namun entah bagaimana aku bisa merasakan bahwa ia sedang menatapku.
Jantungku berdegup semakin cepat.
Aku mencoba berteriak.
Tetap tidak ada suara.
Sosok itu mengangkat tangan.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Tangannya terulur ke arah wajahku.
Saat ujung jemarinya hampir menyentuh pipiku—
Dunia runtuh.
Gelap.
Hening.
...
Aku membuka mata.
Dadaku naik turun dengan kasar.
Lorong hitam itu kembali ada di hadapanku.
Titik cahaya kembali berada jauh di ujung sana.
Aku berdiri di tempat yang sama.
Tidak ada bekas luka.
Tidak ada dinding.
Tidak ada sosok hitam.
Seolah semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi.
Aku menoleh ke belakang.
Kosong.
Aku menghela napas lega.
Lalu...
Tok.
Langkah kaki itu kembali terdengar.
Persis seperti sebelumnya.
Di saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.
Aku pernah berada di sini.
Bukan beberapa menit yang lalu.
Melainkan... berkali-kali.
Perasaan itu datang begitu saja.
Samar.
Kabur.
Namun cukup kuat untuk membuatku yakin.
Lorong ini bukan awal.
Melainkan pengulangan.
Dan di suatu tempat yang tidak bisa kuingat, ada bagian dari diriku yang sudah sangat lelah karena terus mencoba melarikan diri.
Aku tidak tahu sudah berapa kali lorong itu mengulang diriku.
Sepuluh kali.
Seratus kali.
Atau mungkin jauh lebih banyak hingga pikiranku berhenti mencoba menghitung.
Setiap kali aku berlari, hasilnya selalu sama. Cahaya di ujung lorong menjauh seolah sengaja mempermainkanku. Dinding tak kasatmata selalu muncul pada saat aku mulai percaya bahwa aku hampir berhasil. Dan sosok hitam itu... selalu datang dengan langkah yang tenang, seakan ia tahu aku tidak akan pernah benar-benar bisa melarikan diri.
Namun setiap pengulangan menyisakan sesuatu.
Potongan-potongan kecil yang tidak kusadari sebelumnya.
Pada satu putaran, aku mendengar bisikan yang berbeda.
"Maaf..."
Aku berhenti.
Suara itu tenggelam di antara ribuan bisikan lain yang saling bertabrakan. Ada yang menyuruhku lari, ada yang menyalahkanku, ada pula yang tertawa pelan. Tetapi kata itu terasa asing.
"Maaf."
Siapa yang meminta maaf?
Aku mencoba mengingat.
Kepalaku langsung berdenyut hebat.
Lorong di depanku bergelombang seperti permukaan air. Dindingnya mencair, lalu kembali membeku. Dunia ini seolah menolak ketika aku mencoba mencari sesuatu di dalam ingatanku sendiri.
Aku memegang kepala erat-erat.
Rasa sakit itu tidak berasal dari luar.
Melainkan dari sesuatu yang selama ini sengaja kukunci.
***
Loop berikutnya datang.
Aku sudah tidak lagi langsung berlari.
Aku memperhatikan.
Bisikan-bisikan itu ternyata tidak acak.
Sebagian adalah suara yang sangat kukenal.
Suara yang mengatakan bahwa aku lemah.
Bahwa semuanya adalah kesalahanku.
Bahwa aku tidak pantas diselamatkan.
Semuanya... adalah suara yang selama ini sering muncul di dalam kepalaku sendiri.
Aku mundur perlahan ketika sosok hitam itu muncul dari ujung lorong.
Kali ini ia tidak langsung berlari.
Ia hanya berdiri.
Diam.
Tubuhnya seperti kabut yang terus bergerak tanpa arah.
Aku memaksakan diri menatapnya lebih lama.
Ada sesuatu yang berubah.
Wajah kosong itu perlahan membentuk garis-garis samar.
Bukan mata.
Bukan hidung.
Melainkan bayangan wajah manusia.
Wajah yang terasa sangat familiar.
Aku menggeleng keras.
"Tidak..."
Meski tak ada suara yang keluar, bibirku membentuk kata itu.
Aku berbalik dan kembali berlari.
Bisikan langsung berubah menjadi teriakan.
"Lari!"
"Jangan lihat dia!"
"Kalau kau berhenti, semuanya akan kembali!"
Dadaku semakin sesak.
Udara tetap terasa kosong.
Aku bernapas secepat mungkin, tetapi paru-paruku seperti dipenuhi kehampaan.
Semakin cepat aku berlari, semakin sulit aku bernapas.
Sampai akhirnya kakiku berhenti dengan sendirinya.
Aku tidak sanggup lagi.
Aku menunduk.
Untuk pertama kalinya aku bertanya kepada diriku sendiri.
Kenapa?
Kenapa aku terus dikejar?
Kenapa aku harus berlari?
Kenapa dunia ini terus mengulang?
Kenapa sosok itu tidak pernah benar-benar membunuhku?
Pertanyaan itu menggantung di dalam kepalaku.
Lalu semuanya menjadi sunyi.
Bisikan berhenti.
Langkah kaki berhenti.
Aku mengangkat kepala.
Sosok hitam itu kini berdiri tepat di hadapanku.
Dekat sekali.
Aku bisa melihat tubuhnya bergetar pelan seperti seseorang yang sedang menahan tangis.
Perlahan, permukaan hitam di wajahnya retak.
Retakan pertama.
Lalu kedua.
Lalu puluhan retakan kecil menyebar ke seluruh tubuhnya.
Di balik retakan itu bukan darah.
Melainkan cahaya redup.
Aku menatap wajah yang mulai terlihat, dan napasku tercekat.
Itu adalah wajahku. Mata, hidung, bibir dan bekas luka yang aku lihat tiap kali aku bercermin.
Aku sedang menatap diriku sendiri.
Tapi bukan diriku yang sekarang. Itu adalah diriku yang telah lama tertinggal.
Ingatan itu akhirnya pecah.
Rasa takut.
Kesepian.
Tangisan yang kutelan sendiri.
Malam-malam ketika aku berpura-pura baik-baik saja.
Hari-hari ketika aku terus berkata bahwa semuanya sudah berlalu, padahal luka itu tidak pernah benar-benar sembuh.
Aku terduduk.
Tanganku gemetar hebat.
"Jangan..."
Seketika bisikan kembali terdengar.
Namun kali ini aku memahami semuanya.
Suara-suara itu bukan milik monster.
Bukan suara hantu.
Melainkan pikiranku sendiri yang terus menghakimi diriku setiap kali mengingat masa lalu.
Aku menatap sosok itu lagi.
Ia tidak bergerak.
Selama ini terus berlari adalah aku.
Bukan karena ia ingin menangkapku.
Melainkan karena aku menolak melihatnya.
Aku mengangkat tangan perlahan.
Seluruh tubuhku berteriak agar aku mundur.
Naluri memaksaku melarikan diri.
Namun aku tetap melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai akhirnya aku berdiri tepat di depannya.
Aku melihat mataku sendiri.
Kosong.
Lelah.
"Aku capek terus lari." Ucapku lirih.
Sosok itu perlahan mengangkat tangannya.
Aku tidak menghindar.
Jemarinya menyentuh pipiku.
Dingin.
Sangat dingin.
Tetapi sentuhan itu tidak menyakitkan.
Justru di dalam dingin itu aku merasakan sesuatu yang selama ini hilang.
Kesedihan.
Hanya kesedihan yang terlalu lama dipendam hingga berubah menjadi monster.
Air mata mengalir dari mataku.
Untuk pertama kalinya sejak berada di dunia ini, aku benar-benar bisa menangis.
Sosok itu ikut menangis.
Hanya air mata yang jatuh perlahan ke lantai yang bahkan tidak bisa kurasakan.
Aku mengulurkan kedua tangan.
Lalu memeluknya.
Tubuhnya langsung bergetar hebat.
Kabut hitam yang menyelimuti dirinya mulai luruh satu per satu, seperti abu yang tertiup angin.
Di saat yang sama, seluruh lorong ikut retak.
Bisikan berubah menjadi gema yang semakin menjauh.
Dinding transparan pecah.
Langit-langit runtuh.
Titik cahaya yang selama ini terus menjauh kini mendekat dengan tenang.
Aku akhirnya mengerti.
Trauma bukan sesuatu yang bisa dikalahkan.
Ia bukan musuh.
Semakin kulawan, semakin kuat ia mengejarku.
Semakin kutolak, semakin keras ia berteriak dari dalam kepalaku.
Ia hanya ingin diakui.
Ingin didengar.
Ingin diterima sebagai bagian dari diriku.
Sosok itu tersenyum tipis, lalu perlahan melebur menjadi cahaya yang masuk ke dalam dadaku.
Rasa sesak yang sejak tadi menghimpit perlahan menghilang.
Untuk pertama kalinya, napasku terasa utuh.
Hangat.
Nyata.
Aku memejamkan mata.
Ketika kubuka kembali, aku terjatuh keras ke lantai kamarku.
Suara benturan itu begitu nyata hingga membuatku meringis.
Aku terengah-engah.
Udara memenuhi paru-paruku tanpa terasa kosong.
Tanganku masih gemetar.
Keringat membasahi seluruh tubuhku.
Perlahan aku bangkit.
Ruangan ini terasa asing sekaligus akrab.
Aku berjalan menuju cermin yang berdiri di sudut kamar.
Langkahku masih berat.
Setiap detik terasa begitu sunyi.
Aku berhenti tepat di depannya.
Pantulanku menatap balik.
Di kedalaman pupilku, seolah masih ada lorong hitam yang belum benar-benar hilang.
Dan pada detik itu pula seluruh ingatanku kembali.
Dunia ini.
Challenge.
Sistem.
Semuanya menyerbu kepalaku sekaligus.
Aku memang memilih masuk ke sini.
Aku menerima tantangan ini atas kemauanku sendiri, untuk menghadapi luka yang selama ini terus kupendam.
Sebuah suara mekanis bergema memenuhi ruangan.
"Selamat. Challenge 1 [The Bitter Truth] telah diselesaikan dengan sangat baik."
"Tingkat Kesulitan: SSS."
Aku mengembuskan napas panjang.
Rasa takutku tidak lagi berdiri di belakangku sebagai pemburu.
Ia berjalan di sampingku sebagai bagian dari perjalanan yang harus kuterima.
Suara sistem kembali terdengar.
"Apakah ingin membuka Challenge selanjutnya?"
Aku menatap pantulan diriku sekali lagi, mengangguk.
"Ya."
————————
Challenge — Lily Vey
1927 Kata.
Event cerpen rumah menulis.
Tema 3, Trauma.