Sekolah menengah atas itu berdiri kokoh dengan arsitektur peninggalan kolonial yang kaku. Bagi ribuan siswa, koridor panjangnya adalah jalan menuju masa depan, namun bagi Alexandria, setiap sudut bangunan itu adalah mulut raksasa yang siap menelan jiwa. Alexandria adalah seorang indigo. Baginya, dunia tidak hanya terdiri dari materi, tapi juga lapisan-lapisan emosi busuk dan sisa-sisa energi kematian yang menempel di dinding sekolah.
Persahabatannya dengan Risa dan Suri adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap memijak bumi. Namun, sore itu, saat langit berubah warna menjadi ungu lebam yang tidak wajar, Alexandria membeku di parkiran. Ia melihat Putri, kakak kelas mereka yang populer, sedang menyalakan motornya. Di bahu Putri, Alexandria melihat sesuatu yang membuat perutnya mual: sesosok kuntilanak dengan wajah yang hancur sebelah, matanya melotot keluar, dan lidahnya yang hitam menjuntai panjang melilit leher Putri seperti tali gantungan yang siap ditarik.
"Ris... lihat Kak Putri," bisik Alexandria dengan bibir pucat. "Ada kabut hitam pekat di kepalanya. Dia... dia sudah ditandai."
Risa hanya tertawa renyah, menganggap Alexandria terlalu banyak menonton film horor. Namun, firasat itu terbukti dalam hitungan jam. Malam itu, di jembatan kecil yang gelap, Putri kehilangan kendali. Motornya menghantam pembatas jalan. Meski ia mengenakan helm standar yang kuat, kepalanya pecah dari dalam secara tidak masuk akal, seolah-olah ada kekuatan gaib yang meremas tengkoraknya hingga hancur berkeping-keping. Teman yang diboncengnya selamat tanpa luka berarti, namun trauma melihat otak Putri yang berceceran di aspal akan membekas selamanya.
***
Kematian Putri hanyalah genderang pembuka. Malam setelah pemakaman, Alexandria terbangun oleh aroma air bangkai yang menyengat di kamarnya. Dari balik jendela yang tertutup gorden, terdengar suara gesekan yang memilukan.
Sreeek...
Sreeek...
Ia memberanikan diri mengintip. Di sana, di bawah keremangan lampu jalan, berdiri sesosok makhluk setinggi plafon rumah. Kulitnya hitam legam seperti arang yang membara, dengan sepasang tanduk melengkung yang tajam. Namun, yang paling mengerikan adalah tangannya. Jari-jemarinya luar biasa panjang, elastis, dan kuku-kukunya menghitam runcing. Dari ujung kuku itu, tetesan darah kental terus meleleh darah yang masih segar, mengeluarkan uap hangat seolah baru saja dicabut dari jantung seseorang. Makhluk itu menatap Alexandria dengan mata merah menyala, lalu mulai menggaruk dinding kamar dengan kuku berdarahnya, meninggalkan bekas permanen yang berbau karat.
Esoknya, Jefri, teman seangkatan mereka, menyusul. Kematiannya jauh lebih sadis. Saat hendak ke pasar, motor Jefri tergelincir di dekat drainase beton. Dalam posisi yang mustahil secara logika, kepala Jefri masuk ke dalam lubang beton yang sempit dan tajam. Ia tewas dalam posisi telungkup, tersedak darahnya sendiri yang meluap dari mata, hidung, dan telinga. Polanya semakin nyata: kepala sebagai sasaran utama.
***
Di tengah semua duka itu, ada satu sosok yang selalu mengawasi dari kejauhan: Pak Tua, si penjaga sekolah. Sosoknya pendek, dekil, dengan rambut putih gimbal yang tak pernah terurus. Bola matanya besar dan menonjol, selalu menatap siswi-siswi muda dengan tatapan genit yang mengandung ancaman tersembunyi.
Pak Tua tinggal di sebuah gubuk reyot di sudut kantin, dekat gerbang belakang. Gubuk itu hampir roboh, kayunya lapuk dimakan usia, namun Pak Tua menolak mentah-mentah saat Kepala Sekolah menawarkan renovasi. Alexandria tahu alasannya. Gubuk itu adalah "sarang". Di sanalah Pak Tua menyimpan koleksi "istri-istri" gaibnya-para kuntilanak yang ia piara untuk menjaga kekuasaannya.
Alexandria sering melihat Pak Tua duduk di depan gubuknya, komat-kamit merapalkan mantra sembari memutar-mutar tali hitam yang diikatkan pada potongan tulang manusia. Ia telah menanam kuntilanak-kuntilanak itu di titik-titik vital sekolah: di sumur tua yang airnya selalu anyir, di ruang OSIS yang lembap, hingga di kamar mandi belakang yang auranya membuat siapapun merinding.
Klimaks kengerian pecah saat upacara bendera hari Senin. Di bawah terik matahari, puluhan siswa tiba-tiba tumbang. Mereka bukan pingsan karena panas, melainkan kerasukan secara massal. Tubuh mereka melengkung ke belakang hingga tulang punggung mereka berderak patah-krak! krak! Mereka merangkak di lapangan seperti binatang, mencakar tanah hingga kuku mereka lepas, dan berteriak memanggil satu nama dengan suara melengking parau: "ALEXANDRIA... KEPALAMU MILIK KAMI!"
***
Dalam keputusasaan, Alexandria, Risa, dan Suri mencoba melarikan diri dengan pergi piknik ke pantai. Mereka pikir laut bisa membasuh kutukan itu. Namun, Pak Tua sudah mengunci nasib mereka. Di tengah perjalanan, rem mobil mereka mati total. Di kursi belakang, tepat di samping Alexandria, muncul kuntilanak peliharaan Pak Tua dengan wajah rata yang mengeluarkan nanah. Mobil mereka meluncur menuju jurang tebing, hanya berhenti satu inci sebelum terjun ke kematian karena Alexandria merapalkan doa dengan air mata darah.
Saat itulah Alexandria menyadari kebenaran yang paling gelap. Pak Tua tidak mengincar teman-temannya karena dendam pribadi. Putri, Jefri, dan histeria massal di sekolah hanyalah "pemanis" untuk melemahkan mental Alexandria. Pak Tua menginginkan Alexandria karena status indigonya. Darah dan jiwa seorang indigo adalah tumbal paling "nikmat" dan bertenaga tinggi untuk menyempurnakan ilmu hitam sang penjaga sekolah.
Setiap hari saat pulang sekolah, Alexandria harus melewati gerbang belakang. Dan di sana, Pak Tua selalu menunggu di depan gubuk reyotnya. Seringainya panjang, giginya kuning runcing, dan di sampingnya, makhluk kuku berdarah itu berdiri tegak.
"Cahayamu sangat indah saat kau ketakutan, Dek," bisik Pak Tua setiap kali Alexandria lewat. "Teman-temanmu itu cuma pemancing. Aku menunggumu di sini... di gerbang ini."
Alexandria kini tahu, ia bukan sedang dihantui. Ia sedang "diternak" oleh Penguasa Gerbang Sekolah, menunggu hari di mana kepalanya akan menjadi persembahan terakhir untuk menutup jembatan maut yang dibangun oleh Pak Tua dan para istri gaibnya.