Awalnya simpel. Rania Kusuma sama Arka Atmajaya nikah cuma buat nutupin omongan keluarga.
Arka butuh status “menikah” biar warisan rumah sakit papanya aman. Rania butuh “suami” biar ibunya berhenti maksa nikah sama anak kolega. Solusinya? Nikah kontrak. Rapi, rahasia, gak pake perasaan.
Masalahnya, mereka lupa satu hal: Atmajaya sama Kusuma itu musuhan. 15 tahun lalu, ayah Rania masuk penjara gara-gara kasus malpraktik di RS Atmajaya. Sejak itu, nama Kusuma haram disebut di keluarga Arka. Begitu juga sebaliknya.
Tiga bulan pertama, mereka jago pura-pura. Di depan notaris, mesra. Di apartemen, kayak temen kos yang rebutan remot TV.
Sampai suatu hari Rania nyerah. Trauma gelapnya makin parah, dia ke RS Atmajaya daftar konsul. Pas masuk ruangan, dokternya... Arka.
Rania kaget, mau balik badan. “Saya cari dokter lain aja.”
Arka diem, terus nutup pintu pelan. “Duduk. Anggap aja ini profesional.”
Itu sesi pertama. Rania cerita sambil gemeteran, Arka dengerin sambil ngetik. Pas Rania bilang “Saya takut tidur, Dok,” tangan Arka berhenti ngetik sepersekian detik.
Malamnya di apartemen, Rania mimpi buruk lagi. Hujan + petir. Dia nangis di sofa. Arka bangun, diem bentar, terus ke kamar. Balik-balik udah bawa selimut terapi 7kg masih plastik.
Itu selimut yang dia pesen jam 2 pagi minggu lalu di e-commerce. Di kolom catatan dia tulis: ‘Buat pasien yang takut gelap. Tolong kirim tercepat. Penting.’
Dia robek plastiknya, terus selimutin Rania pelan-pelan. “Ini namanya deep pressure. Biar badan kamu ngerasa dipeluk.”
Rania diem. Baru kali itu dia tidur gak sambil nyalain semua lampu.
Malam itu aturan kontrak mulai retak. Arka tidur di karpet, alasannya “takut kamu kebangun sendiri”.
Lama-lama mereka punya kebiasaan “hampir”. Hampir gandengan. Hampir ngusap kepala. Hampir bilang sayang.
Dan mereka berdua tau: sekali aja “hampir” itu kejadian, semua bakal berantakan.
-------
Sesi konsul kedua di RS beda. Rania udah gak gemeteran, tapi malah nanya, “Dok, kalau pasien jatuh cinta sama dokternya, itu termasuk diagnosis apa?”
Arka diem. Pulpennya jatuh. “Itu namanya transference. Gak nyata. Jangan dilanjutin.”
Rania ketawa kecil, “Ya udah. Berarti saya sembuh ya, Dok. Soalnya saya gak mau itu cuma transference.”
Malam itu Rania demam 39. Arka yang ngecek. Kasih obat, kompres, udah. Pas mau balik ke kamar, Rania ngigau, “Ma... gelap...”
Arka balik badan. Dia ambil selimut terapi dari sofa. Pas lagi nyelimutin Rania dari belakang, tangan Rania tiba-tiba ngegenggam tangannya kenceng.
Arka beku. Sedetik. Dua detik.
Di detik ketiga, dia kelepasan. Dia nunduk, meluk Rania dari belakang. Cuma punggung ketemu dada. Lewat selimut tebel itu. Lima detik.
Napas Arka di ubun-ubun Rania. Napas Rania di pergelangan Arka. Gak ada kata. Gak ada nama. Cuma detak jantung dua orang yang panik.
Di detik kelima, Arka sadar. Dia lepasin pelan-pelan kayak takut Rania pecah. “Tidur,” katanya serak. “Besok kamu harus sehat.”
Rania merem, tapi air mata netes ke bantal. “Hangat, Ka,” bisiknya.
Sejak malam itu, mereka gak pernah bahas 5 detik itu lagi. Tapi mereka juga gak bisa pura-pura itu gak pernah kejadian.
Puncaknya di acara amal RS Atmajaya. Arka wajib bawa istri. Rania dateng pake kebaya, Arka pake beskap. Di foto mereka keliatan pasangan paling serasi se-Semarang.
Sampai MC manggil, “Kita sambut Ibu Elisabeth Kusuma, donatur terbesar malam ini!”
Ruangan langsung dingin.
Ibu Rania naik panggung, matanya ketemu Arka. Dua detik, terus mic-nya dibanting. “Anak saya gak pernah nikah sama anak pembunuh!”
Mama Arka langsung berdiri, “Dan anak saya gak bakal bawa anak maling ke pelaminan!”
Besoknya, berita nikah kontrak mereka nyebar ke mana-mana. Judulnya: SKANDAL ATMAJAYA-KUSUMA: KAWIN DEMI SAHAM?
Jam satu malem, Mamanya Arka naruh surat PHK massal di meja. “Pilih, Arka. Cerai sama dia, atau dua ribu karyawan Papa kamu besok kehilangan kerja.”
Jam dua malem, Ibunya Rania nyobek paspor Rania. “Keluar dari rumah ini kalau masih sama dia.”
Rania lari ke apartemen. Arka udah nunggu di lantai, punggung nyender ke pintu. Di tangannya ada akta cerai.
“Kita gagal, Ran,” suara Arka pelan banget. “Lima detik kemarin... gak cukup buat bayar nyawa dua ribu orang.”
-------
Rania jatuh di depan Arka. Gak ada suara, cuma air mata. Dia narik kerah beskap Arka, “Terus 5 detik itu buat apa? Kamu yang mulai. Kamu yang ngajarin aku berani gelap. Sekarang mau ninggalin aku sendiri lagi?”
Arka megang pipinya Rania, jempolnya ngapus air mata. Deket banget, tapi dia inget janji di RS: profesional.
“Maaf,” katanya. “Di dunia lain, 5 detik itu aku panjangin jadi seumur hidup. Di depan penghulu, di depan Mama kamu. Tapi di dunia ini... nama kita udah kebakar dari awal.”
Dia noleh ke kursi. Selimut terapi itu masih di sana. Ketiga kalinya dia ambil. Tangannya gemeteran pas nyelimutin bahu Rania.
“Terakhir kali ya, Ran. Anggap aja ini terapi perpisahan,” suaranya pecah. “Setelah ini, kalau kamu kedinginan, kalau takut gelap... jangan cari aku lagi. Anggap 5 detik kemarin gak pernah ada.”
Rania genggam tangan Arka kenceng banget sampe kukunya nancep. “Aku benci 5 detik itu,” bisiknya. “Karena 5 detik itu cukup buat bikin aku gak mau sama siapa-siapa lagi selain kamu.”
“Aku juga benci diri aku sendiri,” jawab Arka. “Soalnya aku ngajarin kamu cara dipeluk tanpa takut, tapi aku gak bisa ngajarin dunia cara nerima kita tanpa benci.”
Setahun lewat.
RS Atmajaya selamat. Yayasan Kusuma buka cabang baru. Adik Rania kuliah di London.
Arka sama Rania? Masih di Semarang. Kadang ketemu di lampu merah Simpang Lima.
Arka di mobil hitam, Rania di taksi online. 60 detik saling tatap. Gak dadah, gak senyum.
Detik 60, lampu ijo. Arka belok kiri ke arah RS. Rania lurus ke bandara.
-------
Bandara Ahmad Yani, 22:15. Rania duduk di ruang tunggu. Penerbangan ke London delay.
Dia buka koper. Isinya cuma 1 stel baju sama selimut terapi yang dilipet rapi. Selimut yang Arka beli jam 2 pagi itu.
Dia peluk selimutnya. Erat. Nempelin ke pipi. Terus bisik ke kain yang udah gak anget lagi,
“Hangat, Ka... tapi tetep gak sehangat 5 detik itu.”
Di apartemen lama, Arka lagi standby IGD. Di laci mejanya ada struk e-commerce udah setahun. Lusuh. Isinya: Weighted Blanket 7kg – Dikirim. Catatan: Buat pasien yang takut gelap. Tolong kirim tercepat. Penting.
Dia tutup laci. Lanjut jaga.
Soalnya ada cinta yang emang dateng cuma buat ngajarin satu hal: gak semua yang tulus itu bisa direstuin. Kadang, cuma dikasih 5 detik buat ngerasain surga... terus seumur hidup buat bayar sakitnya.
tamat