Sore itu, langit mulai menampakkan awan tebal yang gelap. Sebentar lagi, hujan mungkin akan turun mengguyur jalanan di kota metropolitan ini. Laluna Agnesia. Gadis berusia 17 tahun tersebut dengan segera berlari menuju ke arah halte bus yang berada tak jauh dari sekolahnya. Dia terburu-buru untuk menuju ke arah halte. Takut jika hujan akan turun tiba-tiba.
"Luna."
Teriakan tersebut membuat Laluna menoleh ke arah sang sumber suara. Matanya menyipit untuk melihat siapa yang memanggilnya. Seketika senyumnya merekah tatkala melihat laki-laki jangkung berjalan ke arahnya.
"Pulang sama siapa?" tanyanya saat sudah sampai tepat di hadapan Laluna.
"Aku naik bus." jawab Laluna
Laki-laki tersebut dengan gerakan tiba-tiba menggandeng pergelangan tangan Laluna dengan lembut. "Sama aku saja. Biar aku antar selamat sampai tujuan." ucapnya dengan senyuman tipisnya. Siapapun yang melihatnya mungkin akan meleleh bagaikan es krim.
Laluna hanya diam. Dia mengikuti langkah laki-laki tersebut. Jantungnya berdetak tak karuan saat digandeng olehnya. Dia berharap ini mimpi. Beberapa kali dia mencubit pipinya dengan tangan kirinya. Ternyata ini bukan sekadar mimpi melainkan ini nyata.
"Lava." panggil Laluna lirih yang membuat sang pemilik nama berhenti mendadak. Hal tersebut membuat Laluna menabrak punggung lebar milik Lava.
"Iya Lun?" tanya Lava yang berbalik arah. Laluna menatap Lava dengan dalam. Dia ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi, lidahnya kelu untuk mengutarakan semuanya. "Kenapa kamu mau mengajakku pulang?" tanya Laluna memastikan.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu." jawab Lava singkat. Laki-laki tersebut tersadar masih menggenggam pergelangan tangan Laluna. Dia melepasnya perlahan. "Maaf ya aku lupa belum melepaskan tanganku. Aku tunggu di parkiran ya Lun."
Lava berjalan pergi meninggalkan Laluna yang masih terdiam mencerna ucapan dari Lava. Ingin mengatakan sesuatu? Apa itu tandanya Lava akan mengutarakan perasaannya kepada Laluna? Atau sebaliknya. Laluna tak berhenti memikirkan ucapan Lava yang beberapa detik yang lalu. Gadis itu kembali berjalan menyusuri koridor kelas. Satu persatu dia lewati dengan langkah kecilnya. Hingga sampailah dia di parkiran sekolah. Disana Lava sudah rapi dengan jaket denim andalannya dan juga helm full face hitam kesayangannya. Laluna terdiam memandangi laki-laki yang ia cintai selama ini sejak duduk di kelas 1 SMA.
"Luna sini."
Suara Lava memecahkan lamunan Laluna. Dengan segera, dia bergegas ke arah Lava yang duduk manis di motor ninja miliknya. Laluna menghampirinya dengan senyuman tipisnya. "Maaf ya kalau aku datangnya lama. Soalnya langkahku kecil banget mirip siput." celoteh Laluna saat sampai dihadapan Lava. Namun, celotehannya dibalas dengan senyuman dibalik helm full facenya. "Gapapa tubuh kamu memang kecil seperti bocah SMP wajar langkahmu kecil. Berbeda denganku, tubuhku tinggi langkahku jadi lebar."
"Ihhh Lava nyebelin banget si jadi cowok."
Lava terkekeh dan menyerahkan helm berwarna pink ke arah Laluna. "Iya maaf. Ini pake helmnya. Helm kamu kemarin ketinggalan di rumahku."
Laluna menerimanya dengan ekspresi wajah kesalnya. Kedekatan Laluna dan Lava memang terjalin begitu lama. Hanya saja mereka tak berani mengutarakan perasaan satu sama lain. Mereka takut jika pertemanan mereka hancur karena hubungan percintaan.
Laluna memakai helmnya. dan dia bersiap naik di jok belakang. "Sudah siap?" suara Lava terdengar di telinga Laluna dengan pelan. Laluna mengangguk."Sudah. Jalan saja aku akan pegang tasmu seperti biasa."
Lava menyalakan motornya. Suara motornya dapat didengar oleh siswa siswi yang berada di parkiran sekolah. Suara knalpot yang keras dan juga pusat perhatian mereka ada di Lava dan Laluna yang bertambah hari mereka semakin nempel bak kop surat dan perangko.
Lava melajukan motor ninjanya dan meninggalkan area sekolah. Laluna diam. Dia bingung ingin memulai percakapan dari mana. Entah kenapa hari ini Lava terlihat berbeda tak seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini Lava bersikap sangat manis kepadanya tak sama seperti hari lalu yang bersikap selalu usil kepadanya. Laluna juga sangat canggung untuk saat ini ketika Lava bersikap manis kepadanya.
"Kita mampir ke taman dekat alun-alun itu dulu ya Lun."
Ucapan Lava memecahkan keheningan diantara keduanya. Laluna menatap ke arah langit. Langit bertambah semakin gelap. Dia takut jika dirinya basah kuyup saat berada di taman nanti. "Sepertinya mau hujan. Apa tidak bisa lain kali?" tanya Laluna yang mencondongkan wajahnya supaya Lava dapat mendengarkan ucapannya.
"Tapi Lun, aku ingin di taman itu. Bagaimana kalau di cafe depan taman. Cafe Romantic Garden yang masih viral itu."
Laluna terdiam memikirkan kenapa Lava tiba-tiba mengajaknya di cafe itu. Cafe itu terkenal dengan pengunjung yang membawa pasangan masing-masing bahkan setiap harinya selalu ada penghargaan untuk pengunjung yang paling romantis.
"Lun kok diem."
Suara Lava terdengar kembali. Membuat lamunan Laluna buyar seketika. "Aku ikut kamu. Tapi aku chat mama dulu biar enggak nyariin aku."
"Siap tuan putri."
Tak ada percakapan kembali. Laluna dan Lava kembali diam. Hanya suara deru mesin dan juga angin sore yang berhembus sedikit kencang. Laluna merapatkan cardigan miliknya. Sampai tak sadar mereka telah tiba didepan cafe yang dituju.
"Eh sudah sampai."
Lava melepaskan helmnya. "Iya kita sudah sampai. Dari tadi kamu diam terus kenapa? Apa ada masalah?"
Laluna menggeleng.
"Aku kira ada masalah. Ya udah yuk kita turun."
Lava turun dari motor. Diikut Laluna yang mencoba melepas helmnya. Lava melihat Laluna mencoba melepas helmnya dengan kesusahan. Laki-laki tersebut dengan inisiatif membantu Laluna melepaskan helmnya. Laluna mencoba menormalkan detak jantungnya saat menatap wajah Lava sangat dekat dengannya. "Sudah."
Lava meletakkan helm milik Laluna di motor miliknya. Dengan segera dia menggandeng Laluna untuk mengikutinya masuk ke dalam cafe tersebut. Laluna hanya mengikutinya saja dan tak berbicara.
Suara bel cafe berbunyi pertanda ada pelanggan masuk ke dalam cafe. Laluna terpesona dengan interior didalam cafe ini. Begitu mewah dan juga mengusung tema percintaan yang manis. Matanya menelisik di setiap sudut cafe. Sore ini hanya beberapa pengunjung yang datang tak ramai seperti biasanya. Mungkin ini masih sore belum malam. Pikir Laluna.
Lava terus menggandengnya tanpa melepaskan genggaman tangan itu. Dua orang tersebut berjalan ke arah meja yang dekat dengan jendela dan disuguhi oleh pemandangan danau yang ada di taman tersebut.
"Kita duduk di ujung sini gapapa kan?" tanya Lava memastikan Laluna. Supaya gadis itu tidak marah kepadanya.
Laluna langsung duduk dan meletakkan tasnya tepat di kursinya. "It's okay no problem. Apapun itu aku akan menyukainya selagi ada pemandangan yang indah. Danau itu merupakan tempat favoritku." jawab Laluna sembari menatap ke arah danau lalu kembali menatap ke arah Lava.
Lava tersenyum. Laki-laki tersebut langsung duduk di hadapan Laluna. Hari ini, Laluna sangat gugup dibuat oleh Lava. Tak seperti biasanya dia begini. Biasanya kalau pulang sekolah mereka selalu nongkrong di alun-alun kota membeli siomay bukan di cafe yang berbau romantis ini.
Pelayan datang membawa buku menu. Berjalan dengan anggunnya dan juga senyum tipis yang terpatri di wajahnya yang manis. "Silahkan kak, mau pesan apa. Biar saya catat pesanannya." Pelayan tersebut memberikan buku menu kepada Laluna dan Lava.
Mereka berdua membukanya bersamaan. Laluna sangat benci dengan makanan manis. Dia sangat benci dengan hal yang berbau cokelat. Cafe ini memang banyak menyediakan dessert dengan tema cokelat. Karena hal tersebut lambang dari keromantisan.
"Kak, saya mau rainbow choco 1 sama minumnya jus apel ya kak."
Pelayan tersebut mulai mencatat pesanan milik Lava. Lalu matanya beralih ke arah Laluna yang masih membolak balik buku menu tersebut. "Kakaknya masih bingung? Atau ada masalah dengan buku menu kami?"
Pertanyaan tersebut membuat Laluna sedikit tersulut emosi. Dia memang tidak menyukai tampang pelayan tersebut. Apalagi dia berbicara kepada Lava dengan gaya centilnya. Laluna cemburu. Dia cemburu. Benar dia memang cemburu. Laluna menutup buku menu dengan kasar. Kemudian dia menatap tajam ke arah sang pelayan. "Aku mau coklat panas saja. Aku tidak suka dengan makanan disini." cerca Laluna yang membuat Lava terkejut.
Pelayan tersebut mencatat pesanan Laluna dengan ekspresi kesalnya. Kemudian pelayan tersebut melenggang pergi meninggalkan Laluna dan Lava yang saling diam.
"Lun."
Laluna menoleh ke arah Lava dengan raut wajah kesalnya.
"Kamu cemburu?" tanya Lava pelan dia takut jika Laluna cemburu.
"Tidak. Kita cuma teman Lava. Kita bukan pasangan." ketus Laluna.
Lava menghembuskan nafasnya perlahan, laki-laki tersebut mulai ingin mengatakan sesuatu. Dia menetralkan semuanya terlebih dahulu. "Kalau mulai hari ini kita pasangan kekasih bagaimana?"
Deg--
Laluna tidak salah mendengarnya. Lava kini mengungkapkan perasaannya kepada Laluna. Ingin sekali Laluna berteriak dengan keras di cafe ini bahkan di seluruh dunia dia ingin berteriak bahagia.
"M--maksud kamu apa?" Laluna terbata-bata saat bertanya. Dia memang terkejut dan juga menutupi kesenangannya ini.
"Sudah lupakan."
"Kamu menembakku?"
"Ya kalau aku nembak kamu, kamu akan mati Laluna." celoteh Lava yang membuat Laluna mendengus kesal.
"Lava, boleh aku berfikir sebentar untuk mencerna ucapanmu barusan." pinta Laluna yang menatap Lava dengan dalam. Laki-laki tersebut membalas tatapan Laluna dan mengangguk.
10 menit telah berlalu. Pesanan mereka telah tersaji di atas meja. Lava menyantap rotinya. Sedangkan Laluna, gadis itu sedikit demi sedikit menyeruput coklat panas miliknya dan juga menatap ke arah danau. Hujan mulai turun tiba-tiba membuat kaca cafe buram dan Laluna tak dapat melihat danau lagi. Gadis tersebut beralih menatap Lava yang masih lahap menyantap makanannya.
"Lava, aku mau jadi kekasihmu."
Uhuk--
Ucapan Laluna yang spontan, membuat Lava tersedak dengan makanannya. Dengan terburu-buru Laluna memberikannya jus apel milik Lava. "Pelan-pelan dong makannya."
Lava meminum jus miliknya sampai habis. Dia menatap ke arah Laluna. "Hari ini sampai berikutnya kita resmi pacaran. Terimakasih sudah menerimaku Laluna. Aku senang hari ini."
Laluna tersipu malu dengan ucapan Lava. Gadis itu tersenyum karena senang. Dia lega karena perasaannya terbalaskan oleh orang yang di cintainya.
***
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. dan tahun telah berganti. Tepat saat ini, Laluna dan Lava telah memasuki ujian kelulusan. Dimana mereka harus benar-benar ekstra mendapatkan nilai yang bagus, agar bisa masuk di universitas impian mereka masing-masing. Tak ada yang ingin nilai jelek di ujian kali ini. Hubungan Lava dan Laluna yang terkenal dengan keromantisannya kini tiba-tiba menjadi dingin dan juga asing. Laluna sangat sedih. Gadis itu tak bisa fokus dengan belajarnya.
"Laluna."
Laluna menoleh ke arah sumber suara. Disana ada perembuan dengan rambut sebahu menghampirinya. "Lun ayo dong semangat. Kamu jangan nyerah. Mungkin sikap Lava seperti itu dia ingin fokus di ujian tahun ini."
Laluna menatap lurus ke depan. Pandangannya kosong. "Lava bukan Lava yang aku kenal. Dia telah berubah. Aku chat dia, dia tak pernah membalas pesanku dari bulan lalu. Apa aku ada salah sama dia ya? Aku rasa aku tidak ada salah sama dia. Aku lelah Jingga sangat lelah dengan sikap Lava yang mengacuhkanku begini." Saat itu juga air mata Laluna lolos begitu saja.
Jingga sahabatnya sedari SMP sangat tak tega melihat Laluna hancur seperti ini. Dia ingin Laluna kembali ceria seperti sedia kala bukan Laluna yang murung memikirkan Lava. "Ya sudah kita masuk kelas dulu. Habis ini ujian terakhir."
Laluna masuk ke dalam kelas. Hampa. Itulah yang dirasakan oleh Laluna saat ini. Lava tak pernah menghampirinya di kelas, tak pernah mengajak Laluna ke kantin bersama, bahkan tak pernah mengajak Laluna pulang bersama seperti dulu. Semua itu hanya kenangan beberapa tahun lalu. Lava yang sekarang selalu menghindar saat melihat Laluna. Bahkan menatap Laluna saja dia jenuh. Laluna sempat berfikir mungkin Lava lelah tapi lambat laun, pikiran Laluna terarah bahwa Lava telah menduakannya.
"Apa mungkin Lava sudah ada yang lain?" pertanyaan itu selalu muncul di benak Laluna. Hatinya sakit saat memikirkan Lava.
"Sudah jangan terlalu difikirkan. Fokus saja sama nilaimu Laluna." Suara itu berasal dari Karina. Sahabat Laluna juga sama seperti Jingga.
Kringgg--
Bel ujian telah usai. Laluna keluar dari dalam ruangan kelas dengan langkah gontainya. Entahlah dia tak memiliki semangat hidup saat ini. Dia tak mempedulikan Karina dan Jingga yang telah beberapa kali memanggil namanya. Laluna masih jalan dengan langkah gontainya dan pandangan kosongnya. Namun, saat itu juga Laluna berhenti saat melihat Lava tengah bersama temannya yaitu Danial. Dengan tergesa-gesa, Laluna berlari ke arah Lava dengan semangat.
"LAVA." teriakan Laluna membuat Lava enggan menatapnya. Laluna tidak peduli dia terus berlari menuju ke arah Lava. Hingga ia tiba dihadapan Lava.
Laluna mengatur nafasnya. "Kamu kenapa beberapa bulan ini berubah. Aku kirim pesan ke kamu tak pernah kamu balas. Kalau aku ada salah aku minta maaf sama kamu ya. Aku minta maaf. Tapi, jangan seperti ini. Jangan diam terus sama aku Lava. Aku nggak bisa kalau kamu seperti ini." Laluna mengeluarkan isi hati yang selama ini dia pendam. Dia berharap agar Lava menjawabnya dengan ucapan yang begitu indah. Tetapi, Lava hanya diam dan tak menatap ke arah Laluna sama sekali. Laki-laki tersebut sepertinya tidak ingin bertemu dengan Laluna.
Danial menatap interaksi keduanya. Dibelakang Laluna sudah ada Jingga dan Karina yang mendampingnya bersiap jika sahabatnya menangis saat itu. Danial, teman Lava mendekat ke arah sahabatnya. "Ada Laluna disini. Selesaikan masalah lo sama dia. Gue tungguin sampai kelar masalah lo sama Laluna." ujar Danial yang menatap ke arah Laluna dengan kasihan. Gadis itu masih sempat menahan air matanya agar tak keluar.
"Laluna ayo kita pulang." ajak Karina dengan berbisik di telinga Laluna. Karina menarik tangan Laluna dengan pelan. Namun sayangnya ditepis oleh Laluna. "Aku masih ingin disini. Kapan lagi aku bisa ketemu Lava. Aku cuma ingin penjelasannya saja kenapa dia seperti ini sama aku."
Karina dan Jingga hanya pasrah. Mereka melihat Laluna yang sehancur seperti ini. Gadis yang biasanya ceria dan aktif ini harus menjadi rapuh dihadapan teman-temannya.
"Jawab Lava kenapa diam saja."
Lava menatap Laluna dengan raut wajah datarnya. Tak menampilkan reaksi apapun. Hanya raut wajah datarnya saja. "Aku bosan."
Laluna terdiam. Hatinya sakit saat mendengar jawaban dari Lava. Sebentar lagi, mungkin air matanya akan lolos begitu saja dihadapan Lava. Gadis itu menatap wajah Lava amat dalam. Berharap ini semua kebohongan. Namun, saat ini juga Lava hanya memalingkan wajahnya. "Lava bohong kan?" tanya Laluna sekali lagi berharap ini semuanya adalah kebohongan.
"Perlu gue jelasin kembali, gue sudah muak sama lo Laluna. Mulai dari sikap lo yang seperti anak kecil dan juga semuanya tentang lo gue bosan semuanya sama lo dan hubungan ini."
Laluna pergi berlari meninggalkan kedua sahabatnya dan juga Lava. Danial tak percaya dengan apa yang diucapkan Lava barusan. "Lo bakal nyesel Lav ngelepas Laluna begitu saja."
Karina dan Jingga menatap sengit ke arah Lava dengan penuh amarah dan kebencian. "Laki-laki berengsek." ujar mereka secara bersamaan dan meninggalkan Lava. Mereka memilih mengejar Laluna yang sedang berlari.
Laluna terus berlari dari area sekolah. Dia berlari menuju ke arah halte bus untuk menunggu bus berikutnya. Biasanya saat seperti ini Lava selalu mencegahnya. Tapi saat ini, itu semuanya mustahil baginya. Lava yang dulu telah hilang tergantikan oleh Lava yang baru. Sikapnya telah berubah 360 derajat tak sama seperti Lava yang Laluna kenal.
Laluna masih menanggis. Dia ingin teriak namun tak bisa. Dengan segera dia beberapa kali menyeka air matnya yang lolos begitu saja. Selang beberapa menit Laluna menunggu bus, akhirnya datang juga. Dia buru-buru menaiki bus tersebut. Dia masih memikirkan Lava yang mengucapkan kata sekejam itu kepadanya.
Karina : 'Laluna hati-hati ya pulangnya.'
Jingga : 'Jangan sedih terus. Semangat Laluna'
Sebuah notif pesan dari sahabatnya membuat Laluna tersebyum getir. Dia ingin Lava. Hanya Lava. Tapi semuanya tak bisa kembali seperti saat pertama dia berpacaran dengan Lava. Jika dihitung, ini hampir 1 tahun dia berpacaran dengan Lava. Ternyata cinta itu rasanya pahit jika terlalu dalam mencintai seseorang.
Laluna menatap nanar ke arah ponselnya. Berharap Lava membalas pesannya. Namun semuanya hanya angannya saja tak pernah menjadi nyata. Dia menscroll pesan yang dikirim untuk Lava. Sudah 1 bulan Lava tak membalas pesannya.
Laluna : 'Aku Laluna Agnesia meminta maaf kepada Lava Sadewa. Maaf jika selama ini sudah membuatmu tak nyaman dan terganggu karena sikapku. Tapi, jika kamu melihat pesan ini, aku sangat mencintaimu Lav. Aku selalu mencintaimu. Maaf ya:) aku tau kamu ga bakal balas pesanku ini.'
Send--
Laluna mengirim pesan tersebut kepada Lava. Dia memasukkan kembali ponselnya di sakunya. Matanya sembab karena air mata yang keluar secara terus menerus. Mata indah itu menatap ke arah jendela. Cuaca tengah bagus tapi hati Laluna mendung sedang tidak bagus. Pikirannya sangat berisik saat ini.
***
Setelah lama di perjalanan, Laluna memasuki kamarnya. Notif dari ponselnya membuatnya penasaran. Dia berfikir mungkin itu dari Lava. Ternyata bukan. Melainkan dari obrolan di grupnya dengan kedua sahabatnya Karina dan Jingga.
Karina : 'Laluna please lo jangan buka ig dulu.'
Jingga : 'Dengerin kata Karina. Jangan buka dulu.'
Namun Laluna tak mengindahkan pesan dari sahabatnya gadis itu nekat membukanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat postingan beberapa bulan yang lalu. Seorang gadis tengah berfoto dengan Lava. Dia berfoto tepat dibawah sinar matahari dan juga dibuat seperti siluet dirinya dan juga Lava. Hatinya hancur berkeping-keping bagaikan kaca yang telah pecah tak dapat disatukan kembali. Tubuh Laluna lemas seketika.
Laluna : 'guysss aku gapapa jangan khawatirin aku.'
Laluna segera mengirimkan pesan tersebut di grup obrolannya dengan kedua sahabatnya. Gadis itu kembali mencari nama Lava di daftar kontaknya. Berniat mengirim pesan kepadanya. Ternyata pesan sebelumnya hanya dibaca oleh laki-laki tersebut.
Whatsapp
Laluna :
( send a images )
Dia siapa?
Laluna menunggu Lava membalas pesannya. Tak selang beberapa menit, Laluna mendapatkan balasan dari Lava.
Lava : 'dia temanku. cuma teman.'
Laluna terkekeh. Dia miris dengan kisahnya saat ini. Dia kecewa dengan Lava. Laki-laki yang terlihat cuek dengan perempuan nyatanya berbanding terbalik.
Laluna:
Teman tapi kok--
Ah udah deh. Kita ketemu
Malam ini bisa kan di taman?
dan benar saja Lava membalasnya begitu cepat sangat cepat seperti dugaannya.
Lava : 'sudah malam lebih baik istirahat.'
Disaat seperti ini, Lava memberikan sedikit perhatian kepada Laluna. Dia menangis saat ini juga. Dia ingin membenci Lava tetapi tak bisa melakukannya.
Laluna :
Aku sudah siap-siap
Aku mau jalan ke taman. Terserah
Mau menemuiku atau tidak !
Laluna dengan terburu-buru mengambil jaket tebal miliknya. Dia turun dari kamarnya menuju ke arah luar rumah. Jarak taman dan rumahnya sangat dekat. Dia hanya perlu jalan kaki. Tak memakan banyak waktu, Laluna sudah sampai terlebih dahulu sebelum Lava tiba.
Gadis itu menatap danau kecil yang ada dihadapannya. Melempar batu untuk melampiaskan amarahanya saat ini. Banyak bintang bertaburan di langit. Angin malam yang menusuk pori-pori kulit membuat Laluna tak peduli. Dia sangat kacau saat ini.
Suara langkah kaki membuat Laluna menoleh. Dia tak percaya Lava datang menemuinya. Laki-laki tersebut mengenakan kaos oblong dan juga celana pendek. Laluna masih dalam posisinya. Lava duduk disamping Laluna.
Laluna menoleh sekilas ke arah Lava. Lalu dia kembali meleparkan batu paling besar ke arah danau. Lava hanya diam.
"Kita usai sampai disini." ucapan singkat yang tiba-tiba keluar dari mulut Laluna membuat Lava terdiam.
"Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah. Aku ingin kita udahan. Mulai sekarang aku tak ingin mengenalmu lagi Lava Sadewa."
Lava masih diam.
"Jawab jangan diam terus!" bentak Laluna dengan amarah yang memuncak.
"Gue gak bisa."
Laluna tertawa. Meremehkan ucapan Lava. "Sialan. Kamu bilang gabisa tapi kamu tadi sore bilang bosan sama sikapku dan semua tentangku. Aku ingin kita udahan."
Air mata Laluna lolos begitu saja. Dia menangis menjadi-jadi dihadapan Lava. Lava hanya diam menyaksikan Laluna yang menangis. Laluna dengan segera menyeka air matanya.
"Satu hal lagi, aku menyesal telah mengenalmu Lava Sadewa. Hari itu adalah hari kesialanku. Aku menyesal telah mengenalmu. Aku berharap kita tidak akan bertemu lagi selamanya. dan aku pastikan kamu tidak akan pernah melihatku saat hari itu tiba."
Laluna pergi meninggalkan Lava. Tanpa sepengetahuannya, Lava menangis setelah kepergian Laluna. "Tapi aku tidak ingin usai. Maaf jika selama ini aku telah menyakitimu. Tapi, aku mengakui kalau kamu adalah sosok orang yang terbaik."
Laluna pergi dengan hati yang sakit. Disetiap jalan dia menangis. Dia segera merogoh ponsel yang ia simpan di saku baju tidur miliknya. Mencari kontak nama Papa dan segera menelfonnya.
"Hallo pa, Laluna setuju untuk tinggal di Jepang. Laluna tidak akan kembali lagi di Indonesia."
****
Ujian sekolah telah berakhir. Laluna mulai mengemasi barang-barang yang akan ia bawa nantinya. Kopernya sudah terisi full baju miliknya. Laluna menatap seisi rumahnya. Dia tak menyangka akan memilih jalan ini. Meninggalkan kenangan di kota Metropolitan ini.
"Ayo kita berangkat nak."
Ucapan dari sang mama membuat Laluna mengangguk. Dia segera menggeret koper berwarna pink miliknya dan mengunci kamarnya. Kamar itu banyak sekali foto dirinya dan Lava. Laluna mengambil 1 lembar fotonya bersama Lava dan juga yang lainnya ia simpan di sebuah kotak disana sudah ada barang pemberian Lava. Ia tak ingin membawanya.
Laluna menuruni satu persatu anak tangga. Laluna melihat mamanya telah menunggunya dibawah. "Kamu yakin mau menetap disana nak? Tidak ingin pulang ke indo? Kamu tidak kangen dengan sahabatmu nantinya jika disana?" pertanyaan mama Laluna membuatnya mencelos. Ini adalah jalan Laluna. Apapun resikonya dia tanggung. Pindahnya Laluna ke Jepang tak ada yang tau bahkan sahabatnya sekalipun. Hanya dia dan keluarganya yang tau.
"Ya sudah ayo kita berangkat. Pak sopir sudah menunggu."
Laluna mengangguk. Dia menggeret kopernya menuju di halaman rumahnya. Mobil berwarna hitam telah menunggunya. Dia membuka bagasi dan menaruh koper serta tas miliknya. Lalu dia masuk ke dalam mobil dan disusul oleh mamanya. Setelah semuanya sudah siap, mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah megah tersebut. Laluna terus memandangi jalan dari jendela mobil.
' cerita kita telah usai disini. Cerita kita telah berakhir disini. Hai Lava, aku sebenarnya sangat senang mengenalmu. Tapi, kenapa kamu yang menghancurkan hatiku saat ini. Terimakasih ya sudah hadir dan pernah singgah meskipun sementara. Aku berharap kita bisa menemukan pasangan masing-masing. Aku tau kamu hanya emosi saat itu makannya kamu bicara ngasal. Tapi, bagaimana nanti aku yang susah melupakanmu hmmm. Aku pamit pergi aku harap kita tak bisa bertemu kembali. Terimakasih telah menemani aku dan mengajarkanku tentang cinta yang menyakitkan.'
Secarik kertas sengaja di tinggalkan oleh Laluna sebelum dia pergi. Dia tak berharap apa-apa lagi. Dia hanya berharap bisa hidup tenang tanpa Lava dan melupakan laki-laki itu.
Suara motor ninja memasuki pekarangan rumah megah milik Laluna. Terlihat sepi hanya beberapa art yang disana.
"Loh den Lava."
Lava tersenyum. Dia mematikan motornya dan melepaskan helm miliknya. "Laluna dimana bik?" tanya Lava.
"Anu tuan nona muda sama nyonya beberapa menit yang lalu menuju ke bandara. Soalnya keluarga nona muda mau menetap di Jepang."
Lava terkejut. Dia segera turun dari motornya dan memasuki rumah megah tersebut. Dia menuju ke lantai 2 tepat dimana kamar Laluna berada. Pintunya di kunci. Bagaimana Lava bisa masuk. Dengan terburu-buru dia terpaksa harus mendobrak pintu kamar tersebut. Kamar yang rapi dan wangi. Mata Lava tertuju ke arah meja belajar milik Laluna. Disana ada kotak berwarna pink yang bermotif love. Lava mendekat. Ada sebuah surat disana. Itu tulisan Laluna. dan juga ada beberapa barang pemberian darinya disimpan disana.
"Jadi kamu memilih mengakhiri semua ini Laluna. Kamu memilih kisah kita berhenti sampai disini? Aku berharap kamu baik-baik saja disana nantinya. Aku akan menunggumu disini selamanya."
*** the end ***