BAB 1: Studio Rekaman yang Berbau Kemenyan
Lampu merah bertuliskan ON AIR di studio podcast milik Raditya menyala, memotong keheningan malam yang kian mencekam. Di depan mikrofon, duduk seorang pria bertubuh kurus dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Namanya Rian. Selama tujuh tahun, ia adalah bayangan bagi seleriti papan atas Indonesia, Evelyn Vega.
"Rian, kamu yakin dengan apa yang mau kamu sampaikan malam ini? Ini tuduhan besar. Evelyn Vega itu ikon nasional. Wajahnya ada di setiap papan reklame, baru saja memenangkan aktris terbaik, dan wajahnya… yah, semua orang tahu dia makin muda setelah operasi plastik di Korea Selatan tahun lalu," tanya Raditya, menurunkan nada suaranya, memancing atmosfer horor yang disukai jutaan pendengarnya.
Rian tersenyum getir. Tangannya yang memegang segelas air putih gemetar hebat.
"Oplas? Itu cuma kedok, Radit," bisik Rian. Suaranya serak, mengirimkan gelombang merinding melalui pelantang suara. "Korea Selatan nggak punya teknologi buat balikin umur wanita empat puluh tahun jadi kayak remaja belasan tahun tanpa ada harga yang dibayar. Dia nggak bayar pakai uang, Radit. Dia bayar pakai nyawa."
Penonton siaran langsung malam itu melonjak drastis. Kolom komentar bergerak secepat kilat.
"Tujuh tahun saya kerja sama dia. Saya yang megang jadwalnya, saya yang tahu ke mana dia pergi tiap malam Jumat Kliwon. Semua orang mengira Evelyn adalah wanita sempurna dengan karier berkilau, suami pengusaha kaya, anak yang lucu, dan orang tua yang selalu mendukungnya. Tapi sekarang? Suaminya mati serangan jantung mendadak. Anaknya tenggelam di kolam renang rumah sendiri. Ibunya lumpuh lalu meninggal misterius. Orang-orang bilang itu kutukan atau tragedi. Salah."
Rian mendekatkan wajahnya ke mikrofon, matanya melotot tajam. "Itu tumbal. Dan bukan cuma keluarganya, Radit. Ada tiga belas orang dari kami, para karyawannya—supir, asisten rumah tangga, wardrobe stylist, hingga kru panggung—yang sudah digiring masuk ke liang kubur. Totalnya tiga belas karyawan. Dan saya… adalah target berikutnya."
BAB 2: Bau Tanah di Puncak Keramat
Cerita bergulir ke kilas balik ingatan Rian, membawa kita masuk ke dalam pusaran ambisi hitam yang sesungguhnya.
Lima tahun lalu, karier Evelyn Vega berada di ujung tanduk. Artis-artis pendatang baru yang lebih muda dan bertalenta mulai menggeser posisinya. Evelyn yang gila hormat dan tidak bisa hidup tanpa pujaan, mulai frustrasi. Di dalam rumah megahnya yang sunyi di kawasan elit Jakarta, Evelyn kerap menjerit-jerit, memecahkan cermin karena melihat kerutan halus di wajahnya.
"Rian, siapkan mobil. Kita ke Jawa Timur. Sekarang," perintah Evelyn malam itu. Wajahnya pucat, tapi matanya memancarkan kegelapan yang pekat.
Tujuan mereka bukan hotel bintang lima, melainkan sebuah tempat yang terselimuti kabut mistis di lereng Gunung Kawi. Rian masih ingat aroma malam itu—perpaduan bau tanah basah, bunga kantil, dan asap kemenyan yang membakar sumsum tulang.
Evelyn berjalan dengan keanggunan seorang ratu menuju sebuah pohon tua yang dikeramatkan, dipandu oleh seorang juru kunci bermata juling. Di sana, di depan sesaji yang menghampar, Evelyn bersujud. Bukan kepada Tuhan, melainkan kepada entitas kuno yang bersemayam di kegelapan gunung tersebut.
"Aku menginginkan kecantikan yang tidak pernah pudar. Aku menginginkan harta yang tak berseri, dan kejayaan yang membuat semua orang berlutut di kakiku," desis Evelyn, suaranya berubah menjadi parau, seperti bukan suara wanita.
"Maharnya tidak murah, Nimas," sahut sang juru kunci dengan suara parau. "Gunung Kawi tidak meminta emas. Yang diminta adalah darah dari rahimmu sendiri, darah yang mengalir di nadimu, dan jiwa-jiwa yang memakan nasimu."
Tanpa ragu sedetik pun, Evelyn mengangguk. "Ambil semuanya. Berikan aku apa yang aku mau."
BAB 3: Runtuhnya Tiang-Tiang Rumah Tangga
Sekembalinya dari Gunung Kawi, keajaiban hitam itu mulai bekerja. Wajah Evelyn yang semula mulai mengendur, tiba-tiba mengencang. Kulitnya bersinar seperti pualam. Kontrak iklan bernilai miliaran rupiah mengalir tanpa henti. Namun, bersamaan dengan itu, bau busuk kematian mulai tercium di kediamannya.
Tumbal pertama adalah sang ibu. Wanita tua yang lemah itu tiba-tiba mengeluh melihat bayangan hitam besar berbulu yang selalu berdiri di sudut kamarnya. Dalam waktu tiga hari, ibunya kurus kering seolah darahnya diisap dari dalam, hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir dengan mata melotot ketakutan.
Evelyn tidak menangis di pemakaman. Ia justru sibuk membenarkan riasan wajahnya di depan kaca mobil.
"Selanjutnya adalah Mas Bram," bisik Rian di dalam podcast, menceritakan nasib suami Evelyn.
Bram, seorang pengusaha properti yang menyayangi Evelyn, mulai merasa ada yang aneh dengan istrinya. Setiap malam, Bram kerap terbangun dan mendapati Evelyn tidak ada di ranjang. Ketika dicari, Evelyn sedang berdiri di pojok ruangan gelap gulita, tanpa busana, sambil mengunyah bunga melati mentah.
Saat Bram mengancam akan membawa Evelyn ke psikiater dan meminta cerai, ajalnya tiba. Malam berikutnya, Bram ditemukan tewas di ruang kerjanya. Dokter menyatakan itu serangan jantung, tetapi Rian melihat sendiri kondisi mayat Bram: kulitnya membiru, dan kedua tangannya mencengkeram lehernya sendiri seolah-olah dia sedang mencekik dirinya sendiri atas perintah makhluk gaib.
"Yang paling biadab," Rian meneteskan air mata, suaranya tercekat. "Adalah Kiki. Anak kandungnya sendiri yang masih berusia tujuh tahun."
Kiki adalah anak yang ceria. Namun sejak ayahnya meninggal, Kiki sering menangis ketakutan. Dia bilang, ada 'Om Hitam' yang sering mengajaknya bermain di kolam renang. Evelyn tahu itu. Rian bahkan pernah memergoki Evelyn berdiri di balkon lantai dua, menatap dingin ke arah kolam renang tempat Kiki sedang megap-megap kehabisan napas di dalam air.
Evelyn tidak berteriak meminta tolong. Dia hanya menonton anak kandungnya tenggelam hingga tak bernyawa, sambil menyunggingkan senyum seringai di bibirnya yang merah darah.
BAB 4: Angka Tiga Belas yang Berdarah
"Setelah keluarganya habis, kontrak pesugihan itu tidak berhenti, Radit," lanjut Rian, membuat suasana studio podcast semakin mencekam. Penonton live kini menembus angka ratusan ribu. "Setiap tahun, di waktu yang sama, sang penunggu Gunung Kawi meminta pembaharuan kontrak. Dan Evelyn mulai mengorbankan orang-orang di sekitarnya. Karyawannya sendiri."
Rian mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari sakunya. Buku itu berisi nama-nama rekan kerjanya yang telah tiada.
"Kalian ingat Doni, supir pribadi Evelyn yang katanya kecelakaan tunggal di tol? Sebelum mati, Doni cerita ke saya kalau rem mobilnya tiba-tiba blong dan dia melihat wajah Evelyn di kaca spion tengah tersenyum, padahal Evelyn saat itu ada di rumah," ujar Rian dengan mata berair.
"Lalu Sinta, wardrobe stylist-nya. Sinta muntah darah berisi paku dan kawat tepat setelah Evelyn memberikannya sebuah gaun bekas pakai. Polisi bilang itu karena kanker lambung stadium akhir yang tidak terdeteksi. Bohong! Saya yang mengurus jenazahnya, bau anyir darahnya berbeda!"
Satu per satu, karyawan Evelyn gugur secara misterius. Ada yang jatuh dari lantai atas studio, ada yang tiba-tiba gila dan gantung diri, dan ada yang hilang tanpa jejak setelah dipanggil ke ruang pribadi Evelyn.
"Tiga belas orang, Radit. Tiga belas nyawa karyawan yang setia, yang digaji menggunakan uang yang ternyata adalah uang gaib hasil pesugihan. Wajah cantiknya yang sekarang, yang dia klaim hasil operasi plastik di Korea senilai miliaran rupiah, sebenarnya dijahit oleh nyawa-nyawa kami! Setiap kali ada karyawan yang mati, wajah Evelyn akan terlihat sepuluh tahun lebih muda."
BAB 5: Teror yang Mengintai di Balik Pintu
Tiba-tiba, lampu di studio podcast Raditya berkedip-kedip. Pet! Suasana menjadi remang-remang karena daya listrik mendadak turun. AC yang semula dingin, berubah menjadi udara yang sangat gerah dan berbau busuk—seperti bau bangkai yang terbakar.
"Rian… kamu tahu dari mana kalau kamu jadi tumbal berikutnya?" tanya Raditya, bulu kuduknya sudah berdiri sempurna. Ia mulai menyesal mengangkat topik ini secara live.
Rian membuka kancing kemeja bagian atasnya. Di dadanya, terdapat sebuah memar hitam berbentuk telapak tangan besar dengan kuku-kuku tajam.
"Tiga hari yang lalu, Evelyn memberikan saya bonus uang tunai yang sangat besar. Dia menepuk pundak saya dan bilang,
'Rian, kamu sudah setia sama aku. Setelah ini, kamu bisa istirahat sepuasnya.' Malamnya, saya bermimpi didatangi makhluk tinggi besar dari Gunung Kawi yang membawa rantai panas. Makhluk itu bilang, namaku sudah tertulis di pohon keramat."
Tiba-tiba, ponsel milik Raditya yang berada di atas meja bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Raditya memandang Rian dengan tatapan horor. Atas desakan netizen di kolom komentar, Raditya memberanikan diri menyalakan loudspeaker.
“Halo, Radit…” Suara di seberang telepon terdengar sangat merdu, sangat akrab di telinga seluruh masyarakat Indonesia. Itu suara Evelyn Vega. “Cerita Rian bagus sekali, ya? Sangat kreatif. Tapi sayang… penonton podcast-mu harus tahu, kalau seorang pembawa berita bohong… harus ikut mempertanggungjawabkan ucapannya.”
Brak!
Pintu studio podcast yang tertutup rapat mendadak digedor dari luar dengan kekuatan yang luar biasa. Bau kemenyan yang sangat pekat merangsek masuk melalui celah pintu. Rian menjerit histeris, menyudutkan dirinya di pojok ruangan sambil menutup telinganya.
"Dia datang, Radit! Dia datang bawa penunggunya!" teriak Rian histeris.
Layar live streaming mendadak dipenuhi gangguan distorsi visual. Di tengah keremangan, bayangan sesosok wanita berbaju merah dengan wajah yang amat cantik namun memiliki mata yang hitam legam tanpa selaput putih, perlahan muncul di belakang tempat duduk Rian. Wanita itu tersenyum manis, namun tangannya yang berkuku panjang menancap langsung ke pundak sang mantan asisten.
Siaran langsung malam itu terputus secara sepihak, meninggalkan jutaan penonton dalam histeria dan tanda tanya besar. Besok paginya, berita utama di seluruh media massa mengabarkan: Mantan Asisten dan Seorang Podcaster Terkenal Ditemukan Tewas Mengenaskan di Dalam Studio Akibat Keracunan Gas Misterius.
Sementara itu, di sebuah mansion mewah, Evelyn Vega sedang duduk di depan cermin besarnya. Ia mengusap pipinya yang kini tampak semakin kencang, mulus, dan memancarkan pesona bak gadis berusia belasan tahun. Di sudut ruangan yang gelap, bayangan hitam besar berbulu tampak mendengkur puas, menanti waktu untuk mahar berikutnya.
TAMAT