Lonceng kelas 2 SMP YBDA berbunyi nyaring, tetapi suasana di dalam kelas masih seperti pasar malam. Di pojok belakang, Eko dan Jekii sedang asyik taruhan main penghapus karet, sementara Misran sibuk coret-coret papan tulis.
"Ati! Sini lo! Jangan ngumpet belakang tas!" teriak Jekii sambil melempar gulungan kertas, tepat mengenai kepala Ati.
"Heh, Jekii! Kurang kerjaan banget sih lo! Maju sini kalau berani, tak takol pakai penggaris besi ya!" balas Ati barbar. Wajahnya yang semula kalem langsung berubah garang, siap melayangkan serangan.
Lilis dan Krisna, dua sahabat Ati yang sama-sama plengernya, malah memanas-manasi.
"Hajar, Ti! Jangan kasih kendor! Jekii tuman!" kompor Lilis sambil gebrak meja.
"Gue dukung lo, Ti! Nanti kalau lo kalah, gue panggilin pemadam kebakaran!" sahut Krisna asal ceplos.
"Berisik! Bisa diam gak? Ini jam pelajaran kosong bukan jam bebas bikin tawuran!"
Suara tegas itu membuat seisi kelas langsung hening. Dimas, sang ketua kelas, berdiri di depan meja guru dengan tangan bersedekap. Tatapannya tajam, membuat Jekii langsung pura-pura baca buku terbalik.
Dimas berjalan mendekati meja Ati. Ketegasannya mendadak luntur, digantikan senyum jail. "Lagian lo juga, Ti. Badan kecil sok-sokan mau ngetakol anak orang. Tuh, ikat rambut lo copot, makin kayak singa."
Mendengar itu, Ati yang tadinya barbar mendadak langsung ciut. Wajahnya merona merah. Dia paling tidak bisa digoda oleh Dimas. Sifat baperannya langsung keluar. "Ih... Dimas, apaan sih! Jangan dilihatin!" bisik Ati sambil buru-buru membenarkan rambutnya, mendadak jadi cewek lembut dan pemalu.
Dimas tertawa kecil, lalu menaruh sebuah buku saku di meja Ati. "Nih, rangkuman materi Fisika yang lo minta kemarin. Jangan malas nyatet lagi. Kalau gak paham, tanya gue."
"Cieeeeee... Ketua Kelas perhatian amat!" sorak Eko dan Hendrik kompak dari bangku tengah.
"Uhuy! Ada bau-bau toleransi tinggi nih!" goda Hendrik sambil menaik-turunkan alisnya.
Meskipun teman-temannya tahu ada kedekatan khusus antara Dimas dan Ati, mereka semua juga tahu ada dinding pembatas yang tak kasat mata di antara keduanya. Dimas seorang Muslim yang taat, dan Ati adalah seorang Kristen yang taat.
Di SMP YBDA, perbedaan itu justru membuat mereka saling menjaga. Saat bulan Ramadan, Ati dengan sukarela menjaga pintu kelas agar tidak ada yang makan di depan Dimas yang sedang puasa. Sebaliknya, saat hari Minggu atau perayaan paskah, Dimas sering mengingatkan Ati untuk tidak lupa ke gereja.
---
Satu minggu kemudian, ujian akhir semester selesai. Suasana kelas berubah melankolis karena hari kelulusan dan perpisahan sekolah sudah di depan mata. Sore itu, setelah selesai bersih-bersih kelas, anak-anak berkumpul di koridor luar.
"Gak kerasa ya, kita mau pisah. Gue bakal kangen dijambak Ati," seloroh Jekii sambil pura-pura mengusap air mata.
"Gue juga bakal kangen kegoblokan kalian," sahut Lilis blak-blakan.
"Eh, denger-denger Dimas mau pindah ke luar kota ya ikut bokapnya?" tanya Eko tiba-tiba.
Ati yang sedang memegang sapu langsung tertegun. Jantungnya mencelos. Dia menatap Dimas yang berdiri di dekat jendela. Dimas hanya mengangguk pelan, mengonfirmasi berita itu.
Misran, yang biasanya suka ngasal, tiba-tiba menepuk pundak Dimas dengan wajah serius. "Dim, karena lo mau pindah, saran gue cuma satu. Sebelum pisah, lo tembak Ati. Masalah agama, tenang, nanti gue yang urus surat pindah keyakinan kalian ke KUA atau ke Gereja, formalitas aja."
"Ngaco lo, Ran! Mana bisa begitu!" potong Hendrik sambil menjitak kepala Misran. "Jangan dengerin Misran, Dim. Lo berdua itu udah paling bener begini. Saling jaga, saling support. Cinta gak harus maksa bersatu kalau jalannya beda. Yang penting saling mendoakan di sujud dan doa masing-masing."
Ati terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Jiwa baperannya meronta. Dimas yang menyadari perubahan ekspresi Ati langsung berjalan mendekat, mengajak Ati menjauh sedikit dari kerumunan teman-temannya.
Mereka berdiri di ujung koridor, menatap lapangan sekolah yang mulai sepi.
"Ti..." panggil Dimas lembut.
"Gak usah dibahas, Dim. Gue tahu kok," potong Ati, suaranya agak bergetar, menahan tangis agar tidak diejek barbar oleh teman-temannya.
Dimas tersenyum tipis, tatapannya lekat menatap Ati. "Gue gak bakal minta lo jadi pacar gue, Ti. Dan gue tahu kita gak bisa. Tapi... makasih ya, udah jadi penyemangat gue di kelas ini."
Ati menoleh, menatap mata ketua kelasnya itu. "Gue juga makasih, Dim. Lo selalu sabar ngadepin gue yang anuu dan barbar ini."
Tidak ada kata "pacaran", tidak ada kata "kita putus", dan tidak ada janji muluk-muluk tentang masa depan. Di antara riuh rendah suara Lilis, Krisna, dan yang lainnya di ujung koridor, Dimas dan Ati hanya saling melempar senyum penuh arti. Sebuah janji bisu tertanam di hati mereka masing-masing: *untuk tetap saling mengingat dan menyimpan rasa ini dengan baik.*
---
Hari perpisahan berlalu. Dimas benar-benar pindah hari itu juga.
Satu minggu, dua minggu, komunikasi lewat pesan singkat masih berjalan lancar. Namun, seiring berjalannya waktu, kesibukan di sekolah yang baru, lingkungan baru, dan jarak yang membentang membuat obrolan mereka semakin singkat.
Hingga suatu hari, nomor Dimas sudah tidak aktif lagi. Akun media sosialnya pun bak ditelan bumi. *Lost contact.*
Ati duduk di kamarnya, memandangi buku saku Fisika pemberian Dimas yang masih tersimpan rapi. Tidak ada tangisan histeris, hanya ada senyum simpul di wajah Ati. Kenangan masa SMP YBDA, kekonyolan teman-temannya, dan sosok ketua kelas tegas yang pernah singgah di hatinya kini menjadi cerita indah yang tersimpan rapat dalam doa-doanya yang berbeda amin.
Jangan dikoment hanya sekedar mengenang masa itu😌🤌
2020📍