Bagian 1: Musim Berburu di Albuquerque
Gurun tidak pernah berbohong. Ia adalah tempat penyimpanan paling jujur di bumi ini. Jika kau menitipkan sesuatu pada tanahnya yang gersang, pada pasirnya yang ditiup angin New Mexico, ia akan menjaganya dengan baik. Ia akan mengikis daging, meminum darah, dan menyembunyikan tulang-belulang itu sampai waktu yang tidak bisa ditentukan oleh siapa pun.
Aku menyukai West Mesa karena alasan itu. Area gurun di pinggiran Albuquerque itu sangat luas, sunyi, dan mati. Bagiku, itu bukan sekadar hamparan tanah kosong; itu adalah galeri pribadiku. Tempat di mana aku memegang kendali penuh atas hidup dan mati.
Setiap tahun, aku selalu menunggu datangnya akhir musim panas. September adalah bulan favoritku. Udara mulai mendingin di malam hari, dan lampu-lampu neon dari acara tahunan New Mexico State Fair mulai menyala di pusat kota. Acara itu adalah berkah. Ribuan orang asing datang, musik berdentam keras, alkohol mengalir, dan perhatian polisi terpecah total ke area karnaval. Di saat semua orang bersenang-senang, aku memulai ritualku.
Malam itu, tahun 2001, aku mengendarai mobil pikap tuaku membelah area lampu merah di Albuquerque Barat. Musik dari radio ku matikan. Aku butuh ketenangan untuk mengamati. Jalanan penuh dengan wanita-wanita rapuh yang berdiri di bawah temaram lampu jalan. Mereka yang diusir dari rumah, mereka yang jiwanya sudah dihancurkan oleh ketergantungan pada bubuk putih atau jarum suntik. Orang-orang menyebut mereka sampah masyarakat, PSK jalanan, atau pecandu. Namun di mataku, mereka adalah karya seni yang belum selesai. Mereka adalah mangsa yang sempurna, karena ketika mereka hilang, dunia butuh waktu berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun—hanya untuk menyadari bahwa mereka sudah tidak ada lagi.
Aku memperlambat laju mobilku di dekat tikungan jalan. Mataku tertuju pada seorang gadis muda keturunan Hispanik. Usianya mungkin sekitar dua puluh tahun, mengenakan jaket denim pudar dan celana pendek. Tubuhnya menggigil kecil, bukan hanya karena angin malam, tetapi karena tubuhnya menuntut dosis berikutnya.
Aku menghentikan mobil tepat di depannya dan menurunkan kaca jendela.
"Butuh tumpangan, Manis?" tanyaku. Suaraku selalu kuatur agar terdengar ramah, datar, dan tidak mengancam. Aku tahu cara tersenyum yang membuat orang merasa aman, meskipun di balik senyum itu, aku sedang menghitung berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mematahkan leher mereka.
Gadis itu menatapku dengan mata sayu yang kehilangan harapan. "Dua puluh dolar untuk semuanya," katanya, suaranya serak.
Aku merogoh saku, mengeluarkan selembar uang dua puluh dolar, dan melambaikannya sedikit. "Masuklah. Udara di luar terlalu dingin untuk gadis secantik dirimu."
Ia membuka pintu dan duduk di sampingku. Aroma tubuhnya adalah campuran dari parfum murah, keringat, dan sisa asap rokok. Ia tidak tahu bahwa uang dua puluh dolar itu adalah tiket sekali jalan menuju galeri seniku di West Mesa.
Kami tidak pergi ke motel murah. Aku membawa mobilku menjauh dari gemerlap lampu kota, menuju ke barat, melewati garis batas pemukiman di mana aspal berganti menjadi jalanan tanah berkerikil. Gadis di sampingku mulai menyadari sesuatu yang aneh saat lampu-lampu kota Albuquerque perlahan mengecil di kaca spion.
"Hei, kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke motel," katanya, nada suaranya mulai diwarnai kepanikan. Ia mencoba memegang pegangan pintu mobil.
"Hanya mencari tempat yang sepi," jawabku tenang, tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan gelap di depan. "Di sini tidak akan ada yang mengganggu kita."
"Tidak, turunkan aku sekarang! Ambil saja uangnya, aku mau keluar!" Ia mulai berteriak dan memukul lenganku.
Gerakannya tidak teratur, lemah, dan menyedihkan. Aku sudah sering menghadapi reaksi seperti ini. Ini adalah bagian dari proses. Aku menginjak rem dengan mendadak, membuat tubuhnya terdorong ke depan dan kepalanya membentur dasbor mobil dengan keras. Sebelum ia sempat mengumpulkan kembali kesadarannya, aku sudah berpindah ke atas tubuhnya.
Tangan kananku yang kuat langsung mengunci kedua pergelangan tangannya, sementara tangan kiriku mencengkeram lehernya.
"Sstt... diamlah. Semakin kau meluncurkan perlawanan, akan semakin sakit," bisikku tepat di depan wajahnya.
Matanya melebar penuh teror. Itu adalah pemandangan terbaik di dunia—melihat detik-detik di mana seseorang menyadari bahwa hidupnya berada di ambang kehancuran total di tangan orang asing. Ia mencoba menjerit, namun cengkeramanku di tenggorokannya mematikan semua suara. Yang keluar hanyalah erangan kecil yang tertahan.
Aku tidak menggunakan pisau atau pistol. Senjata-senjata itu terlalu berisik dan meninggalkan terlalu banyak jejak berupa darah atau selongsong peluru. Tangan kosong adalah alat terbaik. Merasakan denyut nadi seseorang perlahan melemah di bawah tekanan jemariku memberikan kepuasan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.
Satu menit. Tubuhnya bergerak kejang, kakinya menendang-nendang bagian bawah dasbor.
Dua menit. Oksigen di otaknya habis, gerakannya mulai melambat, berubah menjadi kedutan-kedutan kecil yang pasrah.
Tiga menit. Kekuatan terakhirnya menguap. Matanya menatap lurus ke langit-langit mobil tanpa melihat apa-apa lagi. Tubuhnya menjadi lemas, selembut kain tirai yang jatuh dari talinya.
Aku melepaskan cengkeramanku. Sunyi kembali menguasai kabin mobil. Aku memperbaiki posisi dudukku, merapikan kerah bajuku, dan mengambil napas dalam-dalam. Selesai sudah satu bagian. Sekarang, giliran tanah gurun yang melakukan tugasnya.
Aku menjalankan kembali mobil pikapku, masuk lebih dalam ke jantung West Mesa. Aku sudah menghafal medan ini seperti punggung tanganku sendiri. Aku tahu di mana gundukan tanah yang jarang dilewati orang, dan aku tahu struktur tanah pasir yang mudah digali namun tidak akan mudah bergeser oleh angin.
Aku menghentikan mobil di sebuah cekungan alami yang dikelilingi oleh semak-semak gurun yang kering. Aku turun, mengambil sekop besar yang selalu kusiapkan di bak belakang mobil yang tertutup terpal.
Malam itu sangat gelap, tidak ada bulan. Sempurna.
Aku mulai menggali. Pasir West Mesa terasa hangat di permukaan, namun dingin dan padat di bagian dalam. Aku tidak perlu membuat lubang yang terlalu dalam—cukup sekitar satu meter. Struktur pasir di sini akan memadat kembali setelah ditimbun, dan cuaca kering New Mexico akan mempercepat proses pembusukan alami tanpa menimbulkan bau yang bisa tercium sampai ke jalan raya.
Setelah lubang dirasa cukup, aku berjalan ke kabin mobil, mengangkat tubuh gadis itu, dan menggendongnya di pundakku. Ia terasa sangat ringan, seperti tumpukan pakaian kotor. Aku meletakkannya di dalam lubang secara perlahan. Aku tidak melemparkannya begitu saja; aku mengaturnya dengan rapi. Kaki diluruskan, tangan dilipat di atas dada. Aku menghormati mereka sebagai bagian dari koleksiku.
Sebelum aku mulai menimbunnya dengan tanah, aku menatap wajahnya untuk terakhir kali di bawah temaram lampu senter kecilku.
"Kau aman di sini," guramku pada kegelapan. "Tidak akan ada lagi rasa sakit dari jarum suntik, tidak akan ada lagi malam-malam dingin di jalanan kota."
Aku mulai menyekop kembali pasir ke dalam lubang. Satu per satu, bagian tubuhnya menghilang di balik timbunan tanah gersang. Kaki, jaket denimnya, lehernya, hingga akhirnya wajahnya tertutup sepenuhnya oleh butiran pasir kuning. Aku menginjak-injak tanah di atasnya agar padat dan rata dengan lingkungan sekitar. Aku mengambil beberapa ranting semak kering dan menyebarkannya di atas bekas galian untuk menyamarkan jejak.
Ketika aku selesai, angin gurun bertiup kencang, menghapus jejak kakiku dan bekas ban mobilku dengan instan. Gurun telah menerima titipanku yang pertama.
Aku kembali ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan berkendara pulang menuju Albuquerque saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Di kepalaku, aku tidak merasakan penyesalan sedikit pun. Yang ada hanyalah sebuah ruang kosong yang baru saja terisi, namun aku tahu, ruang itu akan segera menuntut untuk diisi kembali pada musim gugur berikutnya.
Bagian 2: Ketika Gurun Memuntahkan Rahasianya
Matahari Februari 2009 di Albuquerque tidak memancarkan kehangatan, hanya cahaya pucat yang membuat hamparan pasir West Mesa terlihat seperti hamparan tulang yang maha luas. Christine Ross merapatkan jaket tebalnya. Sore itu, ia hanya ingin menikmati jalan-jalan sunyi bersama Duke, anjing Rottweiler peliharaan suaminya, di area dataran tinggi gersang yang baru saja dibeli oleh sebuah perusahaan pengembang perumahan.
"Duke! Jangan terlalu jauh!" seru Christine, suaranya parau tertiup angin gurun yang kering.
Namun, anjing besar itu tidak mendengarkan. Duke terus berlari menuju sebuah cekungan tanah di dekat sisa-sisa proyek buldozer yang terbengkalai. Moncongnya mengendus-endus tanah dengan panik, kakinya mulai mencakar-cakar pasir kuning dengan liar hingga debu beterbangan.
Christine menghela napas, melangkah mendekat dengan kesal. "Duke, berhenti! Kau hanya akan mengotori mobil d—"
Kata-kata Christine tercekat di tenggorokan.
Duke berhasil mengeluarkan sesuatu dari dalam tanah dangkal itu. Benda itu panjang, berwarna putih kekuningan yang kusam, dan ujungnya berbentuk bulat besar. Pada awalnya, Christine mengira itu adalah kayu lapuk atau mungkin sisa tulang sapi yang dibuang jagal setempat. Namun, ketika ia berlutut dan mengamati lebih dekat, ia melihat struktur halus yang terlalu presisi untuk seekor hewan.
Itu adalah tulang paha manusia. Sebuah femur.
Jeritan Christine memecah keheningan West Mesa sore itu, memicu rentetan peristiwa yang akan tercatat sebagai penemuan kriminal paling mengerikan dalam sejarah New Mexico.
Dua jam kemudian, garis polisi kuning telah melingkari cekungan pasir tersebut. Detektif Utama Mark Sullivan dari Kepolisian Albuquerque (APD) berdiri di tepi garis, sepatu botnya tenggelam beberapa sentimeter di dalam pasir. Ia menyalakan rokok, menatap tim forensik yang sedang menyapu pasir dengan kuas-kuas kecil.
"Kita punya satu kerangka di sini, Mark," kata Dr. Nancy, kepala ahli forensik wilayah, sambil melepas sarung tangan karetnya yang bernoda tanah. "Dilihat dari panggulnya, ini wanita muda. Sudah terkubur setidaknya beberapa tahun. Kulit dan dagingnya sudah habis dikikis waktu dan ekosistem gurun."
Sullivan mengembuskan asap rokoknya. "Satu tubuh yang dibuang. Mungkin korban kartel narkoba atau pembunuhan domestik. Selesaikan administrasinya, Nancy."
Namun, insting Sullivan salah besar.
Keesokan paginya, buldozer forensik mendatangkan alat pelacak yang lebih sensitif. Saat mereka memperluas radius penggalian sejauh sepuluh meter ke arah utara, detektor mendeteksi anomali struktur tanah di bawah semak-semak gorse yang kering.
Mereka menggali lagi. Dan menemukan tulang rusuk.
Mereka bergeser lima meter ke barat. Menemukan tulang tengkorak.
Bergeser lagi. Menemukan tulang lengan.
Dalam waktu satu minggu, area West Mesa berubah dari lokasi bakal perumahan menjadi situs ekskavasi massal yang menyerupai medan perang purba. Polisi tidak menemukan satu atau dua mayat. Mereka menemukan sebuah pemakaman terstruktur. Lubang-lubang dangkal itu digali dengan jarak yang hampir sama, seolah-olah sang pengubur memiliki peta koordinat sendiri di dalam kepalanya.
Pada minggu ketiga, jumlah kantong mayat hitam yang berjejer di tenda darurat telah mencapai angka sebelas.
"Sebelas wanita, Sullivan," suara Kapten kepolisian bergetar saat mengadakan rapat tertutup di markas besar. "Dan satu janin. Salah satu korban sedang hamil empat bulan saat dia dimasukkan ke dalam tanah itu. Media massa sudah mengepung kantor kita. Mereka menjuluki monster ini The West Mesa Bone Collector. Siapa mereka, Mark? Bagaimana bisa sebelas orang hilang di kota ini tanpa kita sadari?!"
Sullivan menempelkan sebelah tangannya di pelipis yang berdenyut. Di dinding ruang rapat, ia telah menempelkan foto-foto barang bukti yang tersisa: beberapa pasang cincin murah, robekan kain denim, ikat rambut plastik, dan sisa sepatu hak tinggi. Gurun yang kering telah menghancurkan semua DNA, sidik jari, atau cairan tubuh pelaku. Yang tersisa hanyalah tulang putih yang membisu.
"Mereka bukan orang kaya, Kapten," kata Sullivan, suaranya terdengar lelah dan penuh beban. "Kami sudah mencocokkan struktur gigi dan barang-barang ini dengan daftar orang hilang dari tahun 2001 sampai 2005. Mereka semua adalah gadis-gadis dari area lampu merah Albuquerque Barat."
Sullivan berjalan ke arah papan tulis, menuliskan nama-nama yang berhasil diidentifikasi: Monica, Veronica, Cinnamon, Syllania...
"Mereka semua adalah PSK jalanan dan pecandu berat. Mengapa kita tidak menyadarinya? Karena ketika seorang pecandu hilang dari jalanan, keluarga mereka mengira mereka hanya lari ke kota lain atau overdosis di suatu tempat. Sialan..." Sullivan memukul papan tulis dengan frustrasi. "Monster ini tahu persis cara memilih korbannya. Dia mengincar mereka yang posisinya tidak dianggap oleh dunia."
Penyelidikan bergerak dengan tensi yang kian meninggi. Kepolisian Albuquerque bersama FBI mulai menyisir arsip lama. Mereka mencari benang merah: mengapa semua korban dilaporkan hilang di sekitar bulan September atau Oktober antara tahun 2001 hingga 2005?
"Ini dia," petunjuk itu datang dari seorang agen muda FBI. Ia meletakkan sebuah brosur tua di meja Sullivan. New Mexico State Fair.
Setiap akhir musim panas, festival besar itu menyedot ratusan ribu turis ke Albuquerque. Jalanan menjadi sangat ramai, hotel-hotel penuh, dan area prostitusi jalanan menjadi sangat sibuk. Itulah waktu di mana si pembunuh beroperasi. Di bawah kebisingan lampu karnaval dan dentum musik festival, ia menjemput korbannya satu per satu, membawa mereka ke kegelapan West Mesa, lalu kembali ke kehidupannya seolah-olah ia hanyalah seorang warga biasa yang taat hukum.
Polisi mulai menginterogasi para pria yang memiliki rekam jejak kekerasan terhadap wanita di area tersebut. Dua nama muncul ke permukaan, menciptakan kepanikan baru di dalam tim investigasi.
Tersangka pertama adalah Fred Reynolds, seorang germo lokal yang memiliki reputasi kejam. Saat polisi menggeledah catatan lamanya, mereka menemukan ratusan foto wanita jalanan di rumahnya, dan mengerikannya, tiga dari wanita di foto itu adalah korban yang tulangnya baru saja ditemukan di West Mesa.
"Tangkap Reynolds!" perintah Sullivan.
"Kita tidak bisa, Mark," jawab rekannya dengan wajah pucat. "Reynolds sudah meninggal karena sakit pada tahun 2007. Dua tahun sebelum kita menemukan kuburan ini."
Ketegangan semakin memuncak ketika nama tersangka kedua muncul: Joseph Blea, seorang penjahat kambuhan yang memiliki obsesi aneh terhadap wanita-wanita jalanan keturunan Hispanik. Pihak forensik menemukan bukti bahwa Blea sering membuang barang di dekat area West Mesa dan memiliki koneksi erat dengan beberapa korban yang hilang. Namun, Blea menutup mulutnya rapat-rapat. Gurun pasir telah melakukan tugasnya terlalu baik—tidak ada satu pun bukti fisik yang mengaitkan Blea dengan tulang-tulang di West Mesa.
Kota Albuquerque berada di ambang histeria. Sebelas wanita telah diangkat dari dalam tanah, namun bayang-bayang sang pembunuh tetap bebas berkeliaran di antara mereka, atau mungkin, sedang tersenyum menyaksikan polisi yang kebingungan dari balik layar televisi.
Bagian 3: Koleksi Terakhir dan Keheningan Gurun
Aku berdiri di ruang tengah rumahku yang sepi. Di atas meja kayu, radio komunikasi polisi yang kubeli dari pasar gelap mendesis pelan, menyiarkan patroli rutin di pusat kota Albuquerque. Di luar, angin musim gugur bertiup kencang, menggoyang papan kayu jendela. Aku menatap telapak tanganku sendiri—tangan yang sama yang telah mengubur sepuluh nyawa di bawah gersangnya West Mesa.
Namun malam ini, ada yang berbeda. Tubuhku terasa berat. Sendi-sendi jariku sering kali berdenyut linu saat udara dingin mulai menusuk, dan nafasku tidak sepanjang dulu. Aku bisa merasakan bahwa usiaku mulai mengejarku, memakan kekuatan fisik yang selama ini kugunakan untuk mendominasi mereka yang lemah.
"Satu lagi," bisikku pada kegelapan ruangan. "Satu untuk melengkapi galeri ini, lalu aku akan beristirahat."
Aku mengambil kunci mobil pikapku. Malam itu adalah malam terakhir dari gelaran New Mexico State Fair. Gemerlap lampu bianglala di kejauhan terlihat seperti mahkota tiruan di atas langit kota yang kotor. Aku berkendara menuju rute biasaku, menyusuri trotoar remang-remang tempat para wanita jalanan menjajakan sisa-sisa harga diri mereka.
Mataku tertuju pada seorang wanita yang berdiri di dekat halte bus yang terbengkalai. Namanya Syllania—aku tahu karena aku pernah melihatnya sekilas beberapa bulan lalu. Dia tampak berbeda malam ini. Tubuhnya lebih berisi, dan dia terus-menerus mengelus perutnya dengan gerakan protektif yang lembut.
Dia sedang mengandung. Sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahim yang rapuh itu.
Bagi orang biasa, kondisi itu mungkin memicu rasa iba. Namun bagiku, itu adalah sebuah mahakarya yang langka. Dua nyawa dalam satu tubuh. Koleksi penutup yang sempurna untuk mengakhiri segalanya.
Aku menepikan mobil. Senyum ramah yang sama kembali kuukir di wajahku. "Butuh tumpangan, Nona? Aku punya tempat yang hangat jika kau mau."
Syllania menatapku, ada keraguan besar di matanya. Insting seorang ibu di dalam dirinya mungkin sempat menolak, namun rasa lapar dan dinginnya malam mengalahkan segalanya. Dia membuka pintu mobil dan duduk di sampingku.
"Jangan lama-lama," katanya rendah. "Aku harus kembali sebelum subuh."
"Tentu saja," jawabku, menginjak pedal gas menuju barat. "Ini tidak akan lama."
Proses di West Mesa malam itu berjalan tanpa hambatan yang berarti. Syllania sempat melawan dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya demi melindungi perutnya, namun cengkeramanku di tenggorokannya terlalu mutlak untuk dipatahkan. Ketika tubuhnya melemas dan napasnya berhenti, aku menggendongnya ke cekungan tanah yang sudah kupersiapkan.
Aku menggali lubang kesebelas. Aku membaringkannya dengan sangat hati-hati, memastikan tangannya berada di atas perutnya yang membuncit. Aku menimbun mereka dengan pasir gersang, meratakan tanahnya, dan membiarkan angin September menghapus seluruh jejak keberadaanku di sana.
Itu adalah korban terakhirku. Sebelas wanita, satu janin. Galeriku telah lengkap.
Mengapa Aku Berhenti?
Banyak orang—terutama para detektif kepolisian yang sok tahu di televisi—berpikir bahwa seorang pembunuh berantai tidak akan pernah bisa berhenti berburu kecuali mereka ditangkap atau mati. Mereka salah.
Aku berhenti karena aku memilih untuk berhenti.
Setelah tahun 2005, tubuhku mengalami penurunan drastis. Penyakit mulai menggerogoti fisikku, membuatku tidak lagi memiliki kekuatan untuk menyeret tubuh atau menggali tanah gurun di tengah malam tanpa memicu kecurigaan. Selain itu, perluasan wilayah pemukiman kota Albuquerque mulai merayap mendekati area West Mesa. Buldozer-buldozer mulai meratakan bukit-bukit pasir, dan para pekerja proyek mulai berlalu-lalang. Medan perburuanku telah dikepung oleh peradaban.
Aku memilih untuk melangkah mundur, melebur kembali menjadi warga biasa yang tak kasat mata. Aku menikmati hari-hariku dengan duduk di teras rumah, minum kopi hangat, sambil menonton berita fajar. Aku melihat polisi-polisi itu mondar-mandir di televisi, sibuk mengurus kasus pencurian atau tawuran geng, sama sekali buta bahwa beberapa kilometer dari markas mereka, sebelas kerangka sedang tidur dengan tenang di bawah pengawasanku.
Hingga akhirnya, tahun 2009 tiba.
Aku sedang sarapan ketika siaran langsung di televisi menampilkan garis polisi kuning di tengah gurun West Mesa. Seorang wanita dan anjingnya telah menemukan sebuah tulang paha.
Aku meletakkan cangkir kopiku secara perlahan. Jantungku berdesir, bukan karena takut, melainkan karena rasa puas yang aneh. Aku melihat Detektif Sullivan dan tim forensik menggali tanah dengan sekop-sekop kecil mereka, mengangkat kantong-kantong mayat hitam satu per satu dari dalam tanah.
"Bagus," gumamku di depan layar televisi. "Tunjukkan pada dunia apa yang telah kubuat."
Polisi mengumumkan nama-nama tersangka. Mereka menyebut nama Fred Reynolds, si germo tua yang sudah mati di tahun 2007. Mereka juga memeriksa Joseph Blea, bajingan pemerkosa yang kini membusuk di penjara atas kasus lain. Aku tertawa kecil mendengarnya. Biarkan saja mereka memburu hantu yang salah. Biarkan mereka saling menyalahkan dalam frustrasi yang tak berujung.
Gurun pasir West Mesa telah menjaga rahasia fisikku dengan sangat baik. Angin dan panas telah menghapus seluruh DNA, sidik jari, dan sisa pakaian. Polisi tidak akan pernah punya cukup bukti untuk mendakwa siapa pun di pengadilan.
Kini, aku berdiri di jendela rumahku, menatap matahari yang tenggelam di ufuk barat. Kasus The West Mesa Bone Collector perlahan mulai meredup dari pemberitaan, membentur dinding mati yang kokoh. Polisi menyerah, mengarsipkan berkas-berkas itu ke dalam gudang berdebu sebagai misteri yang tak pernah terpecahkan.
Mereka tahu apa yang terjadi, mereka tahu siapa saja korbannya, tetapi mereka tidak akan pernah tahu siapa aku. Aku adalah bayangan yang melintas di musim gugur, dan rahasia tentang apa yang terkubur di tanah gersang itu akan ikut terkubur bersamaku ke dalam liang lahat yang sesungguhnya.
TAMAT
Catatan Penulis (Author's Note):
Cerita di atas adalah karya fiksi yang dibuat untuk tujuan hiburan semata. Alur, dialog, dan penokohan dari sudut pandang pelaku merupakan hasil rekayasa kreatif penulis. Cerita ini sepenuhnya terinspirasi dari kisah nyata kasus pembunuhan berantai misterius "The West Mesa Bone Collector" yang terjadi di Albuquerque, New Mexico, Amerika Serikat antara tahun 2001-2005, di mana 11 jasad wanita ditemukan di gurun pada tahun 2009. Hingga hari ini, identitas asli dari sang pembunuh tidak pernah terungkap secara hukum dan kasusnya tetap menjadi salah satu misteri terbesar yang belum terpecahkan dalam sejarah kriminal modern.