Cerita ini diangkat dari kisah nyata kasus pembunuhan berantai misterius 'Texarkana Moonlight Murders' yang terjadi di Amerika pada tahun 1946.
Beberapa dialog dan dramatisasi adegan direkayasa oleh penulis demi kebutuhan cerita.
Malam itu, 22 Februari 1946, udara di perbatasan Texas dan Arkansas terasa lebih dingin dari biasanya. Kota Texarkana adalah kota yang aneh—sebelah kakinya berpijak di Texas, sebelah lagi di Arkansas. Hukum di sana sering kali membingungkan, dipisahkan oleh garis imajiner di tengah jalan raya. Namun bagi Jimmy Hollis dan kekasihnya, Mary Jeanne Larey, malam itu bukan tentang geografi. Ini tentang musik jazz lambat yang mengalun dari radio mobil, sisa aroma berondong jagung, dan sepi yang mereka cari di sebuah jalan buntu bernama celah cinta (Lovers' Lane).
Jimmy mematikan mesin mobil sedan mereka. Di luar, pepohonan pinus berdiri tegak seperti barisan prajurit hitam yang menelan cahaya bulan.
"Kau yakin kita aman di sini, Jimmy?" bisik Mary, merapatkan mantel wolnya.
Jimmy tersenyum, menyandarkan kepalanya di jok. "Aman, Sayang. Polisi kota jarang patroli sampai ke batas ini. Lagipula, siapa yang mau repot-repot keluar di malam sedingin ini?"
Pertanyaan itu terjawab hanya dalam waktu sepuluh menit.
Kaca mobil di sisi Jimmy tiba-tiba diketuk dari luar. Bukan ketukan sopan seorang petugas patroli, melainkan hantaman keras yang membuat kaca jendela bergetar. Jimmy tersentak. Di balik kaca yang buram oleh embun napas, berdiri sebuah siluet.
Seorang pria. Tinggi, tegap, dan yang paling mengerikan: kepalanya dibungkus oleh karung terigu putih dengan dua lubang kasar yang digunting tepat di bagian mata. Di tangan kanannya, sebuah pistol revolver berkilau terkena pantulan cahaya bulan.
"Keluar," suara di balik karung itu berat, serak, dan tanpa emosi. "Keluar atau kutembak kepala kalian di dalam."
Jimmy, dengan jantung yang berdegup kencang, mencoba bersikap berani. "Dengar, Teman. Kalau kau butuh uang, ambil saja dompetku di dasbor. Jangan sakiti kami."
"Aku tidak butuh uangmu. Keluar."
Pintu mobil dibuka paksa. Jimmy ditarik keluar hingga terjerembap ke atas tanah yang basah. Sebelum ia sempat berdiri, laras pistol dingin sudah menekan tengkuknya. Mary menjerit dari dalam mobil, namun jeritannya tertahan saat si pria bertopeng memerintahkannya untuk keluar dan melepas celananya.
"Tolong, jangan..." ratap Mary.
Pria bertopeng itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengayunkan gagang pistol beratnya ke kepala Jimmy Hollis. Brak! Tengkorak Jimmy retak seketika, dan pemuda itu ambruk, tak sadarkan diri dalam kubangan darahnya sendiri.
Mary yang histeris mencoba melarikan diri ke arah kegelapan hutan pinus. Sepatu hak tingginya terlepas, kakinya tercabik ranting dan batu tajam. Namun, si pembunuh bertopeng jauh lebih cepat. Ia mencengkeram rambut Mary, menyeretnya kembali ke jalanan, dan melakukan penyerangan yang brutal. Beruntung, sebuah lampu sorot dari mobil lain yang kebetulan lewat di kejauhan mengejutkan si penyerang. Pria bertopeng itu melepaskan Mary dan menghilang ke dalam kegelapan hutan seolah ia adalah bagian dari bayang-bayang pohon itu sendiri.
Malam itu, Jimmy dan Mary selamat dari maut meski menderita trauma fisik dan psikologis yang parah. Namun, Texarkana belum tahu, bahwa itu barulah bab pembuka dari sebuah teror yang akan mengubah kota kecil mereka menjadi neraka yang mencekam.
Detektif Cliff Tillman menatap cangkir kopinya yang sudah dingin di atas meja kayu Mapolres Bowie County. Di hadapannya berserakan foto-foto hitam-putih dari TKP penyerangan Jimmy Hollis dan Mary Jeanne Larey. Sudah tiga minggu berlalu sejak malam mengerikan itu, dan polisi sama sekali tidak punya petunjuk.
Sketsa wajah? Mustahil. Karung putih dengan dua lubang mata tidak memberikan ruang bagi identitas.
"Bagaimana kondisi Hollis?" tanya Tillman pada rekannya, Deputi kerdil bernama sersan Miller yang baru saja masuk ke ruangan dengan membawa sebungkus rokok Lucky Strike.
"Dia bisa bicara, tapi memorinya kacau akibat geger otak," jawab Miller, menyalakan korek api. "Dia bilang tingginya sekitar 180 senti. Kulit putih. Suaranya seperti orang tua tapi gerakannya seperti atlet. Mary bilang bajunya bau minyak tanah dan keringat. Tapi di luar itu? Nihil. Kita seperti memburu hantu."
"Hantu tidak memakai pistol kaliber .32, Miller," gumam Tillman, jarinya mengetuk-ngetuk meja. "Orang ini bersenang-senang. Dia tidak merampok. Dia ingin mendominasi. Dan instingku mengatakan, dia belum selesai."
Insting Tillman terbukti benar secara tragis pada tanggal 24 Maret 1946.
Richard Griffin, seorang veteran perang berusia 29 tahun, dan kekasihnya, Polly Ann Moore yang baru berusia 17 tahun, ditemukan tewas di dalam mobil sedan mereka di sebuah jalan sepi di luar batas kota. Kali ini, si pembunuh tidak meninggalkan saksi hidup.
Tillman berdiri di TKP subuh itu. Udara pagi berbau besi—bau darah segar. Richard Griffin ditemukan terduduk di jok depan, kepalanya terkulai ke jendela dengan lubang peluru tepat di belakang telinga kirinya. Di jok belakang, Polly Ann Moore terbaring telungkup. Dia ditembak dari jarak dekat di bagian kepala, dan sebuah selimut ditarik menutupi tubuhnya dengan rapi setelah dia tewas.
"Lihat ini," panggil Miller, menunjuk ke tanah di luar mobil.
Ada genangan darah besar di tanah, beberapa meter dari mobil. Tillman berlutut. "Mereka dibunuh di luar mobil, lalu si pembunuh menyeret mayat mereka kembali ke dalam, mengaturnya sedemikian rupa, lalu menyelimuti si gadis." Tillman merinding. "Ini bukan pembunuhan biasa. Ini adalah ritual."
Di sekitar mobil, tidak ada jejak kaki yang jelas. Tanah yang kering dan berbatu menyembunyikan langkah si pembunuh dengan sempurna. Kota Texarkana yang biasanya tenang, di mana orang-orang tidak pernah mengunci pintu rumah mereka, tiba-tiba dicengkeram oleh histeria massa. Surat kabar lokal, Texarkana Gazette, menerbitkan tajuk utama dengan huruf tebal yang mengerikan: "PEMBUNUH PHANTOM MENEROR KOTA KITA."
Bulan April datang membawa ketakutan yang kian pekat. Toko-toko perangkat keras kehabisan stok kunci gembok, grendel pintu, dan senjata api dalam hitungan hari. Warga sipil mulai mempersenjatai diri mereka sendiri. Setiap ada bayangan bergerak di halaman rumah, senapan berburu akan langsung dilesatkan. Kota itu berada di ambang kegilaan.
Texas Rangers—pasukan elit kepolisian Texas—akhirnya turun tangan. Dipimpin oleh Kapten Manuel "Lone Wolf" Gonzaullas, seorang detektif legendaris yang terkenal karena penampilannya yang necis dan reputasinya yang tanpa ampun terhadap kriminal.
Gonzaullas mendirikan markas di sebuah hotel lokal. "Kita berhadapan dengan psikopat yang cerdas," ujar Gonzaullas dalam rapat koordinasi pertama dengan Tillman. "Dia tahu batas wilayah hukum kita. Dia menyerang di perbatasan di mana koordinasi polisi Texas dan Arkansas sering lambat. Dia menyerang setiap tiga atau empat minggu sekali, selalu di akhir pekan, selalu saat bulan purnama atau menjelang malam tanpa cahaya."
"Berarti kita punya waktu sekitar satu minggu sebelum dia menyerang lagi," kata Tillman, menatap kalender.
"Benar. Dan kita akan menjebaknya," jawab Gonzaullas tegas.
Polisi mulai menyamar. Detektif muda dipasangkan dengan polwan, duduk di dalam mobil di jalan-jalan sunyi, berpura-pura menjadi sepasang kekasih yang sedang memadu kasih. Mereka menjadi umpan hidup. Namun, Si Phantom seolah-olah memiliki indra keenam. Dia tidak pernah mendatangi mobil-mobil umpan tersebut. Dia tahu mana mangsa yang asli dan mana perangkap yang dipasang polisi.
Hingga akhirnya, tanggal 14 April tiba.
Paul Martin dan Betty Jo Booker. Paul adalah pemuda tampan berusia 19 tahun, dan Betty Jo adalah gadis manis 15 tahun yang pandai bermain saksofon di band sekolah. Malam itu, Paul menjemput Betty dari sebuah pertunjukan musik di klub lokal.
Mereka tidak pernah sampai ke rumah.
Keesokan paginya, tubuh Paul ditemukan tergeletak di pinggir jalan raya, ditembak empat kali. Mobilnya ditemukan beberapa kilometer jauhnya, ditinggalkan di pinggir jalan dengan kunci yang masih menggantung. Di dalam hutan, hampir dua kilometer dari mobil tersebut, polisi menemukan jasad Betty Jo Booker.
Tillman yang memeriksa jasad Betty Jo harus memalingkan wajahnya sesaat. Gadis kecil itu ditembak di dada dan wajah. Saksofonnya, yang selalu ia bawa di dalam kotak beludru hitam, hilang.
"Dia mulai berani," kata Gonzaullas dengan nada getir saat mereka berdiri di ruang otopsi. "Dia tidak lagi hanya menyerang di dalam mobil. Dia membawa korbannya berjalan jauh ke dalam hutan. Dia mencuri saksofon itu sebagai trofi. Pria ini tidak akan berhenti sampai kita menembak mati kepalanya."
Kota Texarkana resmi lumpuh. Jam malam diberlakukan. Jalanan yang biasanya ramai dengan pemuda-pemudi berganti menjadi kota mati sejak pukul 8 malam. Di balik jendela-jendela yang tertutup rapat, senapan laras ganda selalu siap di tangan para kepala keluarga, menunggu ketukan di kaca jendela yang mungkin akan membawa maut.
Setelah pembunuhan Betty Jo Booker, ekskalasi teror mencapai puncaknya. Si Pembunuh Phantom tidak lagi mengincar pasangan di tempat sepi. Dia mulai mendatangi rumah warga.
Pada malam tanggal 3 Mei 1946, Virgil Starks, seorang petani berusia 37 tahun, sedang duduk di ruang tamunya yang nyaman di daerah pinggiran, sekitar 15 kilometer di utara Texarkana. Di dapur, istrinya, Katie Starks, sedang membuat kue. Melalui jendela yang tidak tertutup tirai, dua tembakan senapan kaliber .22 tiba-tiba menembus kaca. Virgil tewas seketika dengan peluru di kepala.
Katie yang menjerit histeris berlari ke arah telepon untuk meminta bantuan, namun si pembunuh menembaknya dua kali di bagian wajah melalui jendela yang sama. Meski rahangnya hancur dan bersimbah darah, Katie secara mukjizat berhasil merangkak keluar lewat pintu belakang, melintasi ladang jagung yang gelap, dan meminta pertolongan ke rumah tetangganya. Ia selamat, namun suaminya tidak.
Polisi menemukan jejak kaki berlumpur di luar jendela dan bekas ban mobil yang terburu-buru meninggalkan lokasi. Ini adalah serangan terakhir yang tercatat dari Si Phantom.
Kapten Gonzaullas dan Detektif Tillman mengerahkan seluruh kekuatan. Ratusan orang diinterogasi, mulai dari gelandangan hingga orang terpandang. Namun, dari sekian banyak nama, muncul satu tersangka utama yang paling kuat: Youell Swinney.
Swinney adalah seorang kriminal kambuhan, spesialis pencuri mobil dan pemalsu dokumen. Yang membuat polisi curiga adalah pengakuan dari istri Swinney sendiri, Peggy. Dalam interogasi yang intens, Peggy membeberkan detail-detail pembunuhan yang hanya diketahui oleh polisi dan pelaku, termasuk bagaimana suaminya membunuh korban di Lovers' Lane.
Namun, ada masalah hukum yang besar. Berdasarkan hukum yang berlaku saat itu, seorang istri tidak bisa bersaksi melawan suaminya di pengadilan. Tanpa kesaksian Peggy, polisi tidak punya cukup bukti fisik (seperti sidik jari atau kecocokan balistik yang mutlak) untuk mendakwa Swinney atas pembunuhan berantai tersebut.
Tak ingin melepas pria yang mereka yakini sebagai monster ini, polisi akhirnya menjebloskan Youell Swinney ke penjara pada tahun 1947 atas kasus pencurian mobil tingkat tinggi dengan hukuman seumur hidup sebagai pelanggar kambuhan.
Secara misterius, setelah Swinney dipenjara, serangan pembunuhan berantai dengan pola karung putih di Texarkana berhenti total. Kota itu perlahan kembali bernapas lega, meski luka dan trauma tidak pernah benar-benar sembuh.
Akhir Kata
Swinney akhirnya dibebaskan pada tahun 1973 melalui banding dan meninggal beberapa tahun kemudian tanpa pernah mengaku sebagai Si Phantom.
Hingga hari ini, identitas asli dari The Phantom Killer of Texarkana tetap terkubur bersama malam-malam berdarah di tahun 1946. Kasus ini resmi ditutup sebagai salah satu misteri pembunuhan berantai paling mencekam yang tak pernah terpecahkan dalam sejarah Amerika.