BAB1 Gadis Yang Lupa Cara Tersenyum
Suara alarm berbunyi tepat pukul lima pagi.
Dengan mata yang masih berat, Aira Maheswari membuka matanya. Langit di luar jendela masih gelap, tetapi hari panjang telah menunggunya.
Ia bangkit dari tempat tidur kecil di sudut kamarnya. Tidak ada ucapan “selamat pagi”, tidak ada sarapan hangat yang menunggu di meja makan, dan tidak ada seseorang yang bertanya apakah ia tidur dengan nyenyak.
Di rumah itu, setiap orang hidup dengan dunianya sendiri.
Aira sudah terbiasa.
Setidaknya itulah yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
Setelah bersiap, ia mengenakan seragam kerja dan berangkat menuju sebuah kafe kecil di sudut kota. Senyum ramah selalu ia tunjukkan kepada pelanggan, meskipun hatinya terasa kosong.
“Aira, kamu selalu terlihat tenang ya. Aku bahkan belum pernah melihatmu marah,” ujar salah satu rekan kerjanya.
Aira hanya tersenyum tipis.
Bukan karena ia memang bahagia.
Ia hanya lupa bagaimana cara menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
Pukul sebelas siang, Aira segera mengganti pakaiannya dan bergegas menuju kampus. Di dalam kelas, ia duduk di kursi paling belakang, mengerjakan catatan sambil sesekali menahan rasa kantuk.
Hari-harinya berjalan seperti mesin.
Bekerja.
Kuliah.
Bekerja lagi.
Dan mengulang semuanya keesokan hari.
Sampai sore itu, ketika hujan turun begitu deras.
Aira berdiri di depan gerbang kampus dengan sebuah payung rusak di tangannya. Ia menatap langit abu-abu tanpa ekspresi.
“Kalau kamu tetap memakai payung itu, sepertinya kamu akan lebih basah daripada tidak memakai payung.”
Suara seorang pria terdengar dari sampingnya.
Aira menoleh.
Seorang pemuda berdiri di sana sambil membawa payung hitam. Matanya menyimpan senyum yang anehnya terasa hangat.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya merasa kasihan melihat seseorang sedang berusaha melindungi diri dengan payung yang bahkan tidak ingin bekerja sama.”
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Aira bergerak sedikit.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Namun pemuda itu menyadarinya.
“Nah, itu lebih baik,” katanya pelan. “Senyummu ternyata ada.”
Aira terdiam.
Entah mengapa, kalimat sederhana dari orang asing itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Sudah lama sekali tidak ada yang memperhatikan hal sekecil ekspresi wajahnya.
“Namaku Arkan,” ucap pemuda itu sambil mengulurkan tangan.
Aira menatap tangan tersebut beberapa detik.
Biasanya ia akan pergi.
Biasanya ia akan menjaga jarak.
Namun hari itu, untuk alasan yang tidak ia pahami, ia memilih bertahan.
“Aira.”
Hanya satu kata.
Namun bagi Arkan, itu adalah awal dari cerita yang ingin ia kenang.
Dan bagi Aira, itu adalah awal dari sebuah perubahan yang tidak pernah ia duga.
Bab 2 — Pria yang Selalu Datang dengan Alasan Sederhana
Sejak pertemuan di bawah hujan itu, Aira berpikir ia tidak akan bertemu dengan Arkan lagi.
Baginya, orang-orang datang dan pergi begitu saja. Tidak ada yang benar-benar tinggal cukup lama untuk memahami dirinya.
Namun ternyata ia salah.
Keesokan harinya, saat jam istirahat kuliah, Aira duduk sendirian di taman kampus sambil membuka buku catatannya. Matanya fokus pada halaman yang penuh dengan tulisan, sampai sebuah suara yang sudah tidak asing kembali terdengar.
“Boleh duduk?”
Aira mendongak.
Arkan berdiri di hadapannya dengan dua gelas minuman di tangan.
“Tidak.”
Jawaban itu keluar begitu cepat hingga membuat Arkan terdiam selama beberapa detik.
“Wah, kejam juga ya.”
Aira kembali menunduk menatap bukunya.
“Aku sedang belajar.”
“Kalau begitu aku akan duduk diam.”
“Aku bilang tidak.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa masih berdiri di sini?”
Arkan tersenyum kecil.
“Karena aku sedang menunggu kamu berubah pikiran.”
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Aira merasa seseorang benar-benar mencoba mendekatinya tanpa menyerah.
Bukan
Bab 3 — Senyum Pertama yang Tidak Disengaja
Hari-hari berlalu lebih cepat dari yang Aira sadari.
Pagi masih dipenuhi aroma kopi di kafe tempatnya bekerja. Siang masih dipenuhi tumpukan tugas dan rasa kantuk di ruang kuliah. Malam masih menjadi waktu ketika tubuhnya meminta istirahat, tetapi kenyataan memaksanya untuk terus bekerja.
Tidak ada yang berubah.
Atau setidaknya, itulah yang Aira pikirkan.
Sampai ia menyadari satu hal kecil.
Kini ada seseorang yang selalu menunggu kabarnya.
Seseorang yang akan mengirim pesan hanya untuk bertanya apakah ia sudah makan.
Seseorang yang mengingat jadwal kerjanya lebih baik daripada dirinya sendiri.
Seseorang bernama Arkan.
Namun Aira tetap menjaga jarak.
Ia tidak ingin terlalu bergantung pada siapa pun.
Karena semakin dekat seseorang, semakin besar kemungkinan orang itu akan pergi.
Suatu siang, setelah kelas selesai, Aira berjalan melewati halaman kampus dan melihat kerumunan mahasiswa.
Di tengah kerumunan itu, Arkan sedang membantu sebuah kegiatan kampus. Entah bagaimana, ia berhasil membuat banyak orang tertawa dengan tingkah konyolnya.
Aira yang melihat dari jauh hanya menggelengkan kepala pelan.
“Kenapa dia bisa punya energi sebanyak itu?”
gumamnya.
Seorang teman sekelas yang kebetulan berdiri di sampingnya terkejut.
“Eh, Aira! Kamu barusan bercanda?”
“Apa?”
“Dan kamu tersenyum.”
Seketika wajah Aira kembali datar.
“Aku tidak tersenyum.”
“Kamu yakin?”
“Aku yakin.”
Sayangnya, seseorang yang mendengar percakapan itu justru datang menghampiri dengan senyum lebar.
“Aku saksi hidupnya.”
Aira langsung tahu siapa pemilik suara itu.
“Arkan.”
“Wah, kamu mengingat namaku. Aku terharu.”
“Aku tidak pelupa.”
“Tapi kamu baru saja tersenyum.”
“Aku tidak—”
“Dua kali.”
Aira terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.
Arkan menatapnya dengan mata yang lembut, tanpa mengejek.
“Bagus.”
Hanya satu kata.
Namun Aira merasa ada sesuatu yang hangat menyentuh bagian hatinya yang selama ini dingin.
“Apa bagusnya?”
“Senyummu.”
Aira memalingkan wajahnya.
“Jangan mengatakan hal aneh.”
“Kalau begitu, aku akan mengatakan yang biasa saja.”
“Apa?”
Arkan tersenyum.
“Aku senang kamu mulai terlihat lebih bahagia.”
Jantung Aira berdetak sedikit lebih cepat.
Perasaan asing yang tidak bisa ia jelaskan mulai tumbuh dalam dirinya.
Dan itu membuatnya takut.
Malam harinya, saat berada di kamarnya yang sunyi, Aira berdiri di depan cermin.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri.
Lalu perlahan, ia mencoba mengangkat sudut bibirnya.
Sebuah senyum kecil terbentuk.
Senyum yang terasa canggung.
Senyum yang selama bertahun-tahun hilang dari wajahnya.
Air mata tiba-tiba menggenang di matanya.
Aira terkejut.
Ia menyentuh pipinya yang basah.
“Kapan terakhir kali aku menangis...?”
Ia tidak ingat.
Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aira menangis bukan karena rasa sakit.
Ia menangis karena akhirnya menyadari bahwa hatinya masih bisa merasakan kehangatan.
Dan tanpa ia sadari, seseorang bernama Arkan Pradipta telah menjadi alasan dari perubahan itu.
Bab 4 — Orang yang Mulai Sulit Dilepaskan
Aira mulai menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan.
Dulu, hari-harinya terasa seperti lembaran yang sama yang terus diulang.
Bangun sebelum matahari terbit.
Bekerja.
Kuliah.
Bekerja kembali.
Lalu pulang ke rumah yang selalu terasa sepi meskipun dihuni banyak orang.
Namun sekarang, ada satu hal kecil yang selalu ia tunggu.
Pesan singkat di pagi hari.
“Selamat pagi, Aira. Jangan lupa sarapan.”
Atau pesan di malam hari.
“Hari ini pasti berat, ya? Tapi kamu sudah melakukan yang terbaik.”
Hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah berarti apa pun kini menjadi sesuatu yang membuat Aira tersenyum tanpa sadar.
Dan itu membuatnya takut.
Karena untuk pertama kalinya, ia memiliki sesuatu yang tidak ingin ia kehilangan.
Suatu sore, Aira menyelesaikan pekerjaannya lebih awal. Saat keluar dari kafe, ia melihat Arkan duduk di bangku seberang jalan sambil membaca buku.
“Kamu ngapain di situ?”
Arkan mengangkat kepalanya dan tersenyum.
“Menunggu.”
“Lagi?”
“Lagi.”
“Kamu tidak punya pekerjaan?”
“Ada.”
“Terus kenapa tidak dilakukan?”
“Sudah selesai.”
Aira menghela napas pelan.
“Kenapa harus menungguku?”
Arkan menutup bukunya.
“Karena aku ingin pulang bersama seseorang yang terlalu sering berjalan sendirian.”
Jawaban itu kembali membuat Aira kehilangan kata-kata.
Ia benci mengakuinya.
Namun kini, kehadiran Arkan sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.
Hari itu mereka berjalan melewati sebuah taman kota.
Anak-anak berlari mengejar gelembung sabun yang diterbangkan seorang penjual mainan. Tawa mereka memenuhi udara sore.
Aira berhenti berjalan.
Matanya mengikuti anak-anak itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kenapa?” tanya Arkan lembut.
Aira terdiam beberapa saat.
“Aku lupa kapan terakhir kali tertawa seperti mereka.”
Arkan menatapnya.
Bukan dengan rasa kasihan.
Melainkan dengan pengertian.
“Kalau begitu, kita pelajari lagi.”
Aira menoleh.
“Belajar?”
“Iya. Cara tertawa, cara menikmati hidup, cara menjadi bahagia.”
Aira menggeleng kecil.
“Kamu berbicara seolah itu mudah.”
“Memang tidak mudah.”
“Lalu kenapa kamu yakin?”
Arkan tersenyum.
“Karena aku akan menemanimu.”
Entah kenapa, kalimat itu membuat pertahanan yang selama ini Aira bangun mulai runtuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang berkata akan tetap tinggal.
Malam itu, sebelum tidur, Aira menerima sebuah pesan dari Arkan.
Arkan: "Hari ini kamu tertawa tiga kali."
Aira mengernyit.
Aira: "Kamu menghitungnya?"
Tidak butuh waktu lama untuk balasan datang.
Arkan: "Tentu. Karena setiap senyummu adalah pencapaian besar."
Aira menatap layar ponselnya lama.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Perasaan yang selama ini ia takutkan perlahan tumbuh tanpa bisa ia hentikan.
Ia mulai menyukai Arkan.
Bukan karena Arkan selalu hadir.
Bukan karena Arkan selalu membantunya.
Tetapi karena di dekat Arkan, ia merasa dirinya bukan sebuah beban.
Ia merasa menjadi manusia yang pantas dicintai.
Namun Aira tidak tahu bahwa di sisi lain, Arkan telah menyimpan sebuah rahasia kecil.
Sebuah rencana yang sudah lama ia siapkan.
Sebuah kotak kecil berisi cincin yang ia simpan dengan hati-hati.
Karena ia sudah memutuskan.
Dalam waktu dekat, ia akan mengatakan sesuatu yang selama ini hanya ia simpan dalam hati.
“Aira, aku mencintaimu.”
Namun takdir, terkadang, memiliki rencana yang berbeda.
Bab 5 — Hari Ketika Hujan Membawa Perpisahan
Pagi itu, langit tampak lebih cerah dari biasanya.
Aira berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memperhatikan penampilannya lebih lama.
Bukan karena ia ingin terlihat istimewa.
Tetapi karena hari ini, ia telah membuat sebuah keputusan.
Hari ini, ia akan berhenti lari dari perasaannya.
Ia akan mengatakan kepada Arkan bahwa dirinya juga memiliki perasaan yang sama.
Bahwa pria yang selalu datang dengan payung hitam itu telah berhasil menghidupkan kembali bagian hatinya yang mati.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Arkan muncul.
Arkan: "Aira, aku ingin mengajakmu bertemu malam ini di taman tempat kita pernah melihat anak-anak bermain. Ada sesuatu yang ingin aku katakan."
Jantung Aira berdetak lebih cepat.
Ia tersenyum kecil.
Senyum yang dulu terasa begitu asing kini mulai menjadi bagian dari dirinya.
Aira: "Baik. Jangan terlambat."
Beberapa detik kemudian balasan datang.
Arkan: "Aku akan datang. Aku janji."
Aira tidak tahu bahwa itu adalah janji terakhir yang diberikan Arkan kepadanya.
Di tempat lain, Arkan berdiri di sebuah toko bunga.
Ia memilih bunga yang paling indah menurutnya.
Bukan bunga yang paling mahal.
Tetapi bunga yang menurutnya menggambarkan Aira—sederhana, tenang, namun memiliki keindahan yang tidak semua orang mampu melihatnya.
Di saku jaketnya, tersimpan sebuah kotak kecil berisi cincin.
Bukan untuk meminta Aira menikah dengannya saat itu.
Namun sebagai tanda dari janji yang ingin ia bangun bersama gadis yang telah ia cintai.
Arkan tersenyum sendiri.
"Aira pasti akan memarahiku karena terlalu berlebihan," gumamnya pelan.
Namun ia tahu, di balik wajah dingin Aira, ada seseorang yang akan tersipu malu.
Malam datang.
Aira tiba lebih dulu di taman.
Angin berhembus pelan dan langit mulai dipenuhi awan gelap.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tiga puluh menit.
Arkan tidak datang.
Aira menatap layar ponselnya berkali-kali.
Tidak biasanya Arkan terlambat.
Rasa tidak nyaman mulai memenuhi hatinya.
Ia mencoba menelepon.
Tidak ada jawaban.
Sekali.
Dua kali.
Berkali-kali.
Sampai akhirnya, telepon itu terangkat.
Namun bukan suara Arkan yang ia dengar.
"Apakah ini keluarga atau kerabat dari pemilik ponsel ini?"
Dunia Aira seakan berhenti berputar.
Tangannya mulai gemetar.
"Siapa ini?"
Suara di seberang sana terdengar pelan.
"Terjadi kecelakaan. Pemilik ponsel ini sedang dalam penanganan."
Ponsel Aira terjatuh ke tanah.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menahan semua rasa sakitnya...
Aira menangis tanpa mampu menghentikannya.
Ketika ia tiba, malam itu terasa begitu dingin.
Di dekat jalan yang masih basah karena hujan, ia melihat bunga-bunga yang telah tercerai berai.
Beberapa kelopak terbawa air hujan.
Kotak cincin kecil yang masih tertutup tergeletak tidak jauh dari sana.
Aira berlutut dengan tubuh gemetar.
Ia mengambil bunga itu dengan tangan yang bergetar.
"Arkan..."
Hanya nama itu yang mampu keluar dari bibirnya.
Bukan karena ia tidak memiliki banyak hal untuk dikatakan.
Tetapi karena semua kata yang ia simpan untuk Arkan terlambat untuk diucapkan.
Ia terlambat mengatakan bahwa dirinya mencintainya.
Terlambat mengatakan bahwa Arkan telah menyelamatkannya.
Terlambat mengatakan bahwa ia tidak ingin ditinggalkan lagi.
Malam itu, hujan turun dengan deras.
Dan seorang gadis yang dulu lupa cara menangis akhirnya menangis untuk orang yang telah mengajarkannya cara merasakan.
Bab 6 — Senyum Terakhir yang Tinggal di Kenangan
Hari-hari setelah kepergian Arkan terasa seperti sebuah mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir.
Aira kembali menjalani rutinitasnya.
Bangun pagi.
Bekerja.
Kuliah.
Bekerja lagi.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Dunia yang dulu terasa kosong kini terasa lebih sunyi.
Karena sebelumnya, di dalam kesunyiannya, selalu ada seseorang yang mengetuk pintu hatinya.
Seseorang yang akan mengirim pesan sederhana.
"Sudah makan?"
"Jangan terlalu memaksakan diri."
"Hari ini kamu tersenyum berapa kali?"
Kini ponselnya tidak lagi bergetar karena nama itu.
Tidak ada lagi payung hitam yang menunggunya saat hujan turun.
Tidak ada lagi seseorang yang berjalan di sampingnya tanpa meminta apa pun.
Hanya ada kenangan.
Dan rasa rindu yang tidak memiliki tempat untuk pulang.
Beberapa hari kemudian, Aira kembali ke taman tempat mereka seharusnya bertemu malam itu.
Ia membawa sebuah bunga kecil.
Bukan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Karena ia tahu, ia belum siap untuk mengucapkan kata itu.
Saat duduk di bangku yang biasa mereka tempati, ia membuka kotak cincin yang sempat ia ambil malam kecelakaan itu.
Di dalamnya, selain cincin sederhana, terdapat secarik kertas yang sebelumnya tidak ia sadari.
Tangannya gemetar saat membuka surat itu.
Tulisan tangan Arkan memenuhi halaman kecil tersebut.
"Aira,
Kalau kamu membaca ini, mungkin aku sudah terlalu gugup untuk mengatakan semuanya dengan benar.
Aku tahu kamu adalah seseorang yang terbiasa menyimpan semua kesedihanmu sendiri. Kamu berpura-pura kuat begitu lama sampai lupa bahwa kamu juga berhak untuk bersandar pada seseorang.
Aira, terima kasih karena sudah mengizinkanku melihat senyummu.
Terima kasih karena sudah mempercayaiku.
Dan jika suatu hari nanti aku tidak bisa berada di sampingmu, aku ingin kamu tetap hidup dengan baik.
Tertawalah lebih banyak.
Menangislah ketika kamu ingin menangis.
Jangan kembali menjadi gadis yang mengunci seluruh perasaannya.
Karena senyummu adalah hal terindah yang pernah aku temukan.
Aku mencintaimu.
— Arkan."
Aira menggenggam surat itu erat-erat.
Air matanya jatuh membasahi kertas.
Namun kali ini, ia tidak berusaha menahannya.
Dulu ia berpikir menangis adalah tanda bahwa ia lemah.
Tetapi Arkan telah mengajarkannya bahwa air mata adalah bukti bahwa hatinya masih hidup.
Untuk pertama kalinya sejak malam itu, Aira tersenyum di tengah tangisnya.
"Arkan..."
Suaranya bergetar.
"Aku juga mencintaimu."
Sebuah kalimat yang seharusnya ia ucapkan saat Arkan masih bisa mendengarnya.
Tetapi meskipun terlambat, ia percaya bahwa perasaan itu akan selalu sampai kepadanya.
Bertahun-tahun kemudian, Aira berhasil menyelesaikan kuliahnya.
Ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan mampu memberikan kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya.
Orang-orang yang mengenalnya kini sering berkata bahwa Aira adalah wanita yang hangat dan murah senyum.
Tidak ada yang tahu bahwa senyum itu lahir dari seseorang yang sudah tidak lagi berada di dunia ini.
Pada suatu sore yang hujan, Aira kembali berjalan melewati taman yang sama.
Ia tidak lagi membawa kesedihan yang berat.
Hanya kenangan.
Ia membuka payung hitam yang selalu ia simpan.
Payung milik seseorang yang dulu selalu menemaninya saat hujan.
Aira menatap langit dan tersenyum.
"Terima kasih, Arkan."
"Karena kamu telah mengajarkanku cara hidup."
Hujan turun dengan lembut.
Dan untuk pertama kalinya, hujan tidak lagi menjadi simbol perpisahan.
Hujan menjadi pengingat bahwa pernah ada seseorang yang datang ke dalam hidupnya, mengajarkannya tentang cinta, lalu pergi meninggalkan kenangan yang abadi.
TAMAT 🥀🌧️
"Ada orang yang hadir bukan untuk menemani kita selamanya, tetapi untuk mengubah kita menjadi versi diri yang lebih baik sebelum ia pergi."