Apa kalian percaya pada keberuntungan?
Aku pernah menganggapnya hanya kebetulan.
Sampai akhirnya, aku bertemu dengannya.
Laki-laki berambut cokelat dengan mata hazel itu hadir begitu saja. Seolah hidup sedang iseng mengubah alurnya.
.
.
.
.
.
Pagi itu kuawali seperti biasa. Bangun dari tidur, lalu membuka jendela kamar. Rumahku berada tepat di pinggir jalan, jadi dari sana aku bisa melihat kendaraan berlalu-lalang dan para siswa yang berjalan menuju sekolah.
Sebelum bersiap, ada satu tugas yang selalu menungguku. Merapikan kasur yang entah bagaimana selalu berakhir seperti habis diterjang badai. Selimut terjatuh ke lantai, bantal terlipat entah sejak kapan, dan boneka beruang kesayanganku... lagi-lagi menjadi korban air liur saat tidur.
Kenalkan, namaku Kalea. Kalau hidup ini permainan undian, namaku mungkin bahkan tidak pernah masuk ke kotaknya.
Dan itu bukan salahku.
.
.
.
.
.
Beberapa menit berlalu. Saat mataku melirik jam dinding, napasku hampir berhenti.
Aku terlambat. Lagi.
Aku mulai kasihan pada Pak Satpam sekolah. Mungkin beliau sudah hafal semua alasan yang pernah kupakai, bahkan sebelum aku sempat mengucapkannya.
Tanpa sempat sarapan, aku berlari keluar rumah, melewati Ayah dan Ibu yang masih duduk di meja makan. Tatapan mereka mengikuti langkahku yang terburu-buru. Terlambat ke sekolah bukanlah pemandangan baru bagi mereka. Yang membuat mereka bingung justru karena pagi ini aku berlari seolah sedang dikejar sesuatu.
Aku mengayuh sepeda sekuat tenaga. Angin menerpa wajahku, sementara kendaraan di sampingku mulai tertinggal satu per satu.
"Tenang, Kalea. Ini bukan pertama kalinya," gumamku mencoba menenangkan diri.
Sayangnya, kalimat itu sama sekali tidak berhasil.
.
.
.
.
.
Baru saja kupikir aku berhasil mengalahkan keterlambatan, pagar sekolah sudah lebih dulu menutup harapanku.
Tatapan Pak Satpam langsung menemukanku. Rasanya seperti beliau memang sudah menungguku sejak tadi.
Untungnya... aku tidak sendirian.
Disamping ku berdiri seorang anak laki-laki yang ternyata sama-sama terlambat.
"Kalea, kenapa kamu terlambat lagi? Minggu ini saja saya sudah berkali-kali lihat kamu datang setelah pagar ditutup. Bisa lebih disiplin tidak?" Kata Pak Satpam padaku.
"Saya tadi terlambat bangun, Pak. Maaf.. " Jawabku.
"Yasudah. Kalau kamu kenapa bisa terlambat?" Lanjut Pak Satpam kepada anak laki-laki di sebelahku.
Laki-laki itu bernama Keith. Siswa paling populer di sekolah ini. Biasanya dia yang paling awal ke sekolah, mungkin hantu pagi hari juga jadi temannya.
Kalau ada daftar orang yang paling kecil kemungkinannya terlambat, nama Keith pasti ada di urutan pertama.
Jadi... melihatnya berdiri di sampingku pagi itu?
Aku benar-benar kaget.
Tak lama kemudian, Pak Satpam akhirnya mengizinkan kami masuk. Aku langsung mengayuh langkah menuju gedung sekolah, sementara Keith berjalan beberapa meter di belakangku.
Saat baru saja, menginjak lapangan sepak bola, siswi perempuan yang mengikuti pelajaran olahraga menatap dan berteriak untuk Keith.
Suara itu bahkan bisa mengalahkan suara klakson truk yang melewati rumah ku di pagi hari.
Aku tak mau membuang waktu untuk itu, jadi Aku melanjutkan jalan ku ke dalam gedung sekolah sehingga bisa masuk ke kelas sebelum pelajaran pertama berakhir.
Begitu membuka loker, beberapa amplop langsung berjatuhan ke lantai.
Aku menatapnya beberapa detik.
Bukan. Itu bukan surat untukku.
Mereka hanya salah memasukkan loker.
Loker kami hampir sama. Bedanya hanya satu stiker kecil.
Di punyaku ada semanggi berdaun empat.
Di punyanya hanya semanggi biasa dengan tiga daun.
Mungkin karena dia memang tidak pernah merasa perlu mencari keberuntungan.
.
.
.
.
.
Satu per satu pelajaran berlalu. Bersamaan dengan itu, tugas-tugas mulai menumpuk hingga membentuk sebuah gunung yang kuberi nama 'Gunung Mematikan'.
"Kalea, ikut Aku ke Kantin, yuk. Disana ada, Keith loh."
Kata-kata itu berasal dari Joanna, sahabat ku yang merupakan penggemar berat Keith.
"Ke Kantin itu buat makan. Kalau mau lihat Keith sekalian beli tiket konser aja." Balasku.
"Ih, ga asik. Padahal Kamu dan Keith lagi kena rumor loh. "
Aku nyaris tidak menanggapi. Sampai satu kata berhasil membuat ku terdiam.
rumor?
Orang yang menyebarkan rumor ini pasti sedang kehabisan bahan gosip.
Kami bahkan hampir tidak pernah saling menyapa. Jadi rumor itu terdengar sama masuk akalnya dengan ikan yang ikut ujian matematika.
.
.
.
.
.
Pada akhirnya, Aku ikut juga ke Kantin bersama Joanna. Bahkan dari kejauhan, kerumunan siswi yang mengelilingi Keith sudah terlihat jelas.
Begitu melihat Keith, Joanna menghilang begitu saja ke tengah kerumunan. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan apa-apa.
Ada satu keuntungan menjadi orang biasa. Saat semua orang sibuk melihat Keith, antrean makanan favoritku mendadak kosong.
Kalau dipikir-pikir, aku harus berterima kasih kepada Keith.
...
Tidak jadi. Aku lebih suka menganggap ini hasil perjuanganku sendiri.
Saat menunggu pesananku, sesuatu menghantam kepalaku.
Botol air minum.
"Aduh..."
Refleks aku membungkuk mengambilnya. Saat berdiri kembali, tanpa sengaja sikuku menyenggol nampan makananku sendiri.
Semuanya tumpah.
...
Hebat. Bahkan makan siangku memutuskan meninggalkanku hari ini.
Yang paling membuatku ingin menghilang bukan makanan yang jatuh. Melainkan puluhan pasang mata yang melihat semuanya.
Saat semua orang masih menertawakan kejadian tadi, Keith justru orang pertama yang mendekat.
"Kenapa bisa berantakan begini? " tanya Keith.
“Kesenggol… tadi ada botol air yang tiba-tiba jatuh, terus pas Aku mau ambil nampan malah tambah berantakan.”
Aku menjawab seadanya. Tidak ada bagian dari diriku yang ingin menjelaskan lebih detail kejadian memalukan tadi.
Aku membungkuk singkat pada Keith, lalu pergi tanpa menunggu jawaban.
Joanna menyusul dari belakang, masih sibuk merapikan seragamku sambil mengomel pelan.
.
.
.
.
.
Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa. Ujian datang dan pergi. Libur panjang semakin dekat. Dan tidak ada satu pun nilai ku yang memuaskan.
Aku bahkan sudah lupa berapa kali harus duduk di ruang remedial dengan guru yang berbeda.
Terlepas dari itu semua, rumor beberapa hari yang lalu semakin luas.
Keith dan aku tetap seperti dua orang yang kebetulan berada di cerita yang sama, tapi tidak pernah benar-benar berbicara.
Setelah selesai remedial, aku langsung ingin pulang. Tanpa banyak berpikir, aku membuka loker, memasukkan buku, lalu bersiap pergi.
Saat aku hampir keluar dari gedung, seseorang memanggil namaku dari belakang.
Aku menoleh.
Keith.
"Remedial lagi? ujian matematika, ya? "—Keith.
" Iya, kenapa memang? Kamu remedial juga? "—Kalea.
" Kapan sejarahnya Aku remedial, matematika pula. "—Keith.
" Sombong banget. "—Kalea.
" Ini tadi guru nitip catatan, buat kamu"—Keith.
"Oke, terimakasih ya"—Kalea.
Dan untuk pertama kalinya, kami benar-benar berbicara.
.
.
.
.
.
Setelah itu, sesuatu perlahan berubah.
Selimut yang biasanya menolak melepaskanku sampai pagi, mulai kalah lebih awal.
Jendela yang biasanya baru kubuka saat aku sudah hampir terlambat, sekarang kubuka sebelum kota benar-benar bangun.
Kamarku yang biasanya kacau karena aku selalu terburu-buru, mulai punya waktu untuk terlihat rapi.
Roti panggang yang biasanya hanya jadi rencana, akhirnya benar-benar sempat kumakan.
Aku duduk lama, menatap langit-langit kamar.
Apa hidupku memang tidak sesial yang
kupikirkan selama ini?
Semakin Aku melamun di atas kasur. Aku seperti sedang merasakan sesuatu yang sederhana. Namun tidak tau apa itu.
Kemudian Aku datang ke Sekolah, tepat sebelum pagar Sekolah ditutup.
"Tumben datang sepagi ini."
Kata Keith. Dia baru saja tiba selisih beberapa detik dengan waktu ku tiba.
"Aku juga ga percaya. "
Jawab ku jujur.
"Ya baguslah, Kamu tidak perlu dengar ocehan pak satpam lagi. "
Dia sarkas, lalu dengan mudahnya berjalan menuju gedung Sekolah.
.
.
.
.
.
Meskipun selama di rumah tadi hidup ku terasa terorganisir. Rasanya di Sekolah tidak begitu.
Nilai ujian ku masih sama, remedial tetap menunggu ku tiap pulang Sekolah, dan Joanna yang mulai rewel mengajariku.
Aku masih seorang Kalea.
Tapi kali ini kehidupan ku tak terlalu buruk.
Setelah ujian terakhir telah selesai Aku menuju loker untuk meletakkan buku dan mengambil jaket untuk dikenakan.
Lagi dan lagi ada Keith disana, dia terlihat sedang merapihkan barang-barang ekstrakurikuler yang dipakai sore nanti.
"Bagaimana ujian nya?"
Dia tidak menatapku. Meski begitu Aku tau pertanyaan itu ditunjukkan untukku.
"Biasa aja."
Balas ku sembari membuka loker.
Ketika lokerku terbuka, barulah tatapannya mengarah kepadaku.
Ah, bukan.
Tatapannya mengarah pada stiker semanggi yang menempel di pintu lokerku.
Stiker itu sudah ada sejak hari pertama aku masuk sekolah.
Stiker yang kutempel dengan harapan suatu hari keberuntungan akhirnya menemukan jalannya menuju hidupku.
Keith terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.
"Kamu masih percaya semanggi?"
Aku ikut melihat stiker kecil yang menempel di pintu lokerku.
"Itu dulu."
"Terus sekarang?"
Aku berpikir sejenak.
"Dulu aku kira semanggi bisa bikin aku lebih beruntung."
"Lalu?"
"Nyatanya hidupku tetap berantakan."
Aku tidak melanjutkan kalimatku, karena memang itu kenyataannya.
Aku masih remedial.
Masih sering melakukan kesalahan kecil.
Dan sesekali, kesialan masih menemukan jalannya menuju hidupku.
Semanggi itu tidak pernah benar-benar mengubah apa pun.
𝘉𝘳𝘢𝘬!
Keith menutup pintu lokernya sedikit lebih keras dari biasanya.
Keith terdiam.
Aku bisa melihat rahangnya mengeras.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, ekspresinya terlihat kesal.
"Bukan begitu."
Suaranya tetap pelan.
Namun kali ini terdengar lebih tegas.
"Aku cuma nggak ngerti kenapa kamu selalu mengingat hal-hal buruk yang terjadi."
Aku terdiam.
Keith menghela napas sebelum melanjutkan.
"Kamu terlambat sekali, lalu menganggap dirimu sial."
"Tapi kamu nggak pernah menghitung berapa kali kamu berhasil sampai sebelum gerbang ditutup."
"Kamu ingat nilai yang jelek."
"Tapi lupa kalau masih ada nilai yang cukup."
"Kamu ingat makananmu jatuh."
"Tapi lupa kalau setelah itu masih ada orang yang membantu."
Aku tidak langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu.
Aku memang sering menghitung kesialan yang terjadi setiap hari.
Terlambat.
Remedial.
Makanan yang jatuh.
Hal-hal kecil yang membuatku kesal.
Namun aku tidak pernah menghitung hal baik yang terjadi di antaranya.
.
.
.
.
.
Sekarang sudah menjelang malam. Jendela kamar kubiarkan terbuka supaya angin bisa masuk. Aku menyeret kursi menghadap jendela.
Entah kenapa perkataan Keith tadi terngiang di kepala.
Membuatku tidak tenang.
Aku coba menghitung hal baik yang terjadi hari ini.
Seperti kamar yang tertata rapih sebelum berangkat, datang lebih pagi sebelum Pak Satpam mengomentari ku lagi, Aku yang berhasil mengerjakan ujian, dan yang paling penting Aku ingat ada seseorang menceramahi ku karena kesialan.
Akhirnya Aku bertanya-tanya, sebenarnya semanggi itu benar-benar mencariku atau Aku yang mencarinya.
Hal yang dulu kupercayai.
Gantungan kunci semanggi yang tergantung di tas.
Lukisan semanggi di sudut meja bersama lukisan lainnya.
Pikiran ku mulai tersadar, mungkin keberuntungan tidak pernah tersesat.
Aku saja yang terlalu sibuk mencari kesialanku.
Jadi, apakah Aku percaya pada keberuntungan?
Kurasa iya.
Karena jika semanggi benar-benar menjadi manusia..
Aku pernah bertemu dengan nya.
—END
🍀